NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

<♦

"Aku tau, kalau ngebantah ucapan suami itu dosa. Maka dari itu aku minta izin sama kamu," ucap Khaira, sambil menatap Galvin dengan tatapan teduh dan tenang.

Galvin menghembuskan napasnya dengan pelan. "Gue udah ga ngasih izin, Khaira. Kenapa lo selalu keras kepala?" tanyanya, masih terdengar santai dan tenang.

Selama di organisasi, Khaira terkenal tegas pada keputusannya, selama dia merasa bahwa apa yang dia yakini itu benar.

Bahkan Galvin sering kali mengatakan bahwa Khaira keras kepala, walaupun semua yang Khaira lakukan atas landasan yang jelas.

"Kamu ga akan ubah keputusan kamu, jadi izinin aku?" tanya Khaira kembali, dengan penuh harap, jika kali ini Galvin akan berubah pikiran, dan mengizinkannya untuk melanjutkan pekerjaan.

"Keputusan gue ga akan berubah," jawab Galvin tanpa ekspresi.

Tanpa disadari, Khaira mengerutkan bibirnya di balik cadar, menunjukkan kekecewaan atas keputusan Galvin yang tidak mengizinkannya untuk tetap di sana menyelesaikan pekerjaannya.

Mereka memasang sama-sama keras terhadap apa pun yang sudah mereka putuskan. Keduanya akan tetap mempertahankan tujuan, selama mereka belum lelah dan akhirnya salah satu dari mereka harus bisa menurunkan ego, jika ingin perdebatan itu selesai.

"Gal, izinin aku, ya? Aku merasa bersalah sama pekerjaan aku kalau pulang sebelum pekerjaannya selesai," bujuknya, tidak langsung menyerah begitu saja.

Dia mengutarakan apa yang dia rasakan, dan berharap jika Galvin akan mengizinkannya.

"Terus lo ga ngerasa bersalah kalau ngebantah ucapan suami?" tanya Galvin, membalikan perkataan Khaira sebelumnya.

Dia sudah menduga jika Khaira tidak akan langsung mendengar ucapannya, apalagi itu berkaitan dengan tanggung jawab Khaira pada pekerjaannya.

"Ishh!" Khaira mendengus pelan, sangat pelan. "Kenapa terus bahas suami?" tanyanya, mulai menyerah.

"Ya, karena gue suami lo," timpal Galvin, dengan suara sedikit keras.

Khaira langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Galvin, tetapi tidak sampai menyentuh bibir tipis dan merah alami itu.

"Shutt! Gal, jangan keras-keras. Gimana kalau ada yang dengar?"

Sorot matanya menunjukkan kekhawatiran jika benar-benar ada orang lain yang mendengar apa yang baru saja Galvin katakan.

Melihat ekspresi Khaira yang tampak begitu panik, membuat Galvin tersenyum dalam hati. Hingga sebuah ide terlintas begitu saja di benaknya untuk menjahili Khaira.

Srett!

Tanpa aba-aba, Galvin langsung menarik tangan Khaira dengan cepat, membawanya bersembunyi di balik jajaran rak buku di perpustakaan itu.

Dia menarik tubuh Khaira dengan hati-hati, kemudian memutuskan tubuh Khaira dan menyudutkannya pada rak perpustakaan.

Dia dapat memastikan bahwa pergelangan kaki Khaira tidak akan terluka karena hal yang baru saja dia lakukan terhadap istri sekaligus sekretarisnya itu.

Sementara Khaira, dia masih memejamkan kedua kelopak matanya, karena terkejut.

Dia tentu saja terkejut atas tindakan Galvin yang tiba-tiba saja menyudutkan punggungnya ke jajaran rak buku itu, hingga punggungnya benar-benar menempel pada buku-buku itu.

Untung saja buku-buku itu tidak jatuh, karena Galvin dengan cepat menahannya.

"Ada apa, Gal? Kenapa tiba-tiba tarik aku ke sini?" tanya Khaira bingung, dengan jantungnya yang masih berpacu kencang.

Galvin tidak menjawab. Dia masih diam, dengan menghimpit Khaira di antara dada bidangnya dan rak buku yang menjulang tinggi.

"Mundur, Gal. Aku ga bisa liat apa-apa," ucap Khaira, tanpa berani menyentuh Galvin, apalagi mendorong tubuh Galvin untuk menjauh darinya.

"Gal—" ucap Khaira, tidak tuntas, karena Galvin lebih dulu memotong ucapannya.

"Diam. Ada orang yang datang. Kecuali kalau lo mau kita berdua ketahuan," bisik Galvin tepat di samping telinga Khaira, dengan kedua mata tajamnya mengintip ke arah rak buku perpustakaan yang mengarah ke arah tangga.

"Lo mau kita ketauan ngobrol berdua di sini?" tanya Galvin, sedikit menundukkan punggungnya, karena tinggi badan Khaira jauh lebih pendek di bawahnya.

Khaira langsung menggelengkan kepala dengan cepat, "Ga mau. Jangan sampai kita ketauan."

Sialnya, ekspresi cemas Khaira terlihat menggemaskan di mata Galvin, membuat hatinya ikut berdebar kencang.

"Makanya diam," ujar Galvin sambil berusaha menenangkan diri.

"Tapi ini deket banget," gumam Khaira, merasa malu dengan jarak antara mereka yang terlalu dekat.

Dia tidak risih, karena Galvin adalah suaminya. Justru dia malah merasa nyaman sekaligus malu.

"Kamu ga mau mundur sedikit saja? Ini terlalu dekat," ungkap Khaira, jujur.

