NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — Jebakan Sandra

Kecemburuan Sandra yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalan untuk meledak dalam bentuk rencana licik yang sudah ia siapkan diam-diam selama beberapa hari terakhir.

Kesempatan itu datang ketika perusahaan mengadakan gathering tahunan di sebuah resor di luar kota, acara yang mengumpulkan seluruh karyawan dari berbagai divisi untuk membangun kebersamaan tim, lengkap dengan berbagai permainan kelompok dan acara makan malam formal di malam terakhir.

Sandra, yang kebetulan ditunjuk menjadi salah satu panitia acara, melihat ini sebagai kesempatan emas untuk membalas dendam pada Kirana sekaligus menjatuhkan reputasinya di depan seluruh perusahaan, termasuk di depan Rangga sendiri.

"Kirana, kamu bagian nyiapin dekorasi meja makan malam besok, ya. Aku udah siapin daftar barang yang perlu dibeli, tolong belanja semuanya sore ini," kata Sandra, menyerahkan secarik kertas berisi daftar belanja yang cukup panjang.

Kirana, yang masih berusaha menjaga hubungan baik meski trauma dari insiden sebelumnya, menerima tugas itu tanpa banyak protes, tidak menyadari bahwa daftar tersebut sengaja dibuat salah oleh Sandra—beberapa barang penting sengaja dihilangkan, sementara barang-barang yang tidak diperlukan justru dicantumkan, sebuah jebakan halus yang baru akan terlihat dampaknya di malam acara.

Malam acara makan malam formal pun tiba.

Seluruh karyawan berkumpul di ballroom resor yang didekorasi mewah, termasuk jajaran direksi dan tentu saja Rangga yang duduk di meja utama bersama beberapa eksekutif senior lainnya.

Semua terlihat berjalan lancar, sampai tiba waktunya sesi penghargaan tahunan, di mana beberapa karyawan berprestasi akan dipanggil ke panggung untuk menerima penghargaan di depan seluruh perusahaan.

Tiba-tiba, seorang panitia lain—yang tanpa disadari Kirana sudah dihasut Sandra sebelumnya—naik ke panggung dan mengumumkan sesuatu yang membuat seisi ruangan terkejut.

"Sebelum lanjut ke sesi penghargaan, kami mau klarifikasi soal dekorasi meja yang kurang lengkap malam ini. Ternyata ada kesalahan dalam persiapan yang dilakukan oleh saudari Kirana dari divisi marketing, yang menyebabkan beberapa perlengkapan penting tidak tersedia."

Seluruh mata di ruangan itu langsung tertuju pada Kirana yang duduk di salah satu meja, wajahnya memucat terkejut dengan tuduhan mendadak itu. Sandra, yang duduk tidak jauh dari sana, sengaja menambahkan komentar dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

"Aduh, maaf ya semuanya, saya udah kasih daftar lengkap ke Kirana, tapi mungkin dia kurang teliti belanjanya," ucap Sandra, cukup keras untuk didengar seluruh meja di sekitarnya, menambahkan kesan seolah dirinya sudah berusaha maksimal namun dikecewakan bawahannya.

Kirana berdiri, wajahnya merah padam antara malu dan marah. "Kak, saya belanja semua sesuai daftar yang Kakak kasih ke saya—"

"Udah lah, Kirana, nggak usah defensif gitu di depan semua orang," potong Sandra cepat, nadanya dibuat terdengar sabar dan pengertian, semakin memperkuat kesan bahwa Kirana-lah yang bersalah dan kini mencoba mengelak.

Kirana merasa dunia di sekitarnya berputar, puluhan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi—ada yang menghakimi, ada yang kasihan, ada pula yang hanya penasaran menyaksikan drama yang tersaji di depan mereka. Ia mencoba mencari kata-kata pembelaan, namun lidahnya terasa kelu, terlalu terkejut dengan serangan mendadak yang begitu terencana.

Dari meja utama, Rangga yang sejak awal memperhatikan seluruh insiden dengan seksama, akhirnya berdiri, wajahnya mengeras dengan ekspresi yang jarang sekali ditunjukkan di depan umum.

"Tunggu," suara Rangga menggema tegas ke seluruh ruangan, membuat semua orang yang tadinya berbisik-bisik langsung terdiam.

