Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Monster Seperti Katamu
“Apakah terlihat cocok?” tanyanya pelan.
Senyum tipis muncul di wajah Arka.
“Kalung yang indah… akhirnya menemukan pemiliknya.”
Aluna terdiam sejenak, jemarinya masih meraba kalung itu.
“Terima kasih.”
Setelah itu ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Arka sendirian di tepi pantai.
Arka menatap punggung Aluna yang menjauh.
Ia tidak tahu apa arti keputusan perempuan itu—tetapi sesuatu di dalam dirinya terasa berbeda.
***
Sejak pengkhianatan itu datang dari orang yang paling seharusnya menjaganya, sesuatu di dalam diri Aluna terasa runtuh.
Ia dulu mengira semua yang ia lakukan ada artinya. Bertahan ketika kata-kata merendahkan datang dari keluarga suaminya. Menegakkan kepala meski harga dirinya diinjak-injak.
Bahkan ikut terjun ke dunia kerja, berusaha membantu menyelamatkan rumah tangga yang perlahan retak.
Ia pikir semua itu adalah bentuk perjuangan.
Namun sekarang, ketika semuanya terbuka seperti luka yang tidak bisa lagi ditutup, seluruh pengorbanan itu terasa… sia-sia.
Yang tersisa hanya satu kesadaran pahit—
bahwa selama ini ia berjuang sendirian untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar dijaga oleh orang yang seharusnya berdiri di sisinya.
Dan ketika ia berusaha mempertahankan harga dirinya dari orang asing, meski pada akhirnya harga diri itu direnggut paksa, ia tetap mencoba menelan semuanya.
Semua itu—hanya demi menjaga perasaan Gavin.
Demi tetap menjadi istri yang tidak membuat suaminya merasa dipermalukan. Demi rumah tangga yang ia pikir masih layak dipertahankan.
Namun sekarang, semua pengorbanan itu terasa seperti lelucon yang kejam.
Bagaimana mungkin seseorang yang telah memiliki istri bisa begitu mudah berbagi ranjang dengan perempuan lain?
Seolah janji yang pernah diucapkan hanyalah kata-kata kosong yang bisa dibuang kapan saja.
Sementara di sisi lain, ada seseorang yang selama ini mati-matian menjaga sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar dijaga olehnya.
Aluna tidak benar-benar memaafkan Arka.
Ia hanya terlalu lelah untuk terus memelihara kemarahan di dalam hatinya.
***
Aluna menatap kembali foto yang membuatnya terluka.
Ia begitu memperhatikan setiap detail gambarnya.
Dan setiap itu pula, dadanya terasa sesak, air matanya tertahan di sudut mata.
Ia mendapatkan kiriman foto itu dari nomor yang tidak dikenal.
Aluna sangat ingin menghubungi kembali nomor asing itu, namun ia menahannya.
Rasanya ingin sekali ia cepat-cepat kembali ke Jakarta untuk mengetahui kebenarannya.
Saat ia berusaha memejamkan mata untuk segera tidur, pikirannya justru semakin dipenuhi bayangan yang tidak ingin ia ingat.
Foto itu seperti menempel di kepalanya, menolak pergi.
Aluna menarik napas panjang, mencoba memaksa dirinya tenang.
Tok.
Suara ketukan pelan terdengar dari arah jendela.
Aluna membuka mata.
Tok… tok.
Kali ini sedikit lebih jelas.
Ia mengerutkan kening, perlahan bangkit dari tempat tidurnya.
Langkahnya mendekat ke jendela dengan hati-hati, seolah takut menemukan sesuatu yang tidak ia harapkan.
Tirai tipis itu ia singkap sedikit.
Dan Aluna membeku.
Di balik kaca jendela, sosok Arka berdiri di luar. Angin malam mengibaskan rambutnya, sementara tatapannya tertuju langsung ke arah Aluna seolah ia sudah berdiri di sana sejak beberapa saat lalu.
"Pak Arka sedang apa disini?"
Tanyanya dengan ekspresi datar, seolah apa yang ia lihat sudah menjadi hal biasa.
Arka terdiam sesaat. Ia menatap wajah Aluna yang terlihat sedikit pucat.
"Sepertinya kamu benar-benar menyayangi kucing mu?"
