NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Keana Datang Langsung

...GAMON...

...Bab 15: Keana Datang Langsung...

...POV Keana...

---

Tiga Hari Setelah Surat Itu Dikirim

Dua Hari Setelah Bima Membacanya

Keana nggak tahu kalau suratnya udah sampe.

Dia juga nggak tahu kalau Bima udah baca, nangis, lalu menyimpannya di laci—bukan sebagai pegangan, tapi sebagai kenangan.

Yang dia tahu: dadanya masih sesak. Pikirannya masih ke mana-mana. Dan ada sesuatu yang mendorongnya—kayak tangan ghaib yang nyenggol punggung—buat ketemu langsung.

Bukan buat merebut. Bukan buat ngerusak apa yang udah Bima bangun sama Rina. Tapi buat ngomong. Dari mulut ke mulut. Tampa perantara. Tampa kertas.

Karena surat itu rasanya belum cukup. Dia perlu lihat mata Bima. Perlu denger suaranya. Perlu tahu—dari sumber pertama—kalau semuanya beneran udah selesai.

---

Pagi Itu – Pukul 08.30

Keana berdiri di depan gedung kantor Bima.

Gedung tinggi, kaca berkilauan kena matahari. Orang-orang lalu lalang, bawa laptop, bawa kopi, bawa raut wajah sibuk masing-masing.

Dia lihat bayangan sendiri di kaca pintu masuk. Rambut diikat asal. Wajah pucat nggak pake makeup. Baju seadanya—bukan seperti dulu, yang selalu tampil sempurna setiap ketemu Bima.

Dulu, dia pengen Bima lihat dia cantik. Sekarang, dia cuma pengen Bima lihat dia nyata.

Dia tarik napas. Dalam.

Ini dia, Kean. Ujian terakhir.

---

Resepsionis

"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu?"

Keana tersenyum canggung. "Saya mau ketemu Bima Pratama. Dari bagian marketing."

Resepsionis itu lihat daftar. "Ada janji, Mbak?"

"Nggak. Tapi saya... kenal dia. Saya teman lama."

Resepsionis itu tatap dia sebentar. Mungkin lihat matanya yang sembab. Mungkin lihat getaran di tangannya.

"Sebentar, Mbak. Saya hubungi dulu."

---

Lima Menit Kemudian

Bima lagi di meja kerja. Lagi ngecek email. Ponsel internal berdering.

"Pak Bima, ada tamu di lobi. Namanya Keana Wardhani. Katanya kenal Bapak."

Bima berhenti.

Tangannya berhenti di atas keyboard. Jantungnya—yang udah tenang beberapa hari ini—tiba-tiba lompat.

Keana.

Di kantor. Sekarang.

"Pak Bima?"

Bima diem beberapa detik. Otaknya muter cepet.

Dia mau apa?

Surat aja nggak cukup?

Kenapa musti dateng langsung?

Tapi di dalam dadanya, dia tahu. Ini bukan soal Bima. Ini soal Keana. Keana butuh penutupan. Keana butuh lihat langsung.

"Pak Bima?"

"Iya. Saya turun."

---

Lobi – Pukul 08.45

Bima turun dari lift. Matanya langsung nyari.

Keana berdiri di dekat pintu masuk. Dilihatnya dari jauh, dia kaget. Keana kurusan. Pucat. Mata sembab. Nggak ada kilau yang dulu dia kenal.

Bima jalan mendekat. Langkahnya pelan. Hatinya hati-hati.

"Kean."

Keana menoleh. Begitu lihat Bima, dadanya langsung sesak. Bima beda. Lebih segar. Lebih percaya diri. Bajunya rapi. Matanya tenang—tenang yang dulu nggak ada.

"Hai, Bim." Suaranya serak. "Maaf ganggu lo kerja."

Bima geleng. "Nggak apa. Lo... mau ngomong?"

Keana angguk. "Bentar aja. Janji."