"Sebelum ada tuduhan yang dilempar ke siapa pun, saya mau lihat daftar belanja aslinya."

Sandra terlihat sedikit gugup, namun tetap mencoba mempertahankan sikap tenangnya.

"Daftarnya udah saya kasih ke Kirana langsung, Pak, mungkin sudah dibuang atau hilang."

"Kirana," Rangga menoleh ke arah gadis itu, suaranya kini lebih lembut meski tetap tegas. "Kamu masih simpan daftarnya?"

Kirana, dengan tangan gemetar, buru-buru merogoh tasnya, mengeluarkan secarik kertas kusut yang untungnya masih ia simpan karena kebiasaannya menyimpan segala bukti pekerjaan sejak insiden dengan Sandra sebelumnya. "Ini, Pak. Saya masih simpan."

Rangga mengambil kertas itu, membacanya sekilas, lalu membandingkannya dengan daftar perlengkapan yang seharusnya diperlukan untuk acara malam itu—daftar yang sudah disiapkan panitia acara secara resmi sejak awal.

"Daftar ini memang tidak lengkap," kata Rangga akhirnya, suaranya menggema tegas ke seluruh ruangan. "Ada minimal lima item penting yang sengaja tidak dicantumkan di sini, sementara ada beberapa item yang sebenarnya tidak diperlukan justru masuk daftar. Ini bukan kesalahan orang yang belanja, ini kesalahan orang yang membuat daftarnya."

Ruangan itu kembali hening, kali ini seluruh tatapan berbalik arah menuju Sandra yang wajahnya kini pucat pasi, tidak menyangka kebohongannya akan terbongkar secepat dan setegas itu di depan seluruh perusahaan.

"Saya nggak akan toleransi tindakan menjatuhkan rekan kerja dengan cara curang seperti ini," lanjut Rangga, suaranya dingin dan penuh wibawa, menatap Sandra lekat-lekat.

"Terutama kalau itu dilakukan di depan seluruh perusahaan, dengan niat sengaja mempermalukan orang lain."

"Pak, saya bisa jelasin—" Sandra mencoba membela diri, suaranya bergetar panik.

"Nggak perlu sekarang, di sini," potong Rangga tegas. "Kita bicarakan ini secara resmi Senin depan, dengan HRD. Untuk malam ini, saya minta acara dilanjutkan tanpa ada tuduhan sepihak lagi ke siapa pun."

Suasana ballroom kembali canggung, meski perlahan mulai mencair seiring panitia lain buru-buru mengambil alih acara, mencoba mengalihkan perhatian ke sesi penghargaan yang sempat tertunda. Kirana masih berdiri kaku di tempatnya, tubuhnya masih gemetar karena syok, namun ada kelegaan besar yang menyelimuti dadanya karena kebenaran akhirnya terungkap.

Rangga menghampiri Kirana yang masih terlihat gemetar, suaranya melembut jauh dari nada tegas yang baru saja ia gunakan di depan umum.

"Kamu baik-baik aja?"

Kirana mengangguk pelan, meski matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis yang sejak tadi ia tahan. "Makasih, Pak. Kalau Bapak nggak turun tangan, saya nggak tahu harus gimana ngadepin semua tuduhan itu."

"Kamu nggak perlu berterima kasih," jawab Rangga pelan, tangannya nyaris terulur untuk menyentuh pundak Kirana sebelum ia menahan diri, sadar mereka masih berada di tengah keramaian. "Saya cuma nggak akan diam kalau ada yang mencoba menyakiti orang yang saya... "

Rangga berhenti mendadak, seperti baru sadar apa yang hampir ia ucapkan, buru-buru mengalihkan pandangan. "Yang saya maksud, orang yang bekerja jujur di perusahaan saya. Saya nggak akan biarkan kejujuran dikalahkan kelicikan."

Kirana menatap Rangga, menangkap kalimat yang terpotong itu, hatinya berdebar kencang mempertanyakan apa sebenarnya yang ingin dikatakan pria itu sebelum ia menahan diri.

Namun malam itu, di tengah keramaian dan sorotan mata orang-orang di sekitar mereka, keduanya memilih membiarkan pertanyaan itu menggantung tak terjawab—untuk sementara waktu.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!