Aluna mengerutkan kening, karena bingung.
Lalu ia teringat kalimatnya waktu itu.
"Emm... Iya. Itu kucing kesayangan saya."
"Aku bisa memberikan kucing yang baru, jika kamu mau."
"Tidak perlu," tangannya melambai.
"Lalu bagaimana caranya, agar kamu berhenti menangisi kucing mu?"
Aluna menunduk.
Ia pun tidak tahu harus bagaimana.
Tiba-tiba dagunya terangkat oleh tangan Arka. Membuat matanya menatap pria dihadapannya.
"Aku tidak suka melihat karyawan ku terlalu berlarut dalam urusan pribadinya," nadanya terdengar tegas.
"Karena itu bisa mempengaruhi kinerjanya."
"Maafkan saya."
Suara Aluna terdengar gemetar.
Arka melepaskan tangannya dari dagu perempuan itu.
"Kamu harus kembali menjadi Aluna yang selalu terlihat profesional." Lanjutnya, "maka dari itu, aku sudah mempersiapkan sesuatu yang bisa membuat mu lebih baik."
Aluna terdiam, tidak mengerti maksud dari bosnya.
"Dan kamu tidak bisa menolaknya."
Lanjut Arka.
"Memangnya apa?"
Aluna mulai penasaran.
"Mari bertemu di dermaga."
Arka berlalu meninggalkan Aluna di ambang jendela.
Aluna hanya menarik nafas.
"Kenapa dia selalu menggiring ku untuk mengikuti kemauannya?"
***
Angin malam menerpa tubuhnya yang hanya memakai piyama.
Langkahnya berhenti di dermaga resort, disana sudah ada Arka yang berdiri di yacht, seolah sedang menunggu seseorang.
"Yacht lagi?"
Gumam Aluna.
Dadanya berdegup kencang, memori ingatannya kembali pada malam yang menyakitkan itu.
"Apa kamu akan terus berdiri disana, Aluna?"
Arka mengagetkan lamunannya.
"Saya hanya..."
Kalimatnya tertahan.
Tangannya meremas-remas punggung tangannya sendiri.
Arka melangkah turun dari yacht, mendekati perempuan yang tertunduk itu.
Tangannya mengangkat dagu Aluna, membuatnya menatap pria itu.
"Percaya padaku, untuk kali ini saja."
Ada ragu yang tergambar di wajah Aluna.
Kejadian malam itu belum sepenuhnya bisa ia lupakan, semua masih terasa jelas.
Namun malam ini ia ingin mempercayai pria itu tetapi keraguannya lebih besar dari keinginannya.
Aluna tidak menjawab, membuat suasana diantara mereka hening cukup lama.
Arka menurunkan tangannya.
"Baiklah." Lanjutnya, "jika kamu tidak yakin, kamu boleh kembali ke Villa."
Arka mundur beberapa langkah.
"Kali ini aku tidak akan menahan mu."
Aluna tercekat mendengar kalimat Arka.
Karena ini untuk pertama kalinya ia melihat seorang Arka mengalah.
Aluna melangkah mendekati Arka, "untuk kali ini.. saya akan mempercayai Anda."
Dan entah kenapa Aluna lebih memilih untuk percaya pada hatinya daripada logikanya.
Mesin yacht mulai menyala dengan dengungan pelan.
Suara itu memecah kesunyian laut yang sebelumnya hanya diisi oleh hembusan angin
dan suara ombak.
Perlahan, kapal itu bergerak meninggalkan dermaga.
Tali-tali yang tadi menahannya kini telah dilepas, membiarkan yacht meluncur perlahan di atas permukaan air.
Ombak kecil terbentuk di belakangnya, memecah pantulan cahaya matahari yang menari di permukaan laut. Angin pantai bertiup lebih kencang saat yacht mulai menjauh dari tepian.
Dari dek, hamparan laut terbuka semakin luas, sementara garis pantai resort perlahan terlihat semakin jauh di belakang mereka.
Hingga yacht berhenti di tengah-tengah hamparan laut luas dengan pemandangan yang begitu menakjubkan.
Malam terbentang tenang di sekeliling mereka.
Bulan purnama menggantung tinggi di langit, memancarkan cahaya lembut yang jatuh di permukaan laut seperti serpihan perak yang berkilau.
