NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:100.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Sore itu, selepas azan Magrib berkumandang, Azalea menunaikan salat di kamar kecil yang diberikan kepadanya di lantai bawah. Ia membentangkan sajadah tipis yang selalu ia bawa sejak dari kampung. Mukena putihnya sederhana, sudah sedikit kusam, tetapi bersih dan harum sabun.

Di rumah sebesar dan semewah ini, tak ada satu pun tanda bahwa pemiliknya mengingat waktu-waktu salat. Tak ada suara azan dari alarm. Tak ada langkah tergesa menuju tempat wudhu.

Azalea berdiri, rukuk, sujud dengan khusyuk. Dalam sujudnya, ia berdoa bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk dua anak kecil yang kini menjadi tanggung jawabnya.

“Ya Allah, lembutkan hati mereka. Jangan biarkan mereka tumbuh tanpa mengenal-Mu.”

Air matanya menetes pelan membasahi sajadah. Saat ia mengucap salam dan melipat mukena, pintu kamar sedikit terbuka.

“Tante …?”

Suara kecil itu membuat Azalea menoleh. Erza dan Elora berdiri di ambang pintu. Rambut mereka masih sedikit basah setelah mandi sore.

“Kalian sudah makan?” tanya Azalea lembut.

Elora masuk lebih dulu, menatap sajadah di lantai dengan rasa ingin tahu. “Tante tadi ngapain?”

Azalea terdiam.

Erza ikut mendekat. “Kenapa Tante sujud-sujud begitu? Tante juga tadi kayak lagi ngomong sendiri.”

Pertanyaan itu sederhana. Namun, hati Azalea terasa diremas. Mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, tadi.

“Itu salat, Sayang,” jawab Azalea pelan.

“Salat?” Erza mengernyit. “Apa itu?”

Azalea menelan ludah. Ia mencoba menenangkan gejolak di dadanya. “Salat itu kita bicara sama Allah lewat doa-doa.”

“Allah siapa?” tanya Elora polos.

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari apa pun. Azalea memejamkan mata sejenak.

“Ya Allah ...."

Azalea baru sadar. Selama tiga bulan di rumah ini, tak pernah sekalipun ia melihat Enzo salat. Tak pernah mendengar Mami Elsa membaca doa. Bahkan Bi Minah pun tak pernah terlihat beribadah.

Rumah besar ini berdiri megah, tetapi terasa kosong. Kosong dari cahaya iman. Azalea meraih tangan kecil Elora dan Erza, lalu duduk di atas sajadah.

“Allah itu yang menciptakan kita,” ucap Azalea lembut. “Yang menciptakan langit, bumi, Daddy, Oma, Tante dan kalian berdua.”

Erza terdiam. “Daddy enggak pernah bilang.”

Azalea tersenyum tipis. “Sekarang Tante yang bilang.”

“Sekarang Tante mau mengaji, ya,” katanya sambil membuka mushaf kecil yang selalu ia bawa. Ia melantunkan Surah Al-Fatihah dengan suara lembut.

Ruang kamar yang biasanya dipenuhi suara game atau tangisan mendadak hening. Erza duduk bersandar di kepala ranjang. Elora memeluk bonekanya, mendengarkan dengan mata berbinar.

“Itu bahasa apa, Tante?” tanya Erza ketika Azalea selesai.

“Itu bahasa Al-Qur’an. Kitab suci umat Islam.”

“Kita Islam?” tanya Elora.

“Iya, Sayang.”

“Kok, Daddy enggak pernah ngajarin?” Erza bertanya tanpa beban.

Pertanyaan itu membuat Azalea menelan ludah. “Tante tidak tahu,” jawabnya hati-hati. “Tapi mulai sekarang, kalau kalian mau, Tante akan ajari.”

Sejak malam itu, kebiasaan baru tumbuh di rumah tersebut. Setiap azan, Azalea menggelar sajadah. Awalnya ia salat sendiri. Lalu Elora ikut menirukan gerakannya. Kemudian Erza, meski masih malu-malu.

