NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: KAKEK JATUH SAKIT KARENA KELELAHAN

Kakek kerja. Setiap hari. Sejak matahari terbit. Sampai matahari terbenam.

Mahesa melihat dari beranda. Melihat punggung bungkuk itu pergi pagi-pagi. Membawa parang dan karung kosong. Kembali sore dengan kayu bakar di punggung. Atau dengan upah sedikit dari kebun orang.

Tujuh puluh tahun. Tubuh yang sudah tidak kuat. Yang sudah bungkuk sejak nenek mati. Yang sudah gemetar setiap bangun tidur. Tapi tetap pergi. Tetap kerja. Tetap... berjuang.

Untuk makan. Untuk obat. Untuk Mahesa.

"Kakek istirahat, Kek," Mahesa pernah berkata. Suatu sore, saat kakek pulang dengan batuk-batuk.

Kakek tersenyum. Tipis. "Nanti kalau sudah tua." Lalu tertawa kecil. Tahu dirinya sudah tua. Tahu tidak ada "nanti".

Mahesa diam. Tidak bisa memaksa. Tidak bisa kerja menggantikan. Hanya bisa duduk. Hanya bisa melihat. Hanya bisa... menjadi alasan kakek terus bekerja.

---

Sampai satu pagi. Matahari sudah terbit. Tapi kakek tidak bangun.

Mahesa menunggu di tikar. Di pojok yang sejak dulu menjadi miliknya. Menunggu suara kakek. Menunggu langkah di dapur. Menunggu yang biasa.

Tidak ada. Hanya suara napas. Berat. Sesak. Seperti ada yang mengganjal di dada.

Mahesa memanggil. "Kek? Kek!"

Tidak ada jawaban. Hanya napas yang semakin berat.

Mahesa panik. Merangkak ke kamar kakek. Ke lantai tempat kakek tidur—kakek tidak mau ambil kasur, katanya biar Mahesa yang pakai.

Kakek terbaring. Wajah merah. Demam tinggi. Keringat membasahi seluruh tubuh. Batuk-batuk. Napas tersengal.

"Kek!" Mahesa memegang tangan kakek. Panas. Sangat panas.

Kakek membuka mata. Samar. Melihat Mahesa. "Na... Nak..."

"Kek, jangan tidur! Kakek jangan tidur!" Mahesa hampir menangis. "Aku panggil tolong!"

Mahesa berusaha berdiri. Kaki kanan sakit. Tapi tidak peduli. Ia merangkak ke beranda. Berteriak sekuat tenaga.

"TOLONG! TOLONG! KAKEK SAKIT!"

Suaranya serak. Parau. Tapi cukup keras. Cukup untuk didengar tetangga.

Bu Sarti datang. Beberapa tetangga lain. Mereka melihat kakek. Berbisik-bisik. Lalu memutuskan membawa ke puskesmas.

"Kamu di sini," kata Bu Sarti ke Mahesa. "Nanti aku kabari."

Mahesa menggeleng. "Aku ikut."

Bu Sarti melihat kakinya. Ragu. Tapi Mahesa sudah berdiri. Berjalan pincang ke pintu. Tidak peduli sakit. Tidak peduli apa pun.

Mereka pergi. Berdua. Mahesa di samping kakek yang digotong. Berjalan pelan. Sangat pelan. Tapi terus.

---

Di puskesmas, kakek diperiksa. Dokter bilang kelelahan. Jantung lemah. Harus istirahat total. Tidak boleh kerja berat lagi.

Mahesa mendengar. Menyimpan setiap kata. Tapi dalam hati, ia bertanya: Kalau tidak kerja, kita makan apa? Obat dari mana?

Kakek diinfus. Tidur. Wajahnya pucat. Tapi napas mulai tenang.

Mahesa duduk di kursi plastik. Menunggu. Memikirkan banyak hal. Tapi paling sering: Aku harus bisa. Aku harus bisa jaga diri. Jaga kakek.

---

Sore. Kakek pulang. Dibantu Bu Sarti. Lemah. Sangat lemah. Tapi masih bisa tersenyum melihat Mahesa.

"Kakek baik," katanya. Dusta yang sama. Tapi Mahesa terima.

Malam. Kakek tidur di kasur—dipaksa Mahesa. "Kakek pakai kasur. Aku di lantai."

Kakek protes. Tapi Mahesa sudah menggelar tikar di lantai. "Aku bisa, Kek. Kakek istirahat."

Kakek diam. Matanya berkaca. Tapi tidak berkata apa-apa.

---

Malam itu, Mahesa tidak tidur. Bukan karena sakit kaki. Tapi karena pikiran.

Memikirkan kakek yang hampir mati. Memikirkan dirinya yang tidak bisa apa-apa. Memikirkan... jika kakek benar-benar pergi.

Air mata jatuh. Sendirian. Di lantai. Di gelap.

Tiba-tiba, suara kakek. "Mahesa."

Mahesa menoleh. Kakek bangun. Duduk di tepi kasur. Lemah. Tapi tersenyum.

"Kesini, Nak."

Mahesa merangkak. Duduk di samping kakek.

"Kakek mau bilang sesuatu," kata kakek. Suara serak. Tapi jelas. "Kamu harus bisa jaga diri. Kalau... kalau kakek tidak ada."

