NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Cahaya lampu gantung di atas konter kayu itu sesekali bergetar pelan, mengirimkan bayangan yang tidak stabil pada permukaan meja yang dipenuhi guratan alami kayu ek. Felysha Anindhita masih mematung di tempatnya berdiri, telapak tangannya yang tersembunyi di dalam saku mantel wolnya perlahan mulai berkeringat. Ia menatap lurus ke arah pria di depannya, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan dari sosok yang beberapa malam lalu muncul sebagai penyelamat di tengah kegelapan taman Trocadéro. Namun, yang ia temukan sekarang hanyalah sesosok asing yang mengenakan celemek cokelat tua, yang gerakannya begitu mekanis dan efisien di balik mesin espresso kuningan yang mengkilap.

Mahesa tidak segera menyahut. Ia justru memutar tubuhnya, meraih selembar kain lap bersih dari rak bawah, lalu mulai menggosok bagian atas mesin kopi yang sebenarnya sudah bersih tanpa noda. Bunyi decit halus kain yang beradu dengan logam kuningan menjadi satu-satunya pengisi kesunyian yang mencekam di antara mereka. Mahesa menarik napas panjang, bahunya yang tegap tampak sedikit menegang di balik kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku. Ia seolah-olah sedang membangun sebuah benteng dari bunyi-bunyi mekanis ini, berharap Felysha akan merasa bosan dan pergi dengan sendirinya.

"Kamu... benar-benar ada di sini," Felysha akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar jernih namun ada nada tidak percaya yang terselip di sana. Ia melangkah perlahan menuju konter, bunyi sepatu botnya di atas lantai kayu yang berderit pelan terdengar sangat dominan. Ia berhenti tepat di depan kursi tinggi, meletakkan tas sketsanya di atas meja dengan gerakan yang agak canggung.

Mahesa meletakkan kain lapnya. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap Felysha dengan ekspresi yang sangat datar—sebuah topeng profesional yang ia pakai dengan sangat rapat. "Dunia ini ternyata benar-benar sempit ya, Mademoiselle," ucap Mahesa. Kali ini ia tidak menggunakan bahasa Indonesia. Ia menggunakan bahasa Prancis yang sangat fasih, dengan aksen yang begitu netral sampai-sampai Felysha merasa pria di depannya ini benar-benar orang asing yang baru pertama kali ia temui.

Felysha mengerutkan kening, jemarinya secara tidak sadar meraba lilitan syal di lehernya. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah musim gugur Paris yang sudah cukup dingin. "Kenapa kamu bicara pakai bahasa Prancis? Dan... Mademoiselle? Mahesa, ini aku. Felysha."

Mahesa meraih sebuah cangkir keramik biru tua dari rak belakang. Ia menimang cangkir itu sejenak di telapak tangannya, memperhatikannya seolah-olah itu adalah benda paling menarik di dunia. Ia kembali menunduk, mulai membersihkan portafilter mesin kopi dengan gerakan yang sangat teliti. "Di kedai ini, saya hanya seorang barista yang sedang bertugas. Dan Anda adalah pelanggan. Jadi, apa yang bisa saya siapkan untuk Anda?"

Felysha terdiam. Ia merasakan sebuah denyutan kecewa yang tajam di ulu hatinya. Ia tidak menyangka reuni ini akan berjalan sepihak. Pria yang malam itu memberinya saputangan putih dan mengantarnya sampai ke gerbang apartemen dengan penuh perhatian, kini seolah-olah sedang menghapus seluruh kejadian itu dari ingatannya. Felysha menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang mulai tidak beraturan.

Ia duduk di kursi tinggi di depan konter, menumpukan kedua tangannya di atas meja kayu. "Aku mau pesan kopi. Café au lait. Tanpa gula," ucap Felysha, kali ini ia kembali menggunakan bahasa Indonesia, sengaja untuk memicu reaksi Mahesa.

Gerakan tangan Mahesa yang sedang mengisi bubuk kopi ke dalam wadah logam sempat berhenti selama satu detik. Hanya satu detik, namun Felysha menangkapnya. Mahesa segera menekan bubuk kopi itu dengan tamper menggunakan tumpuan bahunya, menciptakan permukaan yang rata sempurna. Ia memasangkan wadah itu ke mesin, lalu menekan tombol ekstraksi. Bunyi deru mesin espresso yang mulai bekerja memenuhi ruangan, menenggelamkan semua percakapan yang mungkin akan terjadi.

Cairan hitam kental mulai mengalir perlahan ke dalam cangkir biru, aromanya yang tajam dan pahit menyeruak ke udara, bercampur dengan aroma kayu manis dari rak bumbu. Mahesa beralih ke pipa uap, memanaskan susu di dalam pitcher logam. Bunyi desisan uap yang melengking memberikan distraksi yang Mahesa butuhkan. Ia memfokuskan seluruh perhatiannya pada pusaran susu, memastikan busanya terbentuk selembut beludru, seolah-olah hidupnya bergantung pada kualitas busa susu tersebut.

