Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.
tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kencan pertama
Alana melihat Satria sudah di sana, berdiri di dekat pilar besar sambil memegang dua gelas cokelat panas, bukan kopi. Kali ini ia tidak memakai jaket kulit, melainkan kemeja flanel yang membuatnya terlihat lebih santai namun tetap berwibawa.
"Cokelat panas?" tanya Alana sambil menghampirinya.
Satria memberikan satu gelas padanya. "Aku pikir kita sudah cukup kafein kemarin. Lagipula, membaca buku tua paling cocok ditemani sesuatu yang manis."
Mereka masuk ke dalam. Suasananya begitu sunyi, hanya ada suara langkah kaki mereka di atas lantai kayu yang berderit. Satria membawa Alana ke sebuah sudut di lantai dua, di mana rak-rak buku menjulang hingga ke langit-langit.
Bukannya sibuk membaca sendiri, mereka justru bermain sebuah permainan kecil: memilihkan buku untuk satu sama lain berdasarkan kesan pertama. Satria memilihkan sebuah buku puisi untuk Alana, sementara Alana memilihkan novel misteri klasik untuk Satria.
"Kenapa puisi?" tanya Alana.
"Karena setiap kali kamu bicara, kamu seolah memilih kata-katamu dengan hati-hati, seperti seorang penyair," jawab Satria pelan, matanya menatap Alana dalam-dalam.
Di sela-sela membaca, jemari mereka sempat bersentuhan saat hendak mengambil gelas yang sama. Tidak ada yang menjauh. Di tempat yang penuh dengan cerita orang lain itu, mereka sadar bahwa mereka sedang menulis bab pertama dari cerita mereka sendiri.
Kencan itu tidak berakhir dengan makan malam mewah, melainkan dengan duduk di taman perpustakaan, berbagi satu buku, dan menyadari bahwa waktu terasa berjalan sepuluh kali lebih cepat jika dihabiskan bersama orang yang tepat.
*******
Kencan pertama di perpustakaan tua itu ternyata hanyalah pembuka. Satria, dengan segala kejutan di balik sikap tenangnya, ingin memberikan sesuatu yang lebih berkesan.
Kecepatan dan Kenangan
Setelah menghabiskan waktu di antara rak buku, Satria mengajak Alana ke parkiran belakang. Di sana, terparkir sebuah motor klasik yang terawat sempurna. "Tadi kita sudah tenang dengan buku, sekarang bagaimana kalau sedikit... kencang?" ajak Satria sambil menyerahkan helm kepada Alana.
Alana sempat ragu, namun ia memakai helm itu dan naik ke boncengan. Begitu mesin menderu, mereka membelah jalanan kota yang mulai jingga karena senja. Angin menerpa wajah, dan untuk pertama kalinya, Alana harus berpegangan erat pada pinggang Satria.
Satria membawa motor itu melaju, melewati jembatan besar dan jalanan lengang di pinggiran kota. Di atas motor yang melaju kencang, percakapan mereka berganti menjadi teriakan kecil penuh tawa di balik helm. Alana merasa bebas—sebuah perasaan yang tidak ia dapatkan saat hanya duduk diam di kafe.
Mereka berhenti di sebuah puncak bukit yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam.
"Aku ingin kamu tahu," kata Satria sambil melepas helmnya, napasnya sedikit terengah karena adrenalin. "Hidupku biasanya pelan dan teratur seperti denah arsitektur. Tapi sejak bertemu kamu di kafe itu, rasanya seperti mesin yang tiba-tiba dipaksa melaju kencang. Dan aku... menyukainya."
Alana menatap Satria, rambutnya berantakan terkena angin, tapi matanya bersinar. Di kencan pertama ini, mereka tidak hanya bertukar cerita, tapi juga bertukar keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman masing-masing.
*******"
Matahari mulai menghilang di garis cakrawala, meninggalkan semburat warna ungu dan emas yang memantul di mata mereka. Satria masih berdiri di samping motornya, menatap Alana yang tampak terpesona dengan pemandangan di depan mereka.
