NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Pregiwa melangkah maju perlahan. Ujung gaunnya mendesis menyapu lantai batu granit, sebuah suara yang terdengar seperti desisan bisa di telinga malam. Ia berhenti tepat dua langkah di hadapan sang jenderal yang masih berlutut.

"Berdirilah, Panglima Haryasuta," ucap Pregiwa. Suaranya mengalun hangat, dipenuhi oleh sebuah empati yang diatur takarannya dengan begitu sempurna. "Lantai batu ini terlalu dingin untuk lutut seorang pahlawan yang telah menumpahkan begitu banyak darah demi menjaga gerbang Swantipura."

Mendengar kata "pahlawan" dan pengakuan atas darahnya, Haryasuta tersentak pelan. Sudah bertahun-tahun tidak ada anggota keluarga kerajaan yang memanggilnya dengan sebutan itu. Ia perlahan bangkit berdiri, menatap sang permaisuri muda dengan campuran kebingungan dan rasa hormat yang mendalam.

"Gusti Permaisuri mengenal hamba?" tanya pria tua itu dengan suara parau.

"Tentu saja aku mengenalmu," Pregiwa tersenyum, sebuah senyuman yang dirancang untuk meruntuhkan dinding pertahanan paling keras sekalipun. Ia menatap bekas luka cakar yang melintang di mata kiri jenderal itu. "Aku mungkin pendatang dari Amarta, Panglima. Namun mataku tidak buta. Di balairung tadi, aku melihat banyak emas dan permata dari Kurusetra dibagikan kepada para pangeran muda yang bahkan pedangnya belum pernah merasakan bau darah. Sementara kau... jenderal yang pasukan utaranya kelaparan menahan serbuan barbar, hanya duduk diam memegang piala kayu kosong."

Kata-kata Pregiwa menghujam tepat ke dasar luka batin Haryasuta. Rahang pria tua itu mengeras. Kemarahan yang selama ini ia pendam dalam-dalam tiba-tiba menemukan salurannya.

"Itulah takdir prajurit perbatasan, Gusti Permaisuri," jawab Haryasuta getir, menundukkan pandangannya. "Gusti Pangeran Jayantaka lebih menyukai kavaleri lapis bajanya yang berkilau. Pasukan infanteri utara hamba hanyalah anjing penjaga yang hanya diberi makan tulang sisa. Hamba telah mengabdi pada ayahandanya, Prabu Dirgantara, selama tiga puluh tahun, namun di masa damai ini... hamba hanyalah besi berkarat di sudut gudang."

Inilah momennya. Sang pualam dari Amarta mulai memainkan bidak caturnya yang pertama.

"Kau bukan besi berkarat, Haryasuta," potong Pregiwa, kali ini membiarkan sedikit ketegasan seorang penguasa menyusup ke dalam nadanya. Ia mengambil satu langkah lebih dekat, memangkas jarak sosial di antara mereka. Bau dupa cendana dari tubuhnya mengaburkan pikiran rasional sang jenderal. "Kau adalah pondasi benteng ini. Kerajaan yang melupakan pondasinya, cepat atau lambat akan runtuh ditelan bumi."

Pregiwa mengulurkan tangan kanannya dari balik jubah beludrunya. Di telapak tangannya, tergenggam sebuah kantung sutra yang cukup berat, berisi kepingan emas murni berstempel Keraton Amarta—bawaan pribadinya saat ia dinikahkan. Ia menyodorkan kantung itu ke dada Haryasuta.

"Ambillah ini," perintah Pregiwa dengan kelembutan yang memaksa. "Gunakan ini untuk membeli gandum, selimut tebal, dan anggur terbaik dari pasar selatan untuk pasukan perbatasanmu. Katakan pada mereka bahwa ini adalah hadiah dari seorang ratu yang tidak pernah menutup matanya terhadap kesetiaan sejati."

Haryasuta terbelalak. Ia menatap kantung emas itu, lalu menatap wajah Pregiwa secara bergantian. Tangan kasarnya gemetar saat menerima kantung tersebut. Jumlah emas ini cukup untuk memberi makan sepuluh ribu pasukannya selama setengah musim dingin. Sesuatu yang telah ia mohonkan berkali-kali kepada Pangeran Jayantaka, namun selalu ditolak dengan alasan "anggaran telah dihabiskan untuk zirah kuda kavaleri".

"G-Gusti Permaisuri... ini terlalu berharga. Hamba tidak pantas..." Haryasuta tergagap, air mata nyaris menetes dari matanya yang satu-satunya masih berfungsi. Pengkhianatan dari rajanya sendiri disembuhkan oleh kedermawanan seorang ratu pendatang.

