"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN ANGIN DAN PENJAGA BAYANGAN
Riezky mulai melangkah masuk melewati gerbang kayu besar yang terbuka lebar. Tempat itu sangat sepi, namun anehnya, auranya sama sekali tidak mengerikan. Tidak ada kesan mencekam seperti hutan bayangan tempo hari; yang ada hanyalah kedamaian dan keindahan yang murni.
Riezky menatap takjub ke sekelilingnya. Pohon-pohon sakura dengan kelopak berwarna merah muda yang lembut tumbuh berjejer, sesekali gugur tertiup angin dan menutupi jalan setapak. Di sudut lain, sebuah kolam jernih dengan air mancur kecil dari bambu mengeluarkan suara tak-tok yang ritmis, menambah ketenangan suasana.
Namun, ketenangan itu terusik ketika tiba-tiba sebuah angin kencang berhembus, berputar-putar di sekitar mereka seolah-olah sedang berbisik. Riezky dan Valerius segera berputar, mata mereka waspada mencari tahu dari mana asal tekanan energi yang tiba-tiba muncul ini.
Syuut!
Sebelum Riezky sempat bereaksi lebih jauh, seorang berpakaian tertutup hitam dari ujung kepala hingga kaki—layaknya seorang pembunuh bayaran atau ninja—muncul begitu saja di depan mereka tanpa suara. Riezky yang kaget refleks memasang kuda-kuda, tangannya sudah siap memercikkan listrik untuk memunculkan senjatanya.
"Tenang, ini salah satu dari mereka," ucap Valerius tenang sambil memegang dada Riezky, menahan gerakan Riezky.
Valerius kemudian maju selangkah dan berbicara dengan orang misterius itu menggunakan bahasa asing yang belum pernah Riezky dengar seumur hidupnya. Percakapan itu berlangsung singkat namun terlihat sangat formal. Orang misterius itu kemudian mengangguk kecil, lalu secara tak terduga mendekati Riezky.
Dengan gerakan yang sangat cepat namun halus, ia menaruh kedua jarinya di kening Riezky.
"Tuan Orochi sedang berada di luar, masuklah terlebih dahulu," ucap orang itu dalam bahasa yang bisa dimengerti Riezky, suaranya terdengar datar namun berwibawa.
Riezky mematung sejenak, menoleh ke arah Valerius dengan ekspresi kebingungan total. Ia tidak paham apa maksud dari sentuhan di keningnya tadi, apakah itu sebuah segel atau sekadar cara mereka menyapa tamu.
Valerius hanya mengangkat bahunya santai dan mengangguk, memberi kode agar Riezky mengikuti langkah orang misterius tersebut masuk lebih dalam ke bangunan utama.
"Tuan Orochi... siapa lagi itu?" gumam Riezky pelan sambil melangkah, merasa bahwa petualangannya di negeri ini akan jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Riezky melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang beralaskan tatami bersih. Ruangan itu sangat minimalis, hanya ada beberapa lukisan kaligrafi di dinding dan aroma kayu cendana yang menenangkan. Di sudut dekat pintu masuk, si ninja tadi duduk bersimpuh dengan posisi sempurna, diam layaknya sebuah patung hitam.
Menit-menit berlalu dalam kesunyian yang mencekam bagi Riezky. Ia tidak terbiasa duduk diam tanpa melakukan apa pun.
"Hey... masih lama kah?" bisik Riezky sangat pelan, melirik ke arah Valerius yang tampak sangat tenang.
Valerius dengan sigap menepuk bahu Riezky cukup keras hingga ia tersentak. "Heh, jangan malu-maluin!" tegur Valerius lewat tatapan matanya yang tajam.
Si ninja tiba-tiba mengeluarkan suara berdehem kecil dari balik penutup wajahnya. "Saya yakin Tuan Orochi akan datang sebentar lagi," ucapnya datar.
Benar saja, tak lama kemudian, sebuah siluet terlihat muncul dari balik pintu geser kertas di ujung ruangan. Si ninja bangkit dengan gerakan yang sangat halus dan membukakan pintu tersebut. Munculah seorang pria dengan jubah kimono berwarna gelap, rambutnya yang sudah memutih disisir rapi, memancarkan wibawa yang sangat besar.
Valerius lekas berdiri dan memberikan salam hormat yang sangat dalam. Ia menyikut Riezky agar segera mengikuti apa yang dilakukannya. Riezky, meski sedikit kaku, menundukkan kepalanya dalam-dalam mengikuti gerakan pamannya.
"Maaf dibuat menunggu, apa keperluan kalian?" ucap Orochi dengan nada suara yang sangat rendah namun terdengar memenuhi seluruh ruangan.
