NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Sistem / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Fantasi / Harem
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.

Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.

Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.

Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tambang Kristal Merah 2

Sesuatu yang luar biasa purba dan mematikan baru saja mencium aroma darah kroco, dan ia kini telah terbangun dari tidur pulasnya, mengguncang dasar Tambang Kristal Merah dengan getaran yang mengancam akan meruntuhkan langit-langit gua.

Getaran mekanis dari kedalaman perut bumi itu semakin menggila, merambat melalui urat-urat kristal di bawah telapak kaki mereka layaknya detak jantung raksasa yang sedang marah. Debu pasir merah berterbangan liar, membatasi jarak pandang dan mencekik paru-paru. Di bawah tekanan formasi anti-penerbangan dan penindasan gravitasi yang ekstrem, kedua jenderal Utara yang baru saja membantai kawanan monster rendahan kini melangkah mundur dengan wajah sepucat salju.

Dari dalam kegelapan pekat di ujung lorong yang melandai turun, dua pasang mata vertikal berukuran sebesar kereta kuda menyala terang, memancarkan warna merah saga yang menggetarkan jiwa.

HSSSHHH!

Suara desisan itu bukan sekadar suara; itu adalah badai sonik yang membawa bau belerang, darah busuk, dan hawa kematian. Dua ekor monster melata merayap keluar dari bayang-bayang. Mereka adalah Piton Darah yang memakan Kristal darah untuk bertahan hidup. Ukuran mereka benar-benar besar. Dengan ketebalan tubuh mencapai enam meter, raksasa melata ini nyaris menyumbat seluruh terowongan gua yang luas. Sisik mereka tidak terbuat dari keratin atau kulit monster biasa, melainkan dari susunan kristal merah darah padat yang tumbuh menyatu dengan otot, membentuk zirah alami yang memantulkan pendaran cahaya gua dengan sangat mengerikan.

Aura yang meledak dari kedua monster itu langsung membekukan aliran Qi di udara: Ranah Kuno tahap akhir!

"Nyonya Duchess! Yang Mulia Archduke... Itu monster darah Ranah Kuno Akhir!" jerit salah satu jenderal Utara dengan suara bergetar parah. Tangannya mencengkeram tombak esnya yang kini terasa sama bergunanya dengan ranting kayu. Menghadapi satu monster Ranah Kuno tahap akhir saja sudah merupakan mimpi buruk mutlak bagi kultivator kuno tahap awal, apalagi menghadapi sepasang monster raksasa di dalam ruangan tertutup dengan gravitasi yang melumpuhkan ini.

Xu Mei secara naluriah menarik pedang kristalnya, bersiap mengambil posisi bertarung meski kakinya terasa seberat timah. Namun, sebelum ia sempat memadatkan Qi-nya, sebuah tangan yang terbungkus zirah emas murni dengan lembut menahan bahunya dari belakang.

"Simpan tenagamu, Adik Xu Mei," ucap Wu Xuan dengan suara bariton yang sangat tenang, seolah mereka hanya sedang melihat dua ekor cacing tanah yang tersesat setelah hujan.

Jubah kain putih suci yang tersemat pada zirah emas Wu Xuan berkibar pelan, secara ajaib menolak debu pasir merah yang mencoba menempel. Ia tidak berniat menggerakkan tangannya untuk mencabut Pedang Pelahap Dunia. Ia hanya menatap Mandou yang sedari tadi sudah berdiri di barisan depan, menggeram rendah dengan bulu-bulu seputih salju yang berdiri tegak.

Batin wu xuan menyeringai geli di balik ekspresi datarnya.

'Ah, tipikal bos mini dengan tipe Tank berdarah tebal,' monolog Wu Xuan dalam hati, menganalisis situasi layaknya seorang gamer veteran. 'Kalau di dalam game, ini adalah momen di mana aku cukup menekan tombol "Summon Pet", lalu pergi ke dapur untuk menyeduh secangkir kopi hitam sambil menunggu AI peliharaanku menyelesaikan pekerjaannya. Memiliki binatang buas dengan stat tinggi benar-benar sebuah privilese yang harus dinikmati.'

