Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Terpana
Malam itu, atmosfer di dalam apartemen Laras terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak seperti malam sebelumnya, namun ada getaran antisipasi yang membuat udara seolah mengandung listrik. Di dalam kamar, Maya sedang berdiri di belakang Laras, jemarinya yang terampil sedang menyematkan sisa rambut Laras ke dalam sanggul modern yang elegan namun tetap menyisakan beberapa helai untuk membingkai wajahnya.
Di atas tempat tidur, kotak-kotak beludru dengan logo brand ternama berserakan. Elang tidak main-main dengan ucapannya. Ia mengirimkan segala sesuatu yang dibutuhkan Laras untuk malam ini: sebuah gaun silk-satin berwarna biru dongker yang dalam, hampir hitam, dengan potongan halter neck yang mengekspos bahu Laras yang jenjang dan halus. Sepasang sepatu tumit tinggi bertahtakan kristal dan sebuah tas genggam kecil yang senada.
"Kamu cantik sekali, Ras," bisik Maya, suaranya mengandung nada kekalahan namun juga kekaguman yang tulus. "Gaun ini... ini bukan sekadar baju. Ini adalah pernyataan."
Laras menatap pantulannya di cermin. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajahnya tipis namun tegas, menonjolkan mata teduhnya yang kini tampak lebih misterius. "Aku merasa seperti orang lain, May."
"Memang," sahut Maya pendek. Ia merapikan lipatan gaun Laras. "Kamu sedang menjadi wanitanya Elang Dirgantara malam ini. Ingat, jangan biarkan mereka meremehkanmu hanya karena mereka punya uang. Kamu punya bakat yang tidak bisa mereka beli."
Ketukan di pintu depan memutus pembicaraan mereka. Elang sudah datang.
Saat Laras melangkah keluar kamar, ia melihat Elang berdiri di tengah ruang tamu. Pria itu mengenakan setelan jas hitam tiga potong yang sangat formal, memberikan kesan otoritas yang mutlak. Mata Elang yang tajam seketika terkunci pada sosok Laras. Untuk beberapa detik, pria yang biasanya selalu memiliki kata-kata tajam itu hanya bisa terdiam, tenggorokannya bergerak naik turun saat ia menelan ludah.
Laras berjalan mendekat, setiap langkahnya anggun dan hati-hati. Ia berhenti tepat di depan Elang. Elang tidak mengatakan "kamu cantik", namun tatapan matanya yang menggelap dan hampir gila itu sudah cukup mewakili ribuan pujian.
Elang kemudian beralih menatap Maya yang berdiri di ambang pintu kamar. Suasana sempat canggung sejenak mengingat perselisihan hebat mereka kemarin.
"Terima kasih, Maya," ucap Elang singkat dengan nada yang tulus namun tetap berwibawa. "Terima kasih sudah membantunya bersiap."
Maya hanya mengangguk kaku, sedikit terkejut dengan ucapan terima kasih itu. "Jaga dia, Tuan Elang. Jangan biarkan dia lecet sedikit pun di tempat itu."
Elang tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengulurkan lengannya pada Laras. Dengan gerakan lembut, Laras menyambut lengan kokoh itu, dan mereka melangkah pergi meninggalkan apartemen menuju takdir yang menanti di The Eagle.
***
The Eagle malam itu tampak lebih megah dan mengintimidasi daripada saat Laras pertama kali datang sebagai penari panggilan. Mobil Rolls-Royce milik Elang berhenti tepat di depan pintu utama yang dijaga ketat. Begitu pintu mobil dibuka oleh petugas valet, kilatan lampu jalanan menyinari kaki Laras yang jenjang saat ia melangkah keluar.
Elang tidak melepaskan tangan Laras. Ia merangkul pinggang wanita itu dengan protektif, menariknya sedekat mungkin ke tubuhnya. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam klub eksklusif tersebut, musik jazz yang sedang dimainkan di panggung utama seolah meredup.
