"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Rina dan Bima Berdua
...GAMON...
...Bab 29: Rina dan Bima Berdua...
...POV Rina & Bima...
---
Selasa – 09.00 WITA
Villa di Umalas – Ruang Tamu
Matahari naik tinggi. Sinar masuk lewat jendela besar, bikin seluruh ruangan keemasan. Debu-debu kecil menari di udara.
Tapi Rina nggak lihat itu.
Dia lihat Bima. Duduk di sofa seberang. Ponsel di tangan—tapi kali ini dia sadar. Karena Rina liat dia letakin ponsel di meja. Jauh. Kayak sadar itu sumber masalah.
Mereka udah sarapan. Roti bakar, telur, kopi. Bima makan lahap. Rina juga—tapi nggak ngerasa apa-apa. Lidahnya mati rasa.
Setelah sarapan, mereka duduk di ruang tamu. Ada rencana ke Uluwatu siang nanti. Tapi sekarang, masih pagi. Waktu kosong.
Dan Rina nggak mau nunggu sampe malem.
"Bim."
"Hmm?"
Rina tatap dia. Matanya lurus. Nggak lari.
"Aku mau ngomong. Sekarang."
Bima kaget. Ada sesuatu di matanya—bukan marah, tapi waspada. Kayak orang yang tahu ada badai datang.
"Ngomong apa?"
Rina ambil napas. Dalam. Dadanya naik turun.
"Semalem, pas lo ke toilet, aku liat ponsel lo."
Bima membeku.
"Aku nggak sengaja. Aku mau deketin lo dari belakang. Tapi pas jarak tinggal tiga langkah, aku liat layar ponsel lo."
Bima masih diem. Tangannya di pangkuan—mulai mengepal.
"Foto cewek. Rambut panjang. Senyum lebar. Pegang es krim."
Rina ngomong pelan. Setiap kata kayak ditimbang.
"Siapa dia, Bim?"
Diam. Panjang.
Bima nunduk. Matanya ke lantai. Kayak nyari jawaban di antara serat kayu.
"Bim." Rina panggil lagi. Suaranya mulai bergetar. "Aku minta lo jawab."
"Keana."
Satu nama. Keluar pelan. Kayak orang ngelepas beban yang udah lama dipikul.
Rina nahan napas. Dada sesak. Tapi dia udah tahu. Udah dari semalem. Jadi nggak kaget. Cuma... sakit. Sakit yang dalem. Sakit yang nggak teriak, tapi nyekik.
"Keana," ulang Rina. "Mantan lo."
Bima angguk. Masih nunduk.
Rina liat puncak kepala Bima. Rambutnya agak panjang. Dulu dia suka elus itu. Sekarang tangannya kaku di pangkuan.
"Kenapa lo masih simpan fotonya, Bim?"
Bima diem.
"Kenapa lo masih buka chat lama? Kenapa lo masih kirim pesan 'maafin aku' ke dia? Kenapa—"
"Karena gue belum bisa lupain dia."
Bima angkat muka. Matanya merah. Kayak orang yang baru sadar dia udah ngomong sesuatu yang nggak bisa ditarik.
Rina diem. Dunianya berhenti.
Dia denger kata itu. Belum bisa lupain. Telinganya nggak salah denger. Tapi hatinya nggak mau nerima.
"Lo... lo belum bisa lupain dia?"
Bima nggak jawab. Tapi matanya—matanya jawab.
Rina nunduk. Tangannya di pangkuan—nggegem erat. Kuku nyakar telapak. Sakit. Tapi nggak sebanding sama sakit di dada.
"Rin—"
"Jangan." Rina potong. Suaranya pecah. "Jangan bilang 'tapi aku sayang kamu' atau 'tapi kamu yang aku pilih'. Karena itu nggak cukup, Bim. Itu nggak pernah cukup."
Bima diem.
"Aku tahu. Aku tahu lo sayang aku. Tapi sayang lo... sayang yang kayak gimana? Sayang yang masih nyimpen foto mantan? Sayang yang masih kirim chat minta maaf di bulan madu? Sayang yang pas tidur, mungkin lagi mimpiin dia?"
Air mata Rina jatuh. Nggak bisa ditahan lagi.
"Itu sayang atau kasihan, Bim?"
Bima kaget. "Bukan kasihan—"
"Terus apa?!" Rina naik suara. Pertama kali dalam setahun lebih kenal Bima, dia teriak. "Aku udah kasih semuanya! Aku udah sabar! Aku udah nunggu! Aku udah nerima lo apa adanya! Tapi ternyata... ternyata aku cuma jadi pelarian. Tempat lo singgah sambil nyembuhin luka dari dia."
Bima nggak bisa jawab. Mulutnya kering. Tangannya gemetar.
"Rin, gue—"
"Lo mau bilang apa? Lo mau bilang 'maaf'? Lo udah bilang itu ke dia. Di chat yang lo kirim. 'Maafin aku.' Itu buat dia, kan?"
Bima nunduk lagi. Air mata jatuh. Satu. Dua. Banyak.
"Iya."
Rina tutup muka. Nangis. Nangis kayak nggak ada hari esok.
---
09.30 WITA
Masih di Ruang Tamu yang Sama
Mereka nggak ngomong. Cuma suara tangis. Dan angin dari luar.
