Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: JAMUAN DELAPAN SEKTE
Matahari pagi menyinari kompleks Klan Namgung dengan cahaya keemasan.
Udara terasa berbeda hari ini. Lebih tegang. Lebih formal. Para pelayan berlalu-lalang dengan membawa peralatan upacara, bunga-bunga segar, dan makanan-makanan istimewa. Di pintu gerbang utama, deretan pengawal berjajar rapi dengan seragam terbaik mereka—jubah hitam bersulam naga perak, berkilau di bawah sinar matahari.
Namgung Jin berdiri di ambang paviliun reotnya, mengamati hiruk-pikuk dari kejauhan.
"Delapan Sekte Besar..."
Ia mengingat mereka. Tiga ribu tahun lalu, Delapan Sekte Besar adalah sekutu sekaligus saingan—kekuatan-kekuatan yang menyeimbangkan Murim. Shaolin dengan para biksu sakti mereka. Wudang dengan pedang taiji mereka. Sekte Bunga Mekar dengan keanggunan mematikan mereka. Dan lain-lain.
Sekarang, keturunan mereka akan datang.
"Jin-ah!"
Nyonya Yoon keluar dari paviliun dengan membawa sehelai jubah. Jubah itu berwarna biru gelap, sederhana, tapi dari jahitannya terlihat jelas dibuat dengan hati-hati—setiap jahitan adalah ungkapan cinta.
"Ibu... Ibu membuatkan ini semalaman. Maaf, tidak bagus. Tapi setidaknya kau punya pakaian layak untuk jamuan."
Namgung Jin menatap jubah itu. Bahan biasa. Jahitan sederhana. Tapi di baliknya, ada ribuan tusuk jarum yang dikerjakan wanita ini sepanjang malam.
Simma di dadanya berdenyut hangat.
"Terima kasih, Ibu."
Ia memakai jubah itu. Ukurannya pas—sempurna.
Nyonya Yoon tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. "Jin-ah... Ibu bangga padamu."
Untuk apa? Ia belum melakukan apa pun. Tapi Simma itu tetap merasakan kehangatan.
---
Saat matahari tepat di atas kepala, tamu-tamu mulai berdatangan.
Namgung Jin berdiri di barisan belakang—tempat yang disediakan untuk anggota klan paling rendah. Dari sini, ia bisa melihat semua orang tanpa menarik perhatian.
Pertama datang utusan dari Sekte Shaolin. Dua biksu tua dengan jubah abu-abu dan tasbih di tangan. Di belakang mereka, enam biksu muda dengan tongkat kayu. Pemimpin mereka—Biksu Hyewon—adalah pria berusia tujuh puluhan dengan alis putih panjang dan wajah yang selalu tersenyum. Tapi mata di balik senyum itu tajam.
"Biksu Hyewon..." Namgung Jin mengamatinya. "Level master puncak. Mungkin sudah mencapai tahap pembukaan sembilan meridian."
Kedua, utusan dari Sekte Wudang. Seorang pendekar tua dengan jubah hitam-putih, membawa pedang kayu di punggung. Pendekar Jang Cheon-il—namanya terkenal di Murim. Usianya enam puluhan, postur tegap, wajah dingin. Matanya seperti elang mengawasi mangsa.
"Pedang Wudang... teknik Taiji masih sama seperti dulu."
Ketiga, Sekte Bunga Mekar (Hwaryunmun). Dua wanita cantik dengan jubah merah muda, diiringi empat murid wanita. Pemimpin mereka—Nyonya Hwa Ryun—berusia empat puluhan, kecantikan yang matang dan berbahaya. Senyumnya manis, tapi tatapannya penuh perhitungan.
"Hwaryunmun... sekte yang mengkhususkan diri pada racun dan pesona."
Keempat, Sekte Gunung Biru (Cheongsanbang). Para pendekar gunung dengan tubuh kekar dan pedang besar. Pemimpin mereka—Pendekar Ma Bong-chul—adalah raksasa setinggi hampir dua meter, dengan otot-otot seperti batu.
