dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan Dino dan Raka di acara pameran
Hari pertama pameran berjalan lancar. Booth "Laras Kreatif" cukup menarik perhatian pengunjung. Meski kadang masih terbata-bata, aku berhasil berkomunikasi dengan beberapa pembeli asing berkat latihan bersama Raka.
Saat aku sedang menjelaskan proses pembuatan tas anyaman kepada seorang tamu dari Malaysia, tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat familiar memanggil namaku.
"Laras! Wah, ini dia pengrajin hebat kita!"
Aku menoleh dan mataku langsung berbinar. Di sana, berdiri di ambang booth dengan senyum lebar, adalah Dino. Dia mengenakan kemeja batik yang rapi dan terlihat sangat bersemangat.
"Dino! Kamu datang?" seruku, tidak menyembunyikan rasa kaget dan bahagia. Aku segera pamit sejenak pada tamu tadi dan menghampirinya.
"Tentu saja dong! Bagaimana mungkin aku melewatkan momen besar ini? Aku harus melihat sendiri bagaimana 'Laras Kreatif' bersinar di pameran internasional," jawab Dino sambil menepuk bahuku pelan. Matanya menyapu seluruh booth, melihat karyaku yang dipajang dengan rapi. "Wah, Laras... luar biasa. Karyamu semakin indah dan profesional. Aku bangga sekali padamu."
"Terima kasih, Dino. Kamu datang jauh-jauh ke sini, aku benar-benar terharu," ucapku tulus.
Belum selesai aku berbincang dengan Dino, dari arah lain aku melihat sosok lain yang juga sangat aku kenal sedang berjalan mendekat dengan langkah cepat sambil melambaikan tangan. Itu Raka! Dia masih mengenakan seragam sekolahnya, sepertinya dia langsung datang dari stasiun setelah perjalanan jauh dari kota kami.
"Laras! Maaf aku agak telat, tadi kereta agak terlambat," kata Raka sambil sedikit terengah-engah, tapi wajahnya langsung bersinar saat melihatku. Dia kemudian menyadari kehadiran Dino di sebelahku dan langkahnya terhenti sejenak, menatap Dino dengan tatapan penasaran.
Suasana menjadi sedikit hening sejenak. Aku menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya dua orang yang sangat berarti dalam hidupku bertemu secara langsung. Aku tersenyum, lalu mengambil inisiatif untuk memecahkan keheningan itu.
"Raka, kamu datang! Terima kasih ya sudah mau datang jauh-jauh," kataku padanya, lalu aku menoleh ke arah Dino. "Dino, ini Raka. Dia teman dekatku di sekolah, dan juga orang yang selalu mendukungku selama ini."
Kemudian aku menoleh ke arah Raka dan menunjuk Dino. "Raka, ini Dino. Dia adalah orang yang pertama kali membantuku mengenalkan karyaku ke Pak Budi, dan juga orang yang pernah aku tolong dulu saat kakinya terluka. Dia juga sangat berjasa buat perjalananku sampai sekarang."
Dino tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya ke arah Raka. "Halo, Raka. Senang bertemu denganmu. Aku sering mendengar nama Laras menyebutkan tentang teman sekolahnya yang baik dan perhatian. Ternyata ini kamu ya. Salam kenal!"
Raka tampak sedikit lega mendengar penjelasanku, dan dia segera menyambut uluran tangan Dino dengan senyum sopan dan hangat. "Halo, Pak Dino. Salam kenal. Saya juga sering mendengar cerita dari Laras tentang Bude... eh, maksud saya Dino, yang sangat baik dan membantunya mengembangkan usaha. Terima kasih sudah banyak membantu Laras."
Dino tertawa kecil mendengar keseleo lidah Raka yang lucu. "Panggil saja Dino, tidak perlu formal begitu. Kita sama-sama ingin yang terbaik buat Laras, kan?"
Raka mengangguk mantap. "Betul sekali, Dino. Saya selalu berusaha mendukung Laras sebisa saya."
Melihat mereka berdua saling bersalaman dan mulai mengobrol dengan akrab, hatiku terasa sangat hangat dan penuh. Rasanya seperti semua potongan teka-teki hidupku menyatu di sini, di tempat ini. Dino, yang menjadi awal mula perjalanan usahaku, dan Raka, yang menjadi pendukung setia dan penyemangat hatiku, kini berdiri berdampingan untukku.
"Nah, karena kita sudah kenalan, sekarang saatnya kita kasih semangat buat Laras ya!" kata Dino dengan semangat. Dia mengambil sebuah botol minum dari tasnya dan memberikannya padaku. "Ini buat kamu, supaya tetap segar dan semangat melayani pembeli."
Raka juga mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah kotak kecil berisi kue kering favoritku. "Ini aku bawa bekal buat kamu. Nanti kalau ada waktu luang, makan ya. Jangan sampai lupa makan karena sibuk."
Aku menerima kedua pemberian itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Dino. Terima kasih, Raka. Kalian berdua benar-benar membuatku merasa sangat spesial dan dicintai. Dengan kalian berdua di sini, aku merasa lebih percaya diri dan kuat."
"Tentu saja dong! Kami akan selalu ada buat kamu," kata Dino sambil tersenyum.
"Kami bangga padamu, Laras," tambah Raka lembut.
Hari itu, booth "Laras Kreatif" tidak hanya dipenuhi dengan karya-karya indah, tapi juga dipenuhi dengan kehangatan persahabatan dan dukungan tulus. Dino dan Raka bahkan bergantian membantu aku di booth—kadang Dino membantu menjelaskan cerita di balik karyaku, sementara Raka membantu membagikan katalog atau menerjemahkan jika ada pembeli asing yang butuh bantuan lebih lanjut.
Melihat mereka bekerja sama dengan baik dan tertawa bersama, aku menyadari betapa beruntungnya aku. Masa lalu yang kelam mungkin pernah menyisakan luka, tapi sekarang, dikelilingi oleh orang-orang baik seperti mereka, aku tahu masa depanku akan penuh dengan cahaya dan kebahagiaan.