update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Lin Yinjia masih memegang tangan adiknya ketika ruangan itu kembali sunyi.
Mesin monitor di samping tempat tidur Yichen berbunyi pelan, ritmenya stabil tapi dingin. Lampu rumah sakit membuat kulit wajah Yichen terlihat lebih pucat dari biasanya. Tubuh remaja itu tampak begitu tenang sampai terasa aneh mengingat bagaimana biasanya ia tidak pernah bisa diam.
Beberapa hari lalu anak itu masih berlarian di rumah, mengeluh tentang ujian sekolah dan bercanda soal makanan malam. Sekarang ia bahkan tidak membuka mata.
Yinjia duduk di kursi kecil di samping tempat tidur cukup lama tanpa berkata apa-apa lagi. Ia menggenggam tangan adiknya dengan kedua tangannya seolah takut jika ia melepaskannya, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Ibunya, Mei Lan, berdiri di sisi lain tempat tidur. Mata wanita itu terlihat merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis. “Kamu sudah makan?” tanya ibunya akhirnya. Yinjia menggeleng pelan. “Belum lapar.”
Ibunya ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya hanya menghela napas panjang. Dalam beberapa hari terakhir mereka semua hidup di rumah sakit, tidur seadanya di kursi atau sofa ruang tunggu.
Lin Wei masuk ke kamar beberapa menit kemudian dengan wajah yang sama lelahnya. “Aku sudah berbicara dengan dokter lagi,” katanya pelan.
Yinjia menoleh. “Apa katanya?”
“Keadaan Yichen stabil.” Kata itu seharusnya terdengar menenangkan, tapi entah kenapa tetap membuat dada terasa berat. “Dia masih koma,” lanjut ayahnya.
Yinjia menunduk. Ia sudah menduga jawaban itu. Ayahnya duduk di kursi kosong di dekat jendela. Punggungnya terlihat sedikit membungkuk seperti orang yang tiba-tiba menua beberapa tahun dalam semalam.
“Biaya ICU saja sudah sangat mahal,” katanya akhirnya dengan suara rendah. Kalimat itu tidak ditujukan kepada siapa pun secara khusus, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa semakin sunyi.
Yinjia tahu ayahnya bukan orang yang suka mengeluh. Jika ia mengatakan sesuatu seperti itu, berarti keadaannya benar-benar sulit.
“Ayah,” kata Yinjia pelan.
Ayahnya mengangkat wajah. “Aku akan menemui keluarga Gu minggu ini.”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap putrinya beberapa detik. “Kamu tidak perlu memaksakan diri.”
Yinjia menggeleng. “Aku tidak memaksakan diri.” Ia mencoba tersenyum, walaupun terasa agak kaku. “Bukankah perjodohan itu memang sudah direncanakan?”
Ibunya memandangnya dengan mata yang penuh rasa bersalah. “Kami tidak ingin kamu menikah hanya karena keadaan seperti ini.”
Yinjia memandang kembali ke arah adiknya yang terbaring. “Kalau itu bisa membantu Yichen… aku tidak keberatan.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa berat.
Ia tidak pernah benar-benar memikirkan masa depan pernikahan itu sebelumnya. Sekarang masa depan itu terasa semakin nyata. Dan semakin menekan.
Beberapa jam kemudian Yinjia akhirnya keluar dari kamar rumah sakit untuk membeli minuman di mesin otomatis di lorong.
Lorong itu panjang dan terang. Bau antiseptik bercampur dengan suara langkah kaki orang-orang yang lalu lalang.
Ia memasukkan koin ke mesin dan menekan tombol teh hangat. Gelas kertas jatuh dengan suara kecil. Yinjia mengambilnya dan bersandar di dinding sambil meminum sedikit. Kepalanya terasa penuh. Ia mencoba memikirkan hal lain, tapi setiap pikiran selalu kembali ke tempat yang sama.
Yichen.
Biaya rumah sakit.
Keluarga Gu.
Zhenrui.
Nama itu membuat ekspresinya berubah sedikit. Hubungannya dengan Zhenrui tidak pernah benar-benar hangat.
Mereka bertemu hanya beberapa kali sejak perjodohan diumumkan dua tahun lalu. Setiap pertemuan terasa kaku, seperti dua orang asing yang dipaksa duduk di meja yang sama. Zhenrui jarang berbicara banyak.
