UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jam yang Tidak Pernah Berdetak
Cahaya putih tiba-tiba memenuhi pandangan Nara.
Tubuhnya terasa ringan... terlalu ringan.
Seperti seseorang baru saja menarik lantai dari bawah kakinya.
“NARA!”
Suara ayahnya terdengar jauh.
Sangat jauh.
Seolah datang dari ujung lorong yang sangat panjang.
Lalu suara itu menghilang.
Nara mencoba membuka mulutnya.
“Ayah...”
Tetapi suaranya tidak keluar seperti biasanya.
Udara di sekelilingnya terasa aneh.
Terlalu tebal.
Terlalu berat.
Seperti ia sedang jatuh ke dalam air yang tidak terlihat.
Tubuhnya berputar perlahan di ruang kosong yang tidak memiliki atas atau bawah.
Cahaya di sekelilingnya berubah.
Putih.
Kemudian abu-abu.
Kemudian hitam.
Kemudian putih lagi.
Potongan-potongan bayangan muncul di sekitar tubuhnya.
Ia melihat sekilas sesuatu yang terasa seperti kenangan.
Halaman rumah masa kecilnya.
Sepeda merah kecil.
Suara ibunya tertawa dari dapur.
Ayahnya di teras membaca koran.
Kemudian semuanya pecah seperti kaca.
Suara lain muncul.
Tik.
Satu detik.
Tik.
Dua detik.
Suara jam berdetak.
Semakin keras.
Semakin dekat.
Seolah ribuan jam berdetak bersamaan di dalam kepalanya.
Nara menutup telinganya.
“Berhenti…”
Namun suara itu tidak berhenti.
Tik. Tik. Tik. Tik.
Detak waktu semakin cepat.
Tubuhnya terasa ditarik ke suatu arah.
Keras.
Seperti arus kuat di sungai yang tidak terlihat.
“Ayah!”
Sekarang suaranya keluar.
Tapi tidak ada yang menjawab.
Cahaya di sekelilingnya mulai berputar.
Debu-debu bercahaya berputar seperti galaksi kecil.
Jam tua itu masih ada di tangannya.
Jarumnya sekarang bergerak liar.
Lebih cepat dari yang seharusnya.
TikTikTikTikTik
“Berhenti!”
Nara mencoba melepaskan jam itu.
Namun tangannya terasa seperti menempel padanya.
Angin tiba-tiba muncul.
Kencang.
Tubuhnya terseret lebih cepat.
Perutnya terasa seperti terbalik.
Ia mencoba meraih sesuatu.
Apa saja.
Namun tidak ada apa pun di sekelilingnya.
Hanya cahaya yang berputar.
Dan suara jam yang semakin keras.
Lalu tiba-tiba...
Semua berhenti.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Sepersekian detik kemudian…
Gravitasi kembali.
Tubuh Nara jatuh.
Cepat.
Sangat cepat.
“A...!”
BUK!
Tubuhnya menghantam sesuatu yang keras.
Udara keluar dari paru-parunya sekaligus.
Rasa sakit menjalar di punggungnya.
Beberapa detik ia hanya bisa terbaring tanpa bergerak.
Napasnya pendek.
Dadanya naik turun cepat.
Udara malam terasa dingin di kulitnya.
Ia mengerang pelan.
“…apa…”
Tangannya masih menggenggam jam tua itu.
Jam itu sekarang diam lagi.
Jarumnya kembali berhenti.
Seolah tidak pernah bergerak.
Nara membuka matanya perlahan.
Langit di atasnya gelap.
Lampu jalan kuning bersinar redup di sisi jalan.
Cahaya itu terasa asing.
Sangat asing.
Nara mengerutkan alis.
Ia duduk perlahan.
Punggungnya masih sakit.
Aspal jalan terasa dingin di bawah telapak tangannya.
Ia melihat sekeliling.
Bangunan-bangunan di sepanjang jalan terlihat tua.
Mobil yang lewat mengeluarkan suara mesin yang lebih kasar dari yang biasa ia dengar.
Lampu depan mobil itu berbentuk bulat.
Model lama.
Sangat lama.
Nara menatap mobil itu ketika melintas.
“…apa?”
Ia berdiri perlahan.
Jalan itu terasa sepi.
Lampu toko di seberang jalan memancarkan cahaya neon merah yang berkedip pelan.
