NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Hilang di Meja Otopsi

Di sini, kesedihan itu nyata dan tulus, karena Geneviève bukan hanya seorang Putri bagi mereka, tapi rekan kerja yang luar biasa rendah hati.

Suasana di rumah sakit pusat d'Orléans terasa hampa. Biasanya, ruangan itu akan penuh dengan suara tawa kecil atau diskusi serius mengenai jurnal kedokteran terbaru. Namun kini, hanya ada denting alat bedah yang dibersihkan dalam keheningan yang menyesakkan.

Dokter Zukho berdiri mematung di depan meja kerja Geneviève yang masih rapi. Di sana masih ada stetoskop kesayangan Geneviève dan sebuah catatan kecil tentang pasien terakhir yang ia tangani sebelum ledakan maut itu terjadi.

"Sudah satu bulan lebih, Dok," suara Perawat Mira terdengar serak. Ia sedang melipat seragam medis bersih yang seharusnya milik Geneviève. "Tapi rasanya seolah-olah dia baru saja keluar sebentar untuk mengambil kopi dan akan kembali lagi."

Zukho menghela napas panjang, matanya tampak sangat lelah. "Dia bukan sekadar rekan kerja bagi kita, Mira. Dia adalah otak di balik banyak nyawa yang berhasil kita selamatkan di sini."

"Dia orang yang sangat baik," timpal perawat lain, Lina, sambil menyeka sudut matanya. "Ingat tidak saat dia memberikan jatah makan siangnya untuk pengungsi anak-anak itu? Dia bahkan tidak peduli tangannya kotor karena lumpur saat membantu mereka. Padahal kita semua tahu... maksudku, sekarang kita semua tahu siapa dia sebenarnya."

Kebenaran bahwa rekan kerja mereka yang manis dan cekatan adalah Putri Mahkota Geneviève sempat mengguncang barak medis. Namun, bagi mereka, identitas itu tidak mengubah rasa sayang mereka.

"Justru karena dia Putri Mahkota, aku merasa ada yang tidak beres," gumam Zukho sambil mengepalkan tangannya di atas meja. "Ledakan itu... tim evakuasi bilang mereka menemukan banyak mayat, tapi tidak ada satu pun yang memiliki ciri-ciri fisik Geneviève. Secara medis, jika tubuh terkena ledakan sebesar itu, setidaknya harus ada sisa identifikasi yang tertinggal. Tapi ini? Nihil."

Zukho teringat betapa telitinya Geneviève dalam bekerja. Sebagai ahli forensik, Geneviève selalu bilang: "Mayat tidak bisa bicara, tapi mereka tidak pernah berbohong."

"Jika dia masih hidup, kenapa dia tidak memberi kabar?" Mira bertanya dengan nada penuh harap yang pilu.

"Mungkin dia tidak bisa," jawab Zukho pendek. Pikirannya melayang pada sosok Camille yang belakangan ini bersikap sangat aneh dan terus menghindarinya. Juga pada Jenderal Eisérre yang menutup akses komunikasi ke Paviliun Sanctuary dengan alasan keamanan militer.

Zukho mengambil jurnal milik Geneviève, membukanya perlahan, dan menemukan sebuah sketsa kecil di halaman belakang—sketsa taman bunga yang indah.

"Aku tidak akan berhenti mencarimu, Ève," bisik Zukho pada dirinya sendiri. "Bukan sebagai Putri Mahkota, tapi sebagai rekanku yang belum menyelesaikan tugasnya di sini."

Di sisi lain, Camille yang sedang lewat di depan barak medis, tidak sengaja mendengar pembicaraan itu. Ia mencengkeram nampan obat yang dibawanya hingga buku jarinya memutih. Ketakutan menyergapnya—jika Dokter Zukho yang cerdas mulai mencium keganjilan ini, maka rahasianya dan Varg hanya tinggal menunggu waktu untuk terbongkar.

Dokter Zukho bener-bener punya insting yang kuat sebagai sesama dokter. Dia nggak gampang percaya sama laporan militer begitu saja.

Camille menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruang medis. Ia mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat sama berdukanya dengan perawat lain. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meletakkan nampan peralatan medis di meja kayu yang berdekatan dengan tempat Dokter Zukho berdiri.

"Masih memikirkan dia, Dokter?" Suara Camille terdengar pelan, mencoba terdengar simpatik namun ada nada kaku yang sulit ia sembunyikan.

Zukho menoleh sekilas, matanya merah karena kurang tidur. "Sulit untuk tidak memikirkannya, Camille. Dia meninggalkan lubang yang besar di tim ini."

Camille berpura-pura merapikan perban di nampannya, matanya menghindari tatapan tajam Zukho. "Bukankah kita harus mulai menerima kenyataan? Laporan militer mengatakan ledakan itu sangat dahsyat. Mungkin... mungkin sudah waktunya kita merelakan dan berhenti mencari harapan yang tidak ada."

Perawat Mira menatap Camille dengan tidak percaya. "Merelakan? Bagaimana bisa kita merelakan seseorang sepertinya tanpa bukti yang jelas, Camille? Kau sendiri tahu betapa kuatnya dia. Dia bukan orang yang mudah menyerah pada maut."

Camille tersentak kecil, ia merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "A-aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya... aku hanya tidak ingin melihat Dokter Zukho terus menyiksa diri dengan penantian yang sia-sia. Bukankah lebih baik kita fokus pada pasien yang masih ada?"

Zukho berjalan mendekati Camille, langkah kakinya terdengar berat di lantai kayu. Ia menatap Camille dengan intensitas yang membuat gadis itu ingin segera lari.

"Kau biasanya yang paling semangat jika bicara soal prosedur dan aturan, Camille," ucap Zukho dengan nada rendah yang menyelidik. "Tapi kenapa sekarang kau seolah-olah sangat ingin pencarian ini dihentikan? Apa ada sesuatu yang kau ketahui yang tidak kami ketahui?"

Camille mematung. Apakah dia curiga? batinnya panik. Ia segera memaksakan sebuah senyuman sedih, matanya mulai berkaca-kaca—sebuah akting yang ia asah dari rasa takutnya sendiri.

"Bagaimana Dokter bisa menuduhku begitu?" Suara Camille bergetar. "Aku juga kehilangan seorang rekan. Aku hanya... aku hanya lelah melihat semua orang bersedih. Aku ingin kita semua bisa bangkit."

Zukho terdiam sejenak, lalu membuang muka kembali ke arah stetoskop Geneviève. "Bangkit itu perlu, tapi tidak dengan melupakan. Ada yang salah dengan hilangnya Geneviève, Camille. Dan insting medis-ku mengatakan bahwa dia tidak berada di bawah reruntuhan itu."

Camille hanya bisa menunduk, tidak berani menyahut lagi. Setiap kata yang keluar dari mulut Zukho terasa seperti vonis mati baginya. Ia segera berbalik dan pergi dari ruangan itu dengan dalih harus memeriksa stok obat di gudang.

Begitu sampai di lorong yang sepi, Camille bersandar pada dinding, napasnya memburu. Ia teringat kembali malam saat Varg menceritakan bagaimana Ia memukul Geneviève. Dan bagaimana tubuh lemas itu dibuang begitu saja.

Kenapa kau tidak mati saja saat itu, Geneviève? bisik Camille dalam hati dengan penuh kebencian yang bercampur ketakutan. Jika kau kembali, kau tidak hanya akan mengambil Dokter Zukho dariku... tapi kau akan mengambil nyawaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!