Begitu seterusnya. Delapan utusan, delapan master, delapan kekuatan yang akan menentukan nasib Klan Namgung.
Di barisan depan, Namgung Cheon menyambut mereka satu per satu dengan hormat. Kepala klan itu hari ini berpakaian sangat resmi—jubah hitam bersulam naga emas, rambut disanggul rapi dengan tusuk giok.
Di sampingnya, Nyonya Kim juga tampil anggun. Wanita itu tersenyum manis pada setiap tamu, berpura-pura menjadi istri kepala klan yang sempurna.
Di belakang mereka, Namgung So-ho berdiri dengan dada membusung. Ia juga berpakaian bagus, berusaha tampil sebagai putra mahkota yang pantas.
Namgung Jin tersenyum tipis.
"Boneka-boneka berpakaian bagus."
---
Jamuan berlangsung di aula utama Klan Namgung.
Aula ini luas—bisa menampung seratus orang dengan nyaman. Lantai marmer mengkilap, pilar-pilar merah berukir naga, dan di ujung ruangan, kursi kepala klan yang menjulang tinggi. Para tamu duduk berhadapan dalam dua baris, dengan Namgung Cheon di kursi tertinggi.
Namgung Jin duduk di pojok paling belakang, hampir di luar aula. Dari sini, ia hanya bisa melihat punggung para tamu. Tapi itu cukup. Ia tidak perlu melihat wajah mereka untuk membaca gerak-gerik mereka.
"Biksu Hyewon duduk paling tenang. Tidak gelisah, tidak banyak bicara. Orang seperti ini paling berbahaya—karena pikirannya tidak pernah berhenti bekerja."
"Pendekar Jang Cheon-il sering melirik ke arah pedang Namgung Cheon. Mungkin tertarik pada pusaka klan."
"Nyonya Hwa Ryun lebih banyak tersenyum pada tetua muda daripada bicara. Mencari kelemahan."
Ia mengamati, menganalisis, menyusun peta kekuatan dan kelemahan mereka.
"Delapan sekte, delapan kepentingan berbeda. Shaolin ingin stabilitas. Wudang ingin pengakuan. Hwaryunmun ingin koneksi. Cheongsanbang ingin sumber daya. Tidak ada yang benar-benar peduli pada Klan Namgung."
Lalu tiba-tiba, percakapan berhenti.
Seorang utusan—dari Sekte Pedang Langit (Cheongeommun)—berdiri. Ia adalah pria muda, mungkin baru tiga puluhan, dengan aura arogan yang khas anak muda berbakat.
"Kepala Klan Namgung." Suaranya keras, tidak sopan. "Kami datang ke sini untuk mengevaluasi kekuatan klan ini. Tapi yang kami lihat hanya pesta dan jamuan. Di mana bukti bahwa Klan Namgung masih layak disebut salah satu dari Empat Klan Besar?"
Keheningan menyergap aula.
Namgung Cheon mengerutkan kening. "Pendekar Muda Seok, maksud—"
"Jangan main kata-kata." Pemuda itu—Seok Cheon-myung—melangkah ke tengah aula. "Aku tantang siapa pun dari Klan Namgung untuk berduel. Jika kalah, kami akan pulang dan melaporkan bahwa Klan Namgung masih kuat. Jika menang..." Ia tersenyum sinis. "...mungkin posisi kalian perlu dievaluasi ulang."
Aula gempar.
Para tetua Klan Namgung merah padam. Namgung So-ho mundur selangkah tanpa sadar. Bahkan Namgung Cheon terlihat terkejut dengan keterusterangan ini.
Tapi di pojok belakang, Namgung Jin tersenyum.
"Anak muda bodoh. Tapi berguna."
---
Namgung Cheon mencoba menenangkan situasi. "Pendekar Muda Seok, ini jamuan persahabatan. Tidak perlu—"
"Persahabatan?" Seok Cheon-myung tertawa. "Di Murim, persahabatan diukur dengan kekuatan. Atau kau mau bilang Klan Namgung takut?"