“Tante, ayo, cerila lagi,” pinta Elora setelah Azalea selesai membaca beberapa ayat pendek.

Azalea tersenyum. “Kali ini Tante ceritakan tentang Nabi Ibrahim, ya.”

Azalea menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim mencari Tuhan, bagaimana beliau menghancurkan berhala, bagaimana kesabarannya diuji.

Erza menyela, “Berarti Nabi Ibrahim berani, ya?”

“Iya. Karena beliau percaya Allah selalu melindungi.”

“Tante, kalau marah boleh enggak?” tanya Erza suatu hari.

“Boleh,” jawab Azalea lembut. “Tapi jangan sampai menyakiti orang lain. Nabi mengajarkan kalau marah, kita diam. Kalau masih marah, ambil wudhu.”

Erza terdiam lama.

Beberapa minggu kemudian, ketika ia hampir melempar mainannya karena kalah bermain, tangannya berhenti di udara. Ia menoleh ke arah Azalea.

“Tante, aku marah.”

Azalea tersenyum bangga. “Ya sudah, bilang saja marahnya kenapa.”

Perlahan, rumah itu berubah. Erza tak lagi melempar barang. Elora tak lagi menjerit-jerit tanpa sebab. Mereka mulai belajar mengucap “Bismillah” sebelum makan. Mulai hafal doa-doa pendek. Mulai mengenal huruf hijaiyah.

Bi Minah yang awalnya hanya melihat, perlahan ikut duduk mendengarkan ketika Azalea mengaji. “Mbak, saya sudah lama enggak salat,” bisiknya suatu hari dengan mata berkaca-kaca.

“Belum terlambat, Bi,” jawab Azalea lembut.

Namun, perubahan itu tak luput dari telinga Mami Elsa. Awalnya ia tak peduli. Baginya, pengasuh datang dan pergi adalah hal biasa. Sampai suatu sore, ketika ia hendak turun ke dapur, ia mendengar suara Azalea dari ruang keluarga.

Sore itu hujan turun tipis, membasahi kaca-kaca besar ruang keluarga. Langit tampak kelabu, seolah ikut menyimpan rindu yang tak pernah benar-benar selesai di rumah itu.

Erza dan Elora duduk di atas karpet tebal dekat jendela. Buku gambar dan krayon berserakan di antara mereka. Azalea duduk bersila, memandangi dua wajah kecil yang kini jauh lebih tenang dibandingkan tiga bulan lalu.

“Tante, ” Elora menengadah, memeluk boneka kelincinya. “Mommy itu cualanya kayak gimana?”

Pertanyaan itu membuat tangan Azalea yang sedang merapikan buku terhenti. Erza yang tadi pura-pura fokus menggambar, ikut menoleh. Meski wajahnya terlihat biasa, sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu yang dalam.

Azalea menelan ludah pelan. Sudah lama anak-anak itu tak pernah menyebut kata “Mommy” dengan suara selembut ini. Biasanya hanya muncul saat mereka marah atau menangis.

“Kalian kangen Mommy?” tanya Azalea lembut.

Erza mendengus kecil. “Aku enggak kangen,” jawabnya cepat, tapi suaranya serak. “Aku cuma lupa wajahnya.”

Jawaban itu seperti belati kecil yang menusuk dada Azalea.

Elora merangkak mendekat. “Tante kan adiknya Mommy. Celita lagi, dong, tentang Mommy.”

Azalea menarik napas dalam. Ia tahu, menyebut nama Jasmine di rumah ini seperti menyentuh luka lama yang sengaja dikubur. Namun, bagaimana mungkin ia membiarkan anak-anak itu tumbuh tanpa mengenal ibunya sendiri?

“Mommy kalian ....” Suara Azalea mulai bergetar, tetapi ia berusaha tersenyum. “Cantik sekali. Senyumnya mirip Elora.”

Elora tersipu malu.

“Kalau ketawa, suaranya lembut. Mommy suka masak walaupun sering gosong,” Azalea tertawa kecil mengenang. “Dulu waktu kecil, Mommy pernah hampir membakar dapur karena lupa matikan kompor.”

