NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Kata-kata Pregiwa meresap seperti tetesan bisa yang bekerja lambat di dalam aliran darah.

Pangeran Jayantaka terdiam cukup lama. Matanya menatap kosong ke arah perapian, mencerna kalimat istrinya. Keraguan mulai merayap naik ke dalam benaknya. Pregiwa benar. Memiliki pasukan yang tak terkalahkan adalah satu hal, tetapi mengetahui di mana musuh menyembunyikan belati mereka adalah hal yang sama sekali berbeda. Dan Argakusuma... bangsawan muda itu memang lebih sering menghabiskan waktunya mengurusi sutra dan parfum daripada terjun ke lapangan lumpur.

Apa jadinya jika ada pemberontakan yang direncanakan di wilayah selatan, dan Argakusuma melewatkannya karena alasan sepele seperti 'badai'?

"Kau... kau memiliki pemikiran yang sangat tajam untuk seorang putri yang dibesarkan di taman bunga, Pregiwa," gumam Jayantaka, matanya mulai memancarkan kecurigaan paranoia yang baru saja lahir.

"Hamba hanya hidup untuk memastikan Kanda Pangeran selalu aman di atas singgasana yang tak tergoyahkan," balas Pregiwa, menyentuh dada suaminya, tepat di mana jantung pria itu berdetak. Ia membisikkan racun terakhirnya dengan nada yang paling manis. "Seorang raja yang agung membutuhkan anjing pelacak yang kelaparan, Kanda. Bukan anjing peliharaan keraton yang terlalu gemuk untuk berlari."

Jayantaka mengangguk pelan, keputusannya telah bulat. "Aku akan mengevaluasi ulang posisi Argakusuma. Pasukan bayanganku tidak boleh dipimpin oleh pria yang takut kotor. Aku akan mencari seseorang yang lebih... brutal."

Pangeran itu mengecup dahi Pregiwa sekali lagi, kali ini dengan rasa hormat yang sedikit meningkat, lalu bergegas keluar dari kamar permaisurinya, pikiran dipenuhi oleh rencana untuk merombak sistem intelijennya. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja membuka gerbang pertahanan terpenting Swantipura, dan menyerahkan kuncinya ke tangan sang permaisuri.

Begitu pintu tertutup kembali, Pregiwa mengambil sapu tangan sutra dari meja riasnya. Dengan gerakan kasar dan penuh kebencian, ia menggosok kuat-kuat dahi dan lehernya yang baru saja disentuh oleh suaminya, menggosoknya hingga kulit pualamnya memerah seolah ingin menghilangkan noda kotoran yang tak kasat mata.

"Satu bidak lagi melangkah sesuai keinginanku," desis Pregiwa kepada pantulannya di cermin.

Kini, setelah Pangeran Jayantaka dibuat meragukan telik sandinya sendiri, Pregiwa harus bergerak cepat. Ia harus menemukan "anjing pelacak kelaparan" itu lebih dulu sebelum suaminya menemukannya. Ia harus memastikan bahwa kepala mata-mata Swantipura yang baru, adalah pria yang memiliki tali kekang yang berujung di tangan Dewi Pregiwa.

Menjelang siang, di bawah terpaan angin beku yang menusuk tulang, Pregiwa keluar dari kamarnya. Ia tidak mengenakan gaun sutra mewahnya. Ia membalut tubuhnya dengan jubah mantel bulu serigala hitam yang menutupi wajah dan mahkotanya. Ditemani hanya oleh satu emban tua yang paling setia dan bisa tutup mulut, sang permaisuri melangkah menjauhi paviliun utama keraton yang hangat.

Mereka menyusuri lorong-lorong batu yang semakin lama semakin lembap dan gelap. Tidak ada permadani di lantai ini. Bau amis darah mentah bercampur dengan kotoran hewan menguar sangat kuat, membuat sang emban berkali-kali menutup hidungnya dengan ujung kain.

Pregiwa terus berjalan tanpa gentar. Ia sedang menuju Menara Gagak.

Menara Gagak adalah menara observasi tua yang terisolasi di sisi utara benteng granit. Tempat ini bukanlah tempat untuk para bangsawan. Ini adalah markas komando komunikasi rahasia, tempat ribuan burung gagak, elang malam, dan burung hantu dilatih untuk mengirimkan gulungan perkamen berisi rahasia negara melintasi benua. Tempat ini kotor, bau, dan berisik oleh kepakan sayap.

