NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Begitu pintu tertutup…

Aura es terang memenuhi ruangan.

Sesosok perempuan berpakaian putih muncul bagai bayangan di hadapan Ratna Pradana.

Ratna Pradana segera membungkuk hormat.

“Guru.”

Perempuan itu berkata lembut,

“Ratna… apakah kau ingin kembali ke Padepokan Awan Beku bersamaku?”

Ratna Pradana menggeleng pelan.

“Guru, aku ingin tinggal sementara.”

“Jika aku pergi tepat setelah menikah, ia akan menanggung ejekan yang jauh lebih kejam.”

“Mohon Guru memberiku waktu satu bulan.”

Perempuan itu menatapnya lama.

Akhirnya ia mengangguk.

“Baiklah.”

“Ini pertama kalinya dalam ratusan tahun murid Padepokan Awan Beku diizinkan menikah. Menunggu satu bulan lagi bukanlah masalah.”

Ratna Pradana membungkuk.

“Terima kasih, Guru.”

Namun setelah ragu sejenak, ia bertanya dengan lirih,

“Guru… apakah benar-benar mustahil memperbaiki Pembuluh Tenaga Dalam miliknya?”

Perempuan berpakaian putih itu menggeleng.

“Di dunia ini tidak ada yang benar-benar mutlak.”

“Namun menurut pandanganku…”

“Itu hampir mustahil.”

Ratna Pradana tidak bertanya lagi. Jika bahkan perempuan berpakaian putih dengan latar belakang luhur dan kedudukan setinggi itu pun telah memastikan bahwa hal tersebut “tidak mungkin”, maka memang seharusnya tidak ada peluang sekecil apa pun.

“Ratna, aku tahu kau sangat ingin membalas budi karena nyawamu pernah diselamatkan sejak kecil, sampai-sampai menunda kepulanganmu ke Padepokan Awan Beku. Namun menikah dengannya seharusnya sudah cukup untuk melunasi kewajiban itu.”

Perempuan berpakaian putih itu berbicara dengan nada lembut namun tegas.

“Ketika kau kembali ke Padepokan Awan Beku, identitasmu akan terungkap. Meski setelah kepergianmu ia mungkin akan menerima lebih banyak ejekan, statusnya sebagai suami murid Padepokan Awan Beku tetap tidak berubah. Setidaknya, di Kota Tirta Awan yang kecil ini, dengan status seterhormat itu, tak seorang pun akan berani menyakiti dirinya secara fisik.”

Ratna Pradana mengangguk perlahan.

“Semoga demikian.”

Perempuan berbaju putih itu melanjutkan,

“Pembuluh Tenaga Dalam-nya cacat dan ia tidak memiliki kelebihan lain. Mungkin sepanjang hidupnya ia tidak akan pernah meraih pencapaian apa pun. Namun dirimu cantik dan cerdas. Bakat sepertimu hanya muncul sekali dalam ratusan tahun.”

“Jika tidak demikian, Nyonya Agung kami tidak akan mengizinkanmu melanggar aturan dan menikah.”

“Menikahimu adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya. Langkah yang kau ambil ini sudah lebih dari cukup sebagai bentuk keadilan. Seandainya ayahnya masih hidup dan cukup bijaksana, ia pasti sudah membatalkan pernikahan ini sejak awal.”

Ia berhenti sejenak sebelum berkata,

“Aku harus pergi sekarang. Aku akan menjemputmu sebulan lagi. Selama periode ini aku tidak akan pergi terlalu jauh. Jika kau menghadapi masalah yang benar-benar tidak dapat diselesaikan, tulislah surat untuk memberitahuku.”

“Guru, izinkan Ratna mengantar kepergian Anda.”

Perempuan berbaju putih itu menolehkan wajahnya.

Seketika tampak wajah yang begitu indah namun memancarkan hawa dingin. Ia tidak mengenakan riasan apa pun, tetapi kulitnya sehalus giok putih bersalju. Siapa pun yang melihatnya akan teringat ungkapan tubuh es dan tulang giok, serta wajah seputih salju dengan bibir laksana mutiara.

Kecantikannya begitu sempurna hingga orang tak berani menatap terlalu lama. Saat memandang matanya, seseorang akan merasa ia suci sekaligus luhur, seolah peri yang telah melampaui dunia fana.

Ia membuka jendela.

Tubuhnya sedikit bergetar.

Seolah ditemani roh es tak kasatmata, sosoknya perlahan menghilang dari tempat ia berdiri.

...

Aula utama keluarga Wijaya dipenuhi tamu.

“Paman Ketujuh, silakan minum,” ujar Arka Wijaya dengan hormat sambil menyodorkan cawan arak kepada seorang pria paruh baya berwajah ramah.

Pria itu berdiri sambil tertawa.