Seluruh pasang mata di ruangan itu—mulai dari para pengusaha kelas atas, pejabat, hingga sosialita—langsung tertuju pada mereka berdua. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas jerami.
"Itu Elang Dirgantara?"
"Siapa wanita di sampingnya? Aku belum pernah melihatnya di lingkaran kita."
"Luar biasa... dia tidak pernah membawa wanita ke acara seperti ini sebelumnya."
Elang tidak mempedulikan bisikan itu. Ia berjalan dengan dagu terangkat, membelah kerumunan dengan aura dominasi yang membuat orang-orang secara otomatis memberi jalan. Ia membawa Laras menuju area VIP yang berada di lantai dua, menghadap langsung ke arah panggung utama.
Di sana, beberapa pria paruh baya dengan pakaian sangat mahal sedang duduk mengelilingi meja bundar. Mereka adalah rekan bisnis Elang, orang-orang yang mengendalikan sebagian besar ekonomi di kota ini.
"Elang! Akhirnya sang raja keluar dari sarangnya," seru salah satu pria bernama Pak Baskoro, seorang pengusaha properti yang dikenal cukup licin.
Elang menyalami mereka satu per satu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap berada di pinggang Laras. "Maaf terlambat. Saya harus memastikan pendamping saya siap."
"Dan siapa bidadari ini, Elang?" tanya rekan yang lain, matanya tidak lepas dari Laras dengan tatapan yang sedikit terlalu lapar.
"Perkenalkan, ini Laras Maheswari," ucap Elang, suaranya terdengar sangat bangga. "Dia adalah seorang penari profesional dari Nusantara Arts Foundation. Dia adalah penari utama dalam pementasan besar yang sedang kami persiapkan."
Laras tersenyum tipis dan mengangguk sopan. "Selamat malam, Bapak-Bapak."
"Penari? Pantas saja tubuhnya begitu lentur dan indah," goda Pak Baskoro sambil menyesap cerutunya. "Aku selalu menyukai seni... terutama jika seninya secantik ini. Elang, kamu benar-benar pintar menyembunyikan permata."
***
Suasana makan malam itu berlangsung dengan obrolan bisnis yang berat, namun Laras tetap tenang. Elang sesekali membisikkan penjelasan singkat di telinga Laras tentang siapa yang sedang bicara, memastikan Laras tidak merasa asing.
Namun, ketegangan mulai muncul saat Pak Baskoro, yang tampaknya sudah sedikit dipengaruhi oleh alkohol, mulai melewati batas. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Laras, mengabaikan kehadiran Elang yang duduk tepat di samping wanita itu.
"Jadi, Laras... sebagai penari, kamu pasti tahu cara menghibur penonton dengan sangat baik, bukan?" tanya Baskoro dengan nada merendah yang disamarkan sebagai pujian. "Mungkin setelah ini, kamu bisa memberikan 'tarian khusus' untuk kami di meja ini? Aku punya proyek di Bali yang butuh hiburan berkelas. Aku bisa membayarmu sepuluh kali lipat dari apa pun yang diberikan yayasan ini."
Laras merasakan tubuhnya menegang. Ia merasa terhina, namun sebelum ia sempat menjawab, ia merasakan tangan Elang di pinggangnya mencengkeram lebih erat.
Elang meletakkan gelas wiskinya ke meja dengan suara tak yang cukup keras untuk menghentikan tawa kecil rekan lainnya. Elang menoleh perlahan ke arah Baskoro. Matanya yang tadi tampak tenang kini berubah menjadi sedingin es yang tajam.
"Baskoro," suara Elang rendah, hampir seperti geraman predator yang memperingatkan.
Baskoro tertawa canggung. "Ayolah, Elang. Aku hanya bercanda. Kita semua tahu bisnis seni itu seperti apa."