Orochi berjalan menuju tempat duduknya, matanya yang tajam sempat melirik ke arah Riezky sejenak, membuat Riezky merasa seolah-olah seluruh kekuatannya sedang dipindai oleh pria tua itu.
Valerius kemudian melangkah maju satu langkah. "Tuan Orochi, maaf mengganggu ketenangan Anda. Saya membawa pemuda ini dari seberang samudra, dari Aethelgard. Kami datang untuk menanyakan asal-usul selembar kain yang ia bawa sejak bayi, dan... sebuah nama yang membayanginya."
Riezky perlahan merogoh saku bajunya, mengeluarkan kain sutra mewah yang selama ini ia simpan, dan meletakkannya dengan tangan gemetar di hadapan Orochi.
Suasana di dalam ruangan itu seketika menjadi sangat dingin saat Tuan Orochi menyentuh permukaan kain sutra tersebut. Jemarinya yang keriput meraba setiap serat kain dengan penuh perasaan, seolah-olah ia sedang membaca kembali buku lama yang ia tulis sendiri.
"Kain ini... sudah lama sekali. Ahh... sepertinya apa yang kubuat kembali lagi kepadaku... kau sudah besar ya, Riezky Ixevon," ucap Orochi sambil menatap Riezky dengan tatapan yang sangat tenang namun dalam.
Riezky tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat mendengar nama belakang yang baru saja diucapkan. "Ixevon?" ujarnya dengan nada bingung.
"Ya, setidaknya itulah yang kuingat dulu. Ayahmu datang kepadaku, dua puluh satu tahun yang lalu. Ia membawa ibumu yang sedang hamil hanya untuk memintaku membuatkan kain bayi ini. Mereka menginginkan kain yang terbaik untuk membalut putra pertama mereka," lanjut Orochi. Ia mengusap bagian kain yang sedikit menghitam akibat terbakar, seolah ia bisa merasakan kasih sayang yang dulu dititipkan pada kain itu.
"Bagaimana kabar mereka?" tanya Orochi dengan tulus.
Riezky menoleh ke arah Valerius, mencari dukungan, namun pamannya itu hanya diam membisu dengan wajah serius. Riezky kemudian menunduk, menatap lantai tatami.
"Aku tidak tahu siapa mereka. Aku ditemukan di pesisir laut oleh Lyra, ibu angkatku," ucap Riezky pelan.
Orochi terdiam. Matanya menunjukkan rasa terkejut yang tertahan. Ia perlahan meletakkan kembali kain itu ke meja kayu di depannya. "Maafkan aku... aku tidak tahu apa yang telah terjadi selama aku menutup diri di sini," ucap Orochi dengan nada sedikit prihatin.
Riezky memberanikan diri, matanya menatap tajam ke arah pria tua itu. "Kau tahu siapa nama mereka? Nama lengkapnya?"
Orochi mengangguk perlahan. "Hmm... Thomas? Thomas Ixevon, seingatku. Dia jauh-jauh datang dari arah barat ke sini hanya untuk sebuah kain. Aku terkejut dengan hal itu, betapa seorang pria hebat rela menyeberangi samudra hanya untuk kenyamanan bayinya."
Mendengar nama "Thomas Ixevon", Riezky merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Nama itu terasa sangat berat, seolah menyimpan sejarah besar yang selama ini terkubur di bawah pasir pantai Aethelgard. Ia kini tahu satu hal pasti: dia bukanlah sekadar anak yang terbuang, tapi putra dari seseorang bernama Thomas Ixevon.
Riezky tidak bisa menahan diri lagi. Nama Thomas Ixevon sudah terucap, namun ada satu hal lagi yang selama ini membuatnya merasa seperti orang asing, bahkan di rumahnya sendiri.
"Aku mungkin terlahir dengan sesuatu yang tidak lazim," mulai Riezky, suaranya sedikit bergetar namun mantap. "Ada petir dan api di dalam diriku."
Orochi awalnya hanya tersenyum tipis. Pria tua itu mengangguk perlahan, mengira bahwa perkataan Riezky hanyalah sebuah metafora atau kiasan untuk semangat masa muda yang sedang berkobar-kobar. Baginya, banyak pemuda yang merasa memiliki "api" dalam jiwa mereka saat membicarakan ambisi.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Riezky mengangkat tangan kanannya. Secara perlahan, percikan listrik berwarna biru mulai melompat-lompat di antara celah jarinya, mengeluarkan suara berdenging yang tajam. Tak hanya itu, di telapak tangannya, lidah api kecil yang panas mulai menari-nari, menyatu dengan energi listrik tersebut dalam keseimbangan yang aneh.
