Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Di dalam ruang senat yang kedap suara dan beraroma kayu cendana itu, suasana terasa formal namun intim.
Seorang pria paruh baya berperawakan kaukasia dengan setelan jas custom-made yang mahal duduk dengan tenang di atas sofa kulit.
Pria itu memancarkan otoritas yang besar; dialah Richard Draven, Ketua Yayasan Arthemis sekaligus ayah kandung Aiden.
Richard menyesap kopi hitamnya perlahan, matanya yang tajam menatap putranya yang duduk tepat di hadapannya. "Bagaimana kabarnya, Aiden? Apakah Valerie baik-baik saja?" tanyanya dengan nada suara yang tenang namun sarat penekanan.
Aiden menyandarkan punggungnya, tampak sedikit santai di depan ayahnya. "Sejauh ini dia baik-baik saja, Yah. Tidak ada yang aneh," jawab Aiden jujur.
Richard mengangguk pelan, meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja marmer. "Baguslah kalau begitu. Kau harus menjaganya dan memperlakukannya dengan baik. Jangan sampai kamu melukainya. Anak itu adalah titipan yang sangat berharga."
Mendengar kata-kata itu, alis Aiden bertaut. Ia mengernyitkan dahi, merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari perkataan ayahnya. "Maksud Ayah apa? Valerie... titipan yang berharga?"
Richard tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan.
"Tentu saja berharga. Pamannya adalah salah satu donatur terbesar di universitas ini. Dia menitipkan Valerie secara khusus kepada kita agar kita bisa menjaganya dengan baik di bawah naungan yayasan Arthemis. Dia ingin Valerie memiliki kehidupan yang tenang di sini."
Aiden terdiam sejenak, mencerna informasi tentang "Paman" misterius Valerie yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung. Namun, ia tidak ingin memperpanjang kecurigaannya di depan sang ayah.
"Ayah tidak perlu khawatir," ucap Aiden dengan nada tegas dan penuh keyakinan. "Aku sangat menyayangi Valerie. Jadi, tidak mungkin aku akan mengabaikannya atau membiarkannya dalam bahaya."
Richard hanya mengangguk paham, namun matanya tetap menatap Aiden seolah ada rahasia besar yang masih ia simpan rapat-rapat tentang jati diri Valerie yang sebenarnya.
Aiden berjalan dengan langkah lebar menyusuri lorong menuju markas Legacy. Pikirannya masih tertuju pada pembicaraan dengan ayahnya di ruang senat, namun fokus utamanya sekarang adalah Valerie yang sudah menunggunya.
Ia memutar kunci, membuka pintu dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh.
Matanya langsung tertuju pada sofa di sudut ruangan.
Di sana, Valerie tampak sedang terlelap dengan posisi bersandar. Napasnya teratur, dan wajahnya terlihat begitu tenang dalam tidurnya yang singkat.
Aiden tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat dan duduk di samping gadis itu, mengamati setiap inci raut wajah Valerie yang selalu berhasil meluluhkan hatinya.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Aiden mulai membelai rambut Valerie, jemarinya kemudian turun mengusap pipi halusnya, dan berakhir dengan ibu jari yang mengusap pelan bibir ranum gadis itu.
Sementara itu, di balik kelopak matanya yang terpejam, Valerie sedang terjebak dalam sebuah mimpi yang terasa sangat hidup.
Dalam mimpinya, ia tidak sedang berada di markas Legacy, melainkan di sebuah ruangan yang remang-remang. Sosok Damian duduk sangat dekat di hadapannya.
Dalam mimpi itu, Damian menatapnya dengan intensitas yang membakar. Tangan pria itu bergerak posesif—membelai rambutnya, mengusap pipinya, dan menyentuh bibirnya dengan cara yang sama persis seperti yang dilakukan Aiden di dunia nyata.
Anehnya, dalam mimpi itu Valerie hanya mematung, terpaku pada ketampanan Damian yang mengintimidasi, dan ia seolah menikmati setiap sentuhan pria gila tersebut. Sentuhan itu terasa sangat nyata, hangat, dan menuntut.
"Damian..." gumam Valerie dalam tidurnya, namun suaranya tertelan napas.
Seketika, Valerie tersentak. Matanya terbuka lebar, napasnya sedikit memburu. Jantungnya berdegup kencang karena syok menyadari bahwa ia baru saja memimpikan pria yang seharusnya ia benci.
Namun, keterkejutannya berlipat ganda saat ia tersadar dari mimpi dan melihat bahwa sosok yang berada di depannya bukanlah Damian, melainkan Aiden.
Aiden menarik tangannya kembali, nampak heran melihat reaksi Valerie yang begitu ekstrem. "Ada apa, Val? Kenapa ekspresimu sekaget itu? Kau bermimpi buruk?" tanya Aiden dengan nada khawatir.
Valerie memaki dirinya sendiri habis-habisan di dalam hati. "Bisa-bisanya aku memimpikan pria gila itu saat Aiden ada di sini!
Dengan canggung, ia mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan. "Ah... tidak, Aiden. Kau hanya... mengejutkanku. Aku tidak sadar kalau aku tertidur secepat itu," jawab Valerie terbata, berusaha mengalihkan rasa bersalah yang tiba-tiba menyerang batinnya.