"Mandou, Lakukan pemanasan" panggil Wu Xuan santai, suaranya memotong desisan kedua piton raksasa tersebut. "Kau harus lebih sering bertarung agar tidak kaku. Jangan biarkan darah kotor mengejekmu."

Mendengar titah mutlak dari tuannya, ketiga kepala singa purba tersebut mengaum serempak.

ROAAAAAR!

Raungan Mandou bukanlah sekadar suara, melainkan ledakan esensi purba yang menghancurkan dinding kristal di sisi lorong. Singa putih raksasa setinggi tiga meter bersayap griffin perak itu menerjang maju. Ledakan tenaga fisiknya begitu kuat hingga lantai batu tempat ia berpijak hancur berkeping-keping, meninggalkan kawah dalam di tengah area bertekanan gravitasi tinggi ini.

Piton Darah pertama mencoba mematuk dari atas. Rahangnya yang dipenuhi taring beracun sepanjang pedang besar terbuka lebar, siap menelan Mandou bulat-bulat. Namun, kecepatan beast surgawi bergaris keturunan surgawi suci jauh melampaui monster mutasi biasa.

Mandou melesat ke samping dengan kecepatan cahaya, menghindari patokan raksasa itu dengan selisih sehelai rambut. Sebelum piton itu bisa menarik kembali kepalanya, salah satu dari tiga kepala Mandou langsung menerkam dan menggigit leher tebal piton tersebut. Taring Mandou yang mengandung kekuatan hukum Kuno menembus sisik kristal merah yang dibanggakan monster itu layaknya menusuk tumpukan mentega panas. Piton itu menjerit dengan suara mendesis yang memekakkan telinga, darah merah mendidih menyembur ke udara.

Piton kedua tidak tinggal diam. Ia melilit dari arah sayap, berusaha menggunakan berat tubuhnya yang mencapai ribuan ton untuk meremukkan Mandou ke dinding gua.

Namun, Mandou adalah raja predator. Binatang buas itu merentangkan sayap griffin peraknya dengan sekuat tenaga. Kepakan sayap itu menciptakan bilah angin bertekanan tinggi yang langsung menyayat kulit kristal piton kedua, menciptakan percikan api saat angin bergesekan dengan batu darah, dan memaksa monster itu mundur dengan luka sobekan panjang.

Dua kepala Mandou yang lain kini ikut beraksi secara sinkron. Kepala tengah menyemburkan sinar esensi purba berwarna putih menyilaukan yang langsung membakar mata piton pertama hingga buta, sementara kepala kiri merobek dagingnya tanpa ampun. Pertarungan antar beast Ranah Kuno ini luar biasa brutal, dipenuhi oleh suara patahan tulang raksasa yang mengerikan, desisan kesakitan yang memantul di dinding, dan hujan darah yang membanjiri lorong gua kristal.

Xu Mei dan kedua jenderalnya hanya bisa berdiri terpaku, menahan napas mereka. Mata mereka membelalak menatap pertarungan itu dengan takjub sekaligus ngeri. Binatang buas milik Archduke ini mampu menahan, mendominasi, dan bahkan mencabik-cabik dua monster setingkatnya tanpa bantuan sedikit pun! Garis keturunan surgawi memang berada di dimensi hierarki yang sama sekali berbeda dengan monster mutasi benua tianlan.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tarian kematian itu usai.

Mandou menginjak kepala piton terakhir hingga remuk di bawah cakar depannya. Dengan satu gigitan brutal dari kepala utamanya, Mandou menancapkan rahangnya dalam-dalam ke jantung monster itu, dan merobeknya terbuka.

