Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: TETANGGA MENYARANKAN DUKUN
---
Demam turun. Tapi kaki kanan makin besar. Dari hari ke hari. Dari minggu ke minggu. Kulit mengilat di sinar matahari. Seperti akan pecah. Seperti terlalu tipis. Seperti sesuatu yang salah.
Mahesa duduk di beranda. Kayu lapuk yang sama. Pojok yang sama. Tempat yang sejak dulu menjadi miliknya. Memandangi kaki kanan. Yang bukan lagi miliknya. Yang milik monster yang tumbuh tanpa izin.
Herbal dari ayah sudah habis. Tiga minggu diminum. Pahit setiap pagi. Tapi tidak ada perubahan. Kakinya tetap besar. Tetap panas. Tetap berat. Seperti batu yang diikat di pergelangan.
Obat dari puskesmas juga sudah habis. Dokter bilang cidera. Tapi cidera tidak mungkin begini. Cidera tidak membuat kulit mengilat. Cidera tidak membuatnya tidak bisa tidur karena nyeri.
Ibu keluar. Membawa cucian. Melewati Mahesa tanpa melihat. Seperti biasa. Seperti selalu. Tapi hari ini, ia berhenti. Dua langkah dari beranda.
"Masih sakit?" tanya ibu. Bukan tanya. Hanya ucapan.
Mahesa mengangguk. Tidak perlu jawab. Ibu sudah lihat.
Ibu melanjutkan ke sumur. Meninggalkan Mahesa dengan kakinya. Dengan dunianya. Dengan... kesendiriannya.
---
Siang itu, tetangga datang. Bu Sarti. Yang rumahnya di ujung jalan. Yang suka menggosip. Yang suka tahu segalanya. Yang hari ini—entah kenapa—mampir.
Ibu menyambut. Seperti biasa. Air minum. Obrolan ringan. Tentang harga cabai. Tentang banjir di kampung sebelah. Tentang... biasa.
Tapi kemudian, Bu Sarti melihat ke beranda. Ke Mahesa. Ke kaki yang terlihat jelas.
"Itu," katanya. Menunjuk. Tidak ragu. "Kakinya kok makin besar? Katanya ke puskesmas sudah. Dokter bilang cidera?"
Ibu menghela napas. "Iya, Bu. Tapi kok... tidak sembuh-sembuh."
Bu Sarti mendekat. Ke beranda. Ke Mahesa. Menatap kaki kanan dari dekat. Matanya menyipit. Seperti melihat sesuatu. Seperti... tahu.
"Ini bukan cidera," katanya. Langsung. Tanpa basa-basi. "Lihat. Mengilat. Bengkak tidak wajar. Itu santet."
Santet.
Kata itu menggantung di udara. Berat. Gelap. Menakutkan.
Ibu tertegun. "Santet? Tapi Bu, kami tidak punya musuh..."
"Tidak perlu musuh." Bu Sarti yakin. Suaranya mantap. "Orang iri saja bisa. Anakmu pintar kali ya? Dijegal biar tidak maju."
Pintar? Mahesa tidak mengerti. Ia tidak pintar. Nilainya biasa. Tidak pernah juara kelas. Tidak pernah menang lomba. Tidak pernah diperhatikan guru lebih dari yang lain.
"Bawa ke dukun," Bu Sarti melanjutkan. "Di desa seberang. Mbah Dulah. Pintar. Sudah banyak yang sembuh. Anaknya Pak Darman dulu kakinya bengkak. Sembuh setelah ke Mbah Dulah."
Ibu diam. Bergulat dengan pikirannya. Mahesa bisa melihat dari raut wajahnya. Ragu. Tapi juga... putus asa.
Ayah datang dari belakang. Dari tempat ia memperbaiki pagar. Mendengar percakapan dari kejauhan. Mendekat.
"Bu Sarti," sapa ayah. Hormat. Lalu matanya beralih ke ibu. "Ada apa?"
Ibu menjelaskan. Tentang santet. Tentang dukun. Tentang Mbah Dulah.
Ayah diam. Lama. Berpikir. Mahesa melihat wajah ayah. Yang lelah. Yang sudah kehabisan pilihan. Yang sudah coba dokter, coba puskesmas, coba herbal. Tidak ada yang berhasil.
"Berapa biayanya?" tanya ayah akhirnya.
Bu Sarti mengangkat bahu. "Tergantung. Biasanya bayar dengan ayam. Atau kambing kalau parah. Mbah Dulah tidak minta uang. Hanya... persembahan."
Ayam. Satu-satunya ayam mereka. Yang bertelur hampir setiap hari. Yang bisa dijual kalau butuh uang. Yang menjadi cadangan pangan.
Ayah menatap ke kandang kecil di samping rumah. Ayam itu sedang mematuk tanah. Tidak tahu nasibnya sedang digantung.
"Kita coba," ayah berkata. Suara berat. Seperti menelan sesuatu yang pahit. "Semua sudah dicoba. Mungkin ini jalannya."
Ibu mengangguk. Lega? Atau pasrah? Mahesa tidak tahu.
