Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
"Maksud Om?." Jelas saja Sadewa tidak mengerti saat itu, karena ia lama di Swiss semenjak lulus lebih dulu dari Sazi. Kebetulan dulu Sadewa itu kakak kelas Sazi yang paling dekat dengan Sazi.
Sadewa yang heran hanya mengernyitkan keningnya, dan menunjuk ke arah kamar dilantai atas. Entah apa yang dimaksud Omnya ini.
"Lah bukannya dulu kamu sempat satu sekolah dengan dia, Dewa?, hmm seingat Om waktu SMP deh kalau tidak salah. Masa enggak inget sama sekali sih?." ucap Ayah Fadli.
Sadewa mulai meraba raba untuk mengingat beberapa detik kemudian ia terdiam. Matanya menyipit seolah memutar kembali memorinya.
"Wait,..wait Om, jangan bilang kalau,.. Belum sempat melanjutkan ucapannya tiba tiba saja ia mendengar suara pintu kamar dilantai atas dibuka perlahan, penghuni kamar itu sepertinya hendak keluar.
Dan benar saja tak lama ia melihat sosok gadis yang baru saja keluar kamar dan sekarang sedang menuruni anak tangga dengan wajah lelah masih terfokus kedua netranya pada buku dan beberapa lembar kertas catatan yang telah ia rangkum untuk ia hafalkan dan ia pelajari yang saat ini sedang ada di kedua tangannya.
Rambut panjang yang di ikat asal, dan wajah lelahnya begitu nampak terlihat dengan jelas. Dikarenakan ia terus belajar dan belajar demi mengejar target untuk mendapatkan materi beasiswa.
Sampai ada beberapa helaian rambutnya yang menutupi wajahnya saat itu. "Mah, mamah Sazi mau ini mah,..." kalimatnya terhenti begitu saja.
Sazi langsung sadar saat ada tamu di area ruang tamu itu. Sadewa juga membeku ditempatnya. Dan keduanya saling menoleh dan menatap lekat, sambil keduanya berjalan perlahan kebarah keduanya.
Dan beberapa detik kemudian, tiba tba saja keduanya saling menunjuk dan menyapa bersamaan. "Kamu!."
Masih menatap tidak percaya. Sazi menyipitkan matanya tajam namun seketika ekspresinya berubah . dari yang awalnya keduanya nampak menatap dalam suasana membingungkan juga ada tegang tegang nya gitu.
Tiba tiba saja "Hwaaa DEWAAA, TEMEN GUE BESTIE GUE, MUSUH BEBUYUTAN GUE, RIVAL GUE, TUKANG NGINTILIN GUE!." celetuk Sazi dengan heboh hobahnya.
"Hwaa SAZIII, BESTIE GUE, PRINCESS GUE, OMAYGOT GA NYANGKA GUE WEY, LU SERIUSAN TINGGAL DISINI, GILAAA MIMPI APA GUE!." SAZIII, kangen gue sama elo." Teriak sadewa dan dengan segala kecerewetan kehobahannya saat itu.
Keduanya pun saling bertos ria tanda persahabatan yang mereka masih ingat sampai sekarang, ibu Fatma sampai menutup kedua telinganya.
"Hey kalian ini, baru juga ketemu udah seramai ini, hampir aja saya terkena serangan jantung haish." ucap ibu Ratna alias mama mertua Sazi.
"Hehehe Tante sorry Tan, lagian mana tau kalo orangnya itu si begeng ini."
"Anjir dulu ngatain gue begeng di depan mamer gue haish, jatoh harga diriku Tuhan." melempar pulpennya pada Sadewa seolah seperti tidak pernah terpisah jauh dan lama.
Semuanya kompak tertawa berjamaah, disusul ayah mertuanya yang langsung menghampiri keduanya.
Sudah sudah kalian duduk sana kita ngobrol biar enggak pegel berdiri begitu.
Sumpah tan, om masih enggak nyangka jadi dia si bocah mie ayam yang nikah sama sepupu gue hahaha." ucap Sadewa sampai tertawa saking kerasnya tak menyangka.
"Hilih enak aja dipanggil mie ayam." protes Sazi. "Elu juga masih hidup ternyata Wa." dewa pura pura tersinggung saat itu. "Eeh gue kuliah wey di Swiss, bukan hilang ditelan bumi."
"Ya mana gue tau, terakhir gue ketemu aja masih begeng juga kayak lidi wle."
"Sekarang juga masih ganteng kok."
"B aja lagi."
"Eleuh merendah untuk meninggi." celetuk Sazi dan semua pada ketawa berjama'ah. Sedangkan mama Fatma dan suaminya hanya saling lirik dan mengedip diiringi senyum lalu setelahnya saling berbisik "Yah cocok nih." bisik mama Fatma. Dan ayah Fadli mengangguk pelan, dan setelahnya "Lumayan bisa buat si Fadli panas nanti mom."
