Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Bertemu Kembali
Keesokan harinya Hu Lian dengan langkah ringan masuk ke dalam cafe kecil yang terletak di sudut jalan raya. Rambut bergelombang alaminya jatuh indah di pundaknya, dibuat lebih segar.
Penampilannya sangat berbeda dari biasanya—dia mengenakan hoodie berwarna gelap dengan gambar kepala beruang lucu di bagian depan, dipadukan dengan celana pendek dan sepatu boot kulit hitam yang sedikit menambah tinggi badannya.
Meski masih terlihat kecil, gaya santainya membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.Beberapa pemuda yang sedang duduk di sudut cafe tidak bisa menyembunyikan pandangan mereka yang tertuju pada Hu Lian.
Beberapa di antaranya bahkan menyapa dia dengan senyum, namun Hu Lian hanya mengembalikan senyum ramah sebelum berlama-lama memilih tempat duduk di dekat jendela.
"Saya mau pesan teh susu...." ucapnya dengan suara lembut pada kasir yang tersenyum ramah padanya.
Setelah mendapatkan pesanannya, dia duduk dengan nyaman, meletakkan tas kecil di atas kursi sebelahnya. Tangan kanannya mengetuk ponselnya di meja sambil menikmati pemandangan orang-orang yang lewat di luar jendela.
Hari ini dia berencana untuk bersantai sebentar sebelum mulai merencanakan hal-hal baru—mungkin mempelajari bisnis keluarga Hu atau bahkan memulai proyek kecil yang sesuai dengan minatnya.
Dia merasa sangat lega setelah semua urusan dengan Bai Xuning akhirnya bisa diselesaikan, dan kini siap untuk menikmati hidup barunya yang bebas.
Bai Xuning sedang fokus melihat laporan proyek di meja kerjanya ketika ponselnya terus bergetar dengan suara yang cukup keras.
Ia mengerutkan kening, mengira ada urusan penting dari kantor, namun saat mengambilnya, layarnya penuh dengan pesan dari temannya Zhang Fei.
Zhang Fei: Sial apa ini tunangan mu! Kakak ipar manis sekali!
Mata Bai Xuning tiba-tiba menajam saat melihat beberapa foto yang dikirim bersamaan.
Di foto pertama, Hu Lian terlihat sedang duduk rileks di cafe, tangan kanannya bermain dengan ponsel sementara wajahnya sedikit tersenyum melihat layar. Tak jauh dari tempat duduknya, beberapa pemuda yang tampak masih sekolah menengah atas sedang menatapnya dengan diam-diam senyum malu-malu.
Foto kedua membuat rahangnya mengeras—seorang pemuda mengenakan baju olahraga berwarna biru muda sedang menghampiri Hu Lian, tangan kanannya memegang ponsel seolah ingin bertukar kontak WeChat.
Dan terlihat jelas bahwa Hu Lian sedang mengetik sesuatu di ponsel pemuda itu, seolah dengan senang hati memberinya nomor kontaknya!
Tangan Bai Xuning mencengkram erat ponselnya, ujung jarinya hampir memerah karena kekuatan menggenggamnya. Layar ponselnya terus muncul pesan baru dari Zhang Fei.
Zhang Fei: Teman kamu benar-benar sial, aku telah duduk disini selama 15 menit dan ada lebih dari 4 pria menghampiri kakak ipar!
Zhang Fei: Hei kenapa kamu tidak membalas!
Tanpa berpikir panjang, jari Bai Xuning dengan cepat mengetik pesan balasan: "Dimana lokasi cafe itu?"
Segera setelah mengirim pesan, dia berdiri dengan cepat, mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi tanpa memperhatikan tatapan kaget dari sekretaris yang lewat di depan pintu ruang kerja.
Rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul membuatnya tidak bisa tinggal diam lagi. Dia tidak tahu mengapa melihat Hu Lian dengan pria lain membuatnya merasa begitu tidak tenang, namun satu hal yang dia tahu—dia harus segera pergi ke sana.
Hu Lian masih asik mengobrol dengan Qin Cheng, pemuda SMA yang tampak malu-malu namun sangat ramah.
Dia tersenyum kecil mendengar pemuda itu berkata bahwa awalnya mengira dia adalah seusianya karena wajahnya yang muda dan tubuhnya yang kecil, bukan mahasiswi seperti yang sebenarnya.
"Kakak memang terlihat sangat muda...,"ucap Qin Cheng dengan wajah kemerahan, membuat Hu Lian sedikit tertawa.
Ketika Hu Lian bertanya mengapa mereka membawa tas olahraga, suara Wei Yang—teman Qin Cheng—dari meja sebelahnya segera menyahut. "Kita akan bermain basket di lapangan dekat sini, Kakak! Jika Kakak tidak sibuk, bisa datang menonton kita bermain!"
Mata Hu Lian langsung berbinar dengan antusias.
"Baiklah! Aku juga suka menyaksikan permainan basket," jawabnya dengan senyum lebar, lalu mulai membersihkan meja untuk pergi bersama mereka.
