NovelToon NovelToon
Anak Rahasia Sang Mafia

Anak Rahasia Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.

​Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Yang Tertunda

​Tanpa memedulikan lagi ocehan sang mama yang masih meluapkan kekesalannya di ruang keluarga, Adrian menyambar jas hitamnya yang tersampir di sandaran kursi. Langkah kakinya lebar dan terburu-buru menyusuri koridor megah kediamannya, meninggalkan suara teriakan ibunya yang perlahan memudar ditelan jarak. Dadanya bergemuruh hebat; kombinasi antara rasa tidak percaya, gejolak emosi yang selama empat tahun ini terpendam, serta sejuta pertanyaan yang mendadak menjejali pikirannya.

​Ia bergegas menuju lantai dasar melalui lift pribadi dan langsung melangkah mantap memasuki area garasi bawah tanah. Suara derap langkah sepatu kulitnya bergema tajam di atas lantai semen yang dingin. Tanpa menunggu pengawal pribadi atau sopir seperti biasanya, Adrian membuka sendiri pintu mobil spor mewahnya, melompat masuk ke kursi pengemudi, dan menghidupkan mesin dengan sekali tekan. Raungan mesin bertenaga besar memecah keheningan garasi seketika.

​Mobil hitam itu melaju kencang menembus pintu gerbang utama kediamannya dan langsung menembus pekatnya malam di jalanan pusat kota. Adrian menginjak pedal gas lebih dalam, menyalip beberapa kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa memedulikan kilatan lampu jalanan yang membayang di kaca depannya. Tangannya menggenggam kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

​Pikirannya tertuju sepenuhnya pada pesan lokasi yang baru saja dikirimkan oleh Rian ke ponselnya. Sebuah alamat pemukiman sederhana di pinggiran kota—tempat yang tak pernah terbayangkan oleh Adrian sebelumnya.

​Entah dari mana Rian mendapat informasi sedetail itu dalam waktu singkat. Namun, Adrian tidak perlu mempertanyakannya. Rian adalah orang kepercayaan Adrian yang telah menemaninya melewati berbagai masa kritis di dunia bawah tanah. Kecerdasan, kesetiaan, dan jaringan informasi yang dimiliki Rian tak pernah mengecewakannya. Jika Rian sudah berani menyebutkan nama 'Alea' dan mengonfirmasi keberadaan seorang anak laki-laki berwajah serupa dengannya, maka hal itu seratus persen adalah kenyataan.

​"Empat tahun..." bisik Adrian dengan suara serak di dalam kabin mobil yang hening.

​Bayangan malam kelam empat tahun lalu mendadak berputar kembali seperti rekaman pita tua. Rasa bersalah, kepasrahan seorang gadis muda berusia sembilan belas tahun di dalam kamarnya, hingga kepergian tanpa jejak yang menyisakan penyesalan mendalam—semuanya kini menghantam dada Adrian dengan kekuatan ganda. Apalagi ketika ingatan itu disandingkan dengan kenyataan baru: ada seorang bocah berusia tiga setengah tahun yang tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah karena kebodohannya di masa lalu.

​Setengah jam perjalanan terasa bagaikan keabadian bagi Adrian. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang megah perlahan berganti menjadi deratan toko-toko kecil, pemukiman padat, dan penerangan jalan yang makin temaram. Mobil mewah Adrian akhirnya memasuki kawasan pinggiran kota, menarik perhatian beberapa warga sekitar karena penampilannya yang terlalu mencolok.

​Dari kejauhan, di ujung gang sempit yang basah oleh sisa gerimis, Adrian melihat mobil hitam milik Rian sudah terparkir di tepi jalan. Rian berdiri di samping kendaraan tersebut, menyandarkan tubuhnya sembari menanti kedatangan sang atasan.

​Adrian mematikan mesin mobilnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar tipis di jemarinya sebelum membuka pintu dan melangkah keluar menantang dinginnya angin malam.

​Adrian melangkah keluar dari mobilnya, menyambut terpaan angin malam yang dingin di pinggiran kota. Matanya memicing tajam menatap Rian yang berdiri kaku di samping kendaraan hitam miliknya. Keheningan malam terasa begitu berat saat Adrian melangkah mendekati tangan kanannya itu dengan aura dominan yang mengintimidasi.

​"Di mana rumahnya, Rian?" tanya Adrian langsung tanpa basa-basi, suaranya berat dan sarat akan tuntutan yang tak sabar.

​Rian menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan rasa hormat sekaligus ketegangan yang mendalam. Ia tahu betul betapa membaranya emosi sang atasan saat ini.

​"Bos, saya hanya tahu toko bunga itu, tanpa tahu alamat rumahnya," ucap Rian jujur, melaporkan keterbatasan informasi yang berhasil ia kumpulkan. "Saya memantau dia hanya dari depan toko karena saya tahu bahwa Anda pasti tidak akan memberi saya izin untuk menguntitnya lebih jauh."

