Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Salju Saint Petersburg turun dengan tenang di luar jendela kaca besar rumah keluarga Volkov, namun di dalam ruangan, suasana terasa mencekam. Theodore, yang kini telah tumbuh menjadi pemuda berusia 17 tahun dengan tinggi badan yang menyamai ayahnya dan sorot mata sedalam samudera, berdiri mematung di depan laptopnya.
Jarinya yang panjang bergerak cepat di atas track pad, membuka sebuah situs eksklusif: Texas Global Business Catalog. Ini adalah katalog digital paling bergengsi di Amerika, tempat di mana silsilah kekaisaran bisnis dan daftar pewaris takhta miliarder divalidasi.
Tiba-tiba, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Ma... Ayah... kalian harus melihat ini," suara Theo rendah namun penuh penekanan.
Rose, yang sedang merapikan sketsa perhiasannya, mendekat diikuti oleh Nikolai yang baru saja meletakkan mantelnya. Di layar itu, terpampang tajuk utama yang menggemparkan:
"The Return of the Prodigal King: Nikolai Volkov Confirmed as Sole Heir to the Volkov Empire."
Di bawah tajuk itu, sebuah foto besar yang sangat rapi ditampilkan. Itu adalah foto Nikolai dan Rose. Namun, Rose tahu benar mereka tidak pernah mengambil foto itu bersama dalam sepuluh tahun terakhir.
"Ini... ini teknologi AI," bisik Rose, tangannya gemetar menutupi mulutnya. "Mereka mengambil foto lama kita dan menyatukannya, membuat kita seolah-olah sedang berdiri berdampingan dengan bahagia di depan mansion Texas."
Nikolai membaca baris demi baris teks di bawah foto tersebut dengan rahang yang mengeras. Viktor dan Helen tidak hanya mengembalikan nama Nikolai ke dalam wasiat, mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih ekstrem: mereka mengakui kesalahan mereka di hadapan publik tanpa sedikit pun rasa malu, demi menarik pulang putra mereka.
Surat kabar Amerika tidak lagi memberitakan skandal atau pelarian. Narasi yang dibangun sekarang adalah narasi kepahlawanan: Nikolai Volkov, sang visioner, sengaja menetap di Rusia untuk membangun kerajaannya sendiri dari nol sebagai ujian karakter, didampingi istrinya yang setia, Rose Moore. Kini, setelah ujian itu terlampaui, keluarga besar menantikan kepulangan sang putra mahkota beserta cucu rahasia keluarga Volkov untuk menerima warisan miliaran dolar.
Rose mulai terisak. Air matanya jatuh bukan karena haus akan harta itu, melainkan karena melihat wajahnya sendiri diakui sebagai "Nyonya Volkov" di situs resmi keluarga. Setelah belasan tahun dihina sebagai gadis yatim piatu tak jelas dan wanita bekas, kini namanya tertulis dengan tinta emas sebagai permaisuri dari kerajaan bisnis terbesar di Texas.
"Mereka menyerah, Nik," bisik Rose di sela tangisnya. "Ayah dan ibumu... mereka membuang semua ego mereka demi melihatmu kembali. Mereka bahkan mengakui aku di depan dunia."
Theodore menatap ayahnya. Ia melihat mata Nikolai yang biasanya dingin seperti es Rusia, kini memerah. Ada kemarahan yang tersisa, namun ada juga duka yang amat dalam. Nikolai teringat pada Alexander—putra kecilnya yang meninggal di tengah dinginnya kemiskinan saat ayahnya membekukan semua aset mereka. Nikolai teringat pada malam-malam di mana Rose harus menahan lapar agar Theo kecil bisa makan dengan layak.
Uang miliaran dolar itu kini ditawarkan kembali di atas piring perak, setelah Viktor dan Helen menyadari bahwa harta mereka tidak akan bisa dibawa ke liang lahat tanpa seorang pewaris.
"Ayah..." Theo memecah keheningan. "Surat kabar bilang mereka menantikan kita. Mereka ingin aku dan Ayah kembali untuk mengambil apa yang seharusnya milik kita. Apa... apa kita akan kembali, Yah?"
Nikolai tidak segera menjawab. Ia berjalan menuju jendela, menatap gelapnya malam Saint Petersburg. Di sana, di luar sana, ia telah membangun hidupnya dengan keringat dan darah. Ia telah melihat istrinya dihina dan anaknya mati karena keangkuhan orang tua di Texas.
Perlahan, Nikolai berbalik. Ia menatap Theodore dengan tatapan yang paling jujur yang pernah ia berikan pada putranya.
"Tidak," jawab Nikolai singkat, padat, dan penuh luka.
"Kenapa, Nik?" Rose bertanya dengan lembut, menyentuh lengan suaminya. "Mereka sudah meminta maaf secara terbuka. Mereka sudah mengakuimu."
Nikolai menggenggam tangan Rose, menariknya mendekat. "Karena permohonan maaf mereka lahir dari rasa kesepian, Rose, bukan dari rasa sesal yang tulus. Mereka menginginkanku kembali karena mereka tidak punya siapa-siapa lagi untuk memegang uang itu. Tapi di mana mereka saat Alexander bernapas untuk terakhir kalinya? Di mana mereka saat kau ditampar oleh Asher dan dihina oleh media karena rencana ibuku?"
Nikolai menatap Theodore. "Theo, duniaku adalah di sini. Di tempat di mana kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Aku tidak ingin kau tumbuh besar di tengah kemewahan yang dibangun di atas penderitaan ibumu. Miliaran dolar itu... itu hanyalah tumpukan kertas berlumuran darah Alexander."
Rose menangis semakin keras, menyadari betapa dalam luka yang dipendam Nikolai selama ini. Nikolai memilih untuk tetap menjadi "orang biasa" di Rusia daripada menjadi raja di Texas, karena ia tahu bahwa kebebasan dan ketenangan jiwanya tidak memiliki label harga.
"Biarkan mereka dengan katalog mewah mereka," lanjut Nikolai, suaranya kini kembali stabil. "Biarkan mereka menunggu di mansion kosong itu. Aku sudah memilih jalanku tujuh belas tahun yang lalu, dan jalanku adalah bersamamu dan Theo. Tanpa Texas, tanpa warisan, tanpa mereka."
Theodore mengangguk paham. Ia melihat ayahnya bukan sebagai pengecut yang melarikan diri, melainkan sebagai pria paling perkasa di dunia yang mampu menolak takhta demi kehormatan keluarganya.
Malam itu, katalog digital Texas tetap menyala, memamerkan kekayaan yang tak terhitung jumlahnya. Namun di Saint Petersburg, Nikolai mematikan laptopnya. Ia memeluk istri dan anaknya, merasakan kehangatan yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh emas mana pun di dunia. Viktor dan Helen mungkin memenangkan narasi publik, tetapi Nikolai telah memenangkan hidupnya.
"Kita akan tetap di sini," bisik Nikolai. "Di tempat di mana kita benar-benar hidup."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