Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Yang Banyak
Begitu melangkah masuk, Shanum terpana. Kafe itu memiliki konsep terbuka dengan lantai kayu jati dan pilar-pilar hitam yang elegan, hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca besar dan memperlihatkan lembah hijau Bandung di satu sisi, serta hiruk-pikuk kota di sisi lainnya.
"Selamat siang," sapa seorang pelayan pria dengan sangat sopan.
"Saya sudah reservasi atas nama Abimana," ucap Abi.
"Baik, silahkan," ucap pelayan tersebut.
Shanum mengikuti langkah Abi dengan perasaan campur aduk, ia menyadari bahwa hampir setiap meja di kafe ini diisi oleh pasangan muda. Ada yang sedang tertawa sambil berfoto, ada yang duduk berdampingan sambil menatap laptop dan ada pula yang sedang bertukar kado, semuanya tampak begitu serasi dengan pakaian yang modis.
Shanum menunduk, melihat gamisnya yang sederhana dan jilbab instan yang ia pakai, tiba-tiba saja ia merasa salah kostum di tempat semewah dan sekeren ini. Namun, perasaan itu seketika sirna saat Abi menarikkan kursi untuknya di sebuah meja kayu kecil yang menghadap langsung ke arah tebing.
"Duduklah," ucap Abi.
"Terima kasih, Mas," lirih Shanum.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang membawakan buku menu. Shanum membukanya dan seketika matanya membulat melihat deretan harga yang tercantum di sana, harga satu cangkir kopi di sini setara dengan belanja dapurnya di desa selama tiga hari.
"Mas... ini mahal banget," bisik Shanum dan menarik ujung kemeja Abi.
Abi justru terkekeh pelan, suara yang bagi Shanum terdengar seperti musik yang sangat merdu. "Jangan dilihat harganya, pilih apa yang menurutmu menarik. Kamu mau mencoba pasta atau makanan lokal?" tanya Abi.
"Aku... aku ikut Mas Abi aja," jawab Shanum pasrah.
Abi memesankan Grilled Salmon dengan saus lemon mentega untuk Shanum dan Steak Wagyu untuk dirinya sendiri, ditambah dua gelas iced peach tea yang segar.
Sambil menunggu pesanan datang, suasana mendadak hening. Angin semilir mempermainkan ujung jilbab Shanum, Abi menyandarkan punggungnya dan menatap Shanum yang sedang asyik memandang hamparan pohon pinus di bawah sana.
"Shanum," panggil Abi.
Shanum menoleh, namun tiba-tiba Abi mengulurkan tangannya ke arah wajah Shanum dan Shanum refleks memejamkan matanya, ia mengira telah melakukan kesalahan lagi. Namun, yang ia rasakan justru ibu jari Abi yang mengusap lembut sudut bibirnya.
"Ada sedikit noda di sini, mungkin bekas udara pegunungan tadi," ucap Abi pelan.
Jarinya tidak langsung ditarik, ia membiarkan jempolnya menetap sejenak di pipi Shanum dan merasakan kulit dingin istrinya yang kini kembali merona hebat.
"Terima kasih, Mas," gumam Shanum dengan suara yang hampir habis.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Aroma mentega dan rempah-rempah mahal langsung menggoda selera, Abi memotongkan salmon di piring Shanum menjadi bagian-bagian kecil agar Shanum lebih mudah memakannya, sebuah perhatian kecil yang dilakukan Abi dengan wajah datar namun gerakan yang sangat telaten.
"Makan yang banyak, hari ini agenda kita masih panjang," ucap Abi.
Di sekeliling mereka, pasangan-pasangan lain sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, namun Abi justru meletakkan ponselnya jauh-jauh dan ia benar-benar memberikan seluruh atensinya pada Shanum.
"Mas Abi sering ke sini?" tanya Shanum memberanikan diri.
"Dulu, saat jenuh dengan revisi jurnal mahasiswa. Tapi biasanya saya sendirian atau dengan rekan dosen, ini pertama kalinya saya membawa seseorang... maksud saya, membawa istri saya," jawab Abi jujur.