Mahesa menangis. Memeluk kakek. "Kek jangan bicara begitu. Kakek akan sembuh."

Kakek mengelus rambut Mahesa. "Semua orang akan pergi, Nak. Kakek sudah tua. Tapi sebelum pergi, kakek ingin kamu bisa. Bisa masak. Bisa cari makan. Bisa... hidup."

Mahesa hanya bisa menangis. Tidak bisa berkata apa-apa.

"Besok," kakek melanjutkan. "Besok kakek ajarin kamu. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit."

Mahesa mengangguk. Dalam tangis.

---

Pagi. Kakek bangun lebih baik. Masih lemah. Tapi bisa duduk. Bisa bicara.

"Ayo," katanya. "Ke dapur. Kakek ajarin masak nasi."

Mahesa berdiri. Membantu kakek berjalan. Perlahan. Ke dapur.

Kakek mengajari. Cara mencuci beras. Cara mengukur air. Cara menyalakan api. Sederhana. Tapi bagi Mahesa, seperti pelajaran paling penting di dunia.

Nasi jadi. Tidak sempurna. Terlalu lembek. Tapi nasi. Buatan sendiri. Pertama kali.

Mereka makan bersama. Kakek tersenyum. "Enak."

Mahesa tahu itu bohong. Tapi tersenyum balik.

---

Hari-hari berikutnya, Mahesa belajar. Masak sayur. Rebus air. Cuci piring. Semua yang bisa dilakukan dengan kaki sakit.

Kakek mengajari dengan sabar. Kadang marah. Tapi lebih sering tersenyum.

"Kamu cepat belajar," kata kakek suatu hari. "Seperti ayahmu."

Mahesa diam. Membayangkan ayah. Yang bekerja di tambang. Yang jatuh dari bangunan. Yang pergi terlalu cepat.

"Ayahmu juga belajar cepat," kakek melanjutkan. "Dia yatim sejak kecil. Nenekmu kerja keras. Dia harus bisa jaga diri."

Mahesa mendengar. Menyimpan cerita itu.

"Dan dia berhasil," kakek tersenyum. "Dia tumbuh jadi laki-laki baik. Kerja keras. Sayang keluarga. Sampai..."

Tidak dilanjutkan. Tapi Mahesa tahu. Sampai ayah mati. Karena kerja keras. Untuknya.

"Kakek," Mahesa berkata. "Aku akan bisa. Aku janji."

Kakek menatapnya. Lama. Lalu mengangguk. "Kakek tahu."

---

Seminggu berlalu. Kakek semakin pulih. Bisa jalan sedikit. Bantu Mahesa di dapur. Tapi tidak lagi bekerja di luar.

Uang mulai menipis. Persediaan beras hampir habis. Mahesa cemas. Tapi tidak bilang ke kakek.

Suatu malam, ia mendengar kakek batuk-batuk. Lebih keras dari biasanya. Ia bangun. Melihat kakek terbaring dengan napas berat.

"Kek?" panggilnya. Takut.

Kakek membuka mata. "Nggak apa-apa. Batuk biasa."

Tapi Mahesa tahu itu bukan biasa. Wajah kakek pucat. Bibirnya kering.

Ia mengambil air. Memberi minum. Membantu kakek duduk.

"Kek, besok ke puskesmas lagi," katanya.

Kakek menggeleng. "Nggak usah. Buang uang."

"Tapi Kek..."

"Mahesa." Kakek memegang tangannya. "Dengar. Kakek sudah tua. Kalau waktunya, ya sudah. Yang penting kamu bisa. Kamu sudah bisa masak. Bisa jaga diri. Itu cukup."

Mahesa menangis. Memeluk kakek.

"Jangan nangis," kakek berbisik. "Kakek bangga sama kamu. Kamu kuat. Seperti ayahmu."

Malam itu, Mahesa tidak tidur. Ia duduk di samping kakek. Menunggu. Menjaga. Seperti kakek menjaganya selama ini.

---

Pagi. Kakek masih hidup. Masih bernapas. Masih tersenyum.

Mahesa memasak bubur. Sendiri. Tanpa disuruh. Menghidangkan untuk kakek.

"Ini, Kek. Makan biar sehat."

Kakek menerima. Makan perlahan. Matanya berkaca.

"Enak," katanya. Kali ini tidak bohong. Mahesa tahu.

Setelah makan, mereka duduk di beranda. Bersama. Melihat matahari naik.

"Kek," Mahesa berkata. "Aku akan jaga Kakek. Seperti Kakek jaga aku."

Kakek tersenyum. Mengangguk.

"Iya, Nak. Kakek tahu."

Mereka diam. Menikmati pagi. Angin sejuk. Burung berkicau. Hidup sederhana. Tapi bersama.

Kaki Mahesa masih besar. Masih sakit. Tapi hari ini, ia bisa masak. Bisa jaga kakek. Bisa... berguna.

Dan itu cukup. Untuk hari ini. Untuk kakek yang sakit. Untuk semua ketakutan.

Itu cukup.

Karena ada yang bisa ia lakukan. Ada yang bisa ia beri. Ada yang bisa ia jaga.

Pagi ini, itu cukup.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!