Dua buah Core Darah—inti spiritual monster yang menjadi sumber tenaga mereka—berhasil ditarik keluar. Core itu seukuran buah melon besar, berdenyut dengan energi murni Kuno tahap akhir yang sangat memabukkan. Mandou berjalan kembali ke arah tuannya dengan langkah anggun dan bangga. Ia meletakkan kedua Core berlumuran darah itu di depan sepatu bot tempur Wu Xuan, lalu duduk dengan tenang, mengibaskan ekornya pelan layaknya seekor kucing rumahan yang meminta pujian.

"Anak pintar," Wu Xuan tersenyum tipis, mengulurkan tangan dan mengelus salah satu kepala Mandou yang berlumuran darah musuh.

Ia mengambil satu Core Darah, menimbangnya sejenak di telapak tangan, lalu melemparkannya tinggi-tinggi ke udara. Mandou melompat dengan lincah dan langsung menelan Core raksasa itu bulat-bulat. Tubuh singa putih itu seketika memancarkan pendaran cahaya merah samar, mencerna nutrisi yang luar biasa besar untuk evolusi garis keturunannya.

Kini, tersisa satu Core Darah berdenyut di tangan kiri Wu Xuan.

Ia memandangi inti spiritual yang sangat berharga itu. Tanpa peringatan, mata keemasan Wu Xuan berkilat. Akar Spiritual Samudra Terdalam di dalam tubuhnya aktif dengan kecepatan komputasi setara dewa. Seutas partikel air ditarik dari kelembapan darah di udara, dipadatkan hingga mencapai ketebalan sub-mikron, dan diisi dengan tekanan air sebesar miliaran ton.

Trangg!

Dalam satu jentikan jari yang sepenuhnya tidak kasat mata, bilah air bertekanan ekstrem itu membelah Core Darah Kuno tahap akhir tersebut menjadi dua bagian yang benar-benar simetris, tanpa menumpahkan setetes pun esensi spiritualnya. Sebuah demonstrasi manipulasi elemen air yang berada di luar batas nalar kultivator biasa.

Wu Xuan melemparkan kedua potongan Core itu melewati bahu Xu Mei, mengarah lurus ke dua jenderal Utara yang masih berdiri terpukau.

Kedua jenderal itu menangkap potongan Core tersebut dengan refleks prajurit. Begitu menyadari benda apa yang kini berada di telapak tangan mereka, mata mereka nyaris melompat keluar dari rongganya. Mulut mereka ternganga lebar mencari udara.

"Y-Yang Mulia Archduke?! I-Ini... ini adalah Core monster Ranah Kuno tahap akhir! Setengah dari Core ini mengandung energi yang cukup untuk memicu perang antara jenderal militer! Ini terlalu berharga untuk kami!" seru mereka berdua, seketika menjatuhkan diri, bersujud dengan tubuh bergetar karena syok dan ketidakpercayaan.

"Ambillah," ucap Wu Xuan santai. Ia membersihkan sedikit debu dari zirah emasnya dengan sikap seorang bangsawan agung yang baru saja membagikan uang receh. "Kalian berdua sangat berani melangkah maju melawan serangan serangga kroco sebelumnya, meski tahu gravitasi ini menekan kalian. Di mataku, loyalitas dan inisiatif adalah sesuatu yang harus dihargai mahal. Gunakan Core itu untuk memperkuat pondasi sehingga saat melakukan terobosan nanti tubuh kalian cukup kuat."

Air mata keharuan, rasa syukur, dan fanatisme yang membara seketika menggenang di mata kedua jenderal veteran itu. Selama puluhan tahun mengabdi pada Duke Bei Han, mereka hanya mendapat sisa-sisa sumber daya, seperti memakan ampas dari meja perjamuan sang Duke. Namun pria ini... Archduke Xuan dari Selatan, memberikan harta tingkat tertinggi tanpa berkedip, hanya karena mereka melakukan tugas dasar mereka sebagai prajurit!

