Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aku berbalik tanpa menunggu jawaban darinya. Langkahku lebar dan terburu-buru, menciptakan bunyi dentum pantofel yang tajam di atas lantai granit koridor. Aku terus menatap lurus ke depan, mengabaikan beberapa rekan kerja yang menyapa. Dadaku naik-turun, udara di sekitarku terasa menipis seolah oksigen telah habis disedot oleh ego Baskara yang setinggi langit itu.
Begitu sampai di meja kerjanya, aku mengempaskan tubuh ke kursi. Tanganku terkepal kuat di bawah meja hingga kuku-kukuku memutih.
Sampah.
Kata itu terus berdenging di telingaku. Aku yang mengucapkannya, tapi entah kenapa hatiku sendiri yang merasa teriris. Aku marah—marah pada diriku yang dulu begitu brengsek, tapi aku juga muak pada Baskara yang kini menggunakan setiap kesempatan untuk menghakimiku seolah aku adalah kriminal paling keji di dunia.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang menghimpit ulu hati. Di depanku, layar komputer masih menyala, menampilkan deretan angka yang kini tampak seperti semut-semut yang mengejekku.
"Na? Kamu nggak apa-apa?" suara siska rekan di sebelahku, tapi aku hanya memberikan anggukan kaku tanpa menoleh.
Pandanganku tanpa sengaja jatuh pada botol minum di sudut meja. Aku teringat bagaimana tadi Rasya merapikan dasinya. Betapa "sempurna" wanita itu di mata Baskara sekarang. Dan aku masa lalu yang dulu tidak pernah memperhatikan
"Dia benar," bisikku pada diri sendiri, suaranya tenggelam oleh bising mesin fotokopi. "Aku memang sisa kotoran yang tidak pantas ada di hidupnya yang sudah bersih."
Air mata sialan itu hampir jatuh lagi, tapi aku segera mengusapnya kasar dengan punggung tangan. Aku tidak boleh terlihat lemah. Jika Baskara ingin aku menjadi 'sampah' yang dingin dan tidak berperasaan seperti dulu, maka akan kulakukan. Aku akan profesional, setidaknya sampai kontrak kerjaku di perusahaan ini berakhir.
Namun, saat aku hendak mulai mengetik, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal: "Aruna, ini Rasya. Nanti makan siang bareng, yuk? Ada hal yang ingin aku tanyakan soal pekerjaan... dan mungkin soal Baskara."
Jantungku mencelos. Apakah Rasya mulai mencurigai sesuatu, atau ini hanyalah awal dari siksaan lain?
Pesan itu seperti sebuah bom waktu yang siap meledak di genggamanku. Aku menatap layar ponselku lama, mengabaikan Siska yang mulai melirik curiga ke arahku. Haruskah aku menolak? Tapi menolak hanya akan membuatku terlihat seperti pengecut yang lari dari bayang-bayangnya sendiri.
Dengan jari yang masih sedikit gemetar, aku mengetik balasan singkat. “Boleh, Rasya. Di kafe seberang kantor jam satu?”
Hanya butuh beberapa detik hingga balasan masuk: “Oke, sampai ketemu nanti!”
Jam-jam berikutnya terasa seperti siksaan yang lambat. Aku mencoba fokus pada laporan di depan mata, namun bayangan Rasya yang merapikan dasi Baskara terus menghantui. Apa yang ingin ia tanyakan? Apakah Baskara menceritakan sesuatu? Ataukah intuisi perempuan Rasya telah menangkap sesuatu yang tidak beres di antara kami tadi pagi?
Tepat jam satu siang, aku melangkah keluar menuju kafe yang sudah kami janjikan. Dari kejauhan, aku sudah melihat Rasya. Ia duduk dengan anggun, tampak sangat kontras dengan diriku yang berantakan karena perasaan bersalah.
"Mbak Aruna!" ia melambai dengan ceria.
Aku memaksakan senyum, lalu duduk di hadapannya. "Hai, Rasya. Maaf menunggu lama."
"Nggak kok, aku juga baru sampai," jawabnya ramah. Ia memesankan kopi untukku sebelum aku sempat bicara. "Sebenarnya, aku mengajak Mbak makan siang karena aku butuh bantuan."
Aku menahan napas. "Bantuan apa?"
Rasya sedikit condong ke depan, wajahnya berubah serius namun tetap lembut. "Sebentar lagi ulang tahun Baskara. Aku tahu Mbak Aruna sudah lama bekerja di sini dan... yah, aku dengar Mbak juga satu universitas dulu dengan dia, kan?"
Jantungku seolah berhenti berdetak. Ternyata dia tahu kami satu kampus.
"Baskara itu orang yang sangat tertutup soal masa lalunya," lanjut Rasya, matanya menatapku tulus. "Dia jarang bercerita tentang masa kuliah atau SMA-nya. Aku merasa ada sesuatu yang pernah membuatnya sangat terluka sampai dia nggak mau membahasnya sama sekali. Aku hanya ingin memberikan kejutan yang tepat, sesuatu yang bisa menghapus sisa sedih yang kadang masih kulihat di matanya."
Setiap kata yang keluar dari mulut Rasya terasa seperti belati yang menusuk ulu hatiku. Dia ingin menghapus kesedihan yang aku ciptakan.
"Mbak Aruna," panggilnya lagi karena aku terdiam terlalu lama. "Menurut Mbak, apa yang paling Baskara sukai? Atau mungkin... Mbak tahu siapa orang di masa lalunya yang membuatnya jadi sedingin itu? Aku ingin memastikan dia benar-benar bahagia bersamaku sekarang."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Di depanku ada wanita paling baik yang pernah kutemui, meminta saran padaku—si penghancur—tentang cara menyembuhkan luka yang kubuat sendiri.
"Baskara..." suaraku tercekat.