Sadewa dan Sazi masih saling lempar ejekan satu sama lain diiringi saling lempar bantal sofa. Tak lama Sadewa menatap Sazi dari ujung kepala sampai kaki.
"Bentar, bentar Zi." celetuk Sadewa membuat Sazi mengernyitkan dahi saat itu.
"kenapa?."
"Badan lu rasaan segini gini aja enggak ada yang berubah sama sekali."
"Berubah apanya?."
"Ya masih kecil aja kaya dulu berasa masih abegeh."
"Anjir lu ah ledekin gue aja terus." jawab Sazi kesal lalu melempar bantal sofa ke arah Sadewa yang langsung ia tangkap dengan cepat.
"Hwakakak sumpah Zi, enggak ada yang berubah tau masih begeng, masih galak, masih cerewet tapi masih imut." Sadewa terbahak masih terus tidak ada lelahnya menggoda Sazi saat itu.
"Lu juga nyebelin."
"Zi, hmm, elo serius?." menunjuk rumah itu dengan matanya menatap serius pada Sazi kali ini.
"Apa,?."
"Lu nikah sama si Fadli sepupu gue?." tanya Dewa. Membuat Sazi terdiam, hanya mengangguk kecil dan "Iya." ucap Sazi.
"Gila bener hidup ya penuh surprise banget hari ini."
"Ah elah tau ada elu dari kemaren disini mah gue pasti sudah pulang dari kemaren lebih cepat Zi." ucap Sadewa jujur.
"Padahal kalo diinget jaman smp kita dulu, kita sering rebutan cilok hahah."
""Eh lama enggak ketemu, udah jadi bini orang aja lu Zi, gilaa nikah muda anjir hahaha." Sazi hanya tertawa kecil.
"Nanti juga elo bakal ngerasain nikah juga."
"Enggaklah, gue belum kepikiran kuliahbaja masih belum kelar."
Tante Fatma kembali tersenyum lebar "Dewa nanti kamu inap disini saja ya, tidak perlu sewa hotel."
"Iya Tante."
"Iya wa, temani si Sazi disini biar enggak bete dia, si Fadli lakinya lagi dinas ke luar kota." timpal ayah Fadli.
"Boleh banget Tante om, lumayan hemat budget haha."
"Dasar."
Sedangkan di di Bali, nampak suasana yang harusnya bisa ia nikmati dengan happy. Malah banyak diam dan melamun.
Semuanya hanya terlintas wajah Sazi. Seolah tanpa ia sadari Semakin bergantung pada Sazi. Bagaimana cara Sazi memperlakukannya selama ini.
"Bang jangan lupa makan, jangan sampai telat ya, jangan lupa juga sholat jangan sampai ketinggalan Sazi sudah siapkan obat obatan jaga kesehatan selama disana."
"Ucapan Sazi masih terus terngiang dalam memorinya saat itu. Hingga seorang wanita disampingnya berkali kali memanggilnya pun tanpa ia sadari seolah Nadia hanya hembusan angin tak terdengar suaranya sama sekali.
Sampai tepukan halus dibahunya yang menyadarkannya. "Fad, kenapa sih kamu bengong aja dari tadi?."
"Eh enggak kok aku cuma lagi nikmati hembusan angin pantai saja Nad,.. seger banget." ucap Fadli menutupi kerinduannya pada Sazi saat itu.
Dadanya seolah terasa sesak saat itu, satu yang hanya ia inginkan saat ini ada Sazi dan bisa memeluknya saat ini namun Fadli berusaha menepis perasaan itu. Ia masih berusaha untuk menepis perasaan aneh yang merasuki jiwanya dan alam pikirannya saat ini.
"Jangan goyah fad, elo lagi sama Nadia." ucapnya dalam hati.
"Kamu kangen sama istrimu Fad?." Tanya Nadia.
Menilai dari gelagat Fadli yang seperti tidak tenang dan gelisah entah kenapa. Ia melihat Fadli tidak seperti biasanya. apakah sekarang Fadli sudah sepenuhnya melupakan perasaanmya pada dirinya itulah yang menjadi letak kekhawatiran Nadia.
"Fad, maafin aku ya, dulu aku terlambat menyadari sama perasaan kamu ke aku, aku memilih karir aku demi mengejar kak Bryan saat itu, bodoh banget aku saat itu tau nggak, yang aku kira Bryan bisa menyukaiku dengan tulus ternyata dia hanya mempermainkan perasaanku saja fad?."
"Tidak apa hanya masa lalu lupain aja nad."