Namun saat mereka semua keluar dari cafe dan hendak menuju arah lapangan diseberang cafe, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu cafe, menghalangi jalan Qin Cheng dan teman-temannya.
Suara mesin mobil yang cukup keras membuat mereka semua berhenti berjalan.
Hu Lian mengerutkan alisnya dengan ekspresi yang mulai berubah serius. Dia sangat mengenal mobil itu—itu adalah mobil milik Bai Xuning.
Pintu samping mobil perlahan terbuka, dan Bai Xuning turun dengan wajah yang tegas. Matanya langsung menatap Hu Lian, lalu melirik sekilas pada Qin Cheng dan teman-temannya yang berdiri di sebelahnya.
Ekspresi wajahnya sulit ditebak, namun ada kesan tidak senang yang jelas terlihat di dalam matanya.
Qin Cheng dan teman-temannya saling melihat, sedikit merasa tidak nyaman dengan kedatangan pria tampan yang berwajah menakutkan itu.
"Kakak... siapa dia?" bisik Qin Cheng pelan ke telinga Hu Lian.
Hu Lian berbalik ke arah Qin Cheng dengan senyum kecil yang tetap hangat. "Kalian pergi lah dulu, nanti aku akan menyusul ya..."
Wajah Bai Xuning menjadi semakin gelap saat mendengarnya. Ia melihat bagaimana gadis itu memperlakukan pemuda itu dengan ramah—sikap yang tidak pernah ia dapatkan dari Hu Lian selama dia hilang ingatan.
Qin Cheng mengangguk dengan sedikit ragu, tapi melihat bahwa Hu Lian tampak tidak takut dengan pria di depannya, ia akhirnya membawa teman-temannya pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah mereka hilang dari pandangan, Hu Lian segera berbalik dengan tatapan yang tidak suka. "Kenapa kamu disini?"
"Justru aku ingin bertanya apa yang kamu lakukan? Siapa pria itu tadi?.." tanya Bai Xuning dengan langkah cepat mendekatinya, nafasnya sedikit terengah karena kemarahan yang membara. "...Kenapa kamu masih ingin pergi dengannya padahal aku disini!"
Hu Lian terpana sedikit, lalu melihatnya dengan tatapan tegas. "Memangnya apa urusanmu?"
Bibir Bai Xuning bergerak ke bawah, matanya menyala dengan emosi yang sulit dikendalikan—seolah ingin melampiaskan segala sesuatu pada gadis kecil di depannya.
Namun Hu Lian tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut, malahan menatapnya dengan keras kepala.
"...Tuan Bai jangan lupa, kita hanya orang asing..." ucapnya dengan jelas dan tegas, tanpa sedikit pun keraguan.
Di dalam cafe Zhang Fei yang baru saja turun diam-diam untuk melihat keadaan langsung terkejut membeku ditempatnya.
Orang asing? Apa mereka bertengkar lalu putus benar-benar? pikirnya dengan mata yang melebar lebar, tidak berani keluar karena suasana antara keduanya sangat tegang.
Bai Xuning juga membeku setelah mendengar kata itu. Rasanya seperti ada pukulan yang kuat di dadanya.
Kata "orang asing" terdengar begitu menusuk dibandingkan dengan panggilan lembut yang dulu selalu keluar dari mulut Hu Lian.
Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa mereka tidak bisa jadi orang asing begitu saja, namun bibirnya tak bisa mengeluarkan satu kata pun.
Hu Lian melihatnya dengan tatapan tenang sebentar, lalu dengan cepat berbalik dan berjalan mengejar Qin Cheng serta teman-temannya yang sudah pergi lebih dulu.
Langkahnya tetap ringan namun mantap, tanpa sekalipun melihat ke arah Bai Xuning.
Setelah sosok gadis itu hilang di sudut jalan, Bai Xuning baru saja bisa menarik napas dalam-dalam. Rasanya seperti ada batu berat yang terpasang di dadanya, membuatnya sulit bernapas.
Dia menutup mata sejenak, mencoba untuk menenangkan diri, namun wajah Hu Lian dengan ekspresi dingin saat mengatakan mereka hanya orang asing terus muncul di benaknya.
Zhang Fei akhirnya keluar dari cafe miliknya dan mendekatinya dengan hati-hati.
"Xuning... kamu baik-baik saja kan?" tanyanya dengan suara lembut, tidak berani mengganggu kesunyian yang menyelimuti temannya.
Bai Xuning hanya menggeleng perlahan, tidak bisa berkata apa-apa. Ia melihat ke arah jalan yang telah dilalui Hu Lian, lalu perlahan berbalik untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Aku pergi ...."ucapnya dengan suara yang rendah dengan rasa frustasi yang tidak bisa disembunyikan.
Dia akhirnya menyadari—selama ini ia mengira tidak peduli dengan Hu Lian, namun saat gadis itu benar-benar menjauh dan melihatnya sebagai orang asing, ia baru menyadari bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang berharga tanpa pernah menyadarinya.