Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kingdom Conqueror
Putri Lily menatap keluar jendela kereta dengan pandangan serius dan penuh ketelitian. Inilah kerajaan yang telah ditakdirkan baginya sebagai tempat bernaung, tanah asing yang namanya hanya pernah ia dengar dari buku-buku ayahandanya. Ia tidak pernah benar-benar hidup di tengah rakyat Agartha. Moonveil adalah dunianya, napasnya, rumah yang membesarkannya. Namun hanya dari perjalanan singkat ini saja, Lily dapat menilai dengan jernih: Kingdom Conqueror berada jauh di depan Agartha… lebih sejahtera, lebih tertata, dan jelas lebih maju.
Jalan-jalan lebar terbentang rapi, dilapisi batu pahat yang disusun presisi. Bangunan-bangunan tinggi berjajar, pilar-pilar yang dihiasi oleh ukiran simetris berdiri kokoh. Saluran air mengalir di sisi jalan, dan penjaga kota berdiri teratur di setiap persimpangan.
Suka tidak suka, Putri Lily harus mengakui satu hal: King Cristopher adalah raja yang berhasil.
Kerajaannya bergerak menuju masa keemasan, bukan hanya dengan kekuatan militer, tetapi juga dengan tata kelola yang matang. Harapan perlahan tumbuh di hatinya, bahwa kedua kakaknya akan membawa Agartha menuju kejayaan serupa.
Rakyat telah berbondong-bondong, berkumpul di sepanjang jalan. Suara langkah kaki, bisikan penasaran, dan seruan kagum bercampur menjadi satu. Mereka berdiri di balik pagar besi berlambang elang, menantikan satu sosok yaitu calon ratu masa depan mereka.
Kereta memasuki gerbang Istana Kingdom Conqueror yang menjulang megah, jauh melampaui apa pun yang pernah Lily lihat. Arsitekturnya mencerminkan peradaban yang lebih maju dari zamannya. Dinding batu menjulang tinggi, dipahat halus dengan relief penaklukan dan persatuan. Pilar-pilar raksasa menopang balkon-balkon bertingkat, sementara menara-menara ramping menjulang ke langit, masing-masing berujung runcing dengan lambang elang berkepala dua di atasnya.
Gerbang utama terbuat dari baja tempa tebal dengan ukiran rumit, bukan hanya indah, tetapi jelas dirancang untuk bertahan dari perang. Di halaman dalam, air mancur besar memancarkan air jernih yang mengalir melalui sistem saluran, sebuah keajaiban teknik yang menunjukkan kecanggihan kerajaan ini.
Iringan musik orkestra istana menggema memenuhi udara, nada-nada megah dari instrumen logam dan gesek berpadu, menciptakan suasana yang sakral. Aula-aula utama istana telah dipenuhi para bangsawan Kingdom Conqueror. Mereka mengenakan pakaian terbaik: mantel panjang berbordir emas, gaun berlapis sutra dan renda halus, perhiasan batu mulia yang berkilau di bawah cahaya. Segalanya tampak terlalu sempurna, seperti sebuah perayaan besar.
Kereta istana yang membawa King Cristopher dan Putri Lily tidak berhenti di gerbang utama. Ia berbelok, melaju menuju pintu masuk samping istana… jalur khusus keluarga kerajaan. Roda kereta berhenti tepat di bawah kanopi, lalu pintu terbuka.
Para pelayan segera berbondong-bondong datang, bergerak serempak dengan disiplin yang terlatih. Mereka menunduk dalam-dalam, dengan tangan terlipat rapi di depan dada.
“Selamat datang di Istana, Your Majesty. Selamat datang, Putri.” ucap mereka serempak, suaranya penuh hormat.
King Cristopher turun lebih dulu. Wajahnya tetap dingin, tanpa sedikit pun emosi yang bisa dibaca. Ia hanya maju satu langkah, lalu berkata singkat namun tegas.
“Persiapkan dia sekarang!”
Nada suaranya bukan permintaan, melainkan perintah mutlak.
Para pelayan kembali menunduk. “Baik, Your Majesty.”
“Tunggu…” suara Lily terdengar tiba-tiba, nadanya naik karena panik. Ia menoleh ke sekeliling, matanya menyapu halaman istana dengan cepat. “Eri… di mana Eri? Aku tidak melihat kereta lain.”
Cristopher berhenti melangkah. Tubuhnya diam, namun ia tidak menoleh sedikit pun ke belakang.