Bu Sarti tersenyum puas. Seperti orang yang berhasil memberi solusi. "Nanti saya antar. Besok pagi. Saya tahu jalannya."
---
Mahesa tidak tidur malam itu.
Bukan karena nyeri. Bukan karena gatal. Tapi karena pikiran tentang santet. Tentang orang iri. Tentang seseorang yang membencinya tanpa ia tahu.
Siapa?
Teman-teman yang menertawakan? Rudi yang selalu memanggilnya "kaki gajah"? Mereka tidak iri. Mereka hanya kejam.
Siti yang pindah bangku? Dia mungkin takut, bukan benci.
Guru-guru? Tidak mungkin.
Lalu siapa?
Pikiran itu berputar. Tidak menemukan jawaban. Hanya membuatnya semakin takut. Semakin merasa bahwa dunia ini gelap. Bahwa di luar sana, ada orang yang ingin melihatnya hancur.
Dan ia tidak tahu kenapa.
---
Pagi. Subuh. Ayah sudah bangun. Mengambil ayam dari kandang. Ayam itu berkokok sekali—terakhir kali—sebelum dimasukkan ke keranjang.
Mahesa melihat dari tikar. Ayam itu. Yang setiap pagi berkokok. Yang telurnya kadang dimakan Bima. Yang sekarang akan menjadi... persembahan.
Ia ingin bilang, "Jangan, Pak. Percuma." Tapi tidak berani. Tidak mau jadi anak durhaka. Tidak mau membuat ayah kecewa. Tidak mau menjadi beban yang lebih besar.
Mereka berangkat. Pagi buta. Ayah, ibu, Mahesa. Bu Sarti di depan, memimpin jalan. Bima dititipkan ke tetangga.
Jalan tiga kilometer. Melewati sawah. Melewati sungai kecil. Melewati hutan bambu. Kaki kanan Mahesa sakit setiap langkah. Tapi ia tidak mengeluh. Tidak boleh. Ini untuknya. Ini usahanya.
Dukun Mbah Dulah. Rumah kayu di ujung desa. Tua. Gelap. Bau kemenyan menyengat dari jauh. Bau yang tidak biasa. Bau yang membuat bulu kuduk berdiri.
Mbah Dulah sudah tua. Sangat tua. Rambut putih memutih. Gigi tinggal beberapa. Tangan keriput seperti kulit kayu. Tapi matanya... matanya tajam. Menembus.
"Ini yang sakit?" tanyanya. Suara serak. Seperti suara orang yang sudah bicara dengan dunia lain.
Mahesa mengangguk. Takut bicara.
"Masuk."
Mereka masuk. Ruangan gelap. Hanya diterangi lampu minyak. Asap kemenyan memenuhi ruangan. Mahesa batuk-batuk. Tapi berusaha tahan.
"Bakar kemenyan lagi," perintah Mbah Dulah.
Ayah menurut. Membakar. Asap semakin tebal.
Mahesa duduk di lantai. Di depan Mbah Dulah. Kaki kanan terhampar. Terlihat jelas. Mengilat di cahaya lampu.
Mbah Dulah memegang. Tangan keriput itu menyentuh kulit yang bengkak. Hangat. Tapi bukan hangat yang menyembuhkan. Hangat yang... aneh.
Mbah Dulah memejam. Bergumam. Kata-kata asing. Bahasa yang tidak dimengerti. Mantra. Doa. Atau apa pun.
Lama. Lima menit. Sepuluh. Mahesa tidak berani bergerak. Tidak berani bernapas.
Mbah Dulah membuka mata. Menatap Mahesa. Dalam.
"Ada yang iri," katanya. "Anakmu pintar. Dijegal. Biar tidak maju."
Ibu terkesiap. Menutup mulut. Mata berkaca.
Ayah diam. Menatap Mbah Dulah. Tidak tahu harus percaya atau tidak.
"Bisa disembuhkan, Mbah?" tanya ibu. Suara bergetar.
Bisa. Tapi harus sabar. Harus ikhtiar. Minyak ini diusap setiap malam. Sebelum tidur. Sambil baca doa tolak bala.
Mbah Dulah memberi botol kecil. Minyak coklat. Bau seperti kemenyan. Seperti sesuatu yang kuno.
Ayam diserahkan. Mbah Dulah menerima. Tanpa terima kasih. Tanpa senyum. Seperti itu memang haknya.
Pulang. Dengan minyak. Dengan mantra. Dengan keyakinan baru bahwa sakit ini karena santet. Karena orang iri. Karena... dirinya.
---
Malam pertama. Ibu mengusap minyak. Tangan kasar tapi berusaha lembut. Minyak panas. Terlalu panas. Kulit Mahesa yang sudah sensitif terasa seperti terbakar.
"Sakit?" tanya ibu.
Mahesa menggeleng. Tidak mau merepotkan. Tidak mau ibu berhenti.
Ibu terus mengusap. Membaca doa yang diajarkan Mbah Dulah. Kata-kata asing. Bahasa Arab? Atau bahasa lain? Mahesa tidak tahu.