Mendengar kata Istri yang keluar dari mulut Abi dengan begitu lugas, hati Shanum rasanya ingin meledak. Ia merasa diakui, bukan hanya sebagai gadis desa yang dinikahi karena keadaan, tapi sebagai bagian dari hidup pria hebat di hadapannya ini.
Tiba-tiba, seorang musisi kafe mulai memainkan saksofon di sudut ruangan dan membawakan lagu bernuansa jazz yang lambat. Suasana yang tadinya hangat menjadi semakin intim, Abi meraih tangan Shanum yang berada di atas meja, menggenggam jemari mungil itu dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.
"Besok saya harus pergi ke kampus sejak pagi sekali, ada rapat dewan Dosen," ucap Abi memecah kesunyian yang manis.
"Iya, Mas. Nggak apa-apa, aku akan siapkan semuanya besok pagi. Aku sudah tahu cara pakai kompor dan microwave," jawab Shanum dengan senyum bangga karena sudah belajar.
Abi tersenyum tipis, lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Shanum dan membisikkan sesuatu yang membuat Shanum hampir menjatuhkan garpunya.
"Jangan hanya siapkan baju dan sarapan saya, siapkan dirimu juga. Karena mulai sekarang, saya tidak ingin pulang ke rumah yang sepi," bisik Abi.
Wajah Shanum makin merah mendengar bisikan Abi, tapi ia hanya bisa mengangguk pelan sambil pura-pura sibuk memotong salmon di piringnya.
Setelah menghabiskan makan siang yang mewah itu, Abi tidak langsung mengajak Shanum pulang ke apartemen, ia justru memutar kemudi menuju salah satu pusat perbelanjaan besar di kawasan Paris Van Java.
"Mas, kita mau ke mana lagi? Ini kan sudah sore," tanya Shanum saat melihat gedung mall yang megah dengan desain terbuka.
"Kita belanja, di apartemen nggak ada bahan buat masak. Kulkas cuma ada air putih sama camilan dan beberapa buah sama sayur aja," jawab Abi santai sambil melepas sabuk pengamannya.
Begitu masuk ke area supermarket di dalam mall, Shanum langsung melongo, ia terbiasa belanja di pasar tumpah desa yang becek, di mana ia harus pintar menawar harga cabai. Di sini, semuanya tertata rapi, dingin dan aromanya wangi kopi mahal.
Abi mengambil troli besar dan mendorongnya di samping Shanum, "Ambil apa saja yang kamu butuhkan buat masak, jangan mikirin harga, pilih yang paling segar," ucap Abi.
Shanum berjalan ragu di lorong sayuran, matanya berbinar melihat deretan paprika warna-warni, jamur-jamuran yang aneh, sampai daging sapi yang warnanya merah segar.
"Mas... Mas Abi sukanya makan apa? Biar aku sesuaikan belanjanya," tanya Shanum sambil memegang satu ikat bayam organik.
Abi berhenti sejenak, tampak berpikir keras. "Saya jarang makan di rumah, Shanum. Paling cuma bikin roti bakar atau sereal, tapi kalau masakan rumah... saya suka balado atau yang berkuah hangat. Terserah kamu saja, saya pemakan segala, asal yang masak kamu," jawab Abi.
Kalimat terakhir Abi sukses bikin Shanum senyum-senyum sendiri, ia mulai cekatan memasukkan bahan-bahan, ayam, daging, telur dan berbagai bumbu dapur, sampai beras kualitas super.
Saat melewati lorong alat dapur, langkah Shanum terhenti. Ia melihat deretan wajan anti lengket dan pisau set yang tajam-tajam.
"Mas... alat masak di apartemen cuma ada panci kecil satu sama teflon, boleh nggak kalau kita beli satu wajan yang agak besaran? Biar kalau aku masak tumis nggak tumpah-tumpah," pinta Shanum hati-hati.
Abi langsung meraih wajan keramik premium yang harganya cukup bikin Shanum istighfar dalam hati, "Ambil yang ini aja, sekalian pilih pisau yang bagus, biar tanganmu nggak capek kalau motong daging," ucap Abi.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