Ketika Pregiwa tiba di depan pintu kayu oak tebal di dasar menara, tidak ada prajurit yang berjaga. Orang-orang keraton terlalu jijik untuk mendekati tempat ini.

Pregiwa mendorong pintu itu. Bunyi engsel berkarat menjerit nyaring.

Di dalam ruangan yang gelap dan dipenuhi sangkar-sangkar besi yang bergantungan di langit-langit, duduklah seorang pria tua berbongkok. Pakaiannya compang-camping dan berbau kotoran burung. Jari-jarinya panjang dan kurus layaknya cakar elang, sedang sibuk mengikatkan tabung perak kecil ke kaki seekor gagak hitam raksasa.

"Tidak ada bangsawan yang turun ke mari sejak dua dekade yang lalu," suara pria tua itu terdengar serak dan menggerisik, seperti suara dua batu padas yang digesekkan. Ia tidak menoleh ke arah pintu. Matanya yang sebelah tertutup katarak putih, sementara mata kirinya yang hitam legam memancarkan kecerdasan yang luar biasa licik. "Apalagi seorang permaisuri yang gaunnya lebih mahal dari seluruh nyawa di desa utara."

Pregiwa memberi isyarat agar embannya berjaga di luar dan menutup pintu. Ia melangkah masuk, mengabaikan bau busuk yang menyengat.

"Kau memiliki mata yang tajam meski tidak menoleh, Ki Randu," ucap Pregiwa datar, memanggil nama pria itu—nama yang ia ketahui dari bisik-bisik para pelayan dapur. Ki Randu, Sang Pemelihara Gagak. Pria rendahan yang dikabarkan selalu membaca setiap pesan rahasia yang masuk sebelum pesan itu disegel kembali dan dikirimkan ke meja Senopati Argakusuma.

Pria bongkok itu menghentikan pekerjaannya. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap sosok cantik yang berdiri di tengah ruangannya yang kotor.

"Telingaku lebih tajam dari mataku, Gusti Ratu," kekeh Ki Randu, sebuah tawa yang terdengar sangat menyeramkan di ruang gema menara. "Gagak-gagakku tidak hanya terbang membawa pesan tulisan. Mereka juga terbang membawa bisikan. Hamba tahu bahwa semalam, dua puluh ribu pasukan Panglima Haryasuta tiba-tiba menerima jatah selimut tebal dan gandum kualitas terbaik... yang dibeli bukan dari perbendaharaan raja."

Pregiwa tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Sebaliknya, ia melengkungkan senyum dingin yang membuat Ki Randu terdiam seketika. Ratu ini tidak seperti yang dibicarakan oleh gosip keraton. Ia bukan boneka pualam yang rapuh. Ia adalah pemain yang sangat berbahaya.

"Maka kau juga tahu mengapa aku datang menemuimu di tempat menjijikkan ini, Ki Randu," balas Pregiwa melangkah mendekati meja kerja tua itu. Ia meletakkan sebuah kantung kecil yang bukan berisi emas, melainkan berisi sebuah cincin perak bermata batu kecubung—cincin segel komando rahasia yang ia curi dari laci meja Pangeran Jayantaka pagi tadi.

"Aku membutuhkan telinga dan matamu. Bukan untuk suamiku, bukan untuk Senopati Argakusuma yang sebentar lagi akan kehilangan kepalanya, tapi untukku," desis Pregiwa, auranya menekan pria tua itu. "Sebagai gantinya, saat argakusuma jatuh, akulah yang akan membisikkan namamu di telinga raja. Kau tidak akan lagi menjadi pemelihara burung yang bau kotoran. Kau akan menjadi Bayangan Swantipura yang sesungguhnya. Kau akan duduk di meja dewan, dan para bangsawan yang dulu meludahimu akan menunduk mencium kakimu."

Ki Randu menatap cincin segel kekuasaan itu dengan napas tertahan. Ambisi yang telah lama ia kubur di bawah kotoran gagak tiba-tiba menyala terang benderang. Ia menatap ke dalam mata sang permaisuri, dan ia melihat sebuah kegelapan yang sangat menjanjikan. Sebuah kegelapan yang siap membakar kerajaan ini hingga ke akarnya.

Pria tua berbongkok itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang menghitam. Ia meraih cincin itu dengan tangan gemetar.

"Dunia adalah milik mereka yang bergerak di dalam bayang-bayang, Gusti Permaisuri," bisik Ki Randu parau. "Gagak-gagak Swantipura, mulai detik ini, hanya akan menyanyikan lagu yang Gusti perintahkan."

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!