Valerie melirik jam tangan di pergelangan kirinya, dan seketika ia memekik tertahan. Suara itu membuat Aiden kembali mengernyitkan dahi, menatap kekasihnya dengan tatapan penuh tanya sekaligus geli.
"Ada apa lagi, Sayang? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," tanya Aiden lembut.
Valerie bangkit dengan terburu-buru, wajahnya menunjukkan kepanikan yang nyata. "Astaga, Aiden! Jam pelajaran berikutnya sudah dimulai sepuluh menit yang lalu! Aku harus kembali ke kelas sekarang. Mata kuliah kali ini dosennya sangat killer, dia tidak akan segan-segan mengusir mahasiswa yang terlambat satu menit pun!"
Aiden tertawa kecil melihat kepanikan Valerie yang menurutnya sangat menggemaskan. Dengan gerakan tenang, ia meraih tangan Valerie, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari sebelum mendaratkan sebuah kecupan lembut di sana.
"Ya sudah, sana cepat masuk. Aku tidak mau dosen killer itu menghukum gadisku karena aku menahannya di sini terlalu lama," ucap Aiden sambil melepaskan genggamannya perlahan.
Valerie memaksakan sebuah senyum, lalu segera berdiri dan merapikan seragamnya yang sedikit kusut. "Aku pergi dulu ya, sayang," pamitnya.
Namun, baru saja Valerie hendak melangkah menuju pintu, Aiden menahan tangannya kembali. Gerakannya kali ini terasa sedikit lebih posesif. Tatapan Aiden berubah menjadi lebih serius, menyelidik masuk ke dalam manik mata Valerie.
"Tunggu, Val. Ada satu hal yang mengganjal di pikiranku," suara Aiden merendah. "Akhir-akhir ini... kau sudah jarang menghubungiku. Pesanku sering tidak dibalas, Ada apa sebenarnya?"
Valerie tercekat. Tenggorokannya terasa kering seketika. Ingatannya langsung melayang pada sosok Damian yang dengan seenaknya menyita ponselnya setiap kali mereka berada di penthouse, memutuskan aksesnya ke dunia luar seolah ia adalah tawanan tanpa hak suara.
Namun, Valerie tahu ia tidak boleh menunjukkan celah sedikit pun. Ia menarik napas panjang, berusaha terlihat senormal mungkin meski jantungnya berdegup kencang karena berbohong pada pria yang ia sayangi.
"Ah, itu... maafkan aku, sayang," jawab Valerie dengan nada yang diatur sedemikian rupa agar terdengar meyakinkan.
"Belakangan ini aku sedang banyak tugas tambahan dari dosen pembimbing. Kepalaku rasanya mau pecah mengurusi tumpukan jurnal, sampai-sampai aku sering lupa memegang ponsel atau tertidur saking lelahnya. Maaf ya?"
Aiden menatap Valerie dengan tatapan lembut yang penuh kepercayaan. "Ya sudah, jangan terlalu memaksakan diri, Sayang. Aku tidak mau kau jatuh sakit nanti," ucapnya tulus.
Valerie hanya bisa membalasnya dengan senyum tipis—sebuah senyum yang menyembunyikan rasa bersalah yang amat dalam—sebelum akhirnya ia melangkah keluar meninggalkan markas Legacy.
Valerie setengah berlari menyusuri koridor, napasnya sedikit terengah-engah saat ia mencapai pintu ruang kelasnya. Ia bersiap untuk menerima omelan atau pengusiran, namun saat ia melongok ke dalam, kelas sudah penuh tapi kursi dosen masih kosong.
"Hah... syukurlah," gumam Valerie sambil mengusap dadanya. Ia segera menyelinap masuk dan duduk di tempatnya yang biasa.
Sintia, teman sebangku Valerie yang terkenal paling tahu segala gosip kampus, langsung menyenggol lengannya. "Val! Kau beruntung sekali. Hari ini Bu Pingkan tidak masuk," bisik Sintia dengan mata berbinar.
Valerie menoleh dengan wajah lega. "Oh ya? Syukurlah, aku pikir aku akan habis hari ini."
"Tapi tunggu dulu," lanjut Sintia, suaranya terdengar semakin bersemangat. "Katanya kelas kita ada dosen pengganti. Dan kabar yang beredar, dosen baru ini sangat menarik! Katanya dia tampan, keren, dan auranya sangat... expensive."
Valerie hanya mengangguk-angguk kecil, tidak terlalu tertarik dengan topik pria tampan setelah semua drama yang ia alami dengan Damian. "Oh, benarkah? Selama dia tidak se-killer Bu Pingkan, aku tidak masalah," jawabnya santai sambil mengeluarkan buku catatannya.
Tepat saat itu, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap.
Suara ketukan sepatu pantofel yang tegas terdengar dari arah koridor, semakin lama semakin dekat. Valerie mendongak, matanya tertuju pada pintu kelas yang terbuka.
Seorang pria melangkah masuk dengan gaya yang tenang namun sangat berwibawa. Ia mengenakan kemeja yang pas di tubuh atletisnya dan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidung mancungnya.
Valerie membeku di tempatnya, saat menyadari siapa pria itu. Dia adalah pria berkacamata yang tadi ia tabrak di koridor—pria yang menyeringai saat menatapnya.