Dunia Andini Kharisma Sulistia (21 tahun) runtuh seketika saat kecelakaan maut merenggut nyawa suaminya, Keenan Adiwijaya. Di tengah duka yang masih basah, Andini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok pendamping. Namun, hadirnya Farhady Sastranegara (41 tahun) membawa kebimbangan baru.
Farhady bukanlah orang asing; ia adalah mantan ayah mertua yang ternyata hanyalah ayah sambung Keenan. Meski tak ada ikatan darah, lamaran Farhady memicu badai emosi dan stigma sosial yang tajam. Terjebak antara kesetiaan pada mendiang suami dan kasih sayang tulus Farhady, Andini harus menentukan arah hatinya dalam balutan dilema cinta yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jabal Rahmah Menjadi Saksi
Waktu terus bergulir tanpa kompromi. Kesuksesan yang diraih Farhady di dunia bisnis membawanya terbang dari satu negara ke negara lain, dari satu rapat direksi ke konferensi internasional lainnya. Tubuhnya yang kian bugar karena disiplin olahraga seolah menjadi tameng dari rasa sepi yang terkadang masih mencoba mengetuk. Di sisi lain, Andini telah menjelma menjadi sosok intelektual yang disegani; jadwalnya dipenuhi dengan peluncuran buku, riset pendidikan, dan pengabdian masyarakat.
Mereka berdua telah menjadi dua garis sejajar dalam geometri kehidupan—saling melihat dari kejauhan, namun seolah tak akan pernah bersinggungan lagi. Kesibukan yang luar biasa padat menjadi tabir yang sempurna untuk menutupi kerinduan yang telah mengendap menjadi abu yang dingin. Mereka telah sepakat dalam diam: biarlah sisa perasaan ini menjadi rahasia antara mereka dan Sang Pemilik Semesta.
Hingga suatu ketika, di tengah hiruk-pikuk jadwal yang mencekik, keduanya merasakan panggilan yang sama. Bukan panggilan dari dunia, melainkan panggilan untuk bersujud di rumah-Nya. Tanpa saling tahu, tanpa komunikasi seujung kuku pun, keduanya mengatur perjalanan Umroh di waktu yang bersamaan.
Mekkah di bulan itu sedang padat-padatnya. Jutaan manusia dari berbagai belahan dunia berkumpul dengan satu warna pakaian yang sama: putih. Di tengah lautan manusia yang sedang melakukan tawaf, Farhady merasa jiwanya ditarik menuju titik nol. Ia melepaskan semua atribut kebesarannya sebagai pengusaha sukses. Di depan Ka'bah, ia hanyalah seorang hamba yang penuh dengan luka masa lalu.
"Ya Allah, jika Engkau telah menghapus bab itu dari hidupku, berikanlah aku ketenangan. Namun jika bab itu belum usai, tunjukkanlah jalan-Mu dengan cara yang paling tidak aku sangka," bisik Farhady di tengah isak tangis yang tertahan di balik kain ihramnya.
Di sudut lain Masjidil Haram, Andini bersimpuh di bawah naungan menara-menara tinggi. Ia merasa sangat kecil. Karir dan kesuksesannya sebagai penulis seolah tak bermakna di hadapan kemegahan-Nya. Ia berdoa untuk keteguhan hati, untuk melupakan rasa sakit yang pernah ada, dan untuk keberanian melangkah menuju masa depan yang masih menjadi misteri.
Puncak dari ketidakmungkinan itu terjadi pada sebuah siang yang terik di padang Arafah. Jabal Rahmah, Bukit Kasih, tempat di mana Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah perpisahan yang begitu panjang, berdiri kokoh di tengah hamparan pasir yang luas.
Andini mendaki perlahan. Langkah kakinya terasa berat, namun hatinya mendesak untuk sampai ke puncak. Ia ingin berdiri di sana, di tempat jutaan doa tentang jodoh dan pertemuan dipanjatkan setiap tahunnya. Saat sampai di dekat pilar putih yang legendaris itu, Andini berhenti sejenak untuk mengatur napas. Udara panas Mekkah menyengat kulitnya yang tertutup mukena putih bersih.
Tepat di samping pilar itu, seorang pria sedang berdiri membelakanginya. Pria itu tampak sangat tegap, pundaknya lebar, dan kepalanya yang kini gundul karena baru saja menyelesaikan tahalul membuat Andini tidak mengenalinya seketika. Pria itu sedang menengadahkan tangan, berdoa dengan khusyuk hingga bahunya bergetar hebat.
