Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.
Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.
Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Harga dari Sebuah Empati
Keluarga Lin Feng hanyalah keluarga biasa di sebuah desa kecil. Tidak punya hubungan dengan dunia kultivasi. Tidak memiliki harta berharga atau rahasia yang layak diperebutkan.
Kecuali... Kecuali jika ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Sesuatu tentang keluarganya. Tentang Lin Tian seorang pendiri akademi yang juga bermarga Lin.
Tentang kemungkinan adanya keterkaitan yang selama ini tersembunyi.
“Lin Feng?” Suara Yue Lian menariknya kembali ke kesadarannya. “Kau tidak apa-apa? Wajahmu sangat pucat.”
“Aku baik-baik saja.” Lin Feng menggelengkan kepalanya pelan, menyingkirkan pikiran-pikiran itu untuk sementara. “Hanya terlalu banyak yang kupikirkan.”
Yue Lian menatapnya dengan khawatir.
“Kita harus melanjutkan perjalanan,” kata Lin Feng sambil berdiri dan memadamkan api unggun. “Perjalanan ke Kota Qingshui masih jauh.”
Yue Lian mengangguk dan segera mengikutinya. Namun sepanjang perjalanan Lin Feng tidak bisa mengusir perasaan bahwa semua ini saling berkaitan.
Gulungan itu.
Keluarganya.
Lin Tian.
Klan Langit Biru.
Seolah ada benang merah yang mengikat semuanya, dan baru sekarang ia mulai melihat polanya.
Menjelang sore, mereka menemukan sesuatu yang membuat suasana berubah tegang.
Bekas pertempuran.
Tanah hangus. Batang pohon terpotong. Bercak darah mengering di antara rumput.
Lin Feng berjongkok dan memeriksa darah itu. Darah itu masih cukup segar dan paling lama hanya beberapa jam.
“Ada pertempuran di sini,” ujar Yue Lian sambil menatap sekitar. “Setidaknya empat orang, kalau dilihat dari jejak kaki.”
“Dan salah satunya terluka parah,” tambah Lin Feng sambil menunjuk jejak darah yang memanjang ke arah timur. “Kemungkinan besar sekarat.”
Wajah Yue Lian langsung memucat. “Kau pikir… ini kelompokku?”
“Aku tidak tahu,” jawab Lin Feng sambil berdiri. “Tapi jika memang mereka, artinya mereka sudah bergerak. Jejak darahnya mulai dingin.”
“Kita harus mengikutinya!” Yue Lian melangkah cepat ke arah jejak darah itu. Namun Lin Feng menahan lengannya. “Tunggu. Kita pikirkan dulu. Jika ini memang kelompokmu dan ada yang terluka parah, mereka tidak akan berjalan jauh. Mereka akan mencari tempat aman untuk berlindung dan memulihkan diri. Dan jika ini bukan kelompokmu...”
“Berarti kita justru berjalan menuju bahaya,” lanjut Yue Lian dengan nada getir. “Tapi Lin Feng… aku tidak bisa hanya diam! Bagaimana kalau itu benar-benar kelompokku dan adikku?!”
Lin Feng memahami perasaan itu. Benar-benar memahami. Namun dalam situasi bertahan hidup, emosi adalah musuh terbesar.
“Dengar,” katanya dengan suara tenang. “Kita tetap mengecek. Tapi dengan hati-hati. Aku akan mengamati dengan indra spiritual terlebih dahulu, baru kita bergerak. Jika ada bahaya kita mundur. Setuju?”
Yue Lian menggertakkan giginya lalu mengangguk. “Setuju.”
Mereka mengikuti jejak darah dengan penuh kewaspadaan. Lin Feng berjalan di depan dengan indra spiritual terbentang, sementara Yue Lian tepat di belakangnya, tangannya menggenggam gagang pedang.
Jejak itu membawa mereka ke sebuah gua kecil mirip dengan gua yang pernah Lin Feng gunakan sebelumnya.
Di depan gua terlihat sisa-sisa formasi pelindung sederhana. Tidak kuat, tetapi cukup untuk memberi peringatan jika ada yang mendekat.
“Ada orang di dalam,” bisik Lin Feng. “Tiga… tidak, ada empat aliran Qi. Semuanya lemah dan terluka.”
“Itu mereka!” Yue Lian hampir berlari masuk,
Namun sebuah suara dari dalam menghentikannya.
“Jangan mendekat!” Suara seorang pemuda yang menunjukan ketegangan dan kewaspadaan. “Kami masih sanggup bertarung dan melawan!”
“Yue Chen?!” teriak Yue Lian. “Ini aku! Kakakmu!”
Keheningan pun terjadi diantara mereka.
Lalu terdengar suara lain di dalam, lebih lemah. “Jiejie? Benarkah… itu kau?”
“Ya! Chen-er, ini aku!”