"Yang Mulia! Nyawa kami adalah milik Anda, Archduke! Dan Kami berhutang banyak pada anda!" teriak kedua jenderal itu serempak, menempelkan dahi mereka ke lantai kristal yang kotor dengan kepatuhan absolut.

Di sampingnya, Xu Mei menatap profil samping wajah Wu Xuan dengan mata yang berbinar penuh kekaguman. Hatinya yang dingin kembali bergetar. Ia mengira Wu Xuan hanya sedang bersikap murah hati dan menghargai prajuritnya. Ia merasa terharu karena Wu Xuan menghargai orang-orang yang bekerja dibawahnya.

Namun, di dalam kepalanya, jiwa mantan mahasiswa manajemen bisnis itu sedang memberikan kuliah politik makro yang sangat sinis dan gelap.

'Maafkan aku, Nyonya manis, tapi aku tidak sedang bermain Sinterklas di sini,' monolog Wu Xuan sambil mempertahankan senyum tenangnya yang mematikan. 'Di duniaku dulu, jika seorang CEO perusahaan konglomerat mati atau menghilang mendadak, istrinya tidak akan otomatis menjadi pewaris takhta perusahaan. Dewan Komisaris akan langsung merundingkan garis keturunan sah, atau menaikkan saudara laki-laki dari sang CEO untuk mengambil alih kursi kekuasaan. Hal yang sama persis berlaku di politik feodal benua kultivasi ini.'

Mata Wu Xuan melirik sekilas ke arah Xu Mei yang masih memandangnya dengan tatapan memuja.

'Jika kabar hilangnya Bei Han bocor dan tidak bisa ditutupi lagi, para Tetua Agung Utara tidak akan pernah menyerahkan kursi pemerintahan kepada Xu Mei begitu saja. Dia hanyalah Nyonya Utama, sebuah simbol komando militer dan aliansi pernikahan, bukan darah bangsawan keluarga Bei. Satu-satunya cara agar Xu Mei bisa naik takhta menjadi boneka penguasaku yang sah... adalah dengan melakukan kudeta militer dan politik secara elegan.'

'Itulah yang membuatku tidak langsung membunuh Bei Han, karena saat dia mati, plat jiwanya pasti hancur. Dan komando wilayah utara akan semakin jauh dari genggamanku.'

Wu Xuan melirik ke arah dua jenderal yang bersujud. 'Dan untuk melakukan kudeta tanpa pertumpahan darah rakyat, aku membutuhkan suara para jenderal militer dan dukungan milisi garis depan. Dua potong batu monster ini adalah suap receh, modal investasi kecil-kecilan untuk membeli kunci takhta Wilayah Utara secara permanen. Kesetiaan yang dibeli dengan rasa syukur adalah kesetiaan yang paling sulit untuk dihancurkan.'

Sebuah perhitungan strategis yang sangat dingin, kejam, namun realistis, tersembunyi sempurna di balik topeng kemurahan hati seorang dewa pahlawan.

Sementara intrik politik, suap, dan pembantaian monster terjadi di sudut gelap perbatasan, sebuah rapat darurat tengah berlangsung dengan tensi yang mencekik di Ibukota Kekaisaran Great Yan yang bermandikan cahaya emas.

Di dalam Ruang Strategi Surgawi, Kaisar Yan Tian duduk membeku di atas singgasananya. Di hadapannya, tiga orang agen mata-mata tingkat tinggi kekaisaran—dikenal sebagai Bayangan Elang—baru saja menyelesaikan laporannya. Ibu Suri Yan Mei'er berdiri di sisi takhta, mendengarkan dengan alis bertaut sangat tajam, meremas tasbih giok di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Ulangi bagian terakhir laporanmu, dan pastikan setiap suku katanya adalah kebenaran mutlak," titah Kaisar Yan Tian, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan dan secercah ketakutan.

