Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan di Balik Tirai
Pukul tujuh pagi di Sydney. Langit di atas Circular Quay masih berselimut warna biru pucat yang dingin, dan pelabuhan mulai menggeliat dengan suara mesin feri yang membelah air. Di dalam apartemen mewah, Laras sudah terjaga. Jantungnya berdegup dengan irama yang tidak beraturan, lebih kencang daripada saat ia harus melakukan pertunjukan solo di depan ribuan orang.
Ia menatap pintu kamar yang menghubungkan ruangannya dengan kamar Amy. Amy adalah pengawal yang sangat disiplin; dia bangun tepat pukul 06.30 setiap pagi. Laras tahu ia tidak punya banyak waktu. Ia harus menyusun skenario yang sangat halus agar bisa menyelinap ke kafe lantai dasar Opera House sesuai instruksi Julian.
Laras mengenakan setelan latihan hitam yang tertutup, melilitkan syal tebal untuk menutupi gemetar di lehernya. Ia keluar dari kamar dan mendapati Amy sudah berdiri di dapur, sedang menyiapkan jus hijau protein sesuai diet ketat yang ditetapkan Elang.
"Nona, Anda bangun lebih awal," tegur Amy, matanya yang tajam memindai penampilan Laras. "Jadwal latihan kita baru mulai pukul 10.00."
"Aku tidak bisa tidur, Amy," jawab Laras, mencoba mengatur suaranya agar tetap tenang. "Udaranya terlalu kering. Aku ingin jalan santai di sekitar taman depan Opera House sebelum latihan. Aku butuh menjernihkan pikiran agar tidak pusing seperti kemarin."
Amy meletakkan gelas jusnya. "Tentu. Saya akan memanggil tim keamanan untuk bersiap dalam lima menit."
"Jangan, Amy," potong Laras cepat, lalu ia meredakan nadanya saat melihat alis Amy bertaut. "Maksudku... jangan terlalu banyak orang. Aku hanya ingin jalan santai, bukan pawai. Cukup kamu saja yang menemaniku. Bukankah Tuan Elang bilang kamu adalah bayanganku? Aku merasa lebih nyaman jika hanya kita berdua untuk pagi ini."
Amy tampak menimbang-nimbang. Elang memang memberikan instruksi bahwa Amy adalah orang kepercayaan utama. "Baiklah. Hanya saya. Tapi pengawal pria akan tetap memantau dari jarak lima puluh meter."
Laras mengangguk. Setidaknya itu celah yang cukup besar.
***
Mereka tiba di kawasan Opera House tepat pukul 07.45. Udara dingin Sydney menusuk tulang, membuat orang-orang yang berlalu lalang mengenakan mantel tebal. Laras berjalan perlahan menyusuri selasar luar, dengan Amy yang menempel ketat di samping kanannya.
Saat mendekati kafe di lantai dasar yang menyatu dengan area kantor staf teater, Laras tiba-tiba berhenti dan memegang perutnya. Ia meringis kecil, sebuah akting yang ia siapkan sepanjang malam.
"Amy... perutku sakit sekali," bisik Laras, wajahnya ia buat sepucat mungkin. "Mungkin karena jus tadi, atau aku salah makan semalam."
"Kita kembali ke apartemen sekarang, Nona," ucap Amy sigap, tangannya sudah memegang perangkat komunikasinya.
"Tidak, tidak perlu. Aku hanya butuh ke toilet staf di dalam kafe itu. Di sana lebih bersih dan privat," Laras menunjuk ke arah pintu kaca otomatis yang bertuliskan Staff Only - Authorized Personnel. "Tolong, Amy. Aku tidak bisa menahannya."
Amy melihat ke sekeliling. Pintu itu memerlukan kartu akses khusus. Tepat saat itu, seorang asisten panggung yang sudah disogok oleh Julian keluar dari pintu tersebut, membiarkan pintu terbuka sejenak.
"Ayo, cepat!" Laras menarik tangan Amy masuk ke dalam area koridor staf.
Di dalam, koridor itu berliku dan penuh dengan pintu-pintu kantor. Laras segera menuju toilet wanita yang terletak di ujung lorong. "Tunggu di sini, Amy. Aku tidak akan lama."
"Saya ikut masuk," tegas Amy.
"Amy, kumohon... ini sangat memalukan. Berikan aku privasi lima menit saja di dalam bilik. Kamu jaga pintunya, tidak ada jalan keluar lain dari sini selain pintu ini, kan?" Laras menatap Amy dengan mata memohon.
Amy memeriksa ruangan toilet itu dengan cepat. Memang benar, toilet itu tidak memiliki jendela, hanya ada satu pintu masuk. "Lima menit, Nona. Lewat dari itu, saya akan mendobrak biliknya."