NovelToon NovelToon
This Is? Another World?

This Is? Another World?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Akademi Sihir / Fantasi Isekai
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Raphiel-Viel

Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.3 Reruntuhan Nocturne

Nyx maju selangkah, lalu berhenti lagi. Kakinya seperti tertancap di tanah yang dulu jadi halaman rumahnya. Aku nggak memaksa. Aku cuma ikut maju pelan, tetap pegang bahunya supaya dia tahu aku ada di sana. Angin sore bertiup lewat reruntuhan, membawa bau kayu hangus yang sudah lama—bau yang seharusnya sudah hilang, tapi entah kenapa masih menempel seperti kenangan yang menolak pergi.

“Ini… pintu depan rumah kami dulu,” bisik Nyx. Suaranya kecil, hampir tertelan angin. Dia menunjuk ke arah tiang kayu hitam yang roboh miring, masih ada sisa ukiran bunga kecil di bagian atasnya. “Mama suka gambar bunga di situ. Katanya biar rumah terlihat ramah buat tamu.”

Aku mengangguk pelan. Nggak tahu harus bilang apa. Kata-kata terasa kosong di situasi begini.

Kami masuk lebih dalam. Lantai rumah sudah hilang, tinggal tanah berumput liar dan pecahan genteng yang berserakan. Di sudut, ada meja kayu kecil yang anehnya masih berdiri—kakinya patah satu, tapi permukaannya utuh. Di atasnya, ada sesuatu yang tertutup debu tebal: sebuah buku kulit cokelat kecil, ukurannya pas buat tangan anak kecil.

Nyx berhenti tepat di depannya. Matanya melebar. “Itu… jurnal Mama.”

Dia maju pelan, seperti takut kalau disentuh buku itu akan hancur. Tangannya gemetar saat menyentuh sampulnya. Debu beterbangan kecil, membuatnya bersin pelan. Aku langsung ambil sapu tangan dari saku mantelku—yang Lyre kasih kemarin—dan usap pelan sampulnya supaya lebih bersih.

“Ambil aja, Nyx. Kita bawa pulang kalau kau mau,” kataku pelan.

Dia menggeleng. “Aku… mau baca di sini. Di tempat ini. Kalau aku bawa pulang… rasanya kayak kabur lagi.”

Aku mengerti. Aku tarik napas dalam, lalu duduk di tanah di sampingnya. Kuda-kuda kami diikat di pohon dekat pinggir reruntuhan, napas mereka terdengar tenang di kejauhan. Matahari sudah mulai merosot, cahayanya jingga menyusup lewat celah-celah pohon yang tumbuh liar di antara rumah-rumah hancur.

Nyx buka halaman pertama. Tulisannya rapi, huruf-huruf melengkung lembut seperti ditulis dengan cinta.

*Hari ini Nyx belajar berjalan lagi. Dia jatuh, tapi bangun sambil tertawa. Telinganya bergerak-gerak lucu setiap dengar suara burung. Aku janji akan jaga dia selamanya.*

Nyx berhenti di situ. Air matanya jatuh pelan ke halaman, membuat tinta sedikit luntur. Dia usap cepat, takut merusak.

“Lanjutkan,” bisikku. “Aku di sini.”

Dia balik halaman. Tulisan Mama-nya semakin sering muncul cerita tentang “darah malam” dan “Guardian”. Kata-kata yang asing, tapi Nyx baca pelan-pelan, seperti sedang mengingat sesuatu yang pernah didengar tapi lupa.

*Darah kucing hitam Nocturne bukan kutukan. Itu warisan. Guardian of the Night—penjaga keseimbangan antara cahaya dan kegelapan. Darah kami bisa membuka pintu ke Nothingness, tapi juga bisa menutupnya selamanya. The Ancient One takut pada kami karena kami satu-satunya yang bisa menghentikannya kalau dia bangun.*

Nyx berhenti lagi. Tangannya menutup mulut. “Kak Ely… ini… ini beneran tentang aku?”

