NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Langkah kaki Rionegro terdengar santai saat ia memasuki cafe yang sudah terlalu familiar baginya.

Pintu kaca terbuka pelan.

Suara lonceng kecil di atasnya berdenting singkat.

Aroma kopi langsung menyambut—hangat, kuat, dan entah kenapa selalu berhasil membuat suasana terasa lebih ringan.

Cafe itu tidak terlalu ramai siang itu. Beberapa mahasiswa duduk berkelompok, ada yang mengerjakan tugas, ada yang sekadar mengobrol. Suara sendok yang beradu dengan cangkir, mesin kopi yang sesekali berbunyi, dan percakapan pelan yang bercampur jadi satu.

Rionegro melangkah masuk, matanya menyapu ruangan tanpa terburu-buru.

Dan seperti yang sudah ia duga—Di salah satu sudut dekat jendela, Savira sudah duduk santai.

Satu kaki disilangkan, tangannya memegang gelas kopi dingin, dan wajahnya… jelas terlihat bosan menunggu.

Begitu melihat Rionegro, ekspresinya langsung berubah.

“Anjir, akhirnya muncul juga,” celetuknya tanpa basa-basi.

Rionegro mendekat, menarik kursi di depannya, lalu duduk dengan santai.

“Gue juga baru kelar kelas,” jawabnya singkat.

Savira menyipitkan mata. “Alasan klasik.”

Rionegro hanya mendengus kecil.

Seorang pelayan datang, dan Rionegro memesan makan siang sederhana seperti biasa. Tidak banyak variasi. Tidak pernah berubah.

Savira memperhatikannya sebentar.

“Lo tuh ya…” gumamnya.

“Apa?” tanya Rionegro tanpa menoleh.

“Selera makan lo flat banget.” ejek Savira bercanda.

“Yang penting kenyang.” balas Rionegro tak peduli.

Savira langsung tertawa kecil. “Gila, hidup lo juga flat nggak sih?”

Rionegro meliriknya datar. “Lo banyak ngomong.”

Savira hanya menyeringai.

Beberapa detik hening. Tidak canggung. Memang tidak pernah canggung di antara mereka.

Lalu Savira tiba-tiba bersandar ke kursi, menatap Rionegro dengan ekspresi sedikit lebih serius—tapi masih santai.

“Eh.”

“Hm?” Berdeham sambil Rionegro menolehkan kepalanya menatap Savira.

“Gue mau minta maaf.” kata Savira.

Rionegro mengangkat alis sedikit. “Kenapa?”

“Yang semalem.”

Rionegro diam sebentar.

Savira melanjutkan, “Restoran yang gue ajak itu. Gue nggak jadi dateng.”

Rionegro mengangguk kecil. “Gue tau.”

“Tapi, lo tetap kesana kan?” tanya Savira

“Iya.”

Savira langsung meringis. “Sumpah, gue minta maaf. Tiba-tiba ada urusan keluarga. Nggak bisa ditinggal.”

Rionegro mengambil gelas air di depannya, meneguknya sebentar. “Gue nggak masalah.”

“Serius?” tanya Savira.

“Iya.” Jawab Rionegro singkat.

Savira memperhatikannya beberapa detik. “Lo nggak kesel?”

Rionegro menggeleng pelan. “Buat apa?”

Savira menghela napas lega, lalu tertawa kecil. “Ya gue kira lo bakal ngomel.”

“Gue bukan lo.” Jawab Rionegro.

“Ya jelas,” balas Savira cepat.

Mereka tertawa kecil.

Suasana kembali ringan.

Makanan datang.

Mereka mulai makan tanpa terburu-buru.

Beberapa menit berlalu dengan obrolan ringan yang tidak penting—tentang mahasiswa, dosen lain, dan hal-hal kecil yang mengisi waktu.

Sampai akhirnya—Savira menatap Rionegro lagi dengan ekspresi yang sedikit berubah.

Lebih… penasaran.

“Eh.” Savira kembali membuka pembicaraan.

“Apa lagi?” tanya Rionegro.

“Lo pagi ini ngapain?” tanya Savira santai.

Rionegro tidak langsung menjawab.

Ia memotong makanannya pelan.

Lalu berkata santai, “Sarapan.”

Savira memutar bola matanya. “Ya gue tau. Maksud gue… ada yang menarik nggak?”

Rionegro diam sebentar.

Lalu, entah kenapa… ia menjawab. “Gue ketemu dia lagi.”

Savira langsung berhenti makan.

“Dia?” tanya Savira bingung.

Rionegro menatapnya datar. “Cewek yang gue ceritain kemarin.”

“Yusallia?” tebak Savira cepat.

“Iya.” jawab Rionegro cepat.

Savira langsung menyeringai lebar. “Wah…”

Rionegro menghela napas kecil. Kemudian berkata "Kita cuman ga sengaja ketemu di cafe deket apartemen gue.”

Savira menaruh sendoknya. Mencondongkan tubuhnya ke depan. “Serius?”

Rionegro mengangguk.

“Dia ternyata kerja di rumah sakit deket situ.”

Savira menatapnya beberapa detik. Lalu, tiba-tiba tertawa. “Gila sih ini.”

Rionegro mengernyit. “Apanya?”

“Lo sadar nggak sih?” tanya Savira dengan nada menggoda.