Seminggu. Tujuh malam. Tujuh kali diusap. Tujuh kali doa. Tujuh kali berharap.
Tidak ada perubahan. Kaki masih bengkak. Masih panas. Masih mengilat. Malah, rasanya makin sakit setelah diusap. Seperti minyak itu justru membuat iritasi.
Tapi ibu tetap melakukannya. Karena sudah bayar. Karena sudah percaya. Karena tidak tahu harus percaya apa lagi.
---
Malam ketujuh. Setelah diusap, setelah ibu tidur, Mahesa masih terjaga. Tidak bisa tidur.
Bukan karena nyeri. Tapi karena pikiran tentang santet. Tentang orang iri. Siapa?
Teman-teman? Tidak mungkin.
Guru? Tidak.
Tetangga? Bu Sarti yang baik hati menyarankan dukun? Tidak.
Lalu siapa?
Pikiran itu berputar. Mencari jawaban. Tidak menemukan. Hanya membuatnya takut. Takut pada dunia yang tiba-tiba terasa penuh musuh tak terlihat.
Ia bangun. Pelan. Kaki kanan sakit. Tapi diabaikan. Berjalan ke dapur. Ayah duduk di sana. Sendirian. Menatap botol minyak yang hampir habis.
"Ayah," panggil Mahesa. Suara kecil.
Ayah menoleh. "Kenapa belum tidur?"
Mahesa duduk di samping ayah. Di lantai dapur. Dingin. Tapi tidak apa-apa.
"Ayah," katanya lagi. "Aku... aku tidak percaya santet."
Ayah menatapnya. Lama. Tidak marah. Tidak kaget. Hanya lelah.
"Ayah juga tidak," ayah berkata akhirnya. Suara serak. "Tapi harus coba. Semua harus dicoba."
Diam. Panjang. Hanya suara jangkrik di luar.
"Ayah tahu ini penyakit," ayah melanjutkan. "Bukan santet. Tapi ibu... ibu perlu percaya sesuatu. Biar tidak putus asa."
Mahesa mengerti. Ibu butuh harapan. Meskipun harapan itu palsu. Meskipun harapan itu datang dari dukun dan minyak panas.
"Mahesa." Ayah memegang bahunya. "Kamu tidak salah. Tidak ada yang iri. Tidak ada santet. Ini penyakit. Dokter tidak mengerti. Dukun tidak mengerti. Tapi suatu saat, pasti ada yang bisa. Ayah akan cari terus."
Air mata. Tanpa diminta. Mengalir di pipi Mahesa. Bukan karena sedih. Tapi karena... lega. Karena ayah percaya padanya. Karena ayah tidak menyalahkan.
"Tapi ayam sudah diberikan," bisik Mahesa. "Percuma."
Ayah menggeleng. "Tidak percuma. Itu untuk ketenangan ibu. Untuk membuatnya tetap kuat. Kamu lihat, sejak ke dukun, ibu jadi rajin mengusap. Rajin mendoakan. Dia butuh itu."
Mahesa mengangguk. Mengerti. Meskipun berat.
---
Esoknya, minyak habis. Tujuh malam selesai. Kaki tidak berubah.
Ibu diam. Kecewa. Tapi tidak putus asa. "Mungkin kurang rutin," katanya. "Mungkin doanya kurang khusyuk."
Ayah tidak membantah. Hanya mengangguk.
Mahesa melihat ibu. Yang mencari alasan. Yang tidak mau mengaku bahwa dukun gagal. Yang butuh harapan baru.
Dan ia tahu, suatu saat nanti, akan ada lagi yang menyarankan ini-itu. Lagi dan lagi. Karena sakitnya tidak sembuh. Karena tidak ada yang mengerti.
Tapi ia juga tahu, ayah akan selalu ada. Di sampingnya. Mencari. Berusaha. Tidak menyerah.
Meskipun tidak percaya santet. Meskipun tahu ini penyakit. Tapi tetap berjuang. Untuknya.
Itu cukup. Untuk hari ini. Untuk kegagalan dukun. Untuk ayam yang hilang. Untuk minyak yang tidak manjur.
Itu cukup.
Karena ada ayah yang percaya padanya. Ada ayah yang tidak menyalahkan. Ada ayah yang akan terus mencari.
Mahesa kembali ke beranda. Ke pojoknya. Menatap kaki kanan yang masih besar. Masih mengilat. Masih salah.
Tapi hari ini, ia tidak merasa sendirian.
Di dapur, ayah sedang berbicara dengan ibu. Pelan. Mencari jalan berikutnya. Ke kota. Ke rumah sakit besar. Ke tempat yang mungkin mengerti.
Mahesa mendengar. Menyimpan dalam hati.
Besok, mungkin ada harapan baru. Lusa, mungkin ada lagi. Seterusnya.
Tapi hari ini, ia punya ayah. Punya keyakinan bahwa ia tidak salah. Bahwa ini penyakit, bukan santet. Bahwa dunia tidak sedang membencinya.
Itu cukup.
Malam ini, itu cukup.
---