"Alana," panggil Satria lembut. Suaranya hampir tenggelam oleh desau angin puncak bukit, namun Alana bisa mendengarnya dengan jelas.
Alana menoleh, menemukan Satria yang kini berdiri hanya selangkah darinya. "Ya?"
"Aku bukan orang yang percaya pada kebetulan," ujar Satria sambil memasukkan tangan ke saku celananya, mencoba menutupi sedikit kegugupan yang muncul. "Bagiku, pertemuan di kafe itu, pesan teks malam itu, hingga kita sampai di sini sekarang... semuanya terasa seperti keputusan yang paling benar yang pernah kubuat."
Satria mengambil satu langkah lebih dekat. "Aku ingin mengenalmu lebih dari sekadar teman diskusi buku atau teman perjalanan. Aku ingin tahu apa yang membuatmu takut, apa yang membuatmu bangga pada dirimu sendiri, dan aku ingin ada di sana untuk melihatmu meraih galeri seni impianmu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Alana. Detak jantungnya kini lebih kencang daripada laju motor tadi. Ia bisa merasakan ketulusan dalam setiap kata yang diucapkan Satria.
"Satria..." Alana menjeda, sebuah senyum merekah di wajahnya. "Aku juga tidak percaya kebetulan. Dan sepertinya, aku sudah siap untuk bab-bab selanjutnya bersamamu."
Di bawah langit yang mulai menggelap, Satria meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat. Tidak ada kembang api, tidak ada musik dramatis, hanya dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan yang tepat setelah sekian lama berlayar sendirian.
Beberapa bulan berlalu sejak sore di puncak bukit itu. Hubungan Alana dan Satria kini bukan lagi tentang debaran awal, melainkan tentang membangun ritme bersama yang lebih dalam.
Pagi itu, Alana sedang sibuk di galeri seni kecilnya yang baru saja mulai beroperasi. Sebuah proyek mimpi yang akhirnya terwujud, sebagian besar berkat dukungan teknis dan semangat dari Satria. Namun, kesibukan masing-masing mulai menjadi ujian nyata.
Ponsel Alana bergetar. Sebuah pesan dari Satria: "Aku di depan. Lima menit?"
Alana keluar dan menemukan Satria berdiri di samping motor klasiknya, wajahnya tampak lelah setelah lembur di kantor arsitek, namun matanya tetap hangat saat melihat Alana. Ia tidak membawa bunga, melainkan sekantong roti lapis favorit Alana dan sebuah kopi pahit.
"Hanya ingin memastikan pemilik galeri ini tidak lupa makan," goda Satria sambil menyerahkan bungkusan itu.
Alana tertawa, rasa penatnya menguap seketika. "Kamu sendiri? Kamu terlihat seperti butuh tidur selama tiga hari."
Satria menarik Alana ke dalam pelukan singkat yang kokoh. "Melihatmu sukses dengan mimpi ini adalah istirahat terbaik buatku."
Di tengah hiruk pikuk persiapan pameran perdana, mereka belajar bahwa cinta bukan hanya tentang kencan romantis atau kecepatan adrenalin. Cinta adalah tentang menjadi jangkar bagi satu sama lain saat badai pekerjaan datang menyerang.
Malam itu, saat Alana akhirnya membuka pamerannya, ia melihat Satria berdiri di pojok ruangan, menatap sebuah lukisan abstrak tentang hujan. Satria menoleh, tersenyum, dan berbisik tanpa suara, "Aku bangga padamu."
Alana sadar, pria yang dulu ia temui karena menghindari hujan, kini adalah sosok yang menemaninya menari di bawah hujan mana pun yang dikirimkan hidup.
Alana , satria, belum menjadi sepasang kekasih, karna Alana belum terlalu cepat menerima satria, ia ingin mengenal lebih dalam satria lagi , karna Alana pikir membangun suatu hubungan itu, harus lebih berhati-hati jangan sampai menyesal di kemudian harinya , itulah mengapa alana harus lebih waspada soal perasaan.