Sang ketua agen rahasia menelan ludah. "Lapor, Yang Mulia Kaisar. Sepuluh ribu pasukan bantuan kita tiba terlambat di Utara. Namun... Gelombang Beast Tide yang mengancam meruntuhkan Wilayah Utara telah dihancurkan sepenuhnya... oleh satu orang."

"Archduke Xuan turun tangan secara langsung," agen itu gemetar sebelum melanjutkan rincian yang paling tidak masuk akal. "Ia mengeksekusi empat monster Ranah Kuno tahap akhir dalam satu tebasan pedang. Dan... saksi mata dari seluruh prajurit Utara mengonfirmasi hal ini dengan mata kepala mereka sendiri. Archduke Xuan memiliki sebuah Pedang Tingkat Primordial dan memiliki Roh pedang tingkat kuno akhir. Roh pedang itu bermanifestasi menjadi seekor Naga Hitam bersayap kelelawar, dengan tinggi mencapai 120 meter, yang menyemburkan api hitam dan melahap puluhan ribu monster yang berlarian dalam sekejap."

BRAAK!

Kaisar Yan Tian menggebrak meja gioknya hingga retak. "Naga Hitam?! Roh Pedang setinggi seratus dua puluh meter?! Wu Xuan... berapa banyak kekuatan yang disembunyikan Serigala Tua itu di belakang kita?!"

Ibu Suri Yan Mei'er menatap kosong ke arah peta proyeksi Kekaisaran Great Yan di tengah ruangan. Selama ini, Keluarga kekaisaran membiarkan Keluarga Wu tetap hidup selama ini karena mereka dahulu sangat loyal akan perintah, memiliki kekuatan, memiliki kekayaan moneter, sepenuhnya setia menjaga perbatasan Selatan.

"Umur Wu Xuan ada di 400 tahun lebih, jika dia ada di ranah kuno, dia terbilang generasi tua, namun saat ini ranahnya adalah primordial suci yang usia normal mereka mampu mencapai 4000 tahun yang membuat Wu Xuan terasa seperti generasi muda." Gumam Yan Tian. "Tanpa leluhur agung, ditakutkan kekaisaran akan terguncang."

"Berhenti memikirkan spekulasi yang buruk, Tian'er," bisik Ibu Suri dengan wajah memucat, insting politik lamanya membaca niat di balik tindakan sang Archduke.

"Ibu, Dia sengaja menahan pasukannya di Selatan, lalu datang sendirian, dan memamerkan kekuatannya di hadapan jutaan rakyat Utara. Dia tidak hanya menyelamatkan tembok mereka; dia telah merebut hati, pikiran, dan moral seluruh prajurit Utara dalam satu pertarungan. Bagi mereka sekarang, pahlawan penyelamatnya bukanlah Kekaisaran Great Yan yang lambat, melainkan Archduke Xuan." Ucap Kaisar Yan Tian bersandar di takhtanya, kepalanya terasa berdenyut hebat.

Keseimbangan kekuasaan telah bergeser secara brutal. Namun, di tengah kepanikan itu, ada satu pertanyaan ganjil yang tiba-tiba melintas di pikiran analitis sang Kaisar.

"Tunggu dulu..." gumam Kaisar, matanya menyipit. "Gelombang monster itu mengamuk selama empat hari berturut-turut. Tembok utara nyaris runtuh. Jutaan nyawa rakyatnya berada di ujung tanduk. Lalu... di mana Duke Bei Han berada? Bagaimana mungkin seorang maniak perang, membiarkan rumahnya hancur berantakan dan membiarkan istrinya memohon bantuan ke musuh politik masa lalunya?"

Di saat yang sama, jauh di Wilayah Barat yang dipenuhi oleh tebing-tebing curam dan badai pedang abadi.