​Mendengar penjelasan Rian, Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras menahan gejolak kecewa yang mendadak menyeruak di dadanya. Namun, di dalam hatinya, Adrian mengakui kebenaran ucapan Rian. Ia memang sangat membenci tindakan sembrono yang bisa menakuti atau mengusik wanita itu sebelum ia sendiri yang melangkah di hadapannya.

​"Toko bunga itu sudah tutup sejak dua jam yang lalu, Bos. Saya tidak ingin mengambil risiko mengikuti langkahnya ke pemukiman padat warga di malam hari dan membuatnya curiga," tambah Rian dengan tenang, mencoba meredam gejolak di mata sang bos.

​Adrian mengembuskan napas berat. Pandangannya menerawang ke arah deratan ruko sederhana yang gelap di seberang jalan utama. Rasa tidak sabar untuk melihat wajah Alea—dan membuktikan keberadaan putra kecilnya—terasa begitu menyiksa, tetapi ia harus menahan diri hingga fajar menyingsing.

​"Saya menyewa homestay dekat sini, Bos. Anda bisa beristirahat di sana," ucap Rian akhirnya, menuntun mobil sang bos menuju homestay yang telah ia siapkan tak jauh dari lokasi tersebut.

​Mobil mewah Adrian mengekor perlahan di belakang kendaraan Rian, menyusuri jalanan kecil yang makin sunyi. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan homestay sederhana namun bersih dan terjaga privasinya.

​Setibanya di dalam kamar, Adrian melepas jas hitamnya dan melemparnya sembarangan ke atas sofa kayu. Ia melangkah ke dekat jendela, menatap pekatnya malam pinggiran kota yang tenang. Di suatu tempat di balik kegelapan pemukiman ini, Alea dan anak laki-laki berusia tiga setengah tahun itu sedang tertidur lelap, tanpa menyadari bahwa bayang-bayang masa lalu yang paling mereka hindari kini hanya berjarak beberapa ratus meter saja.

​Adrian mengepalkan jemarinya di atas bingkai jendela. Fajar besok akan menjadi penentu dari pencarian panjangnya selama empat tahun ini.

1
Ariany Sudjana
pemberkatan ga bisa digabungkan dengan akad yah 🤣🤣😂😂
Lisa
👍 Bahagia & rukun selalu ya utk Adrian sekeluarga .
Pa Muhsid
perasaan toko bunga kok jadi toko roti udah pindah krja ya
Ariany Sudjana
mama Adrian saja yang gila, apalagi dibujuk sama si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Alea sudah melewati masa kritisnya dan sudah sadar
Ariany Sudjana
bagus Adrian, kamu harus tegas, meskipun itu berarti mama kamu harus dihukum berat dan juga si pelacur murahan itu juga sama
Lisa
Bahagia selalu y utk kalian bertiga 🙏
Lisa
Puji Tuhan Alea sudah sadar kembali..cpt pulih y Alea..
Lisa
👍 ambil tindakan tegas terhadap ibumu Adrian
Lisa
Wah ke mana nih bodyguard nya
Ariany Sudjana
katanya Adrian mafia yah, tapi kok bodohnya kebangetan yah? sampai bisa menculik Azka dan menembak Alea, ini pengawal Adrian patut dipertanyakan kualitasnya
Ariany Sudjana
ini ibu yang bodoh, mau saja dikendalikan sama pelacur murahan yang ga tahu diri? waspada terus ya Adrian
Lisa: ya tuh ibu yg ga tegas..waspada selalu y Adrian..
total 1 replies
geandra
Alea kerja d toko roti atw bunga ya??
geandra
perasaan alea g tau kalo Azka masuk rmh sakit,terus Alea juga udh tau nama si Adrian,emang dr awal udh tau atw gimna thor? aku baca nya mereka g saking kenal cuma Adrian doang yg tau nama Alea deh..btw plis deh Alea kalo d fikir2 km jg salah loh setelah kejadian malah langsng minggat,kalo emang tau laki2 yg tdur sama km tuh si Adrian kno g nyari? pas d usir malah menjauh
Lisa
👍👍 Langkah Adrian bagus banget utk melawan Ma² nya & Jessica.
Lisa
Good job Adrian bereskan urusan pekerjaannmu dan tunjukkan pd ortumu bahwa siapapun ga bisa mengusik Alea & Azka.
Ariany Sudjana
Tante, perempuan yang kamu sebut jalang itu justru perempuan baik-baik, yang membesarkan cucu kamu tanpa campur tangan Adrian sama sekali, sedangkan perempuan yang kamu banggakan itu hanya pelacur murahan dan bodohnya kebangetan 😂😂🤣🤣 dan hanya mengincar harta kekayaan kamu saja
Ariany Sudjana
bagus Adrian kamu harus tegas dan segera bereskan urusan pekerjaan kamu dan hancurkan juga si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
mama kamu harus tahu Adrian kalau Alea itu perempuan baik-baik dan mandiri, dan sanggup membesarkan Azka tanpa campur tangan keluarga kamu sama sekali, sangat berbeda dengan si pelacur murahan kesayangan mama kamu itu, yang sangat murahan
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Adrian, jangan biarkan si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Alea
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!