Tulisan di papan tokonya terlihat usang.
Nara menatapnya cukup lama.
Perasaan aneh mulai merambat di dadanya.
Ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Ia menoleh lagi ke jalan.
Mobil tua lain melintas.
Suara mesinnya berat.
Nara menatap tangannya.
Jam tua itu masih ada di sana.
Jarumnya tetap berhenti.
Ia berbisik pelan,
“…apa yang barusan terjadi?”
Angin malam berhembus melewati jalan itu.
Membawa suara jauh dari radio seseorang.
Musik lama.
Suara penyanyi pria dari kaset yang terdengar sedikit serak.
Nara perlahan menoleh ke arah suara itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia benar-benar melihat dunia di sekelilingnya.
Lampu jalan yang berdiri di sisi trotoar memancarkan cahaya kuning redup, bukan putih terang seperti lampu LED modern. Cahayanya menyebar lembut, membentuk lingkaran cahaya kecil di aspal yang sedikit retak.
Nara berdiri diam di tengah trotoar.
Udara malam terasa lebih dingin daripada sebelumnya.
Ia menarik napas panjang.
Bau yang masuk ke hidungnya juga terasa berbeda.
Bukan bau kota modern yang dipenuhi asap kendaraan dan plastik panas.
Ada bau bensin.
Bau logam.
Dan sedikit aroma makanan gorengan dari suatu tempat yang tidak jauh.
Nara menoleh perlahan.
Di seberang jalan ada sebuah toko kecil dengan papan neon merah yang berkedip pelan.
Lampunya tidak stabil.
Kadang terang.
Kadang redup.
Tulisan di papan itu terbaca:
WARUNG SARI.
Catnya sudah memudar.
Nara mengerutkan alis.
“Sejak kapan ada tempat ini…”
Ia melangkah pelan menuju tepi jalan.
Sepatu ketsnya menggesek aspal.
Suara itu terasa sangat jelas di telinganya karena jalan hampir kosong.
Sebuah mobil melintas lagi di depan matanya.
Lampunya bulat.
Bentuk bodinya kotak.
Mesinnya mengeluarkan suara berat yang kasar.
Mobil itu tampak seperti… mobil dari film lama.
Nara menoleh mengikuti mobil itu sampai menghilang di ujung jalan.
“…tidak mungkin.”
Ia menunduk melihat pakaiannya sendiri.
Jaket modern.
Sepatu putih.
Celana jeans yang jelas terlihat berbeda dari orang-orang yang mulai muncul di jalan itu.
Dua orang pria berjalan melewati trotoar di belakangnya.
Mereka berbicara sambil tertawa.
Nara melirik mereka.
Celana mereka longgar.
Salah satu dari mereka memakai jaket denim besar dengan potongan yang sangat khas tahun 90-an.
Rambutnya juga.
Modelnya seperti yang sering ia lihat di foto lama.
Nara memperhatikan mereka cukup lama sampai salah satu pria itu menoleh balik.
“Kenapa?” tanya pria itu curiga.
Nara cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
“Tidak… tidak apa-apa.”
Kedua pria itu berjalan lagi sambil masih saling berbicara.
“Orang aneh,” gumam salah satu dari mereka.
Nara menatap punggung mereka yang semakin menjauh.
Dadanya mulai terasa tidak nyaman.
Ia menoleh ke arah toko kecil di seberang jalan lagi.
Di jendela toko itu ada televisi kecil.
Layarnya agak buram.
Seseorang sedang menonton berita.
Suara penyiar terdengar samar dari dalam toko.
“…pemerintah hari ini mengumumkan kebijakan baru terkait…”
Suara itu terdengar lebih serak daripada siaran televisi modern.
Nara melangkah mendekat ke jendela toko.
Ia menempelkan tangannya di kaca.
Televisi itu menampilkan seorang pria dengan jas besar dan dasi lebar.
Model yang terasa sangat lama.
Di pojok layar ada tulisan kecil yang menunjukkan waktu siaran.
21:12
Namun yang membuat Nara berhenti bernapas adalah sesuatu yang lain.
Di bawah layar berita ada tulisan tanggal siaran.
Tulisan putih kecil.
Nara menyipitkan mata untuk membaca lebih jelas.
Tubuhnya perlahan menegang.
“…tidak.”
Ia menggeleng pelan.
“Tidak mungkin.”
Ia melangkah lebih dekat ke kaca.