Ombak bergerak perlahan, memantulkan cahaya itu hingga tampak berpendar di setiap riaknya.
Angin laut berhembus pelan, mengibaskan rambut Aluna dan ujung gaunnya.
Perempuan itu berdiri di tepi dek yacht, memandang hamparan laut yang seolah tidak memiliki batas.
Untuk sesaat ia merasa kecil di tengah luasnya malam.
Di belakangnya, Arka berdiri beberapa langkah lebih dekat.
Tatapannya tertuju pada sosok Aluna yang disinari cahaya bulan, membuat garis wajah perempuan itu terlihat lebih lembut dari biasanya.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya suara ombak dan angin laut yang menemani keheningan di antara mereka.
Namun entah kenapa, malam itu terasa terlalu indah untuk diabaikan begitu saja.
"Apa suasana hatimu sekarang, sudah lebih baik?"
Aluna masih menatap langit, sesekali ia tersenyum kagum.
"Jauh lebih baik dari sebelumnya."
Katanya lirih.
Angin laut berhembus semakin dingin.
Aluna tanpa sadar merapatkan lengannya di depan tubuhnya, masih berdiri menghadap hamparan laut yang berkilau di bawah cahaya bulan.
Dari belakang, Arka melangkah mendekat.
Tanpa berkata apa-apa, ia melepas jaket yang dikenakannya lalu menaruhnya perlahan di bahu Aluna.
Kehangatan kain itu langsung terasa di kulitnya.
Aluna sedikit menoleh, seolah terkejut oleh sentuhan yang begitu tiba-tiba namun lembut.
Arka sudah berdiri di belakangnya, cukup dekat hingga Aluna bisa merasakan kehadirannya.
“Kenapa kamu tidak memakai sweater?" ujar Arka singkat.
Aluna tidak langsung menjawab.
Tangannya hanya menyentuh ujung jaket yang kini menutupi bahunya, sementara tatapannya kembali jatuh ke laut yang tenang di hadapan mereka.
Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri di sana—di tengah laut yang luas, ditemani cahaya bulan dan keheningan yang entah kenapa terasa lebih hangat dari biasanya.
Angin laut semakin terasa dingin.
Setelah beberapa saat berdiri dalam keheningan, Arka akhirnya melangkah menjauh dari sisi dek.
Ia membuka kotak pendingin kecil yang berada di dekat kursi lounge yacht, mengambil dua botol bir dari dalamnya.
Tutup botol itu terbuka dengan bunyi kecil.
Arka berjalan kembali, lalu mengulurkan salah satunya pada Aluna.
“Minum?”
Aluna menatap botol itu sebentar sebelum akhirnya menerimanya.
Mereka kemudian berpindah ke kursi di dek yacht. Arka duduk di satu sisi, sementara Aluna mengambil kursi yang berhadapan dengannya.
"Apa kamu masih tidak ingin menceritakan, yang sebenarnya terjadi?"
Aluna menghela nafas kemudian meneguk bir ditangannya.
"Ternyata, kisah asmara saya tidak seindah novel romance."
Arka menyadarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya, matanya memperhatikan Aluna.
"Suami saya... Tidur dengan perempuan lain."
Kata-kata itu keluar pelan, seperti sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan keras-keras.
"Ini hal yang memalukan untuk diceritakan kepada atasan." Wajahnya tertunduk, "maafkan saya."
"Dia tahu apa yang dia buang?"
Ucap Arka tiba-tiba.
Aluna mengerutkan kening.
Arka menyesap birnya sebentar sebelum berkata pelan, “Kalau dia tahu, dia tidak akan melakukannya.”
Hening sesaat.
"Kenapa... Kalian begitu mudahnya menyentuh perempuan lain?" kalimatnya terdengar ragu, "padahal sudah memiliki pasangan?" Lanjutnya.
Arka berhenti menggerakkan botol ditangannya.
"Kalian?"
"Bukankah bapak pun sama?" lanjutnya, "Pak Arka sudah punya calon tunangan… lalu kenapa masih terus datang pada saya?”
Arka menatapnya lama.
“Karena setiap kali aku mencoba menjauh… aku tetap kembali padamu.”
"Apa Bapak tidak memikirkan perasaannya?"