Detik berikutnya, aura di dalam ruangan itu berubah drastis. Sepasang mata Riezky mulai berpendar terang; mata kanannya menyala dengan warna merah api yang membara, sementara mata kirinya memancarkan cahaya biru elektrik yang menusuk.
Zzzt—Wush!
Seketika, Orochi terlonjak dari posisi duduknya, wajahnya yang tadi tenang kini dipenuhi keterkejutan yang luar biasa. Di sudut ruangan, si ninja penjaga yang tadi diam layaknya patung langsung berdiri tegak, tangannya secara refleks memegang gagang senjatanya, waspada sekaligus terpukau dengan tekanan energi yang memenuhi ruangan.
Seketika, ninja itu teringat akan suatu hal. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah saat ia melangkah maju.
"Izinkan saya untuk berbicara," ucapnya dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya.
Orochi menoleh ke belakang, menatap sang penjaga setianya dengan dahi berkerut. "Kau tahu sesuatu, An?"
Ninja itu mengangguk pelan. Ia mengangkat tangannya, perlahan membuka topeng hitam yang menutupi wajahnya. Di bawah cahaya temaram ruangan, terungkaplah wajah yang menyimpan banyak cerita; sebuah luka sobek yang sudah sembuh melintang di pipinya, dipadukan dengan mata berwarna merah gelap yang tajam serta rambut berwarna abu-abu gelap yang berantakan.
"Berita ini simpang siur, namun aku sempat dengar, sudah lama sekali... bahwa di suatu tempat terjadi sebuah pertikaian besar," mulai An, matanya menatap lurus ke arah Riezky.
"Tempat yang awalnya sebuah kerajaan megah berubah menjadi tanah tandus. Ceritanya disebabkan karena rasa iri, dengki, dan ketakutan akan hal yang akan terjadi... yaitu kau, Riezky."
Riezky terpaku. Percikan api dan petir di tangannya perlahan memudar seiring dengan rasa sesak yang mulai memenuhi dadanya.
"Kabarnya tempat itu saat ini hanya tinggal sebuah kenangan, sejarah. Namun masih meninggalkan satu hal yang penting, dan konon jiwanya masih ada di dalam sana... yaitu Patung Besi," sambung An dengan nada yang dalam. "Ceritanya simpang siur, tapi aku yakin, semua ini ada hubungannya. Karena diceritakan anak itu terlahir dari petir dan api."
Mendengar kata "Patung Besi", Valerius ternganga. Tubuhnya mendadak kaku, lidahnya kelu. Ternyata tempat reruntuhan penuh tulang belulang yang ia kunjungi sebulan lalu bukanlah sekadar kastil tua biasa. Itu adalah tanah kelahiran Riezky. Ia hanya diam, tak sanggup menatap mata Riezky.
Riezky yang mendengar cerita itu hanya bisa terdiam. Harapan yang tadi sempat membumbung tinggi saat mendengar nama "Thomas Ixevon" seketika runtuh. Kata "hancur", "tandus", dan "kenangan" seolah menjadi vonis bahwa perjalanan mencari orang tuanya mungkin akan berakhir di sebuah kuburan massal yang sunyi.
Ruangan itu kembali senyap, menyisakan suara gemericik air mancur bambu di luar yang kini terdengar seperti suara tangisan bagi Riezky.
Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu pekat. Kebenaran yang baru saja diungkapkan oleh An seolah menjadi awan mendung yang menggantung tepat di atas kepala Riezky. Valerius masih mematung, sementara Riezky menatap lantai dengan tatapan kosong, mencerna kenyataan bahwa rumah aslinya mungkin sudah menjadi abu.
Orochi, yang telah hidup cukup lama untuk memahami beratnya sebuah takdir, menyadari bahwa jika dibiarkan lebih lama, semangat pemuda di depannya ini bisa benar-benar padam. Ia menarik napas panjang, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu.
"Ahhh... sepertinya aku lapar," ucap Orochi tiba-tiba dengan nada yang jauh lebih ringan, sembari mengelus perutnya. "Jalan pagi tadi sedikit menguras tenaga tuaku. An, bisa suruh Tamayo untuk membawakan makanan?"
Suara Orochi yang mendadak santai itu seperti tarikan napas bagi mereka yang hampir tenggelam. Valerius sedikit tersentak dari lamunannya, sementara Riezky mendongak perlahan, meski matanya masih terlihat redup.
An hanya mengangguk patuh. Ia tidak berkata apa-apa lagi, mengenakan kembali topengnya dengan gerakan efisien, lalu pergi dengan sopan keluar dari ruangan itu. Langkah kakinya sama sekali tidak bersuara, meninggalkan ruangan yang kini hanya menyisakan aroma kayu cendana dan sisa-sisa energi statis dari kekuatan Riezky tadi.