Ia mengangkat cawan dan meneguknya hingga habis.

“Keponakanku, dulu aku sahabat karib ayahmu. Sekarang melihatmu telah membangun keluarga sendiri dan bahkan menikahi istri sebaik ini, hatiku sungguh ikut berbahagia.”

“Terima kasih, Paman Ketujuh.”

“Tetua Pertama, silakan minum.”

Tetua Pertama Keluarga Wijaya, Jaya Wijaya, mengambil cawan itu dan meneguknya sekaligus. Setelah itu ia menghentakkan cawan ke meja dengan keras.

Sepanjang proses itu ia tidak mengatakan sepatah kata pun, selain mendengus dingin. Bahkan ia tidak melirik Arka Wijaya sama sekali.

Meski begitu, fakta bahwa ia bersedia meminum arak yang disodorkan Arka sudah menunjukkan betapa besar “muka” yang ia berikan.

Arka Wijaya tidak berkata apa-apa. Ia hanya melangkah ke meja berikutnya.

Baru dua langkah berjalan, terdengar suara meludah ke lantai.

“Bunga seindah itu malah ditancapkan ke kotoran. Cih!”

Ekspresi Arka Wijaya tetap tenang.

Langkah kakinya tidak berhenti, seolah ia tidak mendengar apa pun. Namun jika diperhatikan lebih saksama, matanya mengeras, dan hawa dingin pekat tersembunyi di balik tatapannya.

Ia tiba di hadapan Tetua Kedua, Bima Wijaya.

Arka sedikit membungkuk.

“Tetua Kedua, Arka mempersembahkan arak.”

Namun Bima Wijaya bahkan tidak meliriknya.

Ia berkata santai,

“Raka, minumkan untuk Kakek.”

“Baik, Kakek.”

Raka Wijaya langsung mengambil cawan dari tangan Arka dan meneguknya habis.

Cawan arak yang seharusnya diminum oleh seorang Tetua justru diminum oleh cucunya sendiri.

Itu bukan lagi sekadar penghinaan—melainkan pelecehan terang-terangan.

Setelah minum, Raka meletakkan cawan itu kembali dengan tatapan penuh ejekan.

Arka Wijaya tetap tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk tipis lalu melangkah pergi.

Baru dua langkah berjalan, terdengar dengusan dingin.

“Hmph… sampah tetaplah sampah. Sekalipun sampah itu menikah dengan perempuan dari Keluarga Pradana, ia tetap sampah.”

“Si tua Nata Wijaya itu benar-benar berniat hidup bergantung pada cucu menantu perempuannya? Cih!”

Nada suara itu dipenuhi penghinaan dan kecemburuan.

Bagaimanapun juga, selain kekayaan Keluarga Pradana, bakat luar biasa Ratna Pradana saja sudah cukup membuat iri siapa pun.

Jika Ratna tidak menikah dengan Arka, melainkan dengan cucunya Raka, mungkin ia akan tertawa bahkan dalam tidurnya.

Arka Wijaya tetap tersenyum seolah tidak mendengar apa pun.

Setelah seluruh tamu bersulang, jamuan panjang itu akhirnya berakhir.

Sepanjang proses tersebut, jumlah orang yang benar-benar mengucapkan selamat dengan tulus dapat dihitung dengan jari.

Banyak orang bersikap sopan, tetapi Arka Wijaya dapat melihat jelas penghinaan di mata mereka.

Ada yang mendesah.

Ada yang iri.

Dan sisanya terang-terangan mengejek.

Seolah kata-kata “sampah” dan “tak berguna” tertulis jelas di wajah mereka.

Pembuluh Tenaga Dalam-nya cacat.

Itulah alasan mereka yakin bahwa Arka Wijaya tidak akan pernah meraih pencapaian apa pun sepanjang hidupnya.

Karena itu mereka tidak merasa perlu menghormatinya.

Di hadapan seseorang yang mereka anggap tidak berguna, mereka bisa memamerkan rasa superioritas tanpa ragu.

Mereka merasa kuat dengan merendahkan seseorang yang tidak akan pernah melampaui mereka.

Inilah tabiat manusia.

“Beristirahatlah lebih awal.”

Nata Wijaya menepuk bahu Arka dengan senyum lembut.

Arka tidak tahu apa yang tersembunyi di balik senyum kakeknya.

Di masa mudanya, Nata Wijaya terkenal berwatak keras. Siapa pun yang memancing amarahnya akan dibalas sepuluh kali lipat.

Namun sekarang ia tampak begitu sabar.

Arka tahu alasan sebenarnya.

Semua itu karena dirinya.

Demi melindungi cucunya yang dianggap tidak berguna, Nata Wijaya memilih menahan segalanya.

Dengan begitu, tidak akan ada musuh yang kelak membalas dendam kepada cucunya setelah ia tiada.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!