Kata terakhir itu seperti tamparan.
Tetua Kang—pria dengan alis putih yang kemarin bertaruh dengan Namgung Jin—langsung berdiri. "Kurang ajar! Aku lawan kau!"
"Tetua Kang!" Namgung Cheon memperingatkan, tapi sudah terlambat.
Seok Cheon-myung tersenyum lebar. "Akhirnya ada yang berani."
Keduanya turun ke halaman. Para tamu dan anggota klan mengikuti, membentuk lingkaran. Duel akan segera dimulai.
Namgung Jin tetap di tempatnya, mengamati dari kejauhan. Ia tahu Tetua Kang akan kalah—pria itu terlalu emosional, terlalu cepat terprovokasi. Seok Cheon-myung mungkin muda, tapi ia jelas datang dengan persiapan.
Dan benar saja.
Duel dimulai dengan serangan gencar dari Tetua Kang. Pedangnya menyambar cepat—jurus andalan Klan Namgung. Tapi Seok Cheon-myung menghindar dengan mudah, seolah sudah hafal setiap gerakan.
"Dia sudah mempelajari jurus Namgung sebelumnya." Namgung Jin mengangguk sendiri. "Ini bukan duel spontan. Ini sudah direncanakan."
Lima menit kemudian, Tetua Kang terpental. Pedangnya terlempar, dan lehernya sudah di ujung pedang Seok Cheon-myung.
Aula hening.
Seok Cheon-myung tertawa. "Begini saja sudah kalah? Klan Namgung benar-benar melemah!"
Para tetua lainnya marah, tapi ragu. Mereka tahu, jika mereka maju dan kalah, reputasi klan akan hancur.
Di tengah keheningan itu, suara kecil terdengar.
*"Boleh aku coba?""
Semua orang menoleh.
Di pojok aula, seorang pemuda kurus dengan jubah biru sederhana berdiri. Wajahnya pucat, tubuhnya ringkih. Siapa pun bisa melihat bahwa ia bukan pendekar.
Namgung Jin.
Namgung So-ho tertawa. "Kau? Bocah haram yang bahkan tidak pernah latihan pedang?"
Tapi Seok Cheon-myung menatap pemuda itu dengan rasa ingin tahu. Matanya menyipit.
"Kau siapa?"
"Anggota Klan Namgung." Suara Namgung Jin datar. *"Yang paling rendah. Tapi kau bilang siapa pun dari klan ini, kan?""
Para tetua terkejut. Nyonya Kim pucat. Namgung Cheon mengerutkan kening.
Tapi yang paling menarik adalah reaksi para utusan lain. Biksu Hyewon tersenyum tipis. Pendekar Jang Cheon-il mengangkat alis. Nyonya Hwa Ryun menatap dengan rasa ingin tahu.
"Bocah ini..." gumam Biksu Hyewon. "...matanya tidak seperti bocah biasa."
Seok Cheon-myung tertawa. "Kau? Aku akan membunuhmu dalam satu gerakan!"
"Mungkin." Namgung Jin melangkah maju, keluar dari barisan. "Tapi aku hanya ingin mencoba."
---
Di halaman, Namgung Jin berdiri berhadapan dengan Seok Cheon-myung.
Bocah kurus dengan jubah jahitan ibu melawan pendekar muda berbakat dari Sekte Pedang Langit.
Pemandangan yang absurd.
Seok Cheon-myung bahkan tidak repot-repot mengambil posisi bertarung. Ia berdiri santai, pedangnya di samping.
"Aku kasih kau tiga gerakan. Setelah itu, aku serang."
"Baik."
Namgung Jin tidak mengambil pedang. Ia hanya berdiri, tangan di samping.
"Kau tidak pakai senjata?"
"Tidak perlu."
Seok Cheon-myung mengerutkan kening. "Kau menghinaku?"
"Tidak. Aku hanya realis." Namgung Jin tersenyum. "Dengan tubuh ini, pakai pedang atau tidak, hasilnya sama saja."
