Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Rumah istri Ustadz Yusuf, Mbak Sarah, selalu memberikan suasana tenang bagi Kinan.
Harum teh melati dan interior kayu yang hangat sedikit banyak meredakan ketegangan di hatinya.
Athar sudah asyik bermain di taman belakang bersama anak bungsu Mbak Sarah, meninggalkan kedua wanita itu untuk berbicara empat mata di teras samping.
Mbak Sarah tersenyum lebar sambil menyodorkan sebuah kotak beludru biru tua.
Pertemuan Kinan dengan istri Ustadz Yusuf yang ternyata sudah menyiapkan kejutan untuk karier Kinan itu pun dimulai.
"Ini kejutan untukmu, Kinan. Teman-temanku di pengajian pusat sudah melihat sketsa desain perhiasanmu yang kemarin. Mereka bukan hanya ingin kontrak kerjasama, tapi mereka sepakat memberikanmu modal untuk membuka boutique-workshop sendiri atas namamu," ucap Mbak Sarah bersemangat.
Namun, Mbak Sarah menyadari ada yang salah. Kinan tidak tampak bahagia.
Matanya sayu dan jarinya terus meremas ujung jilbabnya sendiri.
"Ada apa, Kinan? Kamu tidak suka kejutannya?" tanya Mbak Sarah, nada suaranya berubah cemas.
Kinan menunduk dalam, air mata yang ia tahan sejak pagi akhirnya luruh juga.
"Mbak, aku ada masalah. Apa aku dosa, Mbak, jika tidak memberikan nafkah batin kepada suamiku?"
Mbak Sarah tersentak, ia meletakkan cangkir tehnya perlahan.
Ia tidak menyangka pembicaraan akan mengarah ke hal yang sangat pribadi.
"Aku masih ragu, Mbak. Kami sejak menikah belum melakukan malam pertama," lanjut Kinan dengan suara yang nyaris hilang karena malu dan pedih.
"Astaghfirullah, Kinan..." Mbak Sarah menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.
"Sudah selama itu? Dan sampai sekarang, setelah semua yang kalian lalui, kamu masih belum bisa?"
Kinan menggeleng lemah. "Aku takut, Mbak. Setiap kali dia menyentuhku, aku teringat saat dia menghinaku dengan sebutan itu. Aku merasa badanku kotor lagi setiap dia mendekat. Aku merasa dia melakukannya hanya karena 'kewajiban' atau 'nazar', bukan karena dia benar-benar menghormatiku sebagai wanita baik-baik."
Mbak Sarah menghela napas panjang, ia berpindah duduk ke samping Kinan dan merangkul bahunya.
"Secara hukum agama, melayani suami adalah kewajiban. Tapi agama kita juga tidak buta, Kinan. Allah melihat luka hatimu. Hubungan suami istri itu harus didasari rasa sakinah, ketenangan. Bagaimana bisa tenang jika hatimu masih dipenuhi trauma?"
Kinan terisak di bahu Mbak Sarah. "Lalu aku harus bagaimana, Mbak? Aku tidak mau jadi istri durhaka, tapi aku juga belum sanggup."
Mbak Sarah mengusap punggung Kinan dengan lembut, membiarkan wanita muda itu menumpahkan segala sesak yang membatu di dadanya.
Ia tahu, luka Kinan bukan sekadar luka di kulit yang bisa sembuh dengan perban, melainkan luka di harga diri yang terkoyak.
"Kinan, dengarkan Mbak," ucap Mbak Sarah dengan nada yang sangat tenang dan bijak. "Dalam Islam, hubungan suami istri itu disebut mitsaqan ghalizha, perjanjian yang sangat kuat. Tapi hubungan itu juga harus dijalani dengan ma’ruf, dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang."
Kinan mendongak, matanya yang sembah menatap Mbak Sarah dengan penuh tanya.
"Kamu tidak durhaka karena sedang terluka, Kinan. Namun, membiarkan luka ini membusuk tanpa diobati juga tidak baik untukmu, untuk Adnan, apalagi untuk Athar," lanjut Mbak Sarah.
"Luka batin itu nyata. Terkadang, kita butuh perantara untuk menyembuhkannya."
Mbak Sarah mengambil tangan Kinan, menggenggamnya erat.
"Mbak sarankan, sebaiknya kamu dan Adnan melakukan terapi atau konseling pernikahan."
Kinan tertegun. "Konseling? Maksud Mbak, ke psikolog?"
"Iya. Atau ke konselor pernikahan profesional yang mengerti agama sekaligus kejiwaan. Kalian butuh pihak ketiga yang netral untuk membantu mengurai benang kusut ini. Adnan perlu belajar bagaimana cara memulihkan rasa amanmu, dan kamu perlu bantuan untuk melepaskan trauma masa lalu yang kembali menghantuimu karena ucapannya."