Duke Xi Dong, pria tua berambut putih terurai yang memanggul pedang iblis merah di punggungnya, baru saja memenggal kepala seorang tetua sekte asing yang mencoba menginvasi perbatasannya. Ia mengusap cipratan darah musuh dari wajahnya saat ajudan setianya, yang mengendarai rajawali angin, mendarat dan membawakan gulungan laporan rahasia dari jaringan mata-mata Utara.

Setelah membaca isi gulungan laporan itu, mata Duke Xi Dong yang setajam elang menyipit berbahaya.

"Wu Xuan... benar-benar berbeda sekarang, dia semakin kuat..." gumam Duke Xi Dong, suaranya bercampur antara kekaguman seorang kultivator dan kewaspadaan absolut seorang penguasa.

Namun, sama seperti yang terjadi di ruang takhta Kaisar, otak strategis Duke Xi Dong dengan cepat menangkap kesalahan paling fatal dari peristiwa megah ini. Ia menatap ke arah langit utara yang selalu tertutup mendung.

"Bei Han adalah pria yang serakah akan darah dan sumber daya. Jika ada empat monster purba yang keluar dari sarang hutan, dia pasti sudah memburu mereka di garis depan demi merampas Corenya. Tidak mungkin monster seperti dia hanya diam bersembunyi di dalam istananya," Duke Xi Dong bergumam pelan. Firasat buruk yang sangat dingin mulai mencengkeram hatinya. "Kecuali... dia tidak bisa bergerak. Atau yang lebih buruk lagi... anjing gila Utara itu dihilangkan dari papan catur tanpa ada satu orang pun yang sadar."

Kecurigaan mulai menyebar seperti racun yang tak terlihat di benak para penguasa dunia.

Kembali ke perbatasan hutan Wilayah Selatan, jauh dari intrik paranoid ibukota dan badai es di utara.

Di tengah hutan perbatasan yang liar, ujian takdir yang dirancang oleh Archduke Xuan untuk ketiga putranya sedang berlangsung dengan sangat epik.

Di sektor barat yang gersang, tepat di dasar sebuah tebing yang berbentuk mengerikan layaknya tengkorak gagak raksasa, Wu Shan berdiri terengah-engah. Zirah tempurnya robek di banyak tempat, dan tubuh atletisnya dipenuhi luka goresan dalam. Darah segar menetes dari ujung jarinya. Namun, matanya menyala dengan terangnya ambisi.

Di tangannya, ia memegang sebuah perkamen kuno yang memancarkan energi hukum Primordial. Ia baru saja menghancurkan ilusi formasi pelindung gua tersebut setelah pertarungan berdarah melawan sisa-sisa penjaga aura formasi.

Saat tangannya menggenggam kuat gulungan itu, energi pencerahan mengalir deras layaknya air bah ke dalam meridiannya. Batas kultivasi yang menyumbat dantiannya selama ini hancur seketika. Aura di tubuh pemuda yang dulunya arogan dan manja itu meledak ke luar, menciptakan pusaran angin di dasar tebing, dan secara stabil menembus dinding penghalang, mencapai Ranah Roh tahap awal.

"Hahaha! Aku berhasil! Dengan ini aku akan membuktikan pada ibu bahwa aku tidak akan membuatnya kecewa!" tawa Wu Shan bergema di dalam gua kosong itu. Matanya berkaca-kaca menatap kekuatan barunya. "Warisan tingkat Primordial ini... dengan ini, aku tidak akan kalah dari siapapun! Ayahanda, aku akan membuktikan bahwa akulah pedangmu yang paling tajam!"

Setelah berhasil mengambil warisan mereka pergi ke tempat lain, di kedalaman rawa beracun yang mematikan, Wu Ling sedang bersila di atas daun teratai raksasa, menahan rasa sakit yang luar biasa. Racun hijau bercahaya merayap di pembuluh darah lehernya saat ia berusaha mati-matian menaklukkan sebuah pedang pusaka berbentuk taring yang ia cabut dari dasar danau hijau zamrud.

