Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Rencana Pendaftaran
Malam itu, kamar Liana hanya diterangi oleh lampu meja yang temaram dan cahaya dari layar laptop yang menyala terang. Di luar, sisa-sisa hujan sore tadi masih menetes pelan dari talang air, menciptakan irama monoton yang biasanya membuat Liana cepat mengantuk. Tapi malam ini beda. Mata Liana segar benderang, seolah baru saja menenggak tiga cangkir espresso tanpa gula.
Jemari Liana bergerak lincah di atas keyboard. Fokusnya cuma satu: mesin pencari Google. Ia mengetikkan kata kunci yang belum pernah terpikirkan sebelumnya selama hidupnya yang cukup jauh dari dunia olahraga.
“UKM Basket Universitas Cakrawala pendaftaran.”
Enter.
Dalam sekejap, berbagai informasi muncul. Ada foto-foto kegiatan tahun lalu, daftar prestasi, hingga jadwal latihan rutin. Liana menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk men-scroll layar ke bawah. Ia berhenti tepat di sebuah foto lama yang diunggah akun resmi UKM tersebut. Di sana, di pojok kiri atas, ada sesosok pria yang sangat ia kenali. Justin.
Meski dalam foto itu Justin hanya memakai jersey latihan dan tidak menghadap kamera sepenuhnya, Liana tahu itu dia. Postur tubuhnya yang tegak dan cara dia memegang bola itu sangat khas.
"Jadi beneran dia kapten atau inti di situ?" gumam Liana.
Ia segera beralih ke Instagram. Dengan jantung yang berdebar aneh, ia mengetik nama "Justin" di kolom pencarian. Sialnya, nama Justin itu pasaran. Ada ratusan Justin di luar sana. Liana mencoba mencari lewat pengikut akun basket kampus tadi. Setelah membolak-balik daftar yang panjangnya minta ampun, matanya menangkap satu akun: @justin.adhinata.
Akun itu di-private. Foto profilnya hanya gambar hitam putih yang diambil dari samping. Dingin, misterius, persis seperti orangnya. Liana menghela napas panjang. Ia ingin memencet tombol Follow, tapi gengsinya masih terlalu besar.
"Nanti kalau gue follow, dia mikir gue siapa? Mahasiswi baru yang gatal?" gerutunya kesal pada diri sendiri.
Liana menutup laptopnya dengan suara brak yang lumayan keras. Ia butuh bantuan. Dan hanya ada satu orang yang bisa ia ajak kerjasama dalam kegilaan ini. Liana meraih ponselnya dan mencari kontak bernama Dhea.
Dhea adalah teman sejak SMA yang juga masuk ke kampus yang sama dengan Liana, meskipun beda fakultas. Dhea itu enerjik, supel, dan yang paling penting: dia punya banyak relasi.
Tut... tut... tut...
"Halo, Li? Tumben banget lo telepon malem-malem. Kangen ya?" suara cempreng Dhea langsung memenuhi telinga Liana.
"Dhe, lo lagi apa? Sibuk nggak?" tanya Liana, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar terlalu antusias.
"Nggak sih, lagi maskeran aja sambil nonton drakor. Kenapa? Tegang banget suara lo."
Liana menggigit bibir bawahnya. "Dhe... lo mau nggak ikut UKM bareng gue?"
"Hah? UKM apa? Arts? Atau jurnalistik? Lo kan hobi nulis sama lukisan."
"Bukan, UKM Basket" jawab Liana cepat.
Hening sejenak di seberang sana. Liana bisa membayangkan Dhea yang sedang melotot sampai maskernya retak.
"Hah?! Basket?! Li, lo sehat? Terakhir kali kita olahraga bareng pas SMA, lo hampir pingsan lari keliling lapangan dua putaran. Sekarang lo mau masuk UKM Basket yang latihannya kayak militer itu? Kesambet setan apa lo?"
Liana memutar bola matanya. "Ya elah, gue kan mau memulai gaya hidup sehat, Dhe. Gue ngerasa akhir-akhir ini badan gue lemes banget. Lagian, basket kan seru, bisa nambah tinggi badan juga."