Mbak Sarah menatap lurus ke mata Kinan. "Katakan pada Adnan, jika dia benar-benar mencintaimu, dia harus mau menemanimu berobat secara mental. Ini bukan hanya soal nafkah batin, Kinan. Ini soal kesembuhan jiwamu. Jangan paksa dirimu jika belum siap, tapi jangan juga menutup pintu untuk sembuh."
Kinan terdiam, merenungkan setiap kata yang keluar dari bibir Mbak Sarah.
Konseling terasa seperti sesuatu yang asing di lingkungannya, namun ia menyadari bahwa ia memang tidak bisa menanggung beban ini sendirian.
"Apakah Mas Adnan akan mau, Mbak? Dia seorang Ustadz, mungkin dia merasa bisa menyelesaikan semuanya dengan doa saja," bisik Kinan ragu.
"Jika dia Ustadz yang bijak, dia akan tahu bahwa ikhtiar itu ada dua: ikhtiar langit dengan doa, dan ikhtiar bumi dengan mencari ahli yang tepat. Mintalah dia membuktikannya padamu," jawab Mbak Sarah dengan senyum menguatkan
Sore itu, langit jingga mengantar kepulangan Kinan dan Athar.
Hati Kinan sedikit lebih tenang setelah menumpahkan segala keluh kesahnya pada Mbak Sarah.
Setelah itu Kinan pulang ke rumah. Meski tubuhnya masih terasa lelah, ia ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya.
Sesampainya di rumah, ia kembali memasak untuk makan malam.
Aroma tumis kangkung dan ayam goreng lengkuas mulai memenuhi dapur.
Memasak adalah caranya bermeditasi, cara untuk membuktikan bahwa ia masih bisa memegang kendali atas hidupnya sendiri.
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar di garasi.
Adnan datang dari bekerja dengan wajah yang tampak letih namun langsung tersenyum saat melihat Kinan di dapur.
Ia hendak mendekat, namun Kinan memintanya untuk mandi terlebih dahulu.
"Mas mandi dulu, ya. Biar segar sebelum makan malam," ucap Kinan lembut namun tetap menjaga jarak.
Adnan mengangguk patuh. Ia menyadari bahwa Kinan sedang berusaha membangun ritme rumah tangga yang normal, meski kepingan hatinya belum sepenuhnya menyatu.
Setelah mandi, Kinan duduk menunggu suaminya di ruang tengah.
Ia meremas jemarinya sendiri, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan apa yang disarankan Mbak Sarah.
Saat Adnan keluar dengan pakaian koko yang bersih, Kinan menarik napas panjang. Kinan menyampaikan usul konseling ini kepada Adnan.
"Mas, tadi aku bicara dengan Mbak Sarah. Aku rasa kita butuh bantuan profesional. Aku ingin kita ikut konseling pernikahan," ucap Kinan lirih.
Reaksi Adnan awalnya menolak karena merasa malu. Ia tertegun, wajahnya memerah.
"Konseling? Kinan, Mas ini seorang Ustadz. Mas sering memberikan nasihat pernikahan kepada orang lain. Apa kata orang kalau tahu kita pergi ke psikolog atau konselor? Masalah kita bisa kita selesaikan dengan doa dan istigfar, Sayang."
Mendengar itu, bahu Kinan merosot. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Bukan soal apa kata orang, Mas. Tapi soal aku yang tidak bisa bernapas setiap kali kamu mendekat. Aku ingin sembuh, tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri jika kamu terus menganggap ini hanya soal kurang ibadah."
Adnan terdiam melihat air mata yang mulai membasahi pipi istrinya.
Kesedihan Kinan yang begitu dalam menembus dinding egonya.
Ia menyadari bahwa statusnya sebagai pemuka agama tidak membuatnya kebal dari kesalahan manusiawi yang menghancurkan mental orang yang ia cintai. Namun akhirnya Adnan luluh melihat kesedihan Kinan.
"Maafkan Mas, baiklah. Kalau itu yang membuatmu merasa aman dan bisa sembuh, Mas akan ikut. Mas buang rasa malu itu demi kamu," bisik Adnan sambil mendekat, namun ia berhenti tepat sebelum menyentuh tangan Kinan, menghormati ruang pribadinya.
Tepat saat itu, langkah kecil berlari mendekat ke arah mereka.
Athar muncul dengan wajah ceria dan perut yang tampaknya sudah tidak bisa diajak kompromi.
"Ayah, Bunda, ayo makan malam! Athar lapar!" seru bocah itu sambil menarik-narik ujung baju koko Adnan.
Ketegangan di ruang tengah itu seketika mencair. Adnan dan Kinan saling bertatapan sejenak, memberikan senyum tipis yang penuh dengan kesepakatan baru.
Mereka berjalan menuju meja makan, menggandeng Athar di tengah-tengah.
Malam ini, bukan hanya rasa lapar Athar yang terobati, tapi juga harapan baru yang mulai tumbuh di hati Kinan..
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