Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malioboro
Mobil dinas yang dikendarai Arya membelah jalanan Yogyakarta yang masih cukup padat meski waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di dalam kabin, keheningan sempat menyelimuti mereka selama beberapa menit. Bukan keheningan yang canggung, melainkan sebuah jeda untuk memproses kenyataan bahwa setelah sepuluh tahun, mereka benar-benar duduk bersisian lagi.
"Kita parkir di sekitar benteng saja, ya? Lalu jalan kaki ke Malioboro," usul Arya memecah kesunyian.
Nina mengangguk antusias. "Ide bagus. Nina sudah lama tidak jalan kaki di Malioboro malam-malam. Biasanya cuma lewat kalau mau ke kampus."
Setelah memarkirkan mobil, mereka melangkah menuju trotoar luas Malioboro yang ikonik. Lampu-lampu jalan bergaya kolonial memberikan pendar kuning keemasan yang hangat, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti langkah kaki mereka.
Arya berjalan di sisi luar, memposisikan dirinya di antara Nina dan arus lalu lintas—sebuah insting perlindungan yang tidak pernah luntur sejak ia masih remaja.
"Jadi... Kapten Pradipta Arya," Nina memulai, suaranya sedikit menggoda. Ia menoleh ke samping, menatap profil wajah Arya yang kini terlihat sangat matang. "Bagaimana rasanya jadi pahlawan di hutan Papua?"
Arya terkekeh pelan, suara tawanya rendah dan maskulin. "Pahlawan itu sebutan yang terlalu berat, Nin. Kakak cuma menjalankan tugas. Tapi kalau kamu tanya bagaimana rasanya, rasanya dingin, sepi, dan terkadang... Kakak cuma rindu suara bising asrama."
"Dan rindu melihat Nina menari?" potong Nina cepat.
Arya menghentikan langkahnya sebentar, menatap Nina dengan intensitas yang membuat gadis itu hampir menahan napas. "Terutama itu. Surat-suratmu dan foto penari kecil yang kamu kirim dulu adalah satu-satunya hiburan Kakak saat sedang berada di pos yang bahkan tidak ada sinyal radionya."
*
Mereka terus berjalan, melewati para pengamen jalanan yang membawakan lagu-lagu melankolis dengan biola dan gitar. Di depan sebuah rombong penjual telur gulung, Nina tiba-tiba berhenti.
"Kak, mau itu!" tunjuk Nina seperti anak kecil.
Arya tersenyum, memesan beberapa tusuk telur gulung dan memberikan dua lembar uang sepuluh ribuan. Saat Nina sibuk mengunyah dengan pipi yang menggembung, Arya memperhatikannya tanpa henti.
"Kamu tidak berubah kalau soal makanan, ya," ujar Arya sambil menyeka sedikit saus di sudut bibir Nina dengan ibu jarinya.
Sentuhan itu singkat, namun sanggup menciptakan getaran aneh di dada Nina. Ia segera meminum es teh plastikan yang baru saja dibeli untuk menutupi kegugupannya.
"Kak Arya juga tidak berubah. Masih suka memerintah dan... masih suka bikin Nina jantungan," sahut Nina pelan.
Mereka duduk di salah satu bangku kayu panjang di bawah pohon. Kerinduan sepuluh tahun mulai terurai satu per satu. Nina menceritakan bagaimana perjuangannya masuk ISI, tentang Ayah Hamdan yang kini sudah menjadi Sersan Mayor dan betapa bangganya beliau jika tahu Arya ada di sini.
"Ayah pasti senang sekali kalau lihat Kak Arya. Beliau sering bilang, 'Si Arya itu pasti jadi perwira hebat'," tiru Nina.
"Besok Kakak akan mampir ke rumah untuk menghadap Ayahmu. Kakak berutang banyak pada beliau karena sudah mengizinkan Kakak 'menjaga' kamu dulu," kata Arya.
Percakapan mengalir deras seperti air bendungan yang baru saja dibuka. Mereka berbicara tentang masa-masa sulit Arya saat pendidikan komando, tentang Nina yang sempat cedera pergelangan kaki saat latihan tahun lalu, hingga tentang kalung sepatu balet yang masih setia melingkar di leher Nina.
"Kenapa masih dipakai?" tanya Arya, matanya tertuju pada liontin perak itu. "Padahal kamu sekarang penari tradisional, bukan balet lagi."