Sekarang ia bisa membaca tulisan itu dengan jelas.
17 OKTOBER 1995
Darahnya terasa dingin.
Tangannya perlahan jatuh dari kaca jendela.
Ia mundur satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
“Nggak…”
Nara tertawa kecil.
Tawa yang terdengar dipaksakan.
“Ini mimpi.”
Ia mengangguk sendiri.
“Ya, pasti mimpi.”
Ia menepuk pipinya sendiri.
Sekali.
Dua kali.
Rasanya sakit.
Cukup sakit.
Nara berhenti bergerak.
Ia berdiri di trotoar dengan napas yang semakin cepat.
Mobil tua lain lewat di belakangnya.
Radio dari dalam mobil itu memutar lagu lama.
Suara penyanyi wanita dengan irama musik yang sangat khas era kaset.
Semua terasa terlalu nyata untuk mimpi.
Nara menatap tangannya lagi.
Jam tua itu masih ada di sana.
Jarumnya tetap berhenti di angka 11:17.
Ia berbisik pelan.
“…aku di mana?”
Angin malam kembali bertiup melewati jalan itu.
Membawa suara ramai dari arah yang lebih jauh.
Suara orang.
Suara kendaraan.
Suara kota yang masih hidup.
Nara perlahan menoleh ke arah suara itu.
Di ujung jalan terlihat lampu-lampu yang lebih terang.
Seperti tempat yang lebih ramai.
Ia menelan ludah.
“Kalau ini mimpi…”
Ia mulai berjalan pelan menuju arah lampu itu.
“…aku harus bangun.”
Langkah Nara semakin cepat menuju arah lampu yang lebih terang di ujung jalan.
Namun semakin ia berjalan, semakin jelas dunia aneh itu terlihat.
Trotoar di sepanjang jalan dipenuhi toko-toko kecil dengan papan nama yang terlihat tua. Catnya memudar, lampunya redup, dan beberapa tulisan bahkan dibuat dengan gaya huruf yang sudah lama tidak ia lihat.
Di salah satu toko, sebuah radio besar dipajang di etalase.
Bukan speaker kecil seperti sekarang.
Radio kotak besar dengan antena panjang yang menjulang ke atas.
Dari dalam radio itu terdengar suara penyiar.
“Selamat malam pendengar setia Radio Nusantara… malam ini kita akan memutar lagu-lagu pilihan tahun ini…”
Suara itu terdengar sedikit berdesis.
Seperti kaset lama yang diputar terlalu sering.
Nara berhenti berjalan.
Ia menatap radio itu cukup lama.
“…radio?”
Ia berbisik pelan.
Tidak ada orang yang memutar musik dari ponsel.
Tidak ada suara notifikasi.
Tidak ada cahaya layar smartphone di tangan orang-orang yang lewat.
Dua gadis berjalan melewati depan toko.
Mereka tertawa sambil membawa walkman kecil dengan headphone busa besar.
Salah satu dari mereka mengganti kaset dengan gerakan cepat.
Kaset.
Nara menelan ludah.
“Ini… tidak mungkin.”
Ia menoleh ke kanan.
Di sudut jalan ada kios koran kecil.
Rak besinya dipenuhi koran dan majalah.
Lampu kecil menggantung di atas kios itu.
Penjualnya seorang pria tua yang sedang duduk di kursi plastik sambil membaca sesuatu.
Nara berjalan mendekat.
Langkahnya pelan.
Hatinya berdegup semakin keras setiap langkah.
Rak koran itu berada tepat di depan matanya sekarang.
Ia menatap halaman depan koran paling atas.
Tangan Nara perlahan terangkat.
Ia mengambil satu koran.
Kertasnya terasa kasar di ujung jarinya.
Bukan seperti kertas majalah modern yang halus.
Kertas koran lama.
Nara menatap halaman depannya.
Matanya langsung jatuh pada tulisan tanggal di pojok atas.
Tubuhnya membeku.
17 OKTOBER 1995
Udara di sekelilingnya terasa tiba-tiba jauh lebih dingin.
Nara membaca tanggal itu lagi.
Kemudian lagi.
Seolah angka-angka itu mungkin berubah jika ia menatapnya cukup lama.
Namun angka itu tetap sama.
Tiga puluh satu tahun yang lalu.
“Tidak…”
Suara Nara hampir tidak terdengar.