Bima lihat sekeliling. Lobi terlalu ramai. Terlalu banyak orang.

"Ke kantin aja. Di bawah. Lebih sepi."

---

Kantin – Pukul 09.00

Kantin masih sepi. Baru buka. Beberapa karyawan sarapan, tapi nggak banyak.

Mereka duduk di pojok. Meja kecil. Dua kursi. Berhadapan.

Keana pesen air putih. Bima pesen kopi—biasa, tanpa gula. Dulu dia nggak suka kopi. Sekarang beda.

Diam beberapa detik. Canggung. Berat.

Keana mulai duluan.

"Lo terima surat gue?"

Bima angguk. "Iya. Dari Doni."

"Lo baca?"

"Iya."

Keana napas lega. Setidaknya suratnya nggak nyasar.

"Lo marah?"

Bima geleng. "Nggak."

"Lo... lo ngerasa apa?"

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang paling dia takutin dan paling dia pengen tahu.

Bima tatap dia. Lama. Matanya nyari kata-kata.

"Gue nggak marah, Kean. Gue juga nggak sakit. Gue... nggak tahu harus ngerasa apa."

Keana nunduk. Tangannya di atas meja, gemetar.

"Tapi gue nggak benci lo. Udah lama nggak."

Keana angkat muka. Air mata di pinggir.

"Lo udah move on?"

Bima diem. Lalu jawab. Jujur.

"Udah."

Satu kata. Tapi beratnya kayak batu.

Keana nahan napas. Itu jawaban yang dia tahu, tapi denger langsung rasanya beda.

"Dia... Rina... lo serius sama dia?"

Bima angguk. Pelan.

"Gue serius, Kean."

Diam lagi.

Keana tatap dia. Di matanya, dia lihat ketenangan. Ketenangan yang dulu nggak ada. Ketenangan yang mungkin—cuma mungkin—dateng karena Rina.

"Dia... baik sama lo?"

Bima senyum tipis. Senyum yang aneh. Bukan senyum menang. Tapi senyum syukur.

"Dia baik. Banget. Dia... nerima gue apa adanya. Dengan semua masa lalu gue. Dengan semua luka gue. Dia nggak pernah minta gue jadi siapa-siapa. Dia cuma... ada."

Keana diem. Kata-kata itu. Dulu, dia yang punya semua itu. Dan dia buang.

"Gue seneng, Bim. Beneran."

Bima tatap dia. "Lo?"

Keana geleng pelan.

"Gue masih proses. Tapi gue mulai bisa nerima."

Bima ngangguk.

"Itu bagus, Kean. Lo harus move on. Bukan buat gue. Tapi buat lo sendiri."

---

Pukul 09.30 – Sesuatu yang Nggak Terduga

Lift terbuka. Seseorang turun.

Rina.

Dia jalan ke kantin, mungkin mau beli sarapan. Matanya langsung jatuh ke meja pojok. Ke Bima. Dan Keana.

Dia berhenti.

Bima lihat Rina. Kaget. Tapi nggak panik.

"Rin."

Rina jalan mendekat. Wajahnya—sulit ditebak. Antara kaget, penasaran, dan... waspada.

Bima berdiri. "Rin, ini—"

"Keana." Rina potong. Suaranya datar. Matanya ke Keana. "Gue tahu."

Keana juga berdiri. Dua perempuan. Satu meja. Satu pria di antara mereka.

Rina tatap Keana. Lama. Keana balas tatap. Nggak ada yang mingkem.

Lalu Rina ngomong. Dengan suara yang tenang—tapi tajam.

"Lo yang nulis surat itu?"

Keana kaget. Bima juga kaget.

"Lo tahu?" tanya Bima.

Rina nggak jawab Bima. Matanya masih ke Keana.

"Gue baca."

Keana diem. Tangannya gemetar.