"Ga masalah. Kita udah halal, jadi bebas mau sedekat apa pun,"

sahut Galvin, dengan ringannya dia berbicara seperti itu.

"Bahkan lebih dari ini juga diperbolehkan," sambungnya kembali, dengan posisinya yang semakin dekat pada Khaira.

Situasi dan posisi yang sedekat itu, membuat Khaira gugup setengah mati. Dia ingin Galvin menjauh darinya, bukan malah semakin dekat kepadanya.

"Iya, kita memang boleh sedekat ini, karena sudah halal, tapi bukan itu masalahnya," ucap Khaira, seraya mengalihkan pandangannya dari tatapan Galvin.

Galvin menatapnya dengan tatapan yang sulit Khaira deskripsikan. Yang jelas, tatapan itu membuat Khaira gugup, hingga jantungnya semakin berdebar tidak karuan.

Detik berikutnya, dia langsung menunduk, sambil menyentuh bagian dadanya yang detakannya tidak kunjung kembali normal.

"Terus apa masalahnya?" tanya Galvin, ikut menunduk menatap Khaira.

"Masalahnya... jantung aku berdetak cepat banget," lirih Khaira, dengan terus menempelkan tangan kanannya ke dada kirinya.

"Debaran ini buat aku cape dan sulit bernapas," keluhnya lagi.

Dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini.

"Lo gerogi deket gue?" tanya Galvin, sambil tersenyum samar, sebuah senyuman ejekan untuk Khaira.

Khaira kembali menggelengkan kepalanya dengan pelan.

Dia memang gugup berada dalam jarak sedekat itu dengan Galvin, tetapi dia bisa menjamin jika rasa sesak itu bukan karena rasa gugupnya terhadap Galvin.

"Sepertinya ini bukan karena gerogi, tapi karena di sini kekurangan oksigen, jadinya aku susah napas."

Bagaimana bisa dia tidak merasa sesak, jika Galvin nyaris menghabiskan jarak di antara mereka, sehingga tidak ada ruang oksigen yang tersedia di sana.

Tubuh Khaira yang mungil, tentu saja tenggelam penuh dalam kukungan Galvin.

"Jadi lo butuh oksigen buatan?" tanya Galvin, sambil menaikkan salah satu alisnya.

Sementara Khaira, dia malah mengerutkan keningnya, karena kurang paham, maksud dari ucapan yang Galvin katakan.

"Memang oksigen dibuat oleh alam melalui tiap-tiap tahapan prosesnya, kan?" tanyanya, dengan tatapannya yang polos.

Selama ini dia belajar dalam pelajaran Biologi di sekolah mereka, tentang bagaimana proses terciptanya oksigen yang bisa digunakan manusia untuk bernapas.

"Apa yang lo pahami tentang oksigen buatan?" Galvin bertanya seperti itu hanya untuk memastikan apakah yang dia pikirkan berbeda atau sama dengan yang Khaira pikirkan, tentang oksigen buatan.

"Pemahaman aku sesuai dengan yang sudah kita pelajari di sekolah," jawab Khaira, apa adanya.

Sebuah senyuman samar terbit begitu saja di wajah tampan Galvin.

Benar dugannya, Khaira terlalu polos untuk memikirkan apa yang dia pikirkan. Sehingga pemahaman mereka tidak sejalan.

"Lo ga tau, ada oksigen buatan tanpa proses tahapan-tahapan yang dipelajari di sekolah?" tanya Galvin, santai, tetapi tampak serius.

Sehingga Khaira menanggapiinya juga dengan serius.

"Memangnya ada, ya? Prosesnya seperti apa, kalau itu berbeda dari proses yang diajarkan dalam pelajaran sekolah?" tanya Khaira, sedikit antusias dibandingkan sebelumnya.

Dia antusias, karena dia berpikir akan mendapatkan ilmu baru yang belum dia ketahui selama ini.

"Ada." Galvin meyakinkan.

"Dibuat oleh alam juga?" tanya Khaira, dengan rasa penasarannya yang semakin tinggi.

Bahkan dia sampai lupa bagaimana posisi dirinya dan Galvin saat ini.

"Jawab, Gal."

Khaira menuntut jawaban, sementara Galvin malah menatapnya dalam diam.

"Beda," jawab Galvin, begitu singkat.

Kedua alis Khaira langsung terangkat, karena tidak paham.

Sementara Galvin, dia kembali menatap Khaira dengan sorot mata yang penuh makna, hingga terukir senyum simpul di bibirnya. "Bukan oksigen yang dibuat alam," ucapnya, memperjelas ucapan sebelumnya.

Tanpa Khaira sadari, Galvin tersenyum samar penuh arti.

"Terus dibuat siapa kalau bukan dibuat alam?" tanya Khaira, memandang Galvin dengan rasa penasaran dan kebingungan yang semakin menjadi-jadi.

"Gue yang buat."

Dengan santainya dia berkata seperti itu.

Toh, Khaira juga tidak akan paham dengan maksudnya, sehingga dia bisa dengan bebas mengatakan kalimat yang mengandung pesan tersirat.

"Kamu bisa buat oksigen?"

"Hm," gumam Galvin, sebagai respon atas pertanyaan Khaira.

Maksud dia yang sebenarnya adalah dia bisa menghasilkan oksigen untuk Khaira, dengan cara menghembuskan napas melalui ciuman mereka.

Namun Khaira tidak dapat memahami maksudnya, karena istri sekaligus sekretarisnya itu terlampau polos untuk membahas perihal itu.

"Gimana caranya?" tanya Khaira, dipenuhi rasa ingin tahu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!