Nada Aluna kini terdengar tegas.
"Dari awal aku tidak pernah memikirkan perasaannya."
Arka menatap tajam perempuan dihadapannya.
Aluna memalingkan wajah lalu tertawa kecil.
"Lalu kenapa bersama?" kalimat itu terucap pelan seolah ia hanya bergumam.
Namun Arka mendengarnya.
“Karena… tidak semua hal bisa aku kendalikan.”
Aluna terdiam menatap Arka.
Perlahan ia menundukkan kepalanya, perasaan tidak enak mulai merambat di dadanya.
"Apa Gavin juga seperti itu?"
Suaranya terdengar serak.
Aluna menarik napas dalam-dalam, seolah berusaha menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan.
Namun pada akhirnya, air mata itu tetap jatuh.
Satu tetes, lalu yang berikutnya.
Ia segera menunduk lebih dalam, mengusap wajahnya dengan cepat, seolah tidak ingin terlihat lemah di depan Arka.
Tetapi sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Arka sudah berdiri dari kursinya.
Dalam satu langkah, pria itu mendekat.
Tangannya menarik Aluna ke dalam pelukan tanpa banyak kata.
Tubuh Aluna sempat menegang sesaat, seolah ragu apakah ia harus melepaskan diri.
Namun hangatnya pelukan itu justru membuat pertahanan yang selama ini ia bangun perlahan runtuh.
Akhirnya, Aluna tidak lagi menahan tangisnya.
Ia menangis di dalam pelukan pria itu.
***
Siang itu laut terlihat tenang.
Beberapa peserta memilih menikmati kegiatan santai dengan menaiki speed boat kecil yang disediakan pihak resort.
Aluna, Helena, dan Revan berada di salah satu boat yang sama.
Mesin boat meraung pelan saat mereka melaju di atas permukaan laut. Angin laut menerpa wajah mereka, membawa tawa ringan di antara percakapan santai yang terdengar di atas suara ombak.
“Lebih cepat sedikit!” seru Revan pada pengemudi boat dengan nada bercanda.
Boat itu kemudian melaju lebih kencang, memotong ombak yang mulai terasa lebih tinggi.
Namun sebuah gelombang datang lebih besar dari sebelumnya.
Speed boat itu miring tiba-tiba.
“Hati-hati—!”
Dalam sekejap, boat kecil itu kehilangan keseimbangan dan terguling ke samping.
Air laut menyambut mereka dengan percikan besar.
Aluna muncul ke permukaan sambil terbatuk kecil, rambutnya basah menempel di wajahnya. Tidak jauh darinya, Helena juga muncul dari air.
Saat Helena mengibaskan rambut basahnya ke belakang dan meraih sisi boat yang terbalik, pakaian basahnya sedikit bergeser.
Dalam gerakan cepat itu, Aluna sempat melihat sebuah tanda kecil di kulit Helena.
Ia tidak memperhatikannya lebih lama.
Mereka menikmati momen santai itu tanpa banyak memikirkan apa pun.
Tawa ringan sesekali terdengar di atas suara mesin speed boat yang membelah permukaan laut.
Angin laut menerpa wajah mereka, membawa aroma asin yang segar. Dari kejauhan, garis pantai resort terlihat semakin kecil, sementara hamparan laut biru terbuka luas di hadapan mereka.
Tidak ada yang benar-benar ingin memikirkan bahwa hari itu adalah hari terakhir.
Setelah beberapa hari yang dipenuhi kegiatan, rapat, dan tantangan kreatif, akhirnya mereka memiliki satu momen santai untuk sekadar menikmati laut, angin, dan kebersamaan.
Karena besok pagi, semuanya akan kembali seperti biasa.
Kembali ke Jakarta.
Kembali ke kesibukan masing-masing.
Dan mungkin… momen seperti ini tidak akan terulang lagi.
***
Malam itu aula resort dipenuhi cahaya lampu yang lebih terang dari biasanya.
Kursi-kursi telah disusun rapi menghadap ke arah panggung kecil di depan ruangan.
Sebuah layar besar berdiri di belakang podium, menampilkan logo acara Creative Retreat sebagai penanda malam penutupan.
Para peserta mulai memenuhi ruangan dengan pakaian yang lebih rapi dari biasanya.