Para penonton mulai berbisik. Ada yang mengejek, ada yang kasihan.
Tapi Seok Cheon-myung—setelah menatap mata Namgung Jin—merasa ada yang aneh. Mata itu tenang. Terlalu tenang. Tidak ada rasa takut, tidak ada harapan, hanya... perhitungan.
"Aneh."
"Aku mulai."
Namgung Jin melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Lalu ia berlari.
Bukan lari cepat—lari lambat, kaku, seperti orang yang baru belajar bergerak. Tapi arahnya... arahnya tidak langsung ke Seok Cheon-myung. Ia berlari sedikit ke samping, membuat lingkaran.
Seok Cheon-myung bingung. "Apa yang—"
Dan saat itulah ia sadar.
Posisinya. Matahari.
Namgung Jin berlari ke arah barat, sehingga sinar matahari sore tepat di belakangnya. Silau itu membutakan Seok Cheon-myung untuk sesaat.
Hanya sesaat.
Tapi sesaat cukup untuk Namgung Jin melompat—lompatan pendek, tidak bertenaga—dan menjatuhkan diri ke tanah, berguling, dan menendang...
Pasir.
Segenggam pasir yang ia kumpulkan diam-diam saat berjalan ke halaman, dilempar tepat ke wajah Seok Cheon-myung.
"Augh!"
Pendekar muda itu terhuyung, matanya perih. Pasir di mata.
Dan saat ia mengusap mata, Namgung Jin sudah di depannya.
Tangan kecil itu menyentuh pergelangan tangan kanannya—tepat di titik yang sama seperti saat ia melumpuhkan Namgung So-ho.
"Samgyeolhyeol."
Rasa sakit menjalar. Pedang di tangan Seok Cheon-myung jatuh.
Dan Namgung Jin mundur tiga langkah, berdiri dengan tangan di belakang punggung, tersenyum.
"Duel selesai."
Keheningan mutlak menyelimuti halaman.
---
Beberapa detik berlalu.
Lalu Seok Cheon-myung berteriak, "Curang! Kau curang! Pasir di mata—itu tidak terhormat!"
Namgung Jin menatapnya datar. *"Tidak terhormat? Kau, master level menengah dengan tiga puluh tahun kultivasi, menantang bocah enam belas tahun tanpa kekuatan, dan bicara tentang kehormatan?""
"Aku—!"
"Di medan perang, apa pun bisa terjadi. Pasir, angin, matahari. Jika kau tidak siap menghadapi itu, kau tidak pantas disebut pendekar."
Kata-kata itu menusuk.
Seok Cheon-myung membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.
Lalu, tiba-tiba...
Tepuk tangan.
Satu orang. Dua orang. Semakin banyak.
Biksu Hyewon tersenyum lebar. "Bocah ini... dia menggunakan kelemahan lawan, bukan kekuatan sendiri. Itu adalah kebijaksanaan, bukan kecurangan."
Pendekar Jang Cheon-il mengangguk. "Penempatan posisi memanfaatkan matahari. Pengamatan cepat. Eksekusi tepat. Meskipun tanpa kekuatan, dia membaca pertarungan dengan sempurna."
Nyonya Hwa Ryun menambahkan, "Dan dia tahu titik lemah manusia—mata. Sederhana, tapi efektif."
Para utusan lain ikut memuji, meskipun beberapa tersenyum geli.
Seok Cheon-myung merah padam. Ia meraih pedangnya, berniat menyerang lagi, tapi salah satu tetua Sekte Pedang Langit menghentikannya.
"Cukup, Cheon-myung. Kau sudah kalah."
"Tapi—!"
"Diam!"
Pemuda itu menunduk, gigi gemeretak.
Namgung Jin menatapnya sejenak, lalu berbalik dan berjalan kembali ke barisan belakang. Wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan kemenangan.
Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum.
"Langkah keempat selesai. Reputasi terbangun."
---
Jamuan berlanjut, tapi suasana berubah.
