NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan yang Berbahaya

Pagi datang lebih cepat dari yang Rania sadari.

Sinar matahari menembus tirai tipis apartemennya, menyebarkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Kota di luar jendela sudah mulai hidup dengan suara kendaraan dan aktivitas pagi.

Rania berdiri di dapur kecil apartemennya, menuangkan kopi ke dalam cangkir putih.

Ia jarang punya waktu santai seperti ini.

Namun hari ini pikirannya sudah penuh bahkan sebelum ia sampai di kantor.

Semalam Arsen mengatakan sesuatu yang cukup penting.

Keputusan proyek perusahaan Adrian sekarang ada di tangannya.

Rania menatap uap tipis yang naik dari kopi di tangannya.

Hartono Group bukan perusahaan kecil.

Setiap investasi mereka bernilai sangat besar.

Dan keputusan seperti ini biasanya melalui banyak tahap.

Namun karena ia yang memimpin proyek ini, rekomendasinya akan menjadi penentu utama.

Ia menyesap kopinya pelan.

“Bisnis tetap bisnis,” gumamnya pelan.

Namun jauh di dalam pikirannya, ia tahu keputusan ini tidak sesederhana itu.

Sementara itu di kantor Adrian.

Suasana ruang rapat pagi itu cukup tegang.

Beberapa direktur perusahaan duduk mengelilingi meja panjang dengan berkas laporan di tangan mereka.

Adrian berdiri di depan layar presentasi.

Grafik keuangan perusahaan terlihat jelas di sana.

“Kondisi kita masih stabil,” kata Adrian dengan suara tenang.

“Tapi beberapa proyek besar kita membutuhkan investasi tambahan dalam enam bulan ke depan.”

Salah satu direktur menghela napas.

“Dan kita semua tahu siapa yang bisa memberi investasi itu.”

Ruangan menjadi sedikit sunyi.

Nama perusahaan itu tidak perlu disebut.

Semua orang sudah tahu jawabannya.

Hartono Group.

Direktur lain berkata dengan nada khawatir,

“Jika mereka menolak kerja sama ini, kita akan kesulitan mencari investor lain dalam waktu dekat.”

Adrian menatap grafik di layar.

Ia sudah memikirkan kemungkinan itu sejak awal.

Namun satu hal yang tidak ia duga adalah…

Bahwa orang yang memegang keputusan itu sekarang adalah Rania.

Adrian mematikan layar presentasi.

“Kita akan menunggu keputusan mereka.”

Nada suaranya tetap tenang, namun semua orang di ruangan itu tahu situasinya cukup serius.

Rapat akhirnya selesai.

Para direktur mulai keluar satu per satu.

Namun Clara tetap duduk di kursinya.

Adrian memperhatikannya.

“Kau tidak keluar?”

Clara menyilangkan tangannya.

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

Adrian menunggu.

Clara menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Jika Rania yang menentukan keputusan investasi ini…”

Ia berhenti sebentar.

“…apakah kau benar-benar yakin dia akan memilih perusahaanmu?”

Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.

Adrian tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian ia berkata,

“Dia profesional.”

Clara tertawa kecil.

“Profesional?”

Ia berdiri dari kursinya.

“Adrian, kau benar-benar percaya seseorang bisa melupakan masa lalu begitu saja?”

Adrian menatapnya tajam.

Clara melanjutkan dengan nada lebih pelan.

“Jika aku berada di posisinya, aku mungkin tidak akan melewatkan kesempatan untuk membalas semuanya.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Namun Adrian tetap terlihat tenang.

“Rania bukan orang seperti itu.”

Clara mengangkat alis sedikit.

“Benarkah?”

Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, ia menoleh.

“Kalau begitu kita akan lihat saja.”

Pintu tertutup.

Adrian kembali sendirian di ruang rapat.

Ia menatap meja kosong di depannya.

Satu pertanyaan mulai muncul lagi di pikirannya.

Apakah ia benar-benar mengenal Rania dengan baik?

Di sisi lain kota.

Ruang rapat Hartono Group terlihat jauh lebih modern.

Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

Beberapa eksekutif senior duduk di meja rapat.

Rania berada di salah satu kursi utama.

Arsen duduk tidak jauh darinya.

