Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas! Jangan Dilihatin Terus
Cahaya lampu tidur yang temaram menciptakan bayangan panjang di dinding kamar dan memberikan privasi yang kental bagi dua insan yang baru saja saling membuka tabir hati. Abi tidak melepaskan tatapannya dari wajah Shanum, ia memperhatikan setiap jengkal ekspresi istrinya, mulai dari kelopak mata yang bergetar hingga rona merah yang tak kunjung pudar dari pipinya.
Lengan kokoh Abi menyangga tubuhnya sendiri di atas Shanum, memastikan beban tubuhnya tidak menyakiti perempuan dibawahnya itu. Jemarinya yang panjang bergerak perlahan, menyelipkan beberapa helai rambut hitam Shanum yang masih sedikit lembap ke belakang telinga.
"Terima kasih, Shanum... Terima kasih sudah menerima saya," bisik Abi.
Suara Abi tidak lagi dingin seperti saat memberi kuliah, ada nada kerentanan dan ketulusan yang mendalam di sana.
Shanum memberanikan diri membuka mata. Di bawah remang lampu, ia melihat sisi lain dari suaminya, bukan sang dosen yang disegani, bukan pria kaku yang irit bicara, melainkan seorang laki-laki yang sedang menawarkan seluruh dunianya, Shanum merasakan getaran hangat menjalar dari jemari Abi ke seluruh sarafnya.
"Aku yang berterima kasih, Mas. Karena Mas Abi mau bersabar menghadapi aku yang serba kurang ini," jawab Shanum lirih dan jemarinya meremas bahu kaus hitam Abi.
Abi menggeleng pelan, wajahnya merendah hingga napasnya yang hangat terasa menyapu permukaan bibir Shanum. "Jangan pernah katakan itu lagi, kamu adalah jawaban dari doa-doa yang bahkan belum sempat saya ucapkan dengan lantang," ucap Abi.
Tanpa menunggu lebih lama, Abi memangkas jarak yang tersisa. C**m*nnya mendarat lembut, sebuah perpaduan antara janji dan keinginan yang telah lama terpendam, Shanum merespons dengan perlahan dan membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan protektif suaminya. Di dalam kamar yang kedap suara itu, dunia seolah berhenti berputar, hanya ada detak jantung yang kini berdegup dalam frekuensi yang sama.
Malam itu, di tengah kesunyian apartemen yang menghadap gemerlap kota Bandung, dua jiwa resmi melebur. Abi membuktikan ucapannya bahwa Shanum bukan sekadar formalitas pernikahan, melainkan pelengkap imannya yang paling berharga.
.
Di dalam kamar yang sejuk, suasana terasa begitu tenang dan sakral. Jarum jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 04.10 pagi, beberapa menit sebelum seruan agung azan Subuh menggema membelah sunyi kota.
Abi adalah yang pertama kali bangun, matanya terbuka perlahan menyesuaikan diri dengan sisa keremangan lampu tidur yang masih menyala. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang begitu pas di pelukannya, ia menunduk dan mendapati Shanum masih terlelap pulas dengan posisi kepala bersandar di dada bidangnya, menjadikan lengan kokoh Abi sebagai bantal yang paling nyaman.
Abi terdiam sejenak, membiarkan ingatannya memutar kembali kejadian semalam dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan sekaligus rasa syukur yang mendalam. Di balik selimut tebal yang membungkus mereka, Abi menyadari posisi intim mereka yang masih polos tanpa sehelai benang pun, kulit mereka yang bersentuhan memberikan sensasi panas yang menjalar hingga ke ulu hati.
"Sayang," bisik Abi serak, suaranya yang berat khas bangun tidur terdengar begitu maskulin.
Abi mengusap bahu polos Shanum yang terasa halus dan hangat, jemarinya bergerak turun menelusuri lekuk punggung istrinya yang tersembunyi di balik selimut. Sentuhan itu rupanya memicu reaksi Shanum, ia melenguh pelan dan tak lama kemudian, matanya terbuka sedikit demi sedikit.
