Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Baru, Langkah Baru
Restoran fine dining di puncak gedung tertinggi di kawasan Sudirman itu menawarkan pemandangan yang memukau. Dari balik jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, Jakarta terlihat seperti hamparan permata yang tumpah di atas kain beludru hitam.
Lampu-lampu gedung pencakar langit berkedip seirama dengan detak jantung kota yang tak pernah tidur, sementara di bawah sana, arus kendaraan tampak seperti aliran lava yang melambat. Namun, di dalam ruangan yang sunyi dan elegan ini, suasana jauh lebih tenang.
Hanya ada suara denting halus dari peralatan makan perak yang beradu dengan porselen, serta alunan musik jazz dari grand piano yang diletakkan di sudut ruangan.
Gendis duduk tegak, mengenakan gaun sutra berwarna navy yang sederhana namun memancarkan aura kemapanan. Di hadapannya, Baskara menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada perpaduan antara kekaguman, rasa hormat yang mendalam, dan sisa-sisa perasaan masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.
Pria itu menuangkan anggur ke dalam gelas kristal milik Gendis dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah-olah ia sedang menangani barang paling berharga di dunia.
Baskara memecah keheningan setelah pelayan meninggalkan meja mereka.
"Gendis," suaranya berat namun lembut, menyusup di antara denting instrumen musik. "Apa yang terjadi di pelataran bank tadi, itu adalah momen yang cukup intens. Aku tidak ingin kamu merasa terbebani oleh kehadiranku. Aku datang karena aku sudah muak melihatmu terus-menerus diganggu oleh sisa-sisa drama yang seharusnya sudah lama selesai. Kamu adalah wanita yang terlalu berharga untuk membuang waktu menanggapi seseorang seperti Cindy."
Gendis menyesap minumannya perlahan, membiarkan rasa pahit-manis itu menetap di lidahnya. Ia menatap ke luar jendela, memikirkan betapa jauh perjalanannya hari ini.
"Aku tahu, Baskara. Terima kasih. Sejujurnya, saat tadi aku melihatnya menangis di atas aspal, aku tidak lagi merasakan kemarahan. Aku tidak merasakan dendam. Yang aku rasakan hanyalah kekosongan. Cindy bukan lagi lawan bagiku. Dia hanyalah sebuah kesalahan kecil dalam lembaran hidupku yang sudah aku tutup rapat-rapat."
Baskara mengangguk, lalu memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya di atas meja, memberikan ruang bagi Gendis untuk menyambutnya atau justru menarik diri.
Setelah jeda sesaat, Gendis membiarkan jemarinya bersentuhan dengan tangan pria itu. Baskara menggenggamnya dengan hangat.
"Gendis, aku ingin jujur. Aku tahu kamu baru saja melalui badai besar dalam hidupmu. Kamu dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi pasangan hidupmu. Aku tidak ingin bersikap terburu-buru atau menuntut apa pun darimu. Aku akan menunggumu, berapa lama pun itu. Bahkan jika kamu merasa belum siap untuk siapa pun dan ingin bertemu orang lain, aku akan tetap berdiri di sini, sebagai pendukung terbesarmu."
Gendis menatap mata pria itu, mencari kebohongan atau agenda tersembunyi, namun ia hanya menemukan ketulusan.
"Bas, aku sangat menghargai itu. Untuk saat ini, aku harus mengakui bahwa kepercayaanku pada laki-laki, yah, katakanlah sedang dalam masa perbaikan total. Luka itu masih ada, meskipun aku sudah memilih untuk tidak membiarkannya menginfeksi masa depanku."
Baskara tersenyum kecil, senyum yang memberikan ketenangan. "Aku mengerti sepenuhnya. Pemulihan mental adalah proses yang tidak bisa dipaksa."
Gendis tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar lebih ringan dari biasanya.
"Lucu sebenarnya kalau kita mengingat masa SMA, ya? Kamu dulu sering sekali menjahili aku. Kamu selalu muncul dengan lelucon konyol atau tindakan-tindakan yang membuatku naik darah. Dulu, aku benar-benar membencimu, Baskara."
Baskara terkekeh, dan ia tampak sedikit salah tingkah.
"Itu metode yang sangat buruk, aku sadar sekarang. Tapi saat itu, aku hanyalah seorang remaja yang penuh dengan ketidakamanan dan tidak tahu cara untuk menarik perhatian wanita yang paling cerdas, paling berwibawa, dan paling anggun di sekolah yang selalu terjaga dengan penampilan sederhana dan kacamata tebalnya. Kupikir, jika aku terus mengganggumu, setidaknya kamu akan terus mengingat namaku. Aku tidak pernah mengira bahwa cara itu justru membuatmu menjauh."
"Ternyata cara itu berhasil membuatku mengingatmu," canda Gendis. "Tapi tenang saja, dendam masa SMA itu sudah lama terkubur. Kamu sudah bukan lagi Baskara si pembuat onar di mataku. Sekarang, aku hanya melihat pria di depanku ini sebagai seseorang yang mungkin layak untuk dikenal kembali dalam kapasitas yang berbeda."