Formasi pelindung di depan gua perlahan padam. Seorang pemuda sekitar tujuh belas tahun keluar dengan langkah tertatih. Lengan kirinya diperban dan darah merembes keluar.
“Jiejie...”
Tubuhnya hampir ambruk, tapi Yue Lian segera menangkapnya.
“Chen-er! Apa yang terjadi?!”
“Kami… kami diserang oleh anggota Klan Langit Biru. Mereka...” Yue Chen terbatuk batuk, darah keluar dari sudut bibirnya.
Lin Feng segera maju, indra spiritualnya memeriksa kondisi Yue Chen. Ia terluka parah. Tulang rusuk retak, pendarahan di dalam dan aliran qi kacau.
“Dia harus segera diobati,” kata Lin Feng cepat. “Apa kau punya pil penyembuhan?”
“Ada, tapi...” tangan Yue Lian gemetar saat merogoh kantong penyimpanannya. “Hanya pil tingkat rendah. Tidak cukup untuk luka separah ini.”
Lin Feng menatap wajah Yue Chen yang semakin pucat. Pemuda itu tidak akan bertahan sampai Kota Qingshui tanpa perawatan yang layak.
Ia harus mengambil keputusan.
Lin Feng membuka kantong penyimpanannya sendiri, kantong sederhana dari akademi dan mengeluarkan sesuatu yang selama ini ia simpan untuk keadaan darurat bahkan tidak ia gunakan untuk penyembuhan luka tribulasinya.
Sebuah botol kecil berisi cairan berwarna keemasan. Eliksir Air Mata Phoenix, obat penyembuh tingkat tinggi yang ia “curi” dari ruang hadiah akademi. Ia menyimpannya sebagai cadangan, tak pernah menyangka akan memberikannya pada orang lain.
Namun melihat Yue Lian yang putus asa, melihat Yue Chen yang berada di ambang kematian…
Bodoh, makinya pada diri sendiri saat menyerahkan botol itu. Terlalu mudah berempati, sampai melupakan diri sendiri.
“Ini,” kata Lin Feng. “Teteskan tiga tetes di lidahnya. Jangan lebih. Dosis berlebihan bisa berbahaya.”
Yue Lian menatap botol itu dengan mata membelalak. “Ini… ini Eliksir Air Mata Phoenix! Harganya...”
“Adikmu akan mati jika tidak diobati,” potong Lin Feng. “Sekarang. Tiga tetes.”
Tanpa ragu lagi, Yue Lian meneteskan cairan emas itu ke lidah Yue Chen.
Efeknya langsung terasa. Cairan emas menyebar ke seluruh tubuh Yue Chen dan langsung memancarkan cahaya lembut. Luka-lukanya perlahan menutup. Napasnya yang tersengal menjadi semakin stabil.
Dalam beberapa menit, Yue Chen tidak lagi berada di ambang kematian. Ia masih terluka dan lemah.
Yue Lian menatap Lin Feng dengan mata berkaca-kaca. “Kau… kenapa kau melakukan ini…?”
“Karena aku bodoh,” jawab Lin Feng jujur. “Dan karena tidak seharusnya seseorang mati jika aku bisa mencegahnya.”
Tiba-tiba Yue Lian memeluknya, pelukan yang sangat singkat namun penuh rasa terima kasih.
“Terima kasih,” bisiknya. “Aku berhutang nyawa lagi padamu. Sudah dua kali.”
Lin Feng tidak tahu bagaimana harus menanggapinya, jadi ia hanya menepuk punggung Yue Lian dengan canggung sampai pelukan itu terlepas.
“Mari masuk,” katanya, mengalihkan pembicaraan. “Kita perlu memeriksa yang lain.”
Di dalam gua, tiga anggota kelompok Yue Lian lainnya terbaring dengan luka yang beragam. Semuanya masih hidup, tetapi semuanya membutuhkan perawatan.
Saat Lin Feng membantu mengobati mereka menggunakan salep yang sebelumnya diberikan Yue Lian, sebuah kesadaran perlahan muncul dalam benaknya.
Ia tidak lagi sendirian.
Tanpa ia sadari, ia sudah memiliki… teman? sekutu? orang-orang yang ia pedulikan?
Berbahaya, bisik suara di dalam kepalanya. Semakin banyak yang kau pedulikan, semakin besar kelemahanmu.
Namun suara lain menjawab: Atau mungkin, semakin banyak alasan untuk menjadi lebih kuat.
Lin Feng tidak tahu suara mana yang benar.
Namun saat ia melihat Yue Lian tersenyum lega, menatap adiknya yang kini tertidur dengan napas tenang, Lin Feng merasa…
Mungkin ini tidak sepenuhnya buruk.
Mungkin memiliki orang-orang yang ingin dilindungi…tidak selalu berarti kelemahan.
💪💪💪💪