Suara percakapan pelan bercampur dengan musik latar yang diputar lembut, menciptakan suasana yang terasa lebih formal dibanding hari-hari sebelumnya.
Malam itu bukan sekadar pertemuan biasa.
Setelah rangkaian kegiatan selama beberapa hari terakhir, acara tersebut menjadi penutup resmi dari seluruh kegiatan retreat—sekaligus momen untuk memberikan penghargaan kepada salah satu karyawan yang dianggap paling menonjol selama program berlangsung.
Satu per satu peserta mengambil tempat duduk mereka, menunggu acara dimulai dan pidato penutupan disampaikan.
Suara percakapan di dalam aula perlahan mereda ketika seorang pembawa acara mempersilakan Arka naik ke atas panggung.
Pria itu berjalan tenang menuju podium.
Jas gelap yang dikenakannya tampak rapi di bawah sorotan lampu panggung.
Ia berhenti sejenak, memandang seluruh peserta yang memenuhi ruangan.
“Terima kasih,” ucapnya singkat, suaranya tenang namun jelas terdengar hingga ke seluruh aula.
Beberapa hari terakhir bukanlah waktu yang singkat. Banyak ide, diskusi, bahkan perdebatan kreatif yang terjadi selama program Creative Retreat berlangsung.
“Saya harap apa yang kita lakukan di sini tidak berhenti hanya sebagai kegiatan tahunan,” lanjutnya. “Tetapi menjadi sesuatu yang benar-benar membawa perubahan dalam cara kita bekerja dan berpikir.”
Beberapa peserta mengangguk pelan, sementara yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian.
Arka berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Sebelum acara ini resmi ditutup, ada satu hal lagi yang ingin kami lakukan malam ini.”
Ia menoleh sedikit ke arah layar di belakangnya.
“Selama beberapa hari ini, kami memperhatikan kontribusi dan ide-ide yang muncul dari setiap peserta. Dan malam ini, kami ingin memberikan penghargaan kepada tiga orang yang menunjukkan kreativitas dan dedikasi terbaik.”
Suasana aula langsung berubah lebih hidup. Beberapa orang mulai saling berbisik, penasaran siapa yang akan dipanggil.
Arka membuka kartu kecil yang berada di atas podium.
“Mari kita mulai.”
Arka menatap peserta yang duduk di kursi mereka.
“Juara ketiga dari Tim Produksi, Maya.”
Maya tersenyum sambil menerima penghargaan.
Arka kemudian memanggil pemenang kedua dan ketiga.
“Juara kedua dari Tim Desain, John.”
Tepuk tangan terdengar lagi saat John naik ke panggung.
“Dan juara pertama… adalah… Aluna!”
Beberapa peserta bersorak, sebagian berdiri sambil bertepuk tangan.
Aluna terkejut, wajahnya memerah.
Ia berdiri perlahan, menghadap Arka.
“Selamat, Aluna,” kata Arka, menyalaminya. “Prestasi yang pantas untuk kerja kerasmu.”
Aluna tersenyum tipis, suaranya hampir tak terdengar saat ia mengucap,
“Terima kasih, Pak Arka.”
Arka menunduk sedikit, memasangkan medali perunggu di leher Aluna.
Aluna menundukkan kepalanya, tangan gemetar pelan saat mencoba menahan rasa gugup.
Tapi Arka tidak langsung melepaskan dirinya. Tangannya tetap di leher Aluna sebentar, seolah ingin memastikan medali itu pas.
Lalu perlahan, ia mengangkat rambut Aluna yang sedikit terlilit medali, menyisirnya dengan jari-jarinya yang hangat.
Sebagian rambut itu ia ambil dan meletakkannya di depan bahu perempuan itu, gerakan yang lembut namun penuh perhatian.
Aluna menatap ke samping, merasa detak jantungnya tidak biasa.
Ada sesuatu di mata Aluna yang membuatnya merasa… diperhatikan, dihargai, dan aman—meski hanya sesaat.
Mereka berdiri diam, di tengah sorak tepuk tangan yang masih terdengar samar dari aula, tapi di antara mereka terasa seperti dunia berhenti sejenak.
Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata tertuju ke arah mereka.
Reaksi Arka yang tak biasa membuat beberapa orang mengerutkan dahi, penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
***