Di sekeliling danau, bangkai puluhan monster rawa buaya beracun berserakan. Wu Shan, yang telah menyelesaikan misi pribadinya, berdiri tak jauh dari sang kakak dengan pedang berlumuran darah kental. Meskipun Wu Shan terus menggerutu, menyumpah serapah, dan menatap saudara tirinya dengan tatapan sinis, ia tetap menebas dan menghancurkan setiap monster rawa yang mencoba merangkak mengganggu proses penyerapan Wu Ling. Sumpah darah di hadapan ayah mereka terlalu mengerikan untuk dilanggar, dan ambisi untuk mendapatkan salah satu dari tiga wilayah kekaisaran jauh lebih besar dari dendam kekanak-kanakan mereka.

"Cepatlah sedikit, Anak Haram sialan!" bentak Wu Shan, menebas putus kepala seekor katak mutasi. "Aku tidak punya waktu seharian menjadi anjing penjaga pintu untukmu di tempat bau ini!"

"Tutup mulutmu anak jalang dan tebas saja monster di belakangmu," desis Wu Ling dengan keringat dingin mengucur deras. Tiba-tiba, pedang racun di pangkuannya beresonansi sempurna dengan dantiannya. Ledakan Qi berwarna hijau pekat menyapu rawa, secara paradoks membersihkan kabut racun alami di sekitarnya.

Kultivasi Wu Ling melonjak drastis, secara paksa ditarik ke atas menembus kemacetan, memasuki Ranah Roh tahap awal. Ia berdiri perlahan, matanya memancarkan cahaya hijau yang tenang namun mematikan. Ia menoleh ke arah Wu Shan.

"Aku berhutang nyawa padamu hari ini, Saudara Sialan," ucap Wu Ling, mengucapkan gelar 'Saudara' untuk pertama kalinya dengan rasa hormat yang aneh. "Tapi jangan harap aku akan mengalah jika kita bertarung nanti."

"Cui. Bermimpilah," balas Wu Shan dengan dengusan angkuh, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.

Sementara kedua adik itu saling berdebat dengan ego yang masih membara—namun secara aneh mulai terikat dalam sebuah benang persaudaraan tempur—di atas sebuah bukit mati yang jauh dari rawa, Wu Guan berdiri mengawasi mereka berdua dalam diam.

Pangeran Mahkota yang baru diangkat itu tidak ditugaskan mencari harta karun benda mati. Pedang di tangannya basah oleh darah puluhan kultivator Iblis buronan dan bandit bayaran yang mencoba menyusup ke wilayah perbatasan mereka untuk memanfaatkan momen. Ia telah melindungi adik-adiknya dari ancaman manusia di balik bayang-bayang.

Melihat bagaimana Wu Shan, yang dulunya memandang rendah dan sangat membenci Wu Ling, pada akhirnya mau mengayunkan pedang untuk melindungi adik tirinya itu saat ia paling rentan, Wu Guan akhirnya memahami pesan filosofis sejati dari sang Archduke.

Ayahanda tidak hanya memberikan pancingan kekuatan kepada mereka. Beliau sedang memaksa kami untuk membuang kebencian di meja makan, dan memupuk rasa saling percaya di medan kematian, batin Wu Guan.

Pencerahan tentang tanggung jawab absolut seorang komandan, beban seorang kakak tertua, dan beratnya mahkota kepemimpinan membuat lautan spiritual di dalam dantian Wu Guan bergejolak hebat. Pemahaman Dao-nya mengenai peran "Pelindung" meningkat pesat. Tanpa bantuan pil, tanpa menyerap warisan kuno, aura alam semesta di sekitarnya tersedot secara alami menyatu ke dalam tubuhnya. Wu Guan melangkah mantap menembus batas Ranah Roh tahap awal dengan fondasi jiwa yang paling kokoh dan murni di antara ketiganya.