Andini berdiri hanya berjarak dua meter. Entah mengapa, ada sebuah frekuensi yang ia kenali. Sebuah getaran yang pernah menemaninya di malam-malam dingin Lembang. Ia terdiam, tidak berani bersuara, hanya menatap punggung itu dengan jantung yang mulai berdegup kencang secara tidak wajar.
Pria itu perlahan menurunkan tangannya, mengusap wajahnya, lalu berbalik.
Waktu seolah membeku. Suara riuh jutaan jamaah di Jabal Rahmah mendadak hilang, digantikan oleh sunyi yang sakral. Farhady terpaku. Matanya yang merah karena air mata doa kini menatap sosok wanita di depannya dengan ketidakpercayaan yang luar biasa. Andini, dengan wajah yang polos tanpa riasan, berdiri di depannya seperti sebuah mukjizat yang turun dari langit.
"Dini..." suara Farhady serak, hampir tak terdengar.
Andini tidak mampu berkata-kata. Air matanya luruh seketika, membasahi kain mukenanya. Bagaimana mungkin? Di tengah ribuan jadwal yang mereka miliki, di tengah benua yang berbeda yang sering mereka kunjungi, Tuhan memilih Jabal Rahmah—bukit pertemuan sejuta umat—untuk mempertemukan mereka kembali. Ini adalah sebuah ketidakmungkinan statistik yang hanya bisa dijelaskan oleh logika takdir.
"Ayah..." Andini berbisik. "Kenapa... kenapa di sini?"
Farhady melangkah satu langkah lebih dekat, namun tetap menjaga jarak yang syar'i. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang paling tulus yang pernah Andini lihat seumur hidupnya. "Mungkin karena di Lembang kita terlalu sibuk mendengarkan suara manusia, Dini. Di sini, Tuhan ingin kita hanya mendengarkan suara-Nya."
Mereka berdua terdiam dalam tangis yang menyucikan. Kesadaran itu menghujam mereka serentak: setahun pemisahan tanpa kontak sama sekali ternyata bukan untuk memutus cinta, melainkan untuk mendewasakan jiwa. Farhady telah menjadi pria yang lebih tawadhu, dan Andini telah menjadi wanita yang lebih mandiri. Mereka dipisahkan agar saat dipertemukan kembali, mereka tidak lagi saling bergantung karena kebutuhan, melainkan karena pilihan yang diridhai.
"Orang-orang di rumah... mereka mulai merasa bersalah, Yah," ujar Andini di sela tangisnya. "Paman, keluarga besar... mereka sudah berubah."
Farhady mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi biarlah itu menjadi urusan mereka. Di depan rumah-Nya ini, aku tidak lagi peduli apa kata dunia. Aku hanya peduli apa kata Dia yang mempertemukan kita di bukit ini."
Pertemuan di Jabal Rahmah itu bukan sekadar kebetulan. Itu adalah jawaban atas ribuan istikharah yang pernah mereka panjatkan dalam sunyi. Tuhan seolah ingin menunjukkan bahwa jika Dia sudah berkehendak, tidak ada tembok adat, tidak ada lisan manusia, dan tidak ada jarak geografi yang mampu menghalangi.
Dilema yang dulu menghancurkan mental mereka, kini terasa begitu kecil di hadapan kebesaran padang Arafah. Mereka menyadari bahwa selama ini mereka terlalu sibuk memikirkan hukum manusia, hingga lupa bahwa hukum Tuhan jauh lebih luas dan penuh kasih sayang.
"Setelah ini..." Farhady menatap Andini dengan penuh harap. "Setelah kembali ke tanah air, apakah kamu bersedia kita tidak lagi berjalan di garis sejajar yang berbeda, melainkan dalam satu langkah yang sama?"
Andini menatap pilar putih di samping mereka, lalu menatap Farhady. Senyumnya merekah di balik sisa air mata. "Di tempat Adam dan Hawa bertemu, bagaimana mungkin aku bisa mengatakan tidak pada takdir-Nya, Yah?"
Matahari Mekkah mulai condong ke barat, memberikan semburat warna emas di atas padang Arafah. Dua insan yang dulu terpisah karena ego manusia, kini dipersatukan kembali oleh keajaiban semesta. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi rasa takut akan gunjingan. Di tanah suci, mereka telah menemukan keberanian untuk menjemput jodoh yang selama ini tertunda.
Ketidakmungkinan itu kini telah menjadi kenyataan yang sakral. Farhady dan Andini pulang bukan hanya membawa gelar haji, melainkan membawa sebuah janji suci yang akan mereka ikat segera setelah kaki mereka menginjak bumi pertiwi. Perjalanan cinta mereka yang penuh dengan elegi, kini telah sampai pada bait terakhir yang penuh dengan syukur dan kedamaian di bawah ridha-Nya.