Baskara tampak tersentuh. "Mari kita mulai dari nol, kalau begitu. Tidak ada lagi kenakalan remaja, tidak ada lagi masa lalu yang menghantui."
Perbincangan mereka kemudian mengalir dengan lebih santai, berpindah dari kenangan masa lalu ke arah visi masa depan. Baskara, yang memiliki insting tajam sebagai seorang pebisnis, memperhatikan cara Gendis berbicara tentang aset dan manajemen perbankan. Ia tahu bahwa Gendis memiliki otak yang brilian, jauh melampaui posisi bankir sukses yang ia miliki saat ini.
"Dis." Baskara memulai, nada suaranya berubah menjadi lebih serius namun tetap penuh perhatian. "Kamu memiliki kemampuan manajerial yang luar biasa. Selama ini kamu mengelola aset triliunan milik orang lain. Pernahkah kamu terpikir untuk membangun sesuatu yang benar-benar milikmu? Bisnis sendiri?"
Gendis terdiam. Ia meletakkan gelasnya dan menatap lampu-lampu kota yang tampak seperti bintang-bintang di bawah sana. Ingatannya tiba-tiba melayang pada aroma parfum menyengat, aroma murah yang sering menempel pada kemeja suaminya aroma yang menjadi petunjuk pertama perselingkuhan itu. Aroma itu adalah simbol dari pengkhianatan, dari wanita rendahan yang mencoba menghancurkannya.
"Sebenarnya..." Gendis berbisik, matanya berkilat dengan ambisi yang baru. "Aku punya satu keinginan kecil. Suatu saat nanti, aku ingin menjadi pemilik brand merek parfum. Aku ingin menciptakan aroma yang begitu elegan, begitu mewah, dan begitu eksklusif, hingga wangi itu akan mengalahkan aroma parfum murahan yang pernah dipakai Cindy. Aku ingin menciptakan identitas wangi yang menjadi simbol kekuatan dan kelas, sesuatu yang akan membuat siapa pun yang menciumnya tahu bahwa itu adalah karya wanita yang tidak bisa lagi diinjak-injak."
Baskara menatapnya dengan kekaguman yang nyata. Ia melihat tekad yang membara di balik mata Gendis.
"Itu bukan sekadar ide, itu adalah visi. Industri perfumery adalah tentang karakter dan sensori. Kamu punya karakter yang kuat, Gendis. Jika itu impianmu, aku akan mendukungmu sepenuhnya. Baik itu pendanaan dalam jumlah besar, jaringan distribusi internasional, atau apa pun bentuk dukungan moril yang kamu butuhkan, aku akan ada di sana."
Gendis menggeleng pelan, meski ia tersenyum tulus. "Bas, aku sangat menghargai tawaran itu. Tapi jika aku melakukan ini, aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri. Aku tidak ingin menjadi perempuan yang merelakan karier hanya untuk menjadi ibu rumah tangga yang bisa disepelekan, atau perempuan yang bergantung pada laki-laki lagi karena trauma masa lalu. Aku ingin membangunnya dari nol. Aku ingin merasakan setiap tetes keringat dan perjuangan di baliknya, agar kesuksesan itu benar-benar milikku. Aku tidak ingin terjebak lagi dalam posisi di mana harga diriku bisa diinjak-injak hanya karena aku adalah 'istri dari' atau 'pasangan dari'. Aku ingin dikenal karena siapa aku sebenarnya."
Baskara mengangguk perlahan. Rasa hormatnya kepada Gendis semakin dalam. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan wanita biasa yang mencari perlindungan, melainkan seorang pejuang yang sedang bangkit dari abu masa lalunya.
"Aku mengerti, Dis," jawab Baskara dengan suara yang mantap. "Kamu ingin menjadi arsitek atas hidupmu sendiri. Dan aku akan selalu ada di sana, bukan sebagai penopang yang akan membuatmu lemah, melainkan sebagai saksi kesuksesanmu nanti. Kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk membalas kebaikanku. Keberhasilanmu adalah kebahagiaanku."
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang luas, Gendis tidak lagi merasa sebagai istri yang dikhianati atau korban dari drama perceraian yang memalukan. Ia merasa sebagai seorang wanita yang sedang merancang masa depan, sebuah masa depan di mana ia tidak lagi perlu menangis di atas aspal dingin, melainkan berdiri tegak di puncak dunia yang ia bangun sendiri. Ia menyadari bahwa aromanya yang dulu hancur oleh pengkhianatan, kini sedang bertransformasi menjadi aroma kemenangan yang akan segera memikat dunia.
Baskara terus menatapnya, menyadari bahwa ia telah jatuh hati pada wanita ini sejak dulu, dan sekarang, ia semakin terpikat oleh keteguhan hatinya. Mereka berdua melanjutkan makan malam itu, bukan lagi sebagai dua orang yang terbebani oleh masa lalu, melainkan sebagai dua individu yang siap menyambut masa depan dengan kepala tegak.
Di luar, Jakarta terus berputar, namun bagi Gendis, dunia baru saja dimulai.