"Kau lebih dari sekadar pantas, Panglima," bisik Pregiwa, membiarkan suaranya merendah menjadi sebuah rahasia di antara mereka berdua. "Swantipura membutuhkan pria-pria sepertimu. Dan suatu hari nanti... ketika arogansi para pemuda di balairung itu membawa kerajaan ini ke ambang kehancuran, aku akan membutuhkan pedang dari prajurit-prajurit yang mengerti arti dari sebuah kesetiaan mutlak. Apakah saat hari itu tiba, kau dan pasukan utaramu akan mengingat siapa yang memastikan mereka tidak membeku malam ini?"

Mendengar pertanyaan yang sarat akan makna makar terselubung itu, Haryasuta tidak mundur. Sebaliknya, jiwa kesatria tuanya yang terbuang merasa dihidupkan kembali. Ia melihat di dalam mata teduh ratu ini, sebuah kecerdasan dan kekuatan yang jauh melampaui Pangeran Jayantaka yang sombong. Ratu ini mengerti rasa sakit. Ratu ini mengerti cara memimpin.

Tanpa keraguan sedikit pun, Panglima Haryasuta menjatuhkan kedua lututnya ke lantai. Kali ini, ia tidak membungkuk pada gelar keraton. Ia membungkuk pada wanita yang berdiri di hadapannya. Ia mencabut belati perburuan dari pinggangnya, meletakkannya di bawah ujung sepatu bersulam emas milik Pregiwa.

"Nyawa hamba, dan dua puluh ribu pedang pasukan perbatasan utara, terikat pada kebaikan Gusti Permaisuri mulai malam ini," sumpah Haryasuta dengan suara bergetar dipenuhi kesetiaan yang mengakar dalam. "Beri hamba perintah, bahkan jika hamba harus membelah gunung es, hamba akan melakukannya untuk Gusti."

Di bawah cahaya obor yang meremang, Pregiwa menatap pria tua yang menunduk di bawah kakinya itu. Di masa lalu, pemandangan ini akan membuatnya ketakutan dan merasa bersalah. Namun sekarang, ia sama sekali tidak merasakan apa pun selain dinginnya perhitungan logika.

Satu bidak benteng yang sangat kuat telah berhasil ia kuasai tanpa menumpahkan setetes pun darah. Ia telah merajut benang pertamanya di leher kekuasaan Pangeran Jayantaka.

"Kembalilah ke barakmu dengan tenang, Panglima Haryasuta. Saat salju mulai mencair nanti, aku akan memanggilmu," ucap Pregiwa datar.

Sang jenderal bangkit, memberikan penghormatan terakhir yang sangat khidmat, lalu berlalu pergi menyusuri lorong batu, membawa serta kantung emas dan kesetiaan mutlak yang baru saja berpindah tangan.

Pregiwa berdiri sendirian dalam keheningan lorong. Ia menarik napas panjang, menghirup udara Swantipura yang membekukan tulang. Ia menengadahkan wajahnya, menatap ke arah langit-langit lorong batu yang gelap, namun pikirannya melesat menembus atap, terbang jauh ke arah awan Kurusetra.

*Kau lihat ini, Kanda?* batin Pregiwa berbicara pada kekosongan, berbincang dengan bayangan raksasa penjaganya yang telah tiada. *Dulu, Kanda melindungiku dengan membakar punggung Kanda sendiri. Kanda mematahkan leher musuh dengan tangan kosong untuk memastikan tidak ada debu yang menyentuhku.*

Pregiwa memejamkan mata. Senyum dingin dan kejam yang sangat menakutkan terukir pelan di bibir pualamnya.

*Kini giliran hamba, Kanda,* lanjutnya di dalam hati, memeluk erat kehampaan jiwanya yang kini telah tergantikan oleh dendam hitam yang tak terpadamkan. *Aku tidak memiliki otot kawat dan tulang besimu. Tanganku terlalu lemah untuk meremukkan batu. Tapi aku bersumpah demi abu di Kurusetra... aku akan meremukkan kerajaan ini dari dalam. Aku akan menggunakan kecantikan yang mengutuk kita berdua ini, sebagai racun yang akan mencekik mereka semua saat mereka sedang tertidur pulas.*

Malam itu, Pangeran Jayantaka mungkin sedang bersulang merayakan kemenangannya. Namun sang Pangeran tidak menyadari, bahwa di bawah atap istananya sendiri, seekor naga yang jauh lebih mematikan dari seluruh pasukan Astina, baru saja membuka matanya.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!