Di layar besar terlihat laporan analisis tentang perusahaan Adrian.

Salah satu analis sedang menjelaskan.

“Secara finansial, perusahaan mereka memang mengalami tekanan dalam dua tahun terakhir.”

Ia mengganti slide presentasi.

“Namun mereka masih memiliki potensi keuntungan jika proyek baru ini berhasil.”

Beberapa eksekutif mulai berdiskusi.

“Apa risikonya?”

“Risiko kerugian sekitar dua puluh persen jika pasar tidak stabil.”

Diskusi berlangsung cukup serius.

Beberapa orang terlihat ragu.

Salah satu direktur akhirnya menoleh ke arah Rania.

“Direktur Rania, Anda yang memimpin proyek ini.”

“Apa rekomendasi Anda?”

Semua mata di ruangan itu langsung tertuju padanya.

Rania duduk dengan tenang.

Ia membuka berkas di depannya.

Beberapa detik ia membaca sebelum akhirnya menutupnya kembali.

“Secara bisnis,” katanya pelan, “proyek ini masih layak untuk dipertimbangkan.”

Beberapa orang mengangguk.

Namun direktur itu bertanya lagi.

“Apakah Anda yakin?”

Rania menjawab dengan tenang.

“Jika dikelola dengan benar, keuntungan jangka panjangnya cukup besar.”

Arsen yang duduk di sampingnya hanya memperhatikan dengan ekspresi santai.

Ia tahu satu hal yang orang lain di ruangan itu tidak tahu.

Keputusan Rania mungkin bukan hanya tentang bisnis.

Namun sejauh ini, wanita itu tetap terlihat sangat profesional.

Rapat berlanjut beberapa saat lagi sebelum akhirnya ditutup.

Ketika semua orang mulai keluar dari ruangan, Arsen mendekati Rania.

“Kau benar-benar akan merekomendasikan proyek itu?”

Rania mengangkat alis.

“Kenapa?”

Arsen tersenyum kecil.

“Aku hanya penasaran.”

Ia bersandar santai di meja.

“Ini kesempatan sempurna jika kau ingin menjatuhkan perusahaannya.”

Rania menatapnya dengan tenang.

“Aku sudah bilang sebelumnya.”

“Bisnis bukan tempat untuk balas dendam.”

Arsen tertawa pelan.

“Jawaban yang sangat elegan.”

Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar ia berkata,

“Tapi aku tetap ingin melihat bagaimana cerita ini berakhir.”

Rania tidak menjawab.

Ketika ruangan akhirnya kosong, ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar.

Kota terlihat sangat kecil dari ketinggian ini.

Ia menyilangkan tangannya.

Di atas meja rapat, berkas perusahaan Adrian masih terbuka.

Nama itu kembali terlihat di halaman depan.

Adrian.

Rania menatapnya beberapa detik.

Ia tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Namun satu hal pasti.

Keputusan yang ia buat sekarang bisa mengubah banyak hal.

Bukan hanya untuk perusahaan Adrian.

Tapi mungkin juga untuk masa lalu yang pernah ia tinggalkan.

...

Ruang rapat Hartono Group perlahan menjadi kosong.

Para eksekutif sudah keluar satu per satu setelah diskusi panjang tentang proyek investasi. Hanya beberapa staf yang masih mengumpulkan dokumen di meja.

Rania berdiri di dekat jendela besar.

Dari ketinggian lantai atas itu, kota terlihat seperti miniatur yang dipenuhi cahaya dan pergerakan.

Ia memandang keluar cukup lama.

Di meja rapat di belakangnya, berkas perusahaan Adrian masih terbuka.

Angin dari pendingin ruangan membuat halaman itu sedikit bergerak.

Seolah mengingatkannya bahwa keputusan itu belum selesai.

Beberapa detik kemudian pintu ruang rapat terbuka lagi.

Arsen masuk kembali dengan langkah santai.

Ia melihat Rania yang masih berdiri di dekat jendela.

“Kau masih di sini,” katanya.

Rania tidak menoleh.

“Aku hanya berpikir.”

Arsen berjalan mendekat.

“Berpikir tentang proyek… atau tentang Adrian?”

Rania akhirnya menoleh sedikit.

“Kau terlalu suka mencampur dua hal itu.”

