"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Aku baru saja melangkah keluar dari area kantin yang menyesakkan itu saat sebuah bayangan jangkung menghadang di lorong menuju kelas. Alif.
Pacar Kaila itu berdiri menyandar di pilar, tangannya masuk ke saku celana. Tidak seperti Guntur yang dingin atau Alan yang vokal, Alif biasanya adalah penengah yang tenang. Namun, kali ini ekspresinya tampak serius.
"Fis, tunggu sebentar," katanya pelan.
Aku berhenti, tapi tidak mendekat. "Kalau mau bahas soal Kaila yang baper karena omongan gue tadi, mending nggak usah, Lif. Gue lagi nggak minat minta maaf."
Alif menghela napas, ia melangkah mendekat hingga jarak kami hanya satu meter. "Gue ke sini bukan buat belain Kaila. Gue cuma mau nanya... sampai kapan lo mau main kucing-kucingan kayak gini?"
Aku mengernyit. "Maksud lo?"
"Gue tahu lo tahu soal Guntur dan Fita. Dan gue juga tahu lo sebenernya muak sama kita semua yang milih buat diam," suara Alif merendah, matanya melirik sekitar untuk memastikan tidak ada yang menguping. "Tapi Fis, lo nggak perlu nyiksa diri sendiri dengan deket-deket sama orang kayak Alan atau nerima pemberian dari Radit. Mereka itu cuma bakal manfaatin situasi lo buat kepentingan mereka sendiri."
Aku tertawa hambar. Rasanya lucu melihat Alif yang biasanya diam, tiba-tiba sok peduli. "Manfaatin situasi? Terus apa bedanya mereka sama kalian? Kalian semua diam saat Guntur jalan sama Fita di belakang gue. Itu namanya apa kalau bukan manfaatin kebodohan gue?"
Alif terdiam, tampak tertohok.
"Lo tahu nggak, Lif? Yang paling sakit itu bukan pengkhianatan Guntur, tapi fakta bahwa lo dan Kaila adalah orang-orang yang paling gue percaya, tapi kalian justru jadi penonton yang paling setia di sandiwara ini," lanjutku dengan suara bergetar namun tetap tajam.
"Fis, kita cuma nggak mau lo hancur..."
"Gue udah hancur!" potongku cepat. Aku menatapnya lurus-lurus. "Dan sekarang gue lagi nyusun kepingannya satu-satu. Jadi, jangan halangi jalan gue. Kalau gue mau bareng Alan atau Radit, itu urusan gue. Setidaknya mereka nggak pura-pura jadi malaikat di depan gue."
Aku melangkah melewati Alif, sengaja menabrak bahunya dengan keras. Namun, kalimat terakhir Alif membuat langkahku tertahan sejenak di ujung koridor.
"Guntur nggak sejahat yang lo pikir, Fis. Dia cuma terjebak. Dan lo... jangan sampai terjebak di lubang yang lebih dalam karena rasa dendam lo."
Aku tidak menoleh. Aku terus berjalan menuju kelas, meremas tiket di sakuku hingga lecek. Terjebak? Guntur yang terjebak? Lucu sekali.
Terjebak?" gumamku sinis saat sudah cukup jauh dari Alif. "Guntur nggak sejahat itu?"
Ingatanku melayang pada pemandangan di meja kantin tadi. Guntur bisa tertawa lepas saat membisikkan sesuatu ke telinga Fita. Dia bisa tersenyum lebar hanya karena hal-hal kecil yang dilakukan gadis itu. Pemandangan yang selama beberapa bulan bersamaku, tidak pernah benar-benar ada. Bersamaku, Guntur adalah tembok es yang kaku. Dia irit bicara, jarang berekspresi, dan selalu membuatku merasa harus berhati-hati agar tidak mengganggu ketenangannya.
Ternyata, dia bukan pria yang "dingin". Dia hanya dingin padaku. Kepada Fita, dia memberikan sisi hangat yang selama ini kusangka tidak dia miliki. Jadi, di bagian mana dia merasa terjebak? Dia justru terlihat seperti baru saja menemukan rumahnya yang sebenarnya.
Aku masuk ke kelas yang masih sepi. Di pojok ruangan,
Langkahku terhenti tepat di ambang pintu kelas. Aku baru ingat, jam pelajaran setelah istirahat adalah TIK. Dan sialnya, kelas XI IPS 1 digabung dengan X IPS 2 di laboratorium komputer karena keterbatasan unit. Itu artinya, aku harus menghirup udara yang sama dengan Guntur, Fita, Kaila, dan Alif selama dua jam ke depan.
Aku masuk ke laboratorium dengan wajah sedatar mungkin. Ruangan ber-AC itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Di sana, mereka sudah berkumpul. Guntur duduk di barisan tengah, dan tentu saja, Fita ada di kursi sebelahnya. Kaila dan Alif berada tepat di belakang mereka.
"Fis, sini! Gue udah jagain kursi buat lo," panggil Ayu, satu-satunya teman yang masih mencoba bersikap netral, sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
Masalahnya, kursi itu berada tepat di jalur pandang Guntur. Jika aku duduk di sana, aku akan menghabiskan dua jam melihat punggung Guntur yang sesekali condong ke arah Fita untuk membantu gadis itu mengetik tugas.
"Gue di pojok aja, Yu. Lagi pengen deket jendela," sahutku pelan.
Aku memilih barisan paling belakang, di sudut remang yang jauh dari jangkauan mereka. Aku menyalakan komputer, memasang earphone tanpa memutar musik hanya agar orang-orang tidak mengajakku bicara.
Dari pantulan layar komputer yang masih gelap, aku bisa melihat pergerakan di depan. Fita tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan tangan saat Guntur membisikkan sesuatu. Guntur—si gunung es yang biasanya hanya membalas pesanku dengan satu kata—kini tampak begitu hidup. Dia terlihat santai, bahunya rileks, sangat kontras dengan Guntur yang selalu tegang saat berada di dekatku.
"Oke semuanya, perhatian!" Pak Danu masuk, memecah suasana. "Hari ini kita lanjut materi spreadsheet. Kerjakan latihan di halaman 60 secara berpasangan dengan teman sebangku."
Hatiku mencelos. Berpasangan?
"Fis, lo sendirian?" Alan tiba-tiba muncul di ambang pintu. Dia rupanya baru kembali dari ruang guru. Tanpa aba-aba, dia berjalan lurus ke arahku dan menarik kursi di sebelahku yang memang kosong.
"Sekarang lo punya pasangan," bisik Alan sambil menyeringai.
Kehadiran Alan di pojok bersamaku langsung memicu reaksi berantai. Aku bisa melihat Kaila berbisik tajam ke arah Alif, sementara Guntur... dia berhenti mengetik. Dia menoleh ke belakang, matanya menatap tajam ke arah tangan Alan yang kini dengan sengaja diletakkan di sandaran kursiku.
"Fokus, Fis," tegur Alan pelan, matanya menatap layar komputer tapi senyumnya meremehkan ke arah Guntur. "Jangan liatin 'pemandangan' yang bikin mata lo sakit. Mending fokus belajar gimana cara skakmat orang tanpa harus teriak-teriak."
Aku menarik napas panjang, mencoba mengabaikan panasnya tatapan Guntur yang menusuk punggungku. Tanganku yang gemetar mulai memegang mouse, sementara di dalam saku, tiket dari Radit terasa seberat batu, mengingatkanku bahwa setelah kelas ini, akan ada badai lain yang menunggu.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2