Setelah selesai, Mahesa menuangkan susu panas itu ke dalam espresso dengan gerakan pergelangan tangan yang sangat lincah, menciptakan pola rosetta yang indah di permukaan kopi. Ia meletakkan cangkir itu di atas tatakan kayu, lalu mendorongnya perlahan ke arah Felysha. "Enam Euro," ucap Mahesa, kembali ke bahasa Prancis yang kaku.

Felysha menatap pola kopi di dalam cangkirnya, lalu menatap Mahesa yang kini sedang menyeka ujung pipa uap dengan lap basah. "Kenapa kamu kayak begini, Mahesa? Apa aku melakukan kesalahan malam itu? Atau kamu... kamu malu karena menolongku?"

Mahesa menghentikan aktivitasnya. Ia menyandarkan kedua tangannya di atas konter, menatap Felysha tepat di mata. Tatapannya kini terasa jauh lebih dingin dan tajam daripada di taman tempo hari. "Di Paris, Non, orang asing yang menolong orang asing lainnya itu bukan sebuah awal dari cerita drama. Itu cuma sebuah kejadian acak di malam hari. Aku cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan sesama orang Indonesia yang kebetulan lewat. Tapi di sini... di kedai ini... aku punya kehidupan lain yang nggak ada hubungannya dengan taman itu."

Mahesa menggunakan kata "Non" lagi, sebutan yang tadi sempat ia gunakan saat mereka berjalan di trotoar Passy. Felysha menyadari bahwa Mahesa tidak benar-benar melupakan kejadian itu, ia hanya sedang berusaha keras untuk membangun jarak.

"Kehidupan lain yang bagaimana?" tanya Felysha. "Apa menjadi barista adalah rahasia besar sampai kamu harus pura-pura nggak kenal aku?"

Mahesa tertawa pendek, sebuah tawa yang tidak memiliki rona kegembiraan sedikit pun. Ia mengambil koin Euro yang diletakkan Felysha di meja, memasukkannya ke dalam mesin kasir dengan bunyi ting yang tajam. "Bukan rahasianya yang penting, tapi privasinya. Aku nggak suka mencampuradukkan urusan di jalanan dengan pekerjaanku. Jadi, anggap saja pertemuan kita kemarin sudah selesai di gerbang apartemenmu."

Felysha menyesap kopinya sedikit. Rasa pahit dan lembut yang menyatu di lidahnya memberikan sedikit ketenangan, namun pikirannya tetap tidak bisa menerima alasan Mahesa. Ia memperhatikan bagaimana Mahesa kembali bergerak menuju rak belakang, menata stoples-stoples biji kopi dengan sangat rapi. Ada sesuatu yang janggal dari cara Mahesa menghindarinya—sebuah kegelisahan yang coba ia tutupi dengan sikap kaku.

"Kamu tahu, Mahesa," Felysha meletakkan cangkirnya kembali ke tatakan kayu. "Malam itu, kamu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa Paris nggak sejahat yang aku pikirkan. Tapi sekarang... kamu malah bikin aku merasa kalau orang paling baik yang pernah kutemui di sini pun ternyata cuma bayangan yang nggak mau disentuh."

Mahesa terdiam. Punggungnya yang membelakangi Felysha tampak sedikit merosot. Ia memegang sebuah stoples kaca berisi biji kopi Sumatra, meraba label tulisan tangannya dengan ujung jempol. Ia merasa sebuah gumpalan rasa bersalah yang besar sedang menekan dadanya. Setiap kata dari Felysha terasa seperti jarum yang menusuk bagian nuraninya yang ia kira sudah ia matikan bersama Pierre di Rue des Martyrs.

"Aku bukan orang baik, Felysha," Mahesa berbicara tanpa berbalik. Suaranya terdengar sangat rendah dan parau. "Kamu cuma belum mengenal aku. Orang yang kamu lihat di taman itu... mungkin cuma bagian dari imajinasimu yang sedang ketakutan."

"Imajinasiku nggak kasih saputangan putih yang baunya kayak sabun cuci rumah," Felysha membalas dengan nada yang lebih tegas. Ia meraba sakunya, menyentuh kain putih yang sudah ia cuci dan setrika rapi. Ia mengeluarkannya, lalu meletakkannya di atas konter kayu. "Ini saputanganmu. Sudah aku cuci. Terima kasih."

Mahesa perlahan berbalik. Ia menatap saputangan putih itu sejenak, lalu menatap Felysha. Ia tidak segera mengambilnya. Kain putih itu seolah-olah menjadi bukti fisik dari koneksi yang ingin ia putus. Ia merasa tangannya terlalu kotor untuk menyentuh kembali saputangan yang sudah dibersihkan oleh Felysha.

"Simpan saja," ucap Mahesa akhirnya. "Aku punya banyak di rumah."

