NovelToon NovelToon
Benci Tapi Menikah?

Benci Tapi Menikah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Konflik etika
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fareed Feeza

Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Terlihat di layar kaca, Gian sedang mendorong kursi roda yang sedang di duduki Arabela dengan langkah tergesa.

Nisa membekap mulutnya sendiri dengan tangan, tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat, secara tidak sadar ... Dia sudah dibohongi oleh Gian.

Pembohong, pura-pura mencintai layaknya akulah satu-satunya wanita yang dia miliki.

Semoga saja aku belum hamil, dari awal penilaianku tentangnya memang buruk ... Aku saja yang bodoh disini.

Tapi walaupun aku hamil, aku tetap tidak mau meneruskan hubungan pernikahan ini, aku tidak mau mempunyai suami yang belum selesai dengan masa lalunya.

Mata Nisa pun berkaca, sebenarnya dia ingin pulang ke desa saat ini juga, tapi mengingat mertuanya itu sangatlah baik dan sudah seperti orang tua kandungnya sendiri, maka semuanya harus berlangsung secara sopan, dia tidak bisa mengedepankan egonya saat ini.

"Nisa ... Nisa!" Panggil Lulu dengan tergesa, wanita paruh baya itu berlari dari dalam kamar menuju dimana Nisa berada.

Dengan cepat Nisa mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya, jangan sampai mertuanya mengetahui apa yang sedang dia rasakan saat ini.

"Nis ..."

"I-iya Bu." Nisa pun berjalan menghampiri Lulu.

Lulu memperlihatkan ponsel yang berisikan video berita kecelakaan Arabela, padahal baru saja Nisa melihatnya di tv.

"Ibu kecewa sekali sama Gian, Ibu fikir dia sudah benar-benar melupakan wanita tidak tahu diri itu."

Terlanjur ... Ibu sudah tau semuanya.

"Nisa juga sudah melihatnya tadi Bu." Kata Nisa berusaha tegar, padahal kenyataannya dia sedang susah payah menahan agar air matanya tidak jatuh lagi.

"Kamu harus bertindak Nisa ... Jangan diam saja."

"Sudahlah Bu, tak apa ... Mungkin Gian belum selesai dengan masa lalunya, dan jika aku memaksa untuk dia agar bisa melupakan Arabela itu hanya akan membuat dia terkekang. Pernikahanku dan Gian bersumber dari sebuah masalah ... Jadi tidak masalah jika harus berakhir sebelum satu tahun."

"Nisa ... Maafkan Gian." Suasana berubah menjadi sedih kala Lulu terisak karena kelakukan anaknya sendiri.

"Tidak Bu ... Gian tidak salah, dia hanya korban ... akibat insiden di desa, Gian harus kehilangan apa yang sudah dia rencanakan. Jangan hiraukan Nisa ... Nisa sudah terbiasa hidup sendiri, Nisa tahan banting, jadi tidak perlu khawatir kedepannya akan seperti apa."

"Bukan hanya Gian ... kamu pun korban, tapi Gian lah yang tidak bisa menyesuaikan, tidak seperti kamu yang menerima semuanya tanpa melakukan penghianatan apapun. Lakukan apa yang kamu inginkan ... Ibu tidak akan menghalangi lagi Nisa."

Nisa menunduk, dia mulai memainkan jari-jari tangannya tanpa berkata apapun.

"Katakan Nisa ... "

"Nisa ... ingin pulang ke desa Bu."

Lulu langsung memeluk Nisa erat, "Ibu sedih sekali kita harus berpisah, tapi ini sudah keputusan kamu ... Kamu berhak melanjutkan hidup sesuai dengan apa yang kamu mau, untuk perceraian ... Ibu yang akan menyuruh Gian mengurus semuanya."

"Untuk masalah perceraian, Nisa belum sampai kesana Bu ... Nisa hanya ingin menenangkan diri lebih dulu."

"Benarkah?" Mata Lulu berbinar kala mendengar penuturan menantunya itu, karena dia menyangka bahwa Nisa akan langsung meminta cerai karena masalah ini.

"Kemungkinan terburuk mungkin itu Bu, tapi saat ini Nisa hanya fokus untuk ketenangan Nisa dulu, jika kepala sudah dingin ... Keputusan apapun adalah yang terbaik."

"Kalau begitu, pulang saat ini juga ... Biarkan Gian merasakan di tinggal oleh istri yang sudah dia sia-siakan." Ucap Lulu dengan geram.