Tiga pangeran Keluarga Wu telah lahir kembali dari api tempaan menjadi tiga predator muda yang siap mengguncang dunia.

Kembali ke kedalaman Tambang Kristal Merah yang mengisolasi diri dari dunia luar.

Mayat kedua Piton Darah telah mendingin dan membeku di lantai gua. Suasana di dalam tambang kembali menjadi hening, namun keheningan ini terasa jauh lebih berat, mencekik, dan mengintimidasi daripada sebelumnya.

Wu Xuan berdiri membelakangi mayat-mayat itu. Zirah emasnya memancarkan pendaran cahaya ilahi yang redup di tengah kegelapan pekat. Ia menatap ke arah ujung lorong yang semakin melandai turun, menuju perut gua yang sesungguhnya. Formasi anti-penerbangan dan tekanan gravitasi di titik batas ini terasa nyaris sepuluh kali lipat lebih kuat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencoba meremas tubuh mereka.

Ia melirik ke arah Xu Mei yang masih mengatur napasnya yang memburu di balik perlindungan bahu lebarnya.

"Dua kroco penjaga gerbang sudah diurus," gumam Wu Xuan pelan. Senyum seorang tiran yang sangat menantikan pembantaian kembali menghiasi wajah tampannya. Ia menarik gagang Pedang Pelahap Dunia dari balik pinggang zirah spasialnya. Bilah hitam legam itu mendengung pelan, bergetar menyalurkan rasa haus darah.

"Sekarang," bisik Wu Xuan, matanya yang keemasan berkilat menembus kegelapan lorong tambang, "waktunya kita turun ke dasar untuk menyapa pemilik rumah yang sesungguhnya."

Bersambung...

1
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 51 thor bikin ibu suri itu ketakutan semua orang suruhan sudah mati di bantai wuxuan
Fajar Fathur rizky
yan maer malah memperkuat wuxuan cepat naikin ranah kultivasi sampai ranah tribulasi dunia tahap puncak
Fajar Fathur rizky
bikin wuxuan menunjukkan kekuatan alkemisnya thor bikin kedua leluhur itu ketakutan bikin kedua leluhur itu menjadi boneka perang wuxuan
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 50
Fajar Fathur rizky
cepat bikin bab 48 bikin wuxuan dapat hadiah besar thor protagonis itu gagal
Fajar Fathur rizky
thor gambar yan meli mana thor
EGGY ARIYA WINANDA: Nanti kalau wu xuan udah pulang ke selatan dinasti.
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 46
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 45 thor
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan licik orang yang mau meracuni klanya bikin bantai bikin orang yang mau meruntuhkan tambang spritual juga di bantal semua sampai tak tersisa bikin faksi ibu kota ketakutan bikin wuxuan meracuni semua anggota Kekaisaran great yan termasuk kedua leluhur itu bikin ranah kultivasi mereka turun sampai ranah primordial suci tahap awal bikin mereka menua
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan bikin pil racun yang menurunkan ranah kultivasi kedua leluhur itu sampai ranah primordial suci tahap awal thor bikin wuxuan licik
Fajar Fathur rizky
bikin semua orang yang di suruh itu mati oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
yan maier yang ada elu yg bakal di taklukkan oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
bikin Kekaisaran great yan bangkrut thor
Fajar Fathur rizky
bikin nanti bantai leluhur itu dan kaisar Kekaisaran great yan dengan cara paling kejam thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin wuxuan bantai para pembunuh itu dengan cara paling kejam thor bikin tubuh mereka jadi makanan hewan kontraknya
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 44 thor
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi wuxuan sampai ranah tinggi thor pengen liat dia bantai kaisar Kekaisaran great yan termasuk dua leluhur itu dan taklukin ibu suri itu thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin ranah kultivasi yan dobu dan yan chaoran turun sampai ranah primordial suci tahap awal
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 43 thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!