"Aku nggak butuh banyak. Aku cuma mau mengembalikan milikmu," Felysha mendorong saputangan itu sedikit lebih ke depan. "Mahesa, kenapa kamu kelihatan takut? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"

Pertanyaan itu membuat jantung Mahesa berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan kekuatan yang menyakitkan. Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura mengecek jarum tekanan pada mesin espresso. "Takut? Nggak ada yang perlu ditakuti di sini. Ini cuma kedai kopi, bukan kantor polisi."

Keheningan kembali menyergap. Felysha memperhatikan bagaimana Mahesa terus menghindari kontak mata dengannya. Ia menyadari bahwa ada sebuah misteri yang jauh lebih gelap di balik sosok barista ini. Namun, ia tidak tahu apa itu. Ia hanya tahu bahwa Mahesa yang sekarang berdiri di depannya adalah orang yang sedang membangun tembok untuk melindungi dirinya sendiri, atau mungkin untuk melindungi Felysha dari sesuatu yang tidak ia ketahui.

Felysha berdiri dari kursinya. Ia merasa tidak ada gunanya terus memaksa percakapan jika Mahesa terus-menerus memberikan jawaban yang kaku. Ia meraih tas sketsanya, menyampirkannya ke bahu kanan dengan gerakan yang pelan. Ia menatap cangkir kopi yang masih tersisa separuh itu, lalu kembali menatap Mahesa.

"Kopinya enak, Mahesa. Benar-benar enak," ucap Felysha. Ia memberikan sebuah senyum tipis yang dipaksakan. "Aku nggak tahu apakah aku bakal datang lagi ke sini. Tapi kalau aku datang... aku harap kamu nggak perlu lagi pakai bahasa Prancis itu untuk bicara sama aku."

Mahesa tidak menjawab. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat formal. Ia berdiri diam di balik konter, tangannya meremas kain lap yang tadi ia gunakan. Ia memperhatikan Felysha berjalan menuju pintu, melihat bagaimana syal wol biru gadis itu melambai tertiup angin saat pintu kayu biru itu didorong terbuka.

Begitu bel di atas pintu berdenting sekali lagi menandakan Felysha sudah keluar, Mahesa segera melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan. Ia merosot hingga kedua tangannya bertumpu kuat pada konter. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan helaian rambut hitamnya menutupi wajahnya. Ia merasa sangat muak dengan dirinya sendiri.

"Maaf," bisiknya pada ruangan yang kini kembali sunyi.

Ia meraih saputangan putih yang ditinggalkan Felysha. Ia meraba tekstur kainnya yang kini terasa lebih lembut dan beraroma harum sabun yang lembut—sangat kontras dengan aroma kopi dan asap rokok yang biasa menempel di tubuhnya. Mahesa memasukkan saputangan itu ke dalam saku celananya, meremasnya kuat-kuat. Ia menyadari satu hal yang paling menakutkan: Felysha bukan hanya menemukan kedai kopinya, tapi gadis itu secara tidak sengaja telah menemukan retakan paling besar dalam penyamarannya. Dan di kota sebesar Paris, Mahesa tahu bahwa sekali sebuah rahasia mulai tercium, segalanya hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur berantakan.

Ia kembali menyalakan mesin kopinya, membiarkan bunyi uap panas menjadi temannya untuk menghabiskan sisa shift sore itu. Namun di dalam kepalanya, gema suara Felysha yang memanggil namanya terus berputar, mengingatkannya bahwa di bawah lapisan kebohongannya sebagai "pahlawan", masih ada sisa-sisa Mahesa yang sangat ingin dipercaya oleh seseorang. Mahesa menutup matanya sejenak, menghirup aroma kopi yang tajam, mencoba mencari ketenangan yang kini terasa begitu jauh dari jangkauannya.

Di luar, langit Paris mulai berubah warna menjadi biru tua yang pekat, persis seperti warna cangkir yang tadi dipakai Felysha. Dan di bawah lampu-lampu jalan yang mulai menyala, Mahesa menyadari bahwa percakapan canggung ini hanyalah pembukaan dari sebuah badai yang mungkin tidak akan sanggup ia hindari lagi. Ia harus lebih berhati-hati, ia harus lebih dingin, karena jika Felysha masuk lebih jauh, gadis itu tidak hanya akan menemukan seorang pencuri—ia akan menemukan seorang pria yang sudah kehilangan segalanya, termasuk nuraninya sendiri.

Mahesa menarik kembali celemeknya, merapikan letak sendok-sendok perak di rak, dan bersiap untuk menutup kedai. Setiap gerakan tangannya terasa berat, seolah-olah berat dari kebohongan yang ia pikul mulai menuntut harga yang jauh lebih mahal daripada enam ratus Euro hasil copet tempo hari. Ia mematikan lampu gantung utama, membiarkan kedai L'Art du Café tenggelam dalam keremangan yang suram, sama seperti suasana hatinya saat ini.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!