"Bohong banget lo," Dhea tertawa mengejek. "Lo pasti ada maunya kan? Hayo ngaku! Lo naksir anak basket ya? Siapa? Si Kevin yang anak mesin itu? Atau si Dimas anak kedokteran?"
Jantung Liana mencelos. "Ih, apaan sih! Enggak lah. Gue murni pengen olahraga aja. Serius!"
"Nggak percaya gue. Eh, tapi bentar... lo tau nggak siapa yang megang UKM Basket sekarang?" suara Dhea mendadak berubah jadi nada berbisik yang penuh gosip.
"Siapa emang?" tanya Liana, pura-pura tidak tahu.
"Ada namanya Kak Justin. Anak Ekonomi. Gila, Li, itu orang cakepnya nggak ada obat! Tapi ya gitu, dingin banget kayak es batu di freezer. Katanya sih dia jarang banget ngomong sama cewek kalau nggak penting. Lo kalau masuk situ jangan harap bisa tebar pesona sama dia, yang ada malah kena semprot kalau main lo jelek."
Liana berusaha menahan senyumnya agar tidak terdengar dari suara. "Oh ya? Segalak itu? Gue malah nggak tau. Emang dia setenar itu ya?"
"Tenar banget! Dia tuh kayak pangeran sekolah tapi versi gelapnya. Banyak yang bilang dia sombong, tapi ada juga yang bilang dia emang tertutup aja sejak ada masalah keluarga gitu. Eh, kok lo malah nanyain dia? Katanya mau hidup sehat?"
Liana tersentak. "Ya kan lo duluan yang bahas! Gue cuma nanya doang."
"Ya udah, kalau lo emang niat, besok ada pendaftaran terakhir di gedung olahraga. Gue sih ayo-ayo aja kalau ada temennya. Tapi lo beneran siap ya disuruh lari-lari?"
"Siap, Dhe! Tenang aja, gue bakal latihan fisik mulai besok," ucap Liana dengan semangat yang meluap-luap.
"Oke deh. Jam empat sore ya di Gedung Olahraga. Jangan telat lo! Gue mau lanjut drakoran lagi. Bye, Li!"
"Bye, Dhe. Thanks ya!"
Liana mematikan teleponnya dan langsung melempar ponselnya ke bantal. Ia berguling ke sana kemari sambil memeluk guling erat-erat. Rencananya berhasil. Setidaknya, ia punya alasan legal untuk berada di satu lapangan yang sama dengan Justin setiap minggunya.
Ia kembali duduk di tepi tempat tidur, menatap ke arah jendela yang masih basah. Bayangan Justin yang mendribel bola di bawah hujan kembali muncul di benaknya. Ia ingat betapa dinginnya sorot mata pria itu, namun justru itulah yang membuatnya penasaran.
Something about you...
Liana teringat potongan lirik lagu The 1975 itu lagi. Memang benar, ada sesuatu pada Justin yang membuat Liana tidak bisa lupa. Sesuatu yang membuatnya rela meninggalkan zona nyamannya hanya untuk bisa melihat pria itu lebih dekat.
"Gue nggak peduli dia dingin atau galak," bisik Liana pada dirinya sendiri. "Gue cuma pengen tau, apa yang bikin dia sesedih itu."
Liana beranjak ke lemari pakaiannya. Ia mulai mengobrak-abrik isinya, mencari baju olahraga yang paling layak dipakai. Ia menemukan sebuah kaus putih polos dan celana training hitam. Ia mencobanya di depan cermin besar di kamarnya.
"Oke, Liana. Besok petualangan lo dimulai," katanya sambil mengepalkan tangan di depan cermin.
Ia tahu ini tidak akan mudah. Ia tahu Justin mungkin tidak akan pernah melihatnya. Tapi bagi Liana, asalkan ia bisa mendengar gema suara langkah sepatu Justin di lantai lapangan, itu sudah cukup untuk saat ini. Ia akan menghitung setiap detik kehadirannya di dekat Justin, mulai dari nol.
Malam itu, Liana tidur dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya sedang berdiri di tengah lapangan basket yang gelap, dan Justin berjalan mendekatinya sambil membawa sebuah payung biru besar, melindungi mereka berdua dari hujan yang tak kunjung reda.