Sekarang, semua mata tertuju pada Namgung Jin. Para utusan sering melirik ke arahnya, bertanya-tanya siapa bocah misterius ini.
Namgung Cheon memanggilnya ke depan. "Jin-ah, duduklah di sini."
Ia menunjuk kursi di dekatnya—bukan kursi utama, tapi jauh lebih tinggi dari kursi belakang.
Nyonya Kim pucat. Namgung So-ho menggigit bibir hingga berdarah.
Namgung Jin duduk dengan tenang.
Biksu Hyewon mendekat. "Anak muda, siapa namamu?"
"Namgung Jin."
"Namgung Jin..." Biksu itu mengangguk. "Kau latihan dengan siapa?"
"Tidak dengan siapa pun. Aku belajar sendiri."
"Belajar sendiri?" Alis Biksu Hyewon terangkat. "Dan kau tahu titik Samgyeolhyeol? Itu adalah teknik yang hilang ratusan tahun lalu."
Keheningan.
Namgung Jin tersenyum tipis. "Aku banyak membaca, Biksu."
"Membaca?" Biksu Hyewon tertawa kecil. "Bocah, kau menyimpan banyak rahasia."
Ia tidak menyangkal. Tidak perlu.
Nyonya Hwa Ryun mendekat dari sisi lain. "Namgung Jin-ssi, kau menarik. Mungkin kau ingin berkunjung ke Sekte Bunga Mekar suatu hari? Kami punya banyak... buku menarik."
Godaan langsung. Tapi Namgung Jin hanya tersenyum sopan.
"Terima kasih atas undangannya, Nyonya. Tapi aku masih harus banyak belajar di sini."
Penolakan halus. Nyonya Hwa Ryun mengangguk, tidak tersinggung. Malah, matanya berkilat tertarik.
---
Malam harinya, setelah para tamu beristirahat, Namgung Jin duduk di kamarnya.
Tubuhnya lelah—sangat lelah. Gerakan tadi, meskipun kecil, menguras energi yang ia kumpulkan selama berhari-hari. Tapi hasilnya sepadan.
Pintu diketuk.
"Masuk."
Tetua Pyo masuk dengan ekspresi rumit. "Kau tahu apa yang kau lakukan hari ini?"
"Ya."
"Kau mempermalukan Sekte Pedang Langit di depan Delapan Sekte Besar."
"Dia yang meminta duel."
"Tapi kau menang dengan cara... tidak biasa." Tetua Pyo duduk. "Sekarang semua orang ingin tahu siapa kau. Biksu Hyewon bertanya tentangmu. Nyonya Hwa Ryun jelas tertarik. Bahkan Pendekar Jang Cheon-il—yang biasanya tidak peduli pada siapa pun—menyebut namamu."
Namgung Jin diam.
"Kau menarik perhatian, Jin-ah. Itu berbahaya."
"Aku tahu."
"Tapi kau melakukannya dengan sengaja, kan?" Tetua Pyo menatapnya tajam. "Kau sengaja tampil. Kau sengaja menang dengan cara itu. Kau ingin mereka memperhatikanmu."
Namgung Jin tersenyum—senyum yang tidak mengonfirmasi, juga tidak menyangkal.
Tetua Pyo menghela napas. "Aku tidak tahu apa rencanamu. Tapi hati-hati. Di Murim, perhatian bisa berarti perlindungan, tapi juga bisa berarti ancaman."
"Aku tahu, Tetua."
Tetua Pyo berdiri, menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia berhenti.
"Oh ya, kepala klan memanggilmu besok pagi. Sendirian."
"Baik."
Setelah Tetua Pyo pergi, Namgung Jin duduk merenung.
Pertemuan dengan kepala klan. Sendirian.
"Apa yang kau inginkan, Namgung Cheon?"
Simma di dadanya berdenyut—harapan, rindu, takut. Emosi Namgung Jin asli yang masih melekat.
"Tenang. Aku akan hadapi."
Ia memejamkan mata, memulai kultivasi malam.
Meridian ketiga hampir terbuka.
---