Ia menggeleng perlahan.
“Tidak… ini tidak mungkin…”
Penjual koran meliriknya.
“Kamu mau beli?”
Nara menatap pria tua itu.
“Apa?”
“Koran,” kata pria itu sambil menunjuk kertas di tangannya. “Kalau cuma dibaca, jangan dilipat-lipat.”
Nara menatap koran itu lagi.
Tanggal itu masih di sana.
“Pak…” katanya pelan.
Pria itu menunggu.
“Tahun berapa sekarang?”
Pria itu mengerutkan kening.
“Kamu bercanda?”
Nara menelan ludah.
“Tidak.”
Pria itu menatapnya beberapa detik.
“1995.”
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Terlalu normal.
Seolah itu pertanyaan paling bodoh yang pernah ia dengar.
Dunia terasa seperti berhenti berputar di sekitar Nara.
“1995…”
Ia mengulanginya pelan.
Tangannya mulai gemetar.
Jam tua di tangannya terasa lebih berat sekarang.
Ia menatap jam itu lagi.
Jarumnya masih berhenti di 11:17.
Seolah jam itu menunggu sesuatu.
Nara menutup matanya.
Ia mencoba berpikir.
Ini tidak masuk akal.
Tidak mungkin.
Tidak ada orang yang tiba-tiba berpindah tiga puluh tahun ke masa lalu hanya karena memutar jam tua.
Hal seperti itu hanya ada di film.
Atau novel.
Namun angin malam yang menyentuh wajahnya terasa nyata.
Suara kendaraan di jalan terasa nyata.
Bau bensin dan gorengan dari warung terdekat terasa nyata.
Nara membuka matanya lagi.
“Pak…”
Penjual koran mengangkat alis.
“Ya?”
“Ini… kota apa?”
Pria itu terlihat semakin bingung.
“Kamu baik-baik saja?”
“Jawab saja.”
Pria itu menunjuk jalan di depan mereka.
“Kamu berdiri di tengah kota dan tidak tahu kota apa ini?”
Nara menunggu.
Pria itu akhirnya berkata,
“Bandung.”
Jantung Nara berdetak keras.
Bandung.
Kota yang sama.
Namun bukan waktu yang sama.
Ia menatap jalan di depannya lagi.
Lampu-lampu kota itu masih menyala seperti sebelumnya.
Orang-orang masih berjalan.
Kendaraan masih lewat.
Semua terlihat normal bagi mereka.
Namun bagi Nara…
Seluruh dunia baru saja berubah.
Ia mengembalikan koran itu ke rak.
Tangannya masih sedikit gemetar.
“…terima kasih.”
Penjual koran masih menatapnya aneh ketika ia berjalan menjauh.
Nara berjalan tanpa arah beberapa langkah.
Kemudian berhenti di tengah trotoar.
Dadanya naik turun cepat.
“Ini gila…”
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku di tahun sembilan puluh lima?”
Ia tertawa kecil.
Tawa yang hampir terdengar putus asa.
“Hebat sekali, Nara.”
Ia menatap langit malam.
Lampu kota membuat bintang-bintang hampir tidak terlihat.
“Bagaimana caranya aku pulang sekarang?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara kendaraan dan percakapan orang-orang di sekitar.
Nara menghela napas panjang.
Kemudian ia mulai berjalan lagi.
Tanpa tujuan jelas.
Namun langkahnya akhirnya mengarah ke tempat yang lebih ramai.
Di depan sana terlihat area yang lebih terang.
Lampu-lampu bus besar.
Suara orang berbicara lebih keras.
Dan suara mesin kendaraan yang berhenti dan berangkat.
Sebuah terminal kecil.
Nara berjalan menuju tempat itu tanpa sadar.
Dan tanpa ia tahu…
Di tempat itulah hidupnya di masa lalu akan mulai berubah.
Terminal itu tidak terlalu besar, tetapi cukup ramai.
Lampu-lampu neon menggantung di langit-langit atap seng yang tinggi. Cahayanya putih pucat, memantul di lantai semen yang penuh bekas ban dan noda minyak.
Beberapa bus besar terparkir di jalur keberangkatan.
Mesin mereka masih menyala.
Grrrrr…
Suara getaran mesin diesel memenuhi udara malam.
Nara melangkah masuk ke area terminal.
Ia berhenti beberapa langkah di dalam.