“Dia berada di tempat yang aman,” katanya datar, seolah membicarakan sebuah barang, bukan makhluk hidup yang berarti segalanya bagi Lily.
Tanpa memberi ruang untuk percakapan lebih lanjut, ia melanjutkan langkahnya. Arick, pengawal pribadinya, mengikutinya dengan setia di belakang.
Lily mendengus pelan, kekesalan bercampur kecemasan memenuhi dadanya. Ia belum sepenuhnya percaya pada istana ini, pada dinding-dinding megah yang terasa asing, pada senyum para pelayan yang terlalu terlatih, pada kerajaan yang belum ia pahami. Tanpa Eri di sisinya, rasa aman itu terasa timpang.
“Mohon ampun, Putri.” seorang pelayan wanita mendekat dengan suara lembut namun tergesa. “Kami akan membantu mempersiapkan Anda, sebab pendeta telah menunggu di balai pernikahan.”
“A-apa?” Lily tertegun. Tak menyangka pernikahan itu akan tiba dengan cepat.
Belum sempat ia memprosesnya, lima pelayan telah bergerak. Tangan-tangan halus menuntunnya maju, menyeret dengan kuat namun tetap menjaga kesopanan. Mereka berjalan cepat, melewati lorong-lorong panjang yang diapit pilar-pilar tinggi dan dilapisi karpet merah tua.
“Eh… tunggu dulu. Aku masih ingin mencari Eri.” protes Lily, namun tidak ada yang berhenti.
Pintu besar terbuka. Ruang persiapan pengantin menyambutnya dengan cahaya terang, aroma bunga putih, dan kain-kain mahal yang tergantung rapi. Cermin tinggi berdiri di dinding, memantulkan bayangan seorang putri yang baru saja kehilangan kendali atas waktunya sendiri.
Putri Lily didudukkan di kursi tinggi berlapis beludru pucat. Pelayan-pelayan bergerak pelan. Jari-jari mereka yang terlatih mulai melepaskan kepangan rambut keemasan itu dengan sangat hati-hati.
“Tidak.”
Tangan Lily terangkat, menahan rambutnya sebelum satu helai pun terlepas sepenuhnya. Suaranya tidak keras, namun tegas dan tak memberi ruang untuk dibantah.
“Aku ingin tetap dikepang,”
Para pelayan saling pandang, ragu. Salah satu dari mereka memberanikan diri berkata, “Tapi, Putri… rambut Anda seharusnya disanggul sesuai aturan Kingdom Conqueror.”
Tatapan Lily terangkat ke wajah pelayan. Tak ada amarah di sana, hanya keteguhan yang membuat siapa pun mengerti bahwa ini bukan permintaan melainkan perintah.
Pelayan itu terdiam lama, lalu menunduk hormat.
“Baik, Putri.”
Mereka mengubah rencana. Kepangan tidak dilepas, melainkan dirapikan ulang. Rambut Lily dikepang ke samping, jatuh anggun mengikuti garis bahunya. Beberapa helai halus dibiarkan membingkai wajahnya, dihias sederhana dengan ornamen bunga kecil yang indah.
Wajah Lily begitu halus, kenyal, dan bersih. Mereka menyentuhnya dengan hati-hati, nyaris tak berani. Bedak hanya disapukan tipis, sekadar meratakan warna. Bibirnya disentuh pewarna alami yang nyaris tak terlihat. Mata itu, tak perlu dipertegas dengan apa pun, sebab sorotnya sudah mengatakan segalanya lewat tatapan.
Para pelayan sempat mengira sebelumnya sang putri mengenakan riasan halus dari negerinya. Namun kini, di bawah cahaya ruang persiapan, mereka menyadari kebenarannya. Tidak ada riasan atau tipu daya kecantikan. Wajah sang putri, merupakan karunia yang alami.
Diam-diam, kekaguman tumbuh di hati mereka. Kecantikan Putri Lily merupakan kecantikan yang tenang dan nggun. Pahatan wajah asing ini belum mereka pahami sepenuhnya, namun terlihat… indah.
Lily menatap bayangannya sendiri, menyentuh kepangan rambut itu lembut. Kepangan yang mengingatkannya pada irama pagi di hutan Moonveil, ketika ibundanya mengepang rambutnya dengan lembut.
Ibunda…
Temani aku ya…
Ayahanda…
Jangan biarkan aku ragu.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author