Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Jenderal dan Kerajaan yang Sepi
Di kantor pusat militer yang dingin, Matthias von Falkenhayn berdiri menatap hamparan peta taktis di atas meja mahoninya. Di usianya yang masih kepala tiga, dia sudah mencapai puncak karier yang diimpikan ribuan pria: Jenderal Tertinggi dan seorang Duke. Namun, baginya, semua medali di dadanya hanyalah logam dingin yang tidak bisa menghangatkan hatinya.
Sejak ayahnya meninggal saat dia baru berusia lima tahun, dunia Matthias berubah menjadi penjara protokoler. Grand Duchess Sophie, neneknya yang bertangan besi, mendidiknya dengan kekejaman yang dibungkus label "martabat". Dia tidak punya teman masa kecil yang bisa diajak tertawa seperti Julian bagi Shaneen. Dia hanya punya latihan pedang, buku strategi, dan perintah untuk menjadi "sempurna".
Satu-satunya kehangatan yang dia miliki adalah ibunya, Duchess Elyse. Namun, melihat ibunya yang lembut sering kali harus tunduk pada dominasi neneknya, Matthias tumbuh dengan satu pemikiran: Wanita bangsawan itu membosankan. Mereka hanya pajangan yang tahu cara tersenyum simpul dan mengangguk. Hidup Matthias terasa seperti garis lurus yang tidak berujung.
Sampai malam itu tiba. Malam gelaran pesta pertemuan para bangsawan. Di tengah lautan gaun-gaun mewah yang serupa, Matthias melihat "anomali". Shaneen von Asturia.
Gadis itu tidak berusaha menarik perhatiannya seperti wanita lain yang berbondong-bondong mengantre hanya untuk berdansa dengannya. Shaneen justru menatapnya dengan tatapan sleepy eyes yang seolah-olah berkata, "Kau mengganggu ketenanganku."
Matthias terobsesi seketika. Bukan hanya karena kecantikannya yang seperti Dewi, tapi karena pemberontakan di matanya. Shaneen adalah segala hal yang tidak pernah Matthias miliki: kebebasan, tawa yang lepas, dan keluarga yang penuh cinta.
...Di Kamar Duke yang Dingin...
Malam itu, setelah pulang dari klub berkuda, Matthias duduk di kursinya sambil memutar-mutar segelas wiski. Dia teringat bagaimana Shaneen memukul bahu Julian, bagaimana dia begitu teliti merapikan sendok yang miring, dan bagaimana dia menatap tajam Grand Duchess Sophie tanpa rasa takut.
"Kau terlalu bebas untukku ikat, Ninin," gumam Matthias dengan suara serak.
Dia sadar, keinginannya untuk memiliki Shaneen mungkin egois. Shaneen tumbuh di lingkungan yang hangat, di mana dia didukung untuk menjadi apa saja—menjadi jagoan senjata, produser musik, hingga sarjana Oxford. Sementara Matthias tumbuh di lingkungan di mana dia hanya boleh menjadi satu hal: Seorang Falkenhayn yang sempurna.
Namun, itulah alasan kenapa Matthias tidak akan pernah melepaskannya. Shaneen adalah potongan puzzle yang hilang dalam hidupnya. Shaneen punya segalanya yang tidak dimiliki putri bangsawan mana pun; otak yang jenius, keberanian seorang prajurit, dan hati yang tulus.
"Nenek ingin aku menikahi boneka porselen," Matthias menyeringai tipis, bayangan wajah Shaneen yang cemberut gemas terlintas di pikirannya. "Tidak-tidak, aku lebih suka menikahi badai yang bisa memporak-porandakan menara gadingku."
Matthias tahu, Shaneen adalah satu-satunya manusia yang pantas bersanding dengannya. Bukan untuk berdiri di belakangnya sebagai bayangan, tapi untuk berdiri di sampingnya—mungkin sesekali memaki kekakuannya, atau merapikan lencana di seragamnya agar simetris.
Bagi Matthias, Shaneen bukan sekadar calon istri. Dia adalah "warna" pertama yang masuk ke dalam hidupnya yang hitam putih. Dan Sang Jenderal telah memutuskan: perang terbesar dalam hidupnya bukanlah di medan tempur, melainkan memenangkan hati gadis pemberontak yang benci perjodohan kolot itu.
Sekarang pria itu sedang menggunakan cara agar dapat menaklukkan hati targetnya.