Aku baca sekilas bagian yang dia tunjuk. Tulisannya jelas: nama Nyx disebut sebagai “penerus terakhir”. Ada gambar kecil di pinggir halaman—lingkaran dengan mata di tengah, dilingkari rantai. Simbol yang sama seperti yang disebut Earl Heriko di rapat itu. Simbol Ordo Gerhana.

“Mereka tahu,” gumam Nyx. “Mereka tahu dari dulu. Makanya desa dibakar. Makanya aku satu-satunya yang selamat… karena aku kabur.”

Aku pegang tangannya erat. Dingin. “Nyx. Lihat aku.”

Dia menoleh, matanya merah dan basah.

“Kau selamat bukan karena kebetulan. Kau selamat karena Mama-mu, Papa-mu, dan semua orang di desa ini berjuang supaya kau bisa lanjutkan warisan itu. Bukan untuk dibenci atau dikejar. Tapi untuk melindungi.”

Dia menggeleng pelan. “Tapi kalau darahku bisa buka Nothingness… kalau The Ancient One bangun karena aku—”

“Kalau bisa buka, berarti juga bisa tutup,” potongku tegas. “Angel bilang The Ancient One tertidur di kehampaan. Kalau ada yang bisa bangunin, pasti ada yang bisa pastiin dia tidur selamanya. Dan kau… kau bagian dari itu.”

Nyx diam lama. Angin makin kencang, daun-daun kering berputar di sekitar kami seperti sedang mengelilingi. Tiba-tiba telinga kucingnya tegak. Ekornya bergerak cepat ke kiri-kanan.

“Ada… sesuatu,” bisiknya.

Aku langsung berdiri, tangan ke gagang katana. Pendengaranku nggak setajam Nyx, tapi aku bisa rasain—ada hembusan mana yang aneh di udara. Bukan mana biasa. Ini lebih gelap, lebih dingin, seperti asap hitam dari festival malam itu.

Dari balik reruntuhan rumah sebelah, muncul bayangan jubah hitam. Satu orang. Lalu dua. Lalu tiga. Mereka nggak buru-buru. Langkahnya pelan, seperti sudah yakin kami nggak akan lari.

“Guardian kecil… akhirnya pulang juga,” suara salah satunya dalam, bergema aneh seperti bicara dari dalam gua. “Darahmu memanggil kami. The Ancient One sudah gelisah di tidurnya.”

Nyx mundur selangkah, punggungnya menempel ke dadaku. Aku tarik katana pelan dari sarungnya. Bilahnya berkilau jingga di bawah matahari senja.

“Kalau kalian mau darahnya,” kataku datar, “lewati aku dulu.”

Mereka tertawa kecil. Yang paling depan angkat tangan—api hitam muncul di telapaknya, membentuk cambuk yang bergetar seperti hidup. Dua yang lain tarik pedang pendek bergerigi, mata mereka bersinar merah samar di balik tudung.

“Gadis pedang dari festival malam itu,” kata yang kedua. “Kau kuat, tapi kau sendirian. Dan anak kucing ini… darahnya milik kami.”

Aku nggak jawab. Cuma tarik napas dalam. Mana mengalir dari tubuhku ke bilah pedang, tipis tapi tajam, seperti lapisan angin yang membungkus logam. Nyx pegang lengan bajuku erat, napasnya cepat.

“Kak Ely… aku takut…”

“Tenang,” bisikku. “Kita nggak sendirian. Kau punya aku. Dan aku punya kau.”

Dia mengangguk pelan. Lalu, untuk pertama kalinya sejak festival, aku rasain buff-nya mengalir lagi. Hangat. Stabil. Lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhku terasa lebih ringan, gerakan lebih tajam, seperti gravitasi di dunia ini tiba-tiba hilang separuh. Nyx nggak bilang apa-apa, tapi telinganya tegak dan ekornya melengkung siap.