Siang itu juga Lulu langsung mengurus perjalanan pulang Nisa, tanpa mengabarkan terlebih dahulu pada Gian, Nisa juga meninggalkan ponsel yang sebelumnya sudah Gian berikan, terkahir dia berkomunikasi dengan Gian adalah saat jam makan siang, sebelum dia menonton berita yang membuat perasaannya campur aduk seperti ini.

.

.

Gian masuk ke dalam rumah dengan tergesa, panggilan dan pesan pada ponsel Nisa tak terhubung sama sekali dan itu membuatnya sangat khawatir.

*Pintu kamar di buka.

Gian langsung melihat ponsel yang ada di meja kamarnya dalam keadaan non-aktif. "Kok ga di charge?" Gumamnya.

"Sayang?" Panggil Gian, tangannya mengetuk pintu kamar mandi, tapi tak kunjung mendapat jawaban.

Pintu di buka, Gian tak menemukan Nisa disana.

"Apa dia di taman bersama ibu?"

Gian keluar kamar dan mengecek ke area taman, tapi Nisa tak ada disana.

"Ibu ... Bu ... "

Gian mengetuk pintu kamar ibunya, pintu di buka dan menampilkan Lulu dengan wajah sendunya.

"Bu Nisa mana?"

"Oh Nisa ... Dia sudah pulang ke desa." Jawab Lulu dengan santai, tapi dengan tatapan dinginnya.

"Hah? pulang ke desa? Apa maksudnya? Ibu bercanda kan?"

"Tidak, Ini sungguhan."

Gian menggaruk kepalanya frustasi, "Argh ... Kenapa tidak meneleponku dulu?! Lalu kenapa Ibu mengizinkannya?!!!" Racau Gian. Sedangkan Lulu hanya memandangnya dengan tatapan dingin dan santai.

"Ibumu wanita ... Istri mu pun sama. Ibu tau bagaimana rasanya sakit di khianati, walaupun ayah kamu tidak pernah melakukan itu, tapi Ibu tahu bagaimana rasanya. Jadi untuk apa menahan Nisa agar tetap disini? Biarkan dia melanjutkan hidupnya kembali tanpa ada bayang-bayang kamu lagi. Dan ... Kamu harus urus secepatnya perceraian untuk Nisa ... Lepaskan dia, kasihan."

Ini pasti tentang kejadian semalam, Arabela ... semua ini karenamu!

"Satu yang harus ibu tau, Aku tidak pernah mengkhianati Nisa ... Walaupun di awal aku tidak menerima pernikahan ini, tapi sama sekali aku tidak pernah atau terbersit melakukannya."

Lulu menyunggingkan senyumnya, kala mengingat video Gian yang mendorong Arabela dengan kursi rodanya. "Atur saja Gian ... Kamu sudah dewasa, yang terpenting Ibu dan Ayah selama ini sudah mencontohkan bagaimana cara terbaik memperlakukan pasangan, tapi jika kamu tidak bisa mempraktekkan itu pada pasanganmu, kami bisa apa? Kamu bukan lagi anak kecil yang harus selalu di arahkan."

Dengan wajah memerah dan tangan mengepal, Gian meninggalkan Ibunya dengan langkah yang cepat tanpa berkata apapun lagi.

Lulu tersenyum sedikit melihat punggung anaknya makin menjauh darinya, "Perjuangkan jika kamu memang tidak bersalah." Gumamnya.

.

.

Gian membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak membawa persiapan apapun selain baju yang menempel di tubuhnya. Tujuannya kali ini adalah Desa dimana tempat Nisa pulang.

Di desa.

Nisa terbatuk saat membuka pintu rumahnya yang lama. "Uhuk! Berdebu sekali ... Mungkin aku terbiasa dengan ruangan yang bersih dengan penyaring udara di rumah Gian. Baiklah ... Ayo kita mulai semuanya dari awal." Gumamnya, tangannya menyeret koper dan di bawanya masuk ke kamar.

Nisa langsung bergerak, mengganti sprei agar tidurnya bisa lebih nyaman. Setelah selesai mengurus kamar ... Dia membersihkan debu dan sarang laba-laba yang sudah mulai menyebar di setiap sudut rumah.

Di teras rumahnya saat Nisa sedang menyapu lantai, ada seorang tetangganya yang menyadari bahwa Nisa sudah kembali.

"Nisa! Inget rumah? Apa udah di usir sama orang kota? Haha." Celetuk tetangganya tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!