Nina memegang liontin itu dengan jemarinya. "Karena ini bukan cuma soal jenis tariannya, Kak. Ini soal siapa yang memberikannya. Ini satu-satunya hal yang membuat Nina merasa Kak Arya tidak benar-benar pergi jauh."
Arya tertegun. Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa sayang kakak-adik yang mulai tumbuh di antara mereka. Namun, sebagai seorang prajurit yang terdidik untuk selalu waspada, ia mencoba menepis perasaan itu. Nina masih terlalu muda, dan masa depannya sebagai penari hebat baru saja dimulai.
***
Malam semakin larut. Suasana Malioboro mulai sepi, hanya menyisakan beberapa pedagang yang mulai berkemas. Angin malam Jogja yang dingin mulai menembus blus tipis Nina, membuatnya sedikit menggigil.
Tanpa berkata apa-apa, Arya melepas jas PDU-nya, menyisakan kemeja putih lengan panjang yang pas di tubuhnya, lalu menyampirkan jas yang penuh lencana itu ke bahu Nina.
"Pakai ini. Kamu tidak boleh sakit. Besok kamu ada kuliah, kan?"
"Kakak... ini kan seragam kebesaran," protes Nina, meski ia merasa sangat nyaman dengan aroma maskulin yang menguar dari jas tersebut.
"Anggap saja itu pelindung tambahan," jawab Arya singkat.
Mereka kembali ke mobil. Perjalanan menuju rumah dinas Korem tempat keluarga Nina tinggal terasa begitu cepat. Saat mobil berhenti di depan pagar rumah nomor 5, Nina melepaskan jas Arya dan menyerahkannya kembali.
"Terima kasih untuk malam ini, Kak. Nina merasa... seperti kembali ke usia tujuh tahun lagi, tapi kali ini kepalanya tidak bocor," ucap Nina sambil tertawa kecil.
Arya ikut tersenyum. Ia menatap pintu rumah yang lampunya masih menyala. "Sampaikan salam untuk Ayah dan Ibu. Kakak tidak masuk sekarang, sudah terlalu malam. Tidak sopan."
Nina membuka pintu mobil, namun sebelum turun, ia menoleh lagi. "Besok Kakak benar-benar akan datang?"
Arya mengangguk pasti. "Jam berapa kuliahmu dimulai?"
"Jam delapan pagi. Ada kelas koreografi."
"Kakak jemput jam setengah delapan. Jangan telat, atau Kakak akan beri hukuman lari keliling lapangan Korem," canda Arya dengan gaya khas instruktur militer.
Nina menjulurkan lidahnya. "Siap, Komandan!"
*
Nina turun dari mobil dan berdiri di depan pagar, melambaikan tangan sampai lampu belakang mobil Arya menghilang di belokan jalan. Ia masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang membuncah. Di dalam, Fatimah rupanya sedang menunggu di ruang tamu sambil membaca majalah.
"Pulang dengan siapa, Nin? Ibu dengar suara mobil dinas," tanya Fatimah menyelidik.
Nina memeluk ibunya dengan erat, wajahnya disembunyikan di bahu Fatimah. "Ibu tidak akan percaya... Kak Arya, Bu. Kapten Arya yang tadi mengantar Nina."
Fatimah terkejut, namun kemudian senyum hangat terkembang di wajahnya. "Alhamdulillah... akhirnya dia pulang. Ibu tahu, kalian pasti akan bertemu lagi."
Malam itu, di kamar masing-masing, dua orang yang baru saja bertemu kembali itu sulit untuk memejamkan mata. Arya menatap baret hijaunya di atas meja nakas hotel, memikirkan bagaimana besok ia harus bersikap di depan Nina dan keluarganya. Sementara Nina, ia memeluk bantalnya, membayangkan perjalanan ke kampus besok pagi.
Jarak sepuluh tahun ternyata tidak mampu menghapus memori tentang hujan di asrama. Justru, jarak itu telah mendewasakan perasaan yang dulu hanya sebatas kasih sayang tak berdosa, menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih kuat, dan mungkin saja... lebih berbahaya.
Satu hal yang pasti, esok hari bukan lagi tentang masa lalu. Esok hari adalah tentang langkah pertama mereka di jalur takdir yang baru.