Suasananya berbeda dari jalan tadi.
Di sini jauh lebih hidup.
Orang-orang duduk di bangku panjang.
Ada yang membawa tas besar.
Ada yang memeluk anak kecil yang tertidur.
Ada yang makan mie instan dari gelas plastik.
Beberapa pedagang keliling berjalan membawa termos besar.
“Teh panas! Kopi panas!”
Aroma mie instan dan kopi murah bercampur dengan bau solar dari bus-bus yang parkir.
Nara berdiri diam di tengah keramaian itu.
Ia menatap sekelilingnya dengan perasaan aneh.
Semuanya terasa seperti film lama.
Seorang pria berjalan melewatinya sambil membawa radio kecil di tangannya.
Radio itu memutar lagu lama dengan suara agak pecah.
Seorang kondektur bus berteriak dari pintu bus.
“Jakarta! Jakarta! Berangkat sepuluh menit lagi!”
Beberapa penumpang buru-buru naik.
Nara menatap mereka.
Tangannya masih memegang jam tua itu.
Ia menunduk melihatnya lagi.
Jarumnya tetap diam.
Seolah benda itu tidak ada hubungannya dengan kekacauan yang baru saja terjadi.
Nara menghela napas panjang.
“Baik…”
Ia berbicara pelan pada dirinya sendiri.
“Aku di tahun sembilan puluh lima.”
Ia mengangguk kecil.
“Entah bagaimana.”
Ia mencoba berpikir.
Kalau ini benar tahun 1995…
Berarti ayahnya sekarang masih muda.
Pikiran itu membuatnya berhenti bernapas sesaat.
Ayahnya di tahun ini mungkin…
Dua puluh empat?
Dua puluh lima?
Masih jauh sebelum ia lahir.
Nara menggeleng cepat.
“Fokus dulu.”
Ia mulai berjalan melewati bangku-bangku terminal.
Beberapa orang meliriknya.
Pandangan mereka sedikit lebih lama dari biasanya.
Nara tidak langsung menyadari.
Namun semakin ia berjalan…
Semakin banyak orang yang memperhatikannya.
Seorang ibu yang duduk dengan anak kecilnya bahkan berbisik pada temannya sambil menunjuk ke arah Nara.
“Bajunya aneh…”
Nara berhenti.
Ia menunduk melihat pakaiannya lagi.
Jaket modern.
Sepatu putih bersih.
Potongan jeans yang jelas berbeda dari gaya tahun 90-an.
Ia terlihat seperti orang yang salah tempat.
“Hebat,” gumamnya pelan.
Ia menarik resleting jaketnya sedikit lebih tinggi.
Namun itu tidak benar-benar membantu.
Tiga pria berdiri di dekat kios rokok di sudut terminal.
Mereka sudah memperhatikannya beberapa saat.
Salah satu dari mereka menyenggol temannya.
“Eh.”
“Apa?”
“Lihat.”
Kedua pria lain menoleh.
Mata mereka langsung tertuju pada Nara.
“Anak kota?”
“Bukan orang sini kayaknya.”
“Bajunya mahal.”
Mereka tertawa kecil.
Nara mulai berjalan lagi.
Ia pura-pura tidak melihat mereka.
Namun langkah kaki di belakangnya mulai terdengar.
Pelan.
Mengikutinya.
Nara berhenti di dekat papan jadwal bus.
Ia pura-pura membaca.
Namun matanya melirik ke samping.
Bayangan tiga pria itu semakin dekat.
Salah satu dari mereka akhirnya berbicara.
“Sendirian, Mbak?”
Nara tidak menjawab.
Ia tetap menatap papan jadwal.
“Tidak dengar ya?”
Pria kedua melangkah lebih dekat.
“Apa kamu baru datang?”
Nara menghela napas pelan.
Ia menoleh.
Ketiga pria itu berdiri cukup dekat sekarang.
Mereka tersenyum dengan cara yang membuat perutnya terasa tidak nyaman.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu dari mereka.
Nada suaranya terlalu ramah.
Nara menjawab singkat.
“Tidak.”
Ia berbalik hendak pergi.
Namun salah satu pria itu melangkah ke samping dan menghalangi jalannya.
“Eh, santai saja.”
“Tidak usah takut.”
“Terminal ini aman kok.”
Temannya tertawa kecil.
“Kalau sama kita.”