Erza tanpa sadar ikut tersenyum tipis. “Mommy galak enggak?” tanyanya pelan.

Azalea menggeleng. “Mommy itu sabar. Waktu Erza kecil dan rewel semalaman, Mommy enggak tidur. Mommy gendong kamu sambil salat tahajud.”

Erza terdiam. “Mommy salat juga?” tanyanya lirih.

“Iya,” jawab Azalea, menatapnya penuh makna. “Mommy selalu salat. Dia bilang, anak-anaknya harus jadi anak yang kenal Allah.”

Elora memeluk lengan Azalea. “Mommy cayang sama aku?”

Pertanyaan itu membuat suara Azalea pecah. “Sayang sekali. Mommy sering kirim foto saat hamil kamu, saat Elora masih di dalam perut. Dia bilang, ‘Lea, doakan anakku jadi anak baik, ya.’”

Erza menunduk. Tangannya yang memegang krayon gemetar. “Aku … aku pernah bikin Mommy nangis enggak?” tanyanya tiba-tiba.

Azalea meraih wajah kecil itu, mengusap pipinya perlahan. “Mommy enggak pernah nangis karena kamu nakal. Mommy cuma nangis karena kangen kampung dan karena takut enggak bisa jadi ibu yang sempurna.”

Hujan di luar semakin deras. Tanpa mereka sadari, di ujung tangga, seseorang berdiri membeku. Mami Elsa. Tangannya mencengkeram pegangan tangga kuat-kuat. Wajahnya menegang saat mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Azalea.

“Mommy ingin kalian hafal doa sebelum tidur,” lanjut Azalea lembut. “Mommy ingin kalian jadi anak yang lembut hatinya.”

“Seperti Tante?” tanya Elora polos.

Azalea tersenyum sendu. “Tante cuma meneruskan apa yang Mommy kalian inginkan.”

“Cukup!”

Suara keras itu membelah suasana. Erza dan Elora tersentak. Azalea menoleh cepat.

Mami Elsa sudah berdiri di ruang keluarga, wajahnya merah padam. “Apa yang kamu lakukan?” suaranya tajam, bergetar oleh amarah yang ditahan.

1
Tri Handayani
waduuh thor masak azaela harus ngerawat orang sakit lagi🤔🤔kasihan bangeeet thoor
Tasmiyati Yati
aku baca juga tapi belum mulai lagi
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang dan kemaren dia ditakdirkan memiliki menantu yang bukan dari kalangannya kan, tapi sejati baik Jasmine dan Azalea perempuan baik meski berasal dari kampung
Sugiharti Rusli
seharusnya dia mencari profesional buat membantunya agar tidak selalu dibayang- bayangi keluarga ayahnya yang berselingkuh dengan orang dari latar belakang berbeda darinya,,,
Sugiharti Rusli
mungkin sejatinya mami Elsa baik yah, karena dia memilki traumatis dengan orang yang berasal dari kampung, yah padahal kan ga semua seperti itu,,,
Sugiharti Rusli
oh ternyata ada luka masa lalu dari apa yang mami Elsa alami dengan kedua ortu nya dulu,,
Tasmiyati Yati
anak kalau gak di ajari dari kecil untuk beribadah saat dewasa akan menyepelekan saat waktunya beribadah
Tasmiyati Yati
semoga mendapat hidayah ya Enzo
Tasmiyati Yati
semoga mendapat hidayah ya Enzo
Naufal Affiq
mertua gak punya hati,gak semua wanita dari kampung itu kerjanya merusak rumah tangga orang,jadi jangan sama kan dengan ayah,kakek mu yang selingkuh sama pembantunya lho
ken darsihk
Dan kecelakaan itu mengharuskan mami Elsa mendapatkan transfusi darah , akhir nya Azalea maju untuk me donor kan darah nya
Lisa
Moga dgn kecelakaan itu Mami Elsa jadi sadar dr kesombongannya
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!