"Enggak aku enggak bisa lupain Fad, gimana kamu dulu selalu ada saat aku butuh kamu, kamu selalu lindungin aku, sementara aku masih ngejar Bryan yang dia sendiri malah PHP in aku aja."
" Maafin aku fad, andai waktu bisa diputer ulang, aku pengen nikah sama kamu aja dan jadi istri kamu, bisa masakin buat kamu, mungkin aku akan jadi istri yang baik dan selalu diratukan oleh kamu."
"Sazi sangat beruntung bisa dapetin kamu Fadli, dan aku,..aku telat menyadari kalonkamu dulu sayang banget sama aku, haa." Nadia menangis sejadi jadinya saat ini, mengungkapkan segala unek uneknya. Fadli hanya diam menunduk saja dan menjawab seperlunya.
"Sudahlah tidak usah ditangisi sekarang aku kan ada disini, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi."
"Beneran fad?, apa itu tandanya kamu akan jadi sepenuhnya milik aku dan kamu akan meninggalkan Sazi?."
"Entahlah Nad, kalo untuk meninggalkan Sazi aku tidak bisa, maafkan aku."
"Lalu untuk apa semua ini Fadli kalau hatimu masih ada Sazi, kamu berubah sekarang fad?."
"Kamu masih mau terus bahas istriku Nadia, aku disini ikut denganmu seharusnya kamu bisa menghargai usahaku itu."
Nadia menundukkan wajahnya, baru kali ia dibentak oleh Fadli saat itu, airmatanya terus berjatuhan, ia hanya mengepalkan tangannya merasa tak terima. Dan ia bertekad untuk merebut kembali Fadli untuk kembali menyukainya seperti dulu.
Tak perduli bagaimanapun caranya. Kembali kerumah orang tua Fadli. Disana nampak semua berkumpul untuk menikmati makan malam.
Dimeja makan sudah tidak seperti biasanya yang awalnya tenang damai berbeda setelah kedatang Sadewa saat ini. Di ruang makan nampak ia sedang perang garpu dan sendok dengan Sazi yang dimana keduanya sedang berebut mengambil lauk lebih dulu.
"Hei kalian ini ya, kayak tom and Jerry banget sih kalo nyatu gini, makan yang tenang, enggak perlu rebutan gitu, noh tantemu masih goreng banyak dewa."
"Beda om rasanya kalo kita dapetin makanannya dengan hasil berjuang wkaakak."
"Haish menyebalkan."
"Tau nggak sih om di Swiss tuh ya, dewa makan nasi berasa makan kapas om."
"Kok bisa?."
"Iya dewa kan masak nasi om, eh karena kebanyakan aernya malah jadi kayak bubur encer kebangetan om."
"Hahaha, ada ada saja kamu ini wa, makanya sekarang sudah puas puasin saja selama disini makan nasi."
Sazi hanya tersenyum dan fokus menikmati makan malamnya, dan setelah ngobrol panjang lebar diarea meja makan ia pun kembali ke kamarnya.
Melihat Sazi yang hendak ke kamarnya, seketika Sadewa malah mengajaknya berbincang lebih dulu diarea balkon.
"Zi, ngobrol dulu lah sebelum elo tidur."
Sazi yang dipanggil ia menoleh lalu mengangguk "Oke ngobrol di balkon aja ya Wa?."
"Oke."
***
Sedangkan dibali yang awalnya Nadia pikir akan sesuai dengan rencananya, malah berkebalikannya Fadli malah ditelpon oleh beberapa investor mengajaknya untuk bertemu di area itu.
Dan hasilnya ia benar benar hanya fokus kerja dan malah mengabaikan liburannya dengan Nadia tentu saja nadia jadi geram dan kesal.
ia menyapu bersih barang barangnya yang berada di atas meja rias "Aaargh sial, bisa bisanya gue dicuekin Fadli."
Di kafe hotel dimana saat ini Nadia sedang mengalihkan kejenuhannya tiba tiba saja ia malah bertemu dengan Bryan saat itu.
"Eh kak Bryan, lama enggak ketemu kak?."
"Hai nad, iya ya lama juga kita enggak ketemu, kamu sama siapa disini?."
"Gimana kalo kita jalan dari pada kamu sendirian disini yuk."
keduanya pun memutuskan untuk berjalan jalan ke area pantai, dan mengingat masa lalu mereka saat itu. Saat keduanya bersama Nadia yang masih begtu besar perasaannya pada Bryan pun merasa. Teralihkan saat Fadli malah cuek padanya saat itu.
Namun Fadli dari kejauhan melihat keduanya sedang berjalan bersama ia mengepalkan tangannya. "Ternyata kamu masih sama kayak dulu nad, masih juga mengejar si Bryan itu."
"Fadli pun memutuskan untuk kembali ke bandung hari itu juga."