Nara menatap pria yang menghalangi jalannya.
“Aku tidak butuh bantuan.”
Ia mencoba berjalan melewati mereka.
Pria itu mengangkat tangan sedikit, masih menghalangi.
“Ayolah.”
“Kita cuma mau ngobrol.”
Temannya menambahkan,
“Atau kita bisa temani kamu jalan-jalan.”
Beberapa orang di terminal mulai memperhatikan.
Namun tidak ada yang benar-benar ikut campur.
Nara menatap mereka satu per satu.
Tiga orang.
Semua lebih besar darinya.
Ia menarik napas pelan.
“Geser.”
Pria di depannya tersenyum lebar.
“Atau apa?”
Nara membuka mulutnya untuk menjawab.
Tiba-tiba sebuah suara datang dari belakang mereka.
Santai.
Tenang.
Namun cukup jelas untuk memotong suasana.
“Kalau kalian tidak punya urusan…”
Ketiga pria itu menoleh bersamaan.
Suara itu melanjutkan,
“…sebaiknya pergi saja.”
Nada suaranya tidak keras.
Namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat udara di sekitar mereka berubah.
Nara ikut menoleh.
Di belakang ketiga pria itu berdiri seorang pria muda.
Ia menyandarkan bahunya pada tiang terminal.
Sebuah gitar tergantung di punggungnya.
Ekspresinya santai.
Seolah semua ini hanya gangguan kecil dalam malam yang panjang.
Matanya tertuju pada mereka.
Lalu pada Nara.
Pemuda itu berdiri beberapa langkah di belakang ketiga pria yang menghalangi Nara.
Lampu terminal jatuh dari atas kepalanya, membuat bayangan lembut di wajahnya.
Ia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mencari masalah.
Satu tangannya dimasukkan ke saku jaket tipis yang ia kenakan. Di punggungnya tergantung sebuah gitar akustik dalam sarung kain yang sudah sedikit usang.
Rambutnya agak berantakan, seperti baru saja tertiup angin.
Namun matanya tenang.
Sangat tenang.
Ketiga pria itu saling pandang sebentar sebelum salah satu dari mereka berkata,
“Eh.”
“Kamu siapa?”
Pemuda itu mengangkat bahu sedikit.
“Tidak penting.”
Nada suaranya tetap santai.
“Tapi kalian mengganggu orang.”
Pria yang paling depan mendengus kecil.
“Kami cuma ngobrol.”
“Ya,” kata pemuda itu ringan. “Dia kelihatan sangat menikmati percakapannya.”
Beberapa orang di sekitar terminal mulai memperhatikan.
Pria kedua menatap pemuda itu dari atas ke bawah.
“Kamu kenal dia?”
Pemuda itu melirik Nara sekilas.
Hanya sekilas.
Lalu kembali menatap mereka.
“Sekarang kenal.”
Salah satu dari mereka tertawa pendek.
“Jadi pahlawan, ya?”
Pemuda itu tidak terlihat tersinggung.
Ia hanya berkata,
“Tidak juga.”
Lalu ia menunjuk pintu terminal dengan dagunya.
“Tapi kalau kalian tidak pergi sekarang…”
Ia berhenti sebentar.
Senyumnya tipis.
“…malam kalian mungkin akan jadi lebih merepotkan dari yang kalian rencanakan.”
Pria pertama menatapnya beberapa detik.
Seolah mencoba menilai apakah pemuda itu serius.
Terminal mulai semakin sunyi di sekitar mereka.
Orang-orang masih menonton.
Akhirnya pria itu mendengus lagi.
“Sudahlah.”
Ia melangkah menjauh.
Dua temannya ikut bergerak.
Salah satu dari mereka masih melirik Nara sambil berkata,
“Lain kali jangan sendirian.”
Ketiganya berjalan keluar dari area terminal.
Suasana perlahan kembali normal.
Beberapa orang yang tadi menonton mulai kembali ke urusan masing-masing.
Nara menghela napas pelan tanpa sadar.
Pemuda dengan gitar itu masih berdiri di tempatnya.
Sekarang ia menatap Nara dengan ekspresi penasaran.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Lalu ia berkata,
“Kamu baik-baik saja?”
Suaranya lebih lembut sekarang.
Nara mengangguk cepat.
“Ya.”
Ia berhenti sebentar.
“Terima kasih.”
