NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Makan Malam Yang Tak Lagi Sama

Malam datang dengan suasana yang lebih tenang dibandingkan siang hari yang penuh pergerakan, namun justru di dalam ketenangan itu tersimpan ketegangan yang tidak terlihat, terutama bagi Lisa yang kini duduk di dalam mobilnya dalam perjalanan menuju lokasi yang telah dikirim oleh Arvin, sebuah restoran mewah di pusat kota yang dulu terasa begitu istimewa baginya, tetapi sekarang hanya menjadi salah satu panggung kecil dalam permainan besar yang sedang ia jalankan dengan penuh perhitungan dan tanpa sedikit pun ruang untuk kesalahan.

Saat mobil berhenti di depan restoran, Lisa turun dengan anggun, langkahnya tenang dan terukur, sorot matanya kembali menjadi lembut seperti Lisa yang dulu, sebuah topeng yang ia kenakan dengan sempurna karena ia tahu Arvin masih menginginkan versi itu, dan justru dengan memberikan sedikit dari apa yang ia harapkan, Lisa bisa menariknya lebih dalam tanpa membuatnya sadar bahwa ia sedang dikendalikan secara perlahan.

Begitu masuk ke dalam restoran, seorang pelayan langsung mengantarnya ke meja yang sudah dipesan, dan di sana Arvin sudah duduk lebih dulu, mengenakan setelan rapi dengan ekspresi yang berusaha terlihat santai, namun bagi Lisa yang kini mampu membaca setiap perubahan kecil, jelas terlihat bahwa pria itu sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.

“Maaf aku terlambat,” kata Lisa dengan nada lembut sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya.

Arvin langsung menggeleng.

“Aku juga baru sampai,” jawabnya, meskipun sebenarnya ia sudah menunggu cukup lama.

Beberapa detik pertama terasa sedikit canggung, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya di antara mereka, dan itu saja sudah menjadi tanda bahwa hubungan mereka mulai berubah tanpa bisa dikembalikan seperti semula.

“Kamu terlihat berbeda,” kata Arvin akhirnya sambil menatap Lisa dengan lebih dalam.

Lisa mengangkat alis sedikit.

“Berbeda bagaimana?” tanyanya.

Arvin terdiam sejenak, seolah mencari kata yang tepat.

“Lebih… sulit ditebak,” jawabnya jujur.

Lisa tersenyum tipis.

“Itu hal yang buruk?” balasnya.

Arvin menggeleng pelan.

“Tidak… hanya saja aku tidak terbiasa,” katanya.

Pelayan datang membawa menu, memberi mereka jeda sejenak, namun bahkan saat memilih makanan, pikiran keduanya tidak benar-benar berada di sana, karena yang mereka hadapi sekarang bukan sekadar makan malam biasa, melainkan percakapan yang bisa mengubah arah hubungan mereka sepenuhnya.

Setelah pesanan selesai, Arvin kembali membuka pembicaraan dengan nada yang lebih serius.

“Lisa,” katanya pelan, “tentang pria itu…”

Lisa langsung tahu arah pembicaraan ini.

Namun ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan.

“Devan?” potongnya dengan tenang.

Arvin mengangguk.

“Iya, dia,” jawabnya, lalu menatap Lisa lebih tajam, “kalian dekat?”

Lisa tidak langsung menjawab, ia mengambil gelas di depannya dan menyesap air dengan perlahan sebelum akhirnya berkata, “Baru kenal.”

Jawaban itu singkat.

Namun cukup untuk membuat Arvin semakin tidak nyaman.

“Baru kenal tapi sudah datang ke kantor kamu?” tanya Arvin, nada suaranya mulai menunjukkan ketidaksabaran.

Lisa meletakkan gelasnya dengan pelan.

“Dia punya urusan,” jawabnya.

“Urusan apa?” tanya Arvin cepat.

Lisa menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum tipis.

“Kamu terdengar sangat ingin tahu,” katanya.

Arvin menarik napas panjang.

“Aku hanya ingin memastikan,” jawabnya.

“Memastikan apa?” balas Lisa.

Bahwa kamu tidak…” Arvin berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “terlalu dekat dengan orang yang salah.”

Kalimat itu membuat Lisa hampir tertawa.

Namun ia menahannya dengan baik.

“Dan menurutmu dia orang yang salah?” tanyanya.

Arvin tidak langsung menjawab.

Namun ekspresinya sudah cukup jelas.

Lisa bersandar sedikit ke kursinya.

“Lucu,” katanya pelan.

“Apa?” tanya Arvin.

Lisa menatapnya langsung.

“Kamu bicara seolah kamu orang yang benar,” ucapnya dengan nada yang tetap lembut namun memiliki tekanan yang tidak bisa diabaikan.

Arvin terdiam.

Kalimat itu terasa berbeda.

Lebih tajam.

Lebih… menyerang.

“Lisa, aku tidak mengerti maksudmu,” katanya.

Lisa tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa,” jawabnya ringan, “memang tidak semua hal perlu dimengerti sekarang.”

Suasana kembali hening.

Namun kali ini bukan karena canggung.

Melainkan karena ada sesuatu yang mulai retak di antara mereka.

Setelah beberapa saat, Arvin akhirnya berkata dengan nada yang lebih lembut, mencoba menurunkan ketegangan, “Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu.”

Kalimat itu terdengar tulus.

Namun bagi Lisa…

Itu terdengar seperti ironi.

Lisa menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Kalau sesuatu memang milikmu… kamu tidak akan kehilangannya.”

Arvin mengernyit.

“Dan kalau bukan?” tanyanya.

Lisa tersenyum.

“Seberapa keras pun kamu mempertahankannya… tetap akan pergi.”

Kalimat itu membuat Arvin tidak bisa langsung menjawab.

Karena entah kenapa…

Ia merasa Lisa sedang mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata biasa.

Di saat yang sama…

Di meja lain yang tidak terlalu jauh dari sana…

Seorang wanita duduk dengan anggun, mengenakan gaun elegan dengan tatapan tajam yang sesekali mengarah ke meja Lisa.

Wanita itu tersenyum tipis.

Matanya penuh perhitungan.

Luna Priscilla.

Ia mengangkat gelasnya perlahan, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri…

“Jadi ini dia wanita yang membuat mereka mulai tidak tenang…”

Senyumannya semakin dalam.

“Menarik…”

Dan tanpa disadari oleh Lisa…

Seseorang yang baru telah masuk ke dalam permainan.

Seseorang yang tidak kalah berbahaya.

Dan kali ini…

Permainan tidak lagi hanya tentang balas dendam.

Tetapi juga tentang siapa yang mampu bertahan lebih lama di dalamnya. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!