“Sadar apa?” tanya Rionegro balik tak mengerti.

“Ini udah berapa kali lo ketemu dia?” tanya Savira lagi.

Rionegro berpikir sebentar. “Dua.”

“Dan dua-duanya nggak direncanain.” kata Savira.

Rionegro tidak menjawab.

Savira menunjuknya. “Itu yang gue bilang menarik.”

“Cuma kebetulan.” elak Rionegro.

Savira langsung terkekeh. “Lo tuh ya…”

“Kenapa?” tanya Rionegro bingung.

“Denial banget.” Kata Savira sambil tersenyum kecil.

Rionegro menatapnya datar. “Nggak ada yang perlu didenial.”

Savira bersandar lagi, menyilangkan tangan. “Oke, gue tanya simpel.”

“Apa?” tanya Rionegro.

“Menurut lo… ini beneran cuma kebetulan?” tanya Savira sambil mendekatkan wajahnya ke Rionegro sedikit.

“Iya.” jawab Rionegro singkat dan cepat.

Jawaban Rionegro yang cepat. Terlalu cepat.

Memunculkan senyum tipis pada Savira. “Yakin?”

“Yakin.” Jawab Rionegro lagi.

Savira menggeleng pelan, lalu berkata santai tapi dengan nada jahil yang jelas. “Gue sih ngeliatnya… kayaknya mungkin lo sama cewek itu jodoh.”

Rionegro langsung menatapnya tajam.“Lo mulai.”

Savira tertawa kecil. “Apa sih? Gue cuma bilang kemungkinan.”

“Nggak ada yang namanya jodoh kayak gitu.” sergah Rionegro pada Savira.

“Kenapa respon lo begitu?” tanya Savira

Rionegro diam sebentar.

Lalu menjawab, suaranya tetap tenang. “Karena hal kayak gitu nggak realistis.”

Savira mengangkat alis. “Nggak realistis atau lo nggak mau percaya?”

Rionegro tidak langsung menjawab. Ia kembali makan. Seolah tidak tertarik melanjutkan.

Tapi Savira tidak berhenti.

“Lo ketemu cewek yang sama dua kali, di situasi yang nggak direncanain, di tempat yang beda… dan lo masih bilang itu biasa aja?” Kata Savira.

“Biasa aja. mungkin hanya kebetulan saja” elak Rionegro.

Savira mendesah kecil. “Ya ampun.”

Rionegro meliriknya. “Apaan sih?”

Savira tersenyum miring. “Oke, gini aja.”

Rionegro menatapnya curiga. “Apa?”

Savira mengangkat satu jari. “Kalau lo ketemu dia lagi.”

Rionegro mengernyit. “Lagi?”

“Iya.” jawab Savira.

“Terus?” tanya Rionegro.

Savira menyeringai dan melanjutkan perkataannya. “Untuk ketiga kalinya. Secara nggak sengaja lagi.”

Rionegro menatapnya tanpa ekspresi.

“Baru lo harus ngaku… mungkin emang ada sesuatu.” Kata Savira masih sambil menyeringai.

Rionegro langsung menggeleng. “Nggak.”

Savira tertawa. “Takut?”

“Nggak ada yang perlu ditakutin.” Kata Rionegro cepat.

“Yaudah,” Savira mengangkat bahu. “Kita lihat aja nanti.”

Rionegro mendengus kecil. “Lo kebanyakan drama.”

“Dan lo terlalu kaku.” Balas Savira sambil mengendikkan bahu.

“Bagus.” jawab Rionegro.

“Dan itu bikin lo makin boring.” balas Savira.

Rionegro sedikit tersenyum.Sangat tipis.

Percakapan mereka kembali mengalir ke hal lain.

Lebih ringan.

Lebih santai.

Seolah topik tadi hanya selingan.

Tapi entah kenapa… tetap tertinggal di kepala.

Waktu makan siang berlalu tanpa terasa.

Piring mereka hampir kosong.

Minuman tinggal setengah.

Savira melirik jam di tangannya. “Gue ada kelas.”

Rionegro mengangguk. “Gue juga.”

Mereka berdiri hampir bersamaan.

Tidak banyak basa-basi.

Sudah terlalu terbiasa.

“Gue duluan ya,” kata Savira sambil mengambil tasnya.

“Iya.” jawab Rionegro.

Savira berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.

Menoleh ke arah Rionegro.

“Eh.”

Rionegro mengangkat alis. “Apa lagi?”

Savira tersenyum jahil. “Semoga ketemu lagi ya sama cewek itu.”

Rionegro menghela napas panjang. “Lo…”

Savira tertawa kecil. “Bye.”

Dan ia pergi.

Meninggalkan Rionegro yang hanya bisa menggeleng pelan.

____________________________________________

Beberapa detik kemudian, Rionegro juga berjalan keluar dari cafe.

Langkahnya tetap santai dan tenang, seperti biasa. Tapi pikirannya. Tidak sepenuhnya sama seperti tadi.

Satu kalimat itu. Masih tertinggal.

'Kalau ketemu lagi untuk ketiga kalinya' pikirnya

Rionegro menghela napas pelan.

“Mustahil,” gumamnya.

Tapi entah kenapa—Ia tidak benar-benar yakin.

Dan itu… sedikit mengganggunya.

Sedikit saja.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!