Pemuda itu mengangkat bahu lagi.
“Bukan masalah besar.”
Ia melangkah mendekat beberapa langkah.
Sekarang jarak mereka hanya sekitar dua meter.
Dari dekat, Nara bisa melihat wajahnya lebih jelas.
Ia terlihat sekitar dua puluhan.
Matanya tajam tapi tidak dingin.
Lebih seperti seseorang yang terbiasa memperhatikan banyak hal.
Ia menunjuk ke arah pakaian Nara.
“Kamu bukan orang sini, ya?”
Nara sedikit kaku.
“Kenapa?”
Pemuda itu tersenyum tipis.
“Bajumu.”
Ia menunjuk sepatu Nara.
“Dan sepatu itu.”
Nara menunduk sedikit melihat sepatu putihnya.
“Kelihatan?”
“Sedikit.”
Ia menyeringai kecil.
“Sedikit sekali.”
Nara menahan napas kecil.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Pemuda itu menggeser gitar di punggungnya.
“Nama kamu siapa?”
Nara ragu sebentar.
Namun akhirnya menjawab,
“Nara.”
Pemuda itu mengangguk pelan.
“Nara.”
Ia seperti mencoba mengingat nama itu.
Lalu ia berkata,
“Aku Raka.”
Nama itu terasa biasa.
Namun entah kenapa…
Ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya yang membuat Nara merasa aneh.
Seperti pernah mendengarnya di tempat lain.
Di waktu lain.
Raka menyandarkan tangannya di pinggang.
“Jadi…”
Ia menatap sekeliling terminal.
“Kamu sendirian di sini?”
Nara membuka mulutnya.
Lalu menutupnya lagi.
Jawaban yang sebenarnya terlalu rumit.
Raka memperhatikan ekspresinya.
“Apa ada masalah?”
Nara menggeleng cepat.
“Tidak.”
Raka menatapnya beberapa detik lagi.
Kemudian berkata santai,
“Kalau tidak ada tujuan…”
Ia menunjuk bangku terminal di dekat mereka.
“…mending kita duduk dulu.”
Nara menatap bangku itu.
Lalu kembali menatap Raka.
Untuk beberapa alasan yang tidak bisa ia jelaskan…
Ia merasa sedikit lebih tenang sejak pria ini muncul.
Ia akhirnya duduk.
Raka duduk di ujung bangku yang sama, menjaga jarak.
Ia melepas gitar dari punggungnya dan meletakkannya di samping.
“Jadi,” katanya.
“Kamu datang dari mana?”
Nara menatap lampu terminal di atas mereka.
Pertanyaan itu terasa lebih sulit dari yang seharusnya.
Karena jawaban yang sebenarnya terdengar gila.
Ia akhirnya berkata pelan,
“…jauh.”
Raka tertawa kecil.
“Jawaban yang bagus.”
Ia menyandarkan punggungnya di bangku.
“Biasanya orang yang datang dari jauh punya cerita.”
Nara menatapnya.
“Biasanya.”
Raka menoleh lagi ke arahnya.
“Kalau kamu tidak keberatan, boleh kamu ceritakan?.”
Nara terdiam beberapa detik.
Kemudian berkata pelan,
“Kamu tidak akan percaya.”
Raka tersenyum.
“Coba saja dulu.”
Ia menunjuk gitar di sampingnya.
“Aku sering dengar cerita aneh dari orang di terminal.”
Ia menatap Nara lagi.
“Jarang ada yang benar-benar membosankan.”
Nara menunduk melihat jam tua di tangannya.
Jarumnya masih diam.
Ia berbisik hampir tidak terdengar,
“Aku juga tidak percaya.”
Raka mengerutkan alis sedikit.
“Percaya apa?”
Nara menatapnya.
Matanya masih penuh kebingungan.
“Aku rasa…”
Ia berhenti sebentar.
“…aku tersesat.”
Raka tersenyum tipis.
“Di terminal memang banyak orang yang tersesat.”
Nara menggeleng perlahan.
“Bukan seperti itu.”
Raka memiringkan kepalanya.
“Lalu bagaimana?”
Nara menatap jam tua itu lagi.
Kemudian berkata pelan,
“Aku mungkin… tersesat di waktu yang salah.”
Raka menatapnya.
Beberapa detik.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Baiklah.”
Ia bersandar lagi.
“Sekarang aku jadi penasaran.”