Rina pertama yang tenang. Dia hapus air mata. Tarik napas panjang.
"Bim."
Bima angkat muka. Matanya sembab.
"Aku nggak minta lo lupain dia dalam sehari. Aku juga nggak minta lo jadi sempurna. Tapi aku minta lo jujur."
Rina tatap dia.
"Lo... masih cinta sama dia?"
Pertanyaan itu. Pertanyaan yang selama ini dia takut tanyakan. Pertanyaan yang jawabannya bisa hancurin segalanya.
Bima diem. Lama. Kayak lagi perang di dalam.
"Gue... nggak tahu, Rin."
Rina nahan napas.
"Gue sayang lo. Beneran. Tapi rasa itu... rasa yang gue punya buat dia... beda. Bukan cinta lagi. Tapi... bayangan. Yang nggak bisa gue usir."
Rina tatap dia. Lama.
"Lo mau usir?"
Bima kaget.
"Lo mau usir bayangan itu? Lo mau berusaha? Atau lo mau terus-terusan kayak gini, sementara aku di sini, nunggu lo pulang dari masa lalu?"
Bima nggak bisa jawab.
Rina berdiri. Jalan ke jendela. Lihat ke luar. Sawah. Hijau. Damai.
Tapi hatinya nggak damai.
"Aku nggak akan minta lo milih sekarang. Tapi aku minta lo mikir. Beneran mikir."
Dia balik. Tatap Bima.
"Apa yang lo mau? Beneran mau? Bukan karena lo kasihan sama aku. Bukan karena lo takut sendiri. Tapi karena lo beneran mau sama aku."
Bima berdiri. Jalan mendekat.
"Rin, gue—"
"Jawab nanti." Rina potong. Lembut. "Aku nggak mau lo jawab sekarang. Aku mau lo jawab pas lo yakin."
Bima diem.
"Tapi satu hal." Rina tatap matanya. "Selama lo masih nyimpen fotonya. Selama lo masih buka chat lamanya. Selama lo masih mikirin dia pas kita lagi bareng... selama itu, aku nggak akan pernah merasa jadi istri lo. Aku cuma jadi... tamu yang tinggal di rumah lo."
Dia jalan ke kamar. Sebelum masuk, dia berhenti.
"Aku ke kamar dulu. Lo... pikirin."
Pintu kamar tertutup. Pelan. Nggak dibanting.
Bima di ruang tamu. Sendirian. Matahari masih bersinar. Tapi rasanya dingin.
---
10.30 WITA
Balkon Belakang
Bima duduk di kursi bambu. Ponsel di tangan. Buka galeri. Foto Keana. Masih di situ.
Dia tatap lama.
Kenapa gue masih simpan ini?
Kenapa gue nggak bisa hapus?
Kenapa gue lebih milih nyakitin Rina daripada ngelepas foto ini?
Tangannya di atas tombol hapus. Jari gemetar.
Hapus, Bim. Hapus!
Dia tekan.
"Hapus foto?"
Layar nanya konfirmasi.
Bima pejam mata. Bayangan Keana muncul. Ketawa. Pegang es krim. Rambut berantakan.
"Selamat tinggal, Kean."
Dia tekan HAPUS.
Foto itu hilang.
Bima liat galeri. Kosong. Nggak ada foto Keana lagi. Udah. Ilang.
Tapi kenapa dadanya masih sesak? Kenapa air mata jatuh?
Dia hapus foto. Tapi bayangannya masih ada. Di kepala. Di hati. Di mana-mana.
---
11.00 WITA
Kamar Tidur – Rina
Rina duduk di tepi ranjang. Cincin di jarinya diputer-puter lagi.
Pintu terbuka. Bima masuk.
Rina angkat muka. Matanya merah. Tapi nggak nangis lagi.
"Rin."
Bima duduk di sampingnya.
"Gue hapus fotonya."
Rina kaget. "Semua?"
"Iya."
Rina diem. Liat Bima. Matanya—masih merah. Masih basah.
"Kenapa lo nangis?"
Bima geleng. "Nggak tahu."
Rina tatap dia. Lalu ambil tangannya.
"Lo nangis karena lo hapus dia. Bukan karena lo milih aku."
Bima kaget. Mau jawab. Tapi Rina pegang tangannya erat.
"Nggak usah jawab. Gue cuma mau lo tahu. Gue nggak akan maksa lo lupain dalam sehari. Tapi gue juga nggak akan bisa bertahan kalau lo terus-terusan nangisin masa lalu."
Rina berdiri.
"Sekarang, kita masih di Bali. Masih bulan madu. Aku mau nikmatin sisa waktu kita di sini. Tapi pas kita pulang... kita harus mutusin."
"Mutusin apa?"
Rina tatap dia.
"Mau lanjut atau nggak. Karena aku nggak bisa hidup setengah-setengah."
---
Bersambung ke Bab 30: Sisa Waktu di Bali
---
...📝 Preview Bab 30:...
Sisa waktu di Bali mereka lalui dengan biasa. Ke pantai. Makan enak. Foto bareng.
Tapi di balik senyum dan tawa, ada keputusan besar yang menggantung.
Rina mulai pertanyakan segalanya. Bima mulai sadar, dia harus memilih.
Bab 30: Sisa Waktu di Bali—segera!
---