NovelToon NovelToon
Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Fantasi Wanita / Balas dendam pengganti
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: MellaMar

Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.

Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.

Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.


Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?

Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?

Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?


Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️


Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamatan untuk Aira

Ryker bergegas pergi untuk mencari tabib dari bangsa manusia, meninggalkan Magnitius dan Tabib Klier yang masih menunggu di Selini.

"Yang Mulia, saya akan terus memantau kondisi Nona Aira," kata Tabib Klier, .

Magnitius mengangguk, "Baik, Tabib Klier. Lakukan apa saja yang perlu dilakukan."

Sementara itu, Ryker berlari keluar dari istana, mencari tabib dari bangsa manusia yang bisa membantu Aira. Dia tahu bahwa ada seorang tabib yang terkenal di kota penyihir, dan dia berharap tabib itu bisa membantu.

Ryker berlari ke arah rumah Tabib Elian, seorang tabib dari bangsa manusia yang terkenal dengan keahliannya dalam mengobati penyakit aneh.

Tabib Elian merupakan tabib yang masih muda. Tampangnya yang gagah seperti ksatria, membuat ia tidak terlihat seperti penyihir.

Ryker tiba di rumah Tabib Elian dan mengetuk pintu. Tabib Elian membuka pintu, dan Ryker langsung menjelaskan situasi Aira. Tabib Elian mendengarkan dengan serius, lalu mengangguk.

"Baik, saya akan ikut denganmu," kata Tabib Elian, suaranya yang tegas.

Tabib Elian mengambil tas medisnya dan mengikuti Ryker ke istana. Saat mereka tiba, Magnitius dan Tabib Klier menyambut mereka.

"Ryker, aku menyuruhmu membawa tabib!". Ucap Magnitius meradang setelah melihat penampilan tabib Elian.

"Ini tabib Elian dari kota penyihir, yang mulia". Jawab Ryker

Magnitius memandang Tabib Elian dengan mata yang membesar, lalu kembali ke ekspresi yang tenang.

"Ah, maafkan aku, Tabib Elian," kata Magnitius, suaranya yang berwibawa. "Aku tidak bermaksud untuk menghina. Aku hanya khawatir tentang Aira."

Tabib Elian tersenyum, "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya memahami kekhawatiran Anda. Saya akan melakukan yang terbaik untuk membantu Nona Aira."

Ryker masih berdiri di dekat sana, sedikit takut akan kemarahan Magnitius. Tapi Magnitius hanya mengangguk kepadanya, "Baik, Ryker. Bantu Tabib Elian melakukan apa yang dia butuhkan."

Tabib Elian memeriksa Aira dengan teliti, matanya yang tajam memindai setiap detil tubuhnya. Dia adalah seorang tabib muda yang berbakat, dengan reputasi yang sudah dikenal di kalangan masyarakat. Wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tegap membuatnya terlihat seperti seorang ksatria, bukan seorang tabib.

Saat memeriksa Aira, Tabib Elian tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tapi Magnitius bisa melihat sedikit kekhawatiran di matanya. Setelah beberapa saat, Tabib Elian berhenti dan memandang Magnitius.

"Yang Mulia, apakah nona Aira adalah putri dari kerajaan Es, dan satu-satunya keluarga kerajaan yang selamat?". Tabib Elian bertanya.

"Benar. Apa ada masalah?". Magnitius balik bertanya dengan khawatir.

Tabib Klier dan Ryker terkejut mendengar ucapan raja mereka. "Bagaimana bisa seorang putri es bertahan di kerajaan vampir yang sangat panas ini?". Begitu kira-kira isi pikiran mereka.

Tabib Elian mengangguk faham. "Yang Mulia, saya membutuhkan balokan es yang banyak untuk meredakan panas tubuh nona Aira". Jelasnya.

"Ryker! Perintahkan semua prajurit di istana untuk mengambil es di gunung es sana secepatnya". Titah Magnitius.

"Baik yang Muli, saya permisi". Ryker membungkuk hormat kemudian pergi menjalankan perintah.

Tabib Elian mengangguk puas, "Baik, Yang Mulia. Sementara itu, saya akan melakukan beberapa ritual untuk membantu menstabilkan kondisi Nona Aira."