"Bagi kamu, mungkin semuanya adalah barang dagangan yang bisa dibeli dengan recehanmu itu," ucap Elang, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang mematikan. "Tapi dengarkan aku baik-baik. Laras bukan 'hiburan' yang bisa kamu tawar. Dia adalah seorang seniman, dan tarian yang dia miliki adalah sebuah kehormatan yang tidak semua orang layak untuk melihatnya."
Elang mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Baskoro, meskipun ia tetap tidak melakukan kontak fisik, auranya sudah cukup untuk membuat Baskoro sedikit mundur.
"Jika kamu merasa uangmu cukup banyak untuk membeli harga diri seseorang, aku sarankan kamu gunakan uang itu untuk membeli sopan santun yang baru. Karena jika sekali lagi kamu membuka mulutmu untuk menghina profesinya atau keberadaannya di sampingku... aku akan memastikan proyek propertimu di Bali itu tidak akan pernah melihat matahari terbit."
Keheningan menyergap meja itu. Baskoro menelan ludah, wajahnya memucat. Ia tahu Elang tidak pernah menggertak sambal. Elang Dirgantara bisa menghancurkan kerajaan bisnis seseorang hanya dengan satu telepon.
"Maaf, Elang. Aku... aku tidak bermaksud begitu," gumam Baskoro sambil memalingkan wajahnya.
Elang tidak menanggapi permintaan maaf itu. Ia kembali bersandar di kursinya, wajahnya kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menoleh pada Laras dan membelai punggung tangannya dengan ibu jari. "Kamu baik-baik saja?"
Laras menatap Elang dengan ketulusan yang mendalam. Ia merasa sangat terlindungi. Elang tidak perlu berteriak atau memukul untuk membelanya; kekuatan kata-kata dan otoritasnya sudah cukup untuk membungkam serigala-serigala di meja itu.
"Saya baik-baik saja, Tuan," bisik Laras.
*
Malam semakin larut di The Eagle. Musik beralih menjadi lebih melankolis. Elang membawa Laras ke balkon pribadi di lantai atas yang menjauh dari keramaian. Di sana, angin malam berhembus lembut, membawa aroma laut yang jauh.
Laras menatap lampu-lampu kota yang terbentang di bawah mereka. "Terima kasih sudah membela saya tadi."
Elang berdiri di belakangnya, melingkarkan tangannya di perut Laras dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. "Sudah kubilang, Laras. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu atau menghinamu selama kamu bersamaku."
Laras memejamkan mata, menikmati kehangatan tubuh Elang. "Dunia Anda... sangat keras, Elang. Mengapa Anda ingin saya mengenalnya?"
"Karena aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak hanya memilikimu dalam sangkar," bisik Elang. "Aku ingin dunia tahu siapa kamu bagiku. Agar mereka tahu batasannya. Agar mereka tahu bahwa Laras Maheswari adalah satu-satunya kelembutan yang ada di tengah kekerasanku."
Elang membalik tubuh Laras agar menghadapnya. Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang, ia menatap Laras dengan tatapan yang hampir gila akan pemujaan.
"Semua orang di bawah sana melihatmu malam ini, Laras. Mereka iri padaku. Dan itu membuatku merasa sangat puas," Elang mengakui sifat posesifnya tanpa malu-malu. "Tapi yang paling penting adalah, kamu melihat siapa aku. Aku bukan pria yang baik, tapi aku pria yang akan menghancurkan dunia demi menjagamu tetap berdiri di sampingku."
Laras tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tulus. Ia menyadari bahwa meskipun Elang sangat posesif, pria ini memberikan sebuah bentuk kehormatan yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun. Elang tidak menjadikannya rahasia; Elang menjadikannya pusat dari dunianya.
Elang mencium tangan Laras dengan sangat khidmat, sebuah janji tanpa kata bahwa malam ini adalah awal dari Laras yang benar-benar masuk ke dalam jantung kekuasaan Sang Elang, sementara di bawah sana, The Eagle terus berdenyut, menjadi saksi bisu kemunculan sang ratu baru di samping sang raja yang tak tertandingi.