Begitu kesadaran Shanum pulih sepenuhnya, hal pertama yang ia lihat adalah tatapan intens Abi yang tepat berada di atasnya. Ingatan tentang pergulatan manis semalam seketika membanjiri pikirannya, membuat wajah Shanum yang tadinya tenang langsung berubah merah padam hingga ke dada.
"Mas... Mas Abi sudah bangun?" tanya Shanum dengan suara yang hampir hilang karena malu.
Shanum mencoba menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi tubuhnya yang terekspos, namun tangan Abi justru menahannya.
"Sudah dari tadi, saya sedang menikmati pemandangan yang jauh lebih indah daripada kawah Tangkuban Perahu kemarin," goda Abi, matanya yang tajam kini tampak jenaka saat memandangi wajah Shanum yang semakin salah tingkah.
"Mas! Jangan dilihatin terus," rengek Shanum pelan dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal, ia merasa sangat malu karena menyadari kondisi mereka saat ini.
Abi tertawa rendah, suara baritonnya menggetarkan kasur. "Kenapa harus malu? Saya suami kamu dan... saya juga sudah melihat bahkan merasakannya sendiri," ucap Abi sambil menarik bantal yang menutupi wajah Shanum.
Tawa Abi bergema di kamar yang masih remang itu, sebuah suara yang kini menjadi musik favorit bagi Shanum. Tanpa memberikan peringatan, Abi menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuh polos mereka.
Shanum memekik pelan, tangannya bergerak cepat mencoba menutupi area dadanya yang terekspos, namun Abi justru menangkap kedua pergelangan tangan istrinya dan menguncinya di atas kepala.
"Mas... Mas Abi, malu," gumam Shanum dengan napas yang mulai memburu.
Abi tidak membalas dengan kata-kata, ia justru merendahkan wajahnya dan menghirup aroma alami tubuh Shanum yang bercampur dengan sisa-sisa keintiman semalam di ceruk lehernya. Kecupan-kecupan kecil yang menuntut mulai Abi daratkan di sana, membuat bulu kuduk Shanum meremang hebat.
"Sudah hampir subuh, kita harus mandi besar," bisik Abi serak tepat di telinga Shanum.
Sebelum Shanum sempat memproses kalimat itu, tubuhnya tiba-tiba melayang, Abi mengangkat tubuh mungil istrinya dalam gendongan bridal style.
Dalam kondisi sama-sama tanpa busana, persentuhan kulit ke kulit itu terasa begitu elektrik, mengirimkan desiran panas yang membuat Shanum reflek melingkarkan lengannya erat di leher kokoh Abi dan menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada bidang suaminya.
Langkah kaki Abi mantap menuju kamar mandi yang berada di sudut kamar. Begitu masuk, ia mendudukkan Shanum di atas meja wastafel marmer yang dingin yang seketika membuat Shanum tersentak. Abi berdiri di antara kedua kaki Shanum, tangannya bertumpu di sisi kanan dan kiri tubuh istrinya dan mengurung Shanum dalam intimidasi yang manis.
"Mas... a-ayo mandi, nanti keburu azan," ucap Shanum terbata, matanya tak berani menatap netra gelap Abi yang kini berkilat penuh damba.
Abi terkekeh, jemarinya yang panjang mulai menelusuri paha Shanum. "Mandi bersama itu sunnah, sayang. Dan saya ingin melakukannya dengan sangat... detail," bisik Abi tepat di telinga Shanum.
Abi menyalakan shower, kucuran air hangat mulai jatuh membasahi lantai keramik, menciptakan uap panas yang memenuhi ruangan sempit itu. Abi menarik Shanum masuk ke bawah kucuran air, air hangat yang mengguyur tubuh mereka seolah meluruhkan sisa rasa canggung yang ada.
Namun, bukannya segera meraih sabun. Abi justru memerangkap tubuh Shanum di dinding kamar mandi yang basah, tangan Abi mulai menjelajah dan membelai lekuk tubuh Shanum yang tampak berkilau di bawah lampu kamar mandi dan tetesan air. Saat bibir mereka kembali bertemu, c**m*n itu tidak lagi lembut seperti semalam, kali ini terasa lebih lapar, lebih menuntut dan penuh dengan kepemilikan.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