Yang pertama maju duluan—cambuk api hitam melesat ke arahku. Aku miringkan badan, tebas ke atas. Bilah katana memotong cambuk itu jadi dua, api hitamnya padam seketika seperti dipadamkan angin. Potongan cambuk jatuh ke tanah, membakar rumput liar jadi abu.

“Mana imajinasi?” gumamku dalam hati. Aku bayangkan mana mengalir lebih deras ke kaki—lalu melesat maju.

Yang kedua nyerang dari samping dengan pedang gerigi. Aku tangkis dengan punggung bilah, lalu tendang perutnya keras. Dia terbang mundur, nabrak tiang kayu yang langsung roboh. Yang ketiga coba serang dari belakang—aku putar badan, tebas horizontal. Pedangnya patah jadi dua, tangannya terluka dalam. Dia mundur sambil mendesis.

Yang pertama—pemimpin mereka—tertawa lagi. “Bagus. Tapi ini baru permulaan.”

Dia angkat kedua tangan. Api hitam membesar, membentuk bola besar yang berputar-putar. Udara di sekitarnya terasa berat, seperti gravitasi balik lagi. Nyx menjerit kecil, tangannya mencengkeram lebih erat.

“Kak Ely… itu… itu sihir mereka yang di festival!”

Aku nggak tunggu. Aku dorong Nyx pelan ke belakang pohon terdekat. “Sembunyi dulu!”

Lalu aku lari maju. Bayangkan mana mengalir ke seluruh tubuh—bukan cuma pedang. Gerakanku jadi blur. Bola api hitam melesat ke arahku. Aku lompat tinggi, gravitasi ringan bikin aku melayang lebih lama. Di udara, aku putar badan dan tebas ke bawah dengan seluruh tenaga.

*Slash.*

Bilah katana memotong bola itu jadi dua. Api hitam meledak ke samping, membakar reruntuhan di kiri-kanan. Pemimpin mereka terkejut, mundur selangkah. Aku mendarat tepat di depannya, katana sudah di lehernya.

“Sudah cukup,” kataku dingin. “Pergi. Atau aku habisi kalian di sini.”

Dia tatap aku lama. Lalu tersenyum tipis di balik tudung. “Kau kuat… tapi kau nggak bisa lindungi dia selamanya. Darah Guardian akan dibuka. The Ancient One akan bangun. Dan kau… akan jadi saksi.”

Tiba-tiba dia lempar sesuatu ke tanah—sebuah kristal hitam kecil. Kristal itu pecah, asap hitam tebal meledak keluar, menyelimuti kami semua. Aku tutup mata Nyx dengan lengan, batuk karena baunya menyengat.

Saat asap hilang, mereka sudah lenyap. Tinggal jejak kaki di tanah dan bau belerang yang tersisa.

Aku tarik napas panjang, sarungkan katana. Nyx keluar dari balik pohon, wajahnya pucat tapi matanya penuh tekad.

“Kak Ely… aku… aku nggak mau lari lagi.”

Aku usap rambutnya pelan. “Bagus. Karena aku juga nggak akan biarkan mereka ambil kau.”

Matahari sudah hampir tenggelam. Cahaya jingga memudar, diganti senja gelap. Kami duduk lagi di dekat jurnal, tapi kali ini Nyx pegang buku itu lebih erat.

“Kita lanjut baca besok,” kataku. “Sekarang… kita cari tempat aman buat malam ini. Dan besok… kita cari tahu lebih banyak soal ‘Guardian of the Night’ ini.”

Nyx mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak kami tiba di reruntuhan, dia tersenyum kecil—senyum yang lemah, tapi tulus.

“Bareng, ya Kak Ely?”

“Bareng.”

1
Wahyuningsih
q mampir thor
Raphiel-Viell: Iyah, makasih
total 1 replies
Raphiel-Viell
Mohon dikoreksi jika ada penulisan yg kurang Rapih dan kurang tepat
Bern
Menarik ya dengan berbeda perspektif gini
Nana
Gaya penulisan nya agak kaki, tapi it's okay sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!