Arsen tertawa kecil.

“Mungkin karena dua hal itu memang tidak bisa dipisahkan.”

Ia duduk di kursi rapat dengan santai.

“Direksi terlihat cukup puas dengan rekomendasimu.”

Rania berjalan kembali ke meja dan menutup berkas proyek itu.

“Keputusan akhir belum dibuat.”

Arsen mengangkat bahu.

“Tapi rekomendasimu punya pengaruh besar.”

Ia menatap Rania beberapa detik.

“Kau tahu itu.”

Rania tidak menyangkal.

Ia mengambil berkas itu dan memasukkannya ke dalam map.

“Jika proyek ini menguntungkan perusahaan, aku akan menyetujuinya.”

Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Dan jika tidak?”

Rania menatapnya sebentar.

“Kalau tidak, kita akan menolaknya.”

Jawaban itu terdengar sangat sederhana.

Namun Arsen tahu bahwa keputusan itu sebenarnya jauh lebih rumit.

Ia berdiri dari kursinya.

“Baiklah.”

Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar ia berkata dengan nada santai,

“Kalau aku jadi Adrian sekarang, aku pasti sangat gugup.”

Pintu tertutup setelah ia pergi.

Rania kembali sendirian.

Ia menatap map proyek di tangannya sebentar sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruang rapat.

Di perusahaan Adrian, suasana sore terasa lebih sibuk dari biasanya.

Beberapa tim masih bekerja di kantor meskipun jam kerja hampir selesai.

Semua orang tahu bahwa proyek dengan Hartono Group adalah hal yang sangat penting.

Di ruang kerja Adrian, suasana jauh lebih sunyi.

Ia sedang membaca laporan baru ketika pintunya diketuk.

“Masuk.”

Clara masuk sambil membawa beberapa berkas.

“Ada laporan tambahan dari tim pemasaran,” katanya sambil meletakkan dokumen di meja Adrian.

Adrian mengangguk.

“Terima kasih.”

Clara tidak langsung pergi.

Ia berdiri di depan meja dengan ekspresi sedikit serius.

“Aku baru saja berbicara dengan salah satu kontak kita di Hartono Group.”

Adrian mengangkat kepalanya.

“Dan?”

Clara menarik napas kecil.

“Rapat direksi mereka hari ini membahas proyek kita.”

Adrian memperhatikan wajahnya.

Clara melanjutkan,

“Dan Rania yang memimpin diskusi itu.”

Ruangan menjadi sunyi beberapa detik.

Adrian menutup berkas di tangannya.

“Apa keputusan mereka?”

Clara menggeleng.

“Belum ada keputusan final.”

Ia menyilangkan tangannya.

“Tapi dari yang kudengar… rekomendasi Rania cukup positif.”

Adrian tidak menunjukkan reaksi besar.

Namun Clara bisa melihat sedikit perubahan di matanya.

“Menarik, bukan?” lanjut Clara.

“Aku benar-benar ingin tahu apa yang ada di pikirannya sekarang.”

Adrian berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela.

Matahari sore mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi.

Warna langit berubah menjadi oranye lembut.

“Kita hanya perlu menunggu,” kata Adrian akhirnya.

Clara menatap punggungnya beberapa detik.

“Ya,” katanya pelan.

“Menunggu.”

Namun ada sesuatu di nada suaranya yang sulit dijelaskan.

Seolah ia tidak sepenuhnya menyukai arah cerita ini.

Ia akhirnya mengambil berkas kosong di meja dan berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.

“Adrian.”

Pria itu menoleh sedikit.

Clara berkata dengan nada serius,

“Jika kerja sama ini berhasil… kita akan sering bertemu dengan Rania.”

Adrian tidak langsung menjawab.

Clara tersenyum tipis.

“Semoga itu tidak menjadi masalah.”

Pintu tertutup perlahan setelah ia pergi.

Adrian kembali sendirian di ruangan itu.

Ia menatap langit senja di luar jendela.

Satu hal mulai terasa jelas baginya.

Apa pun keputusan Hartono Group nanti…

Rania akan tetap menjadi bagian dari masa depannya.

Dan kali ini, ia tidak yakin apakah itu hal yang baik… atau justru sesuatu yang jauh lebih rumit.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!