Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Terakhir Arman
Sore di kafe Kopi dan Tawa terasa lebih hangat dari biasanya.
Matahari masuk melalui jendela besar, memantulkan cahaya ke meja kayu tempat Raka dan Nina duduk.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tidak ada kecanggungan di antara mereka.
Raka masih terlihat sedikit tidak percaya.
“Kamu benar-benar menolak Singapura?”
Nina mengangguk sambil meminum kopinya.
“Iya.”
Raka masih menatapnya seperti seseorang yang baru saja mendengar berita yang tidak masuk akal.
“Itu kesempatan besar.”
“Benar.”
“Kamu bekerja keras untuk itu selama bertahun-tahun.”
“Benar juga.”
Raka mengerutkan kening.
“Lalu kenapa kamu menolaknya?”
Nina tersenyum kecil.
“Aku tidak bilang aku berhenti mengejar karier.”
Raka menunggu.
Nina melanjutkan,
“Aku hanya tidak ingin pergi ke tempat yang jauh… hanya karena aku takut kehilangan kesempatan.”
Raka masih tidak sepenuhnya mengerti.
Nina menatapnya.
“Kadang kesempatan lain justru ada di depan kita.”
Raka akhirnya tersenyum.
“Ya mungkin.”
Nina tertawa kecil.
Beberapa hari kemudian.
Hubungan mereka mulai berubah.
Tidak ada yang benar-benar mengatakan bahwa mereka resmi berpacaran.
Namun mereka mulai melakukan banyak hal bersama.
Sarapan di kafe.
Berjalan pulang setelah Nina pulang kerja.
Dan kadang-kadang Raka bahkan datang ke kantor Nina untuk menjemputnya.
Walaupun setiap kali datang, resepsionis kantor masih terlihat bingung melihatnya.
Suatu sore Nina keluar dari gedung kantornya dan melihat Raka duduk di bangku depan gedung seperti biasa.
“Kamu lagi?” tanya Nina sambil tersenyum.
Raka mengangkat bahu.
“Ya mungkin.”
Nina duduk di sebelahnya.
“Kamu tidak punya pekerjaan?”
“Ada.”
“Lalu?”
“Aku mengerjakannya… nanti.”
Nina menggeleng sambil tertawa.
Namun kedamaian itu tidak bertahan lama.
Suatu malam ketika mereka sedang duduk di kafe, pintu terbuka.
Seseorang masuk.
Raka langsung mengenali orang itu.
Arman.
Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang.
Nina terlihat sedikit terkejut.
“Arman?”
Arman berdiri di depan meja mereka.
“Halo.”
Raka mengangkat tangan kecil.
“Halo juga.”
Arman menarik kursi dan duduk.
“Kita perlu bicara.”
Raka menatap Nina.
“Sepertinya ini rapat lagi.”
Nina menatap Arman.
“Ada apa?”
Arman terlihat serius.
“Aku akan kembali ke Singapura minggu depan.”
Nina terdiam beberapa detik.
“Oh.”
Arman menatapnya.
“Aku ingin memberitahumu sebelum pergi.”
Nina mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Arman kemudian berkata,
“Tapi sebelum aku pergi… aku ingin memastikan sesuatu.”
Raka sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
Arman menatap Nina langsung.
“Apakah kamu benar-benar memilih dia?”
Raka hampir tersedak kopi.
“Wow… langsung ke inti.”
Nina menatap Arman dengan tenang.
“Arman…”
Arman menggeleng.
“Tidak, aku hanya ingin jawaban jujur.”
Nina terdiam.
Raka menatap Nina, tapi ia tidak berkata apa-apa.
Ia tidak ingin memaksanya.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya Nina berkata pelan,
“Aku tidak memilih siapa pun.”
Arman terlihat bingung.
Raka juga terlihat bingung.
Nina melanjutkan,
“Aku memilih hidup yang membuatku bahagia.”
Arman menatapnya.
“Dan dia bagian dari itu?”
Nina menoleh ke arah Raka.
Raka terlihat gugup.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Lalu Nina berkata pelan,
“Iya.”
Arman menarik napas panjang.
Ia bersandar di kursinya.
Kemudian tersenyum kecil.
“Kalau begitu aku kalah.”
Raka mengangkat alis.
“Ini pertandingan?”
Arman tertawa kecil.
“Mungkin.”
Ia berdiri dari kursinya.
“Sebenarnya aku sudah tahu jawabannya.”
Nina terlihat sedikit heran.
“Lalu kenapa kamu bertanya?”
Arman menjawab dengan jujur,
“Karena aku ingin mendengarnya langsung darimu.”
Ia menatap Raka sebentar.
“Jaga dia baik-baik.”
Raka mengangguk.
“Ya mungkin.”
Arman tertawa kecil.
“Kalimatmu itu… menyebalkan tapi jujur.”
Ia menepuk bahu Raka pelan.
Lalu berjalan keluar dari kafe.
Pintu tertutup.
Raka dan Nina duduk diam beberapa detik.
Akhirnya Raka berkata,
“Jadi…”
Nina menatapnya.
“Jadi?”
Raka tersenyum.
“Apakah ini berarti kita resmi?”
Nina tertawa kecil.
“Kamu ingin label?”
Raka berpikir sebentar.
“Ya mungkin.”
Nina menatapnya dengan senyum hangat.
Lalu berkata pelan,
“Kita lihat saja.”
Raka mengangguk.
“Ya mungkin besok.”