Dan ketika ia berbicara, nadanya sering terdengar merendahkan. Yinjia tidak pernah menyukainya. Tapi ia juga tidak pernah benar-benar mencoba melawan keadaan itu. Ia terlalu sibuk dengan kehidupan kampusnya yang sederhana.
Terlalu sibuk berpikir bahwa semuanya masih jauh. Sekarang semuanya terasa sangat dekat. Ia menghela napas pelan. Ponselnya bergetar di tangannya.
Pesan dari Yara. “Kamu di mana? Kenapa tiba-tiba pergi dari kelas tadi?”
Yinjia membaca pesan itu beberapa detik sebelum membalas. “Di rumah sakit. Adikku kecelakaan.”
Balasan datang hampir langsung. “Apa?! Kamu baik-baik saja?”
Yinjia menatap layar sebentar sebelum mengetik. “Aku baik.”
“Kalau butuh apa-apa bilang saja.”
“Terima kasih.” Ia menaruh ponselnya kembali ke dalam tas.
Beberapa detik kemudian seseorang berjalan melewati lorong sambil berbicara di telepon dengan suara cukup keras. “Dokter bilang kondisinya masih kritis.”
Kalimat itu membuat Yinjia tanpa sadar menggenggam gelasnya lebih erat.
Rumah sakit adalah tempat yang penuh dengan cerita seperti itu. Cerita yang tidak selalu berakhir baik. Ia meneguk sisa teh di gelasnya lalu kembali berjalan menuju kamar Yichen.
Di dalam kamar, ibunya sudah tertidur di kursi sambil menyandarkan kepala di tepi tempat tidur. Ayahnya masih duduk di dekat jendela. Ia tampak sedang menghitung sesuatu di layar ponselnya.
Angka-angka. Perhitungan. Kemungkinan. Yinjia tahu apa yang sedang ia pikirkan. Ia duduk lagi di kursi dekat tempat tidur. “Tadi dokter bilang kondisi Yichen stabil,” kata ayahnya tiba-tiba.
“Iya.”
“Tapi kita harus siap jika perawatannya lama.” Yinjia mengangguk pelan.
“Ayah.” Ayahnya menatapnya lagi. “Aku sudah memutuskan.”
“Memutuskan apa?”
“Aku akan melanjutkan perjodohan itu.” Ayahnya terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya menghela napas panjang. “Jika kamu berubah pikiran, kamu bisa memberi tahu ayah kapan saja.”
Yinjia tersenyum kecil. Ia tahu ayahnya mengatakan itu karena merasa bersalah. Tapi keputusan itu sudah ia buat. Ia tidak ingin keluarganya hancur karena biaya rumah sakit. Ia tidak ingin melihat ayahnya kehilangan segalanya.
Dan jika satu-satunya cara untuk menjaga semuanya tetap berjalan adalah menikah dengan seseorang yang bahkan tidak menyukainya…
Ia akan melakukannya. Beberapa menit kemudian Yinjia berdiri. “Aku harus kembali ke kampus sebentar besok.”
“Kenapa?” tanya ayahnya. “Ada beberapa tugas yang harus kukumpulkan.”
Ayahnya mengangguk. “Pergilah. Kami akan menjaga Yichen.”
Yinjia memandang adiknya sekali lagi sebelum keluar dari kamar. Langkahnya di lorong terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia merasa seperti baru saja membuat keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Di tempat lain di kota Shanghai, seseorang sedang duduk di ruang kerja yang luas dengan jendela besar menghadap lampu kota.
Guo Linghe menutup dokumen di mejanya. Sekretarisnya, He Suyin, berdiri di seberang meja sambil memegang tablet.
“Direktur Gu, jadwal Anda minggu ini sudah diperbarui.”
Linghe mengangguk tanpa banyak bicara.
“Selain itu, keluarga Gu akan mengadakan makan malam kecil akhir minggu ini.”
Linghe mengangkat alis sedikit. “Makan malam keluarga. Untuk apa?”
Suyin menjawab dengan nada profesional. “Untuk memperkenalkan calon menantu keluarga Gu.”
Linghe berhenti beberapa detik. “Zhenrui?”
“Iya.”
Linghe tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya membuka kembali dokumen di depannya. Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Calon menantu keluarga Gu. Seorang gadis yang belum pernah benar-benar ia perhatikan.