Pikirannya yang tak tenang menyelimutinya selama berada di Bali. Namun baru saja tiga hari di Bali, ia malah kedapatan pesan anonim yang mengirim foto ketika. Sazi menaiki. Sebuah mobil dan nampak pria disebelahnya.
Ia membelalakkan kedua netranya "Sadewa." Fadli yang tanpa sadar mengepalkan tangannya ia seolah sedang terbakar cemburu.
"Untuk apa dia datang kesini?." ucapnya kesal.
Tak lama ia menghubungi Sazi berkali kali namu ponsel Sazi malah tidak aktif saat itu. "Sazii kamu kemana sih Zi, baru ditinggal bentar aja sudah sama pria lain."
Padahal dirinyalah yang mendahului nya lebih dulu. Mungkin ia pikir seorang Sazi tidak akan ada yang menyukai padahal saat ini istrinya dikelilingi orang-orang yang begitu peduli dan menyayangi istrinya. Namun Fadli, tanpa sadar ia mendekat kepada kehancuran akibat ulangnya sendiri.
Terkadang penyesalan datang di akhir. Dan perasaan cinta yang tidak disadari malah akan membuat dirinya semakin kehilangan karena keegoisannya sendiri.
Fadli berjalan ke arah kamar hotelnya, mengngat kejadian saat ia melihat Nadia sedang bersama Bryan saat di lantai, dan mengingat pesan anonim yang mengirim pesan tentang istrinya. Ia langsung menutup pintu kamar hotelnya dengan kasar.
Fadli tidak habis pikir mengapa dua wanita yang begitu berarti baginya kini seolah pada ingin meninggalkannya. Di bawah guyuran shower Fadli terus menerangkan pernikahannya yang baru seumur jagung itu.
"Apa salahku Tuhan." ucapnya yang masih merasa tidak punya salah sama sekali.
Dimalam cuaca yang begitu dingin dan menusuk, Sazi seperti biasa ketika ia didalam kamar kembali ia merasa kosong. Yang ia pikirkan hanyalah ingin kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya hanya itu.
Melihat Sazi duduk diarea balkon sendiri, Sadewa mendekat ke arahnya sambil membawa camilan kesukaan Sazi.
"Zi, nih ngemil, bengong aja lu gue perhatiin, kangen ya sama suami elu?. Kepo Sadewa.
"Biasa aja tuh."
"Zi, gue mau tanya boleh nggak?."
"Tanya aja, nggak bayar kok?." ucap Sazi santai sambil mengambil camilan Sadewa lalu melahapnya. "Enak yang rasa ini wa, sini buat gue aja yang ini."
"Oh ini rasa terbaru Za, nih kalo lu mau."
"So,, cerita sama gue kok bisa aelo tiba tiba nikah sama sepupu gue Zi."
"Ceritanya panjang Wa?."
"Gue siap dengerin elu kok Zi."
"Thanks ya."
"Btw elu nikah tuh atas dasar kemauan elu sendiri Zi?."
Sazi menggeleng kan kepalanya. "lah pegimana tuh ceritanya."
"Gue dijodohin sama bang Fadli."
"Oh faham faham."
"Terus elo nurut aja gitu, enggak berusaha buat nolak?."
"Awalnya gue sempet nolak lah tapi ternyata setelah gue tau, ya gue terima dia, berusaha Nerima dia Wa, dia ternyata tuh temen chat gue selama ini."
"Trus sekarang elu bahagia?."
"Bahagia atau enggaknya, gue hanya berusaha untuk bertahan menjalaninya aja." ucap Sazi. Sadewa hanya menatapnya lekat. Sambil memperhatikan gelagat Sazi seolah semua sudah terjawab sudah.
Sazi yang diam seperti menyembunyikan banyak beban dalam hidupnya yang ia tanggung sendirian, Sadewa kini bertekad untuk menjadi seseorang yang bisa menjadi pelindung sahabatnya itu agar ia tidak merasa sendirian lagi.
"Zi gue boleh kan peluk elo."
"Sabar banget elo Zi, gue harap rumah tangga elo baik baik aja ya Zi, taoi kalo elo ngerasa enggak baek bae aja elo bisa datang ke tempat gue buat tenangin diri elo."
"thanks ya Wa, elo selalu baik sama gue meski kadang sedikit ngeselin hehe, lucu ikh, padahal kemaren baru aja gue kepikiran elo kok malah ga lama muncul si Wa?."
"itu tandanya do'a elo langsung diijabah, Tuhan kirim gue ke sini bukan karena apa Zi, tapi dia ada maksud tertentu, karena dia kan ya v maha tau, atas apa yang tidak pernah kita tau iya kan." ucap Sadewa, membuat Sazi tersenyum.