"Lo datang ke sini mau apa?" tanya Rina. Masih tenang. Tapi ada sesuatu di matanya. Bukan marah. Tapi penjagaan.

Keana tarik napas. Dia harus jujur.

"Gue datang buat ngomong. Buat minta maaf langsung. Buat... tutup buku."

Rina diem. Mikir.

"Udah?"

Keana angguk. "Udah."

Rina tatap dia lama. Lalu—di luar dugaan—dia tersenyum. Tipis. Tapi tulus.

"Makasih."

Keana bingung. "Makasih buat apa?"

"Makasih udah dateng. Makasih udah mau ngomong langsung. Dan makasih... udah pernah jadi bagian dari hidup Bima."

Keana bengong. Nggak nyangka.

"Karena tanpa lo, mungkin Bima nggak akan jadi yang sekarang. Tanpa lo, mungkin gue nggak akan kenal dia." Rina tatap Keana. "Jadi... makasih."

Keana nggak bisa ngomong. Air matanya jatuh.

Rina lihat itu. Lalu dia ngomong lagi.

"Tapi sekarang, dia punya gue. Dan gue mohon... jangan ganggu lagi."

Bukan nada marah. Tapi nada batas. Batas yang tegas tapi sopan.

Keana ngangguk. Cepet.

"Gue janji. Ini yang terakhir."

---

Pukul 10.00 – Keana Pamit

Mereka bertiga di lobi. Rina di samping Bima, tangannya di lengan Bima. Nggak posesif, tapi nyata.

Keana lihat itu. Dan dadanya—buat pertama kalinya—nggak sakit. Cuma... nyes. Tapi nyes yang bisa diterima.

"Bim, Rin... makasih."

Bima angguk. "Jaga diri, Kean."

Rina senyum. "Semoga cepet nemu yang tepat, Keana."

Keana senyum balas. Senyum yang nyata—bukan dipaksa.

"Lo juga, Rin. Jagain dia."

Dia berbalik. Jalan ke pintu keluar. Langkahnya pelan, tapi mantap.

Di pintu, dia berhenti sebentar. Lihat ke belakang. Bima dan Rina masih di situ. Rina lagi ngomong sesuatu, Bima dengerin sambil senyum.

Senyum yang dulu buat dia.

Tapi sekarang, dia tahu: senyum itu bukan lagi buat dia. Dan itu nggak apa-apa.

Dia buka pintu. Jalan keluar.

---

Di Luar Gedung

Matahari terik. Jakarta macet. Orang-orang lalu lalang.

Keana berdiri di pinggir jalan. Napas panjang. Dadanya—buat pertama kalinya dalam berbulan-bulan—plong.

Bukan bahagia. Tapi lega. Lega karena akhirnya semuanya udah diucapin. Lega karena nggak ada lagi yang digantung. Lega karena Bima baik-baik aja—dan dia baik-baik aja tanpanya.

Dia ambil ponsel. Kirim pesan ke Maya.

Keana: "Udah. Semua udah."

Maya: "Gimana rasanya?"

Keana: "Plong. Kayak habis buang sampah besar."

Maya: "Nangis?"

Keana: "Udah. Sekarang pengen makan. Lo temenin?"

Maya: "GASSSS! 30 menit lagi sampe!"

Keana senyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia ngerasa lapar. Bukan laper fisik, tapi laper hidup.

---

Bersambung ke Bab 16: Bima Ego

---

...📝 Preview Bab 16:...

Keana mulai menjalani hidup baru. Perlahan. Sakit. Tapi nyata.

Sementara itu, Bima dan Rina makin erat. Tapi di balik semua kedamaian itu, ada satu hal yang mulai tumbuh dalam diri Bima: ego.

Ego yang selama ini dia pendam. Ego yang bilang: "Gue udah cukup lama jadi korban."

Dan ego itu mulai muncul—dalam bentuk yang nggak pernah Rina duga.

Bab 16: Bima Ego—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!