Tabib Klier yang berdiri di sebelah Tabib Elian, terlihat sedikit skeptis, tapi tidak mengatakan apa-apa. Magnitius memandang Aira yang masih terbaring, wajahnya yang pucat membuat hatinya terasa berat.

Sementara itu, di luar istana, Ryker berlari ke arah barak prajurit, memerintahkan mereka untuk mengambil es di gunung es secepatnya. Prajurit-prajurit itu langsung bergerak, membawa peralatan mereka untuk menjalankan perintah raja.

Beberapa jam berlalu, dan akhirnya es-es yang dibawa oleh prajurit-prajurit itu tiba di istana. Tabib Elian langsung menggunakannya untuk membuat semacam kolam es di water castle milik Magnitius.

"Ini akan membantu menurunkan suhu tubuhnya," kata Tabib Elian mengangkat tubuh Aira.

"Lancangnya kau menyentuh Aira!". Teriak Magnitius.

"Ampuni saya Yang Mulia, nona Aira tidak bisa dibiarkan". Ucap tabib Elian tidak menghentikan aktivitasnya.

Kemudian Tabib Elian merendam tubuh Aira di dalam kolam es, dengan menyisakan kepalanya yang menyembul ke permukaan.

Balok-balok es yang tadi mengepul mengeluarkan uap dingin, dengan cepat mencair karena energi panas yang Aira keluarkan.

"Apa ini tabib Elian?". Magnitius khawatir

Tabib Elian memandang Magnitius dengan tenang, "Ini adalah proses detoksifikasi, Yang Mulia. Nona Aira memiliki energi panas yang sangat tinggi di dalam tubuhnya, dan es ini akan membantu menurunkannya."

Magnitius memandang Aira yang terendam di dalam kolam es, "Tapi... apa yang akan terjadi pada Aira?"

Tabib Elian menjawab, "Jangan khawatir, Yang Mulia. Ini adalah proses yang normal. Nona Aira akan mulai mengeluarkan energi panas yang berlebihan, dan es ini akan menyerapnya."

"energi panas ini berasal dari sihir yang mengikat pintu energi nona Aira. Sepertinya, tubuh nona Aira sedang mengolah energi yang sangat kuat. Tapi karena sihir yang mengutuknya, energi itu hampir memakan jiwa nona Aira". Tambah Tabib Elian

"Tabib Elian, apa yang akan terjadi jika nona Aira tidak bisa mengeluarkan energi panas ini?" tanya Ryker.

Tabib Elian memandang Ryker, "Jika itu terjadi, maka tubuh Nona Aira bisa mengalami kerusakan permanen, atau bahkan."

Tabib Elian tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Magnitius dan Ryker tahu apa yang dia maksud.

Tabib Klier yang berdiri di sebelah Tabib Elian, akhirnya berbicara, "Saya tidak percaya, sepertinya Nona Aira memang memiliki kekuatan yang luar biasa."

Tabib Elian mengangguk, "Ya, saya juga berpikir begitu. Tapi kita harus berhati-hati, kekuatan itu bisa menjadi berkat atau malapetaka bagi Nona Aira."

"Elian? Mengapa es-nya berubah menjadi air yang mendidih?". Teriak Magnitius.

Dengan cepat tabib Elian mengangkat tubuh Aira untuk ia kembalikan ke kasur. "Yang Mulia, nona Aira harus mengganti pakaiannya". Seru Elian

Magnitius dengan cepat memanggil para maid, mendesaknya untuk melakukan secepat kilat. Sementara mereka menunggu di luar Selini.

Setelah selesai tabib Elian meminta kain yang banyak dan beberapa tungku api. Magnitius benar-benar penasaran dengan apa yang tabib Elian lakukan.

"Kenapa harus di balut dengan kain sebanyak ini tabib Elian? Bukankah tadi Aira sudah mengeluarkan energi panasnya? dengan begini apakah energi panasnya akan kembali menyerang?". Tanya Magnitius menatap tabib Elian yang sibuk membalut tubuh Aira.

"Jika tadi panas, maka sekarang kebalikannya Yang Mulia. Tubuh Aira sedang mencerna energi yang terlalu kuat sehingga saraf dalam tubuhnya tidak berjalan dengan baik". Jelas tabib Elian, selesai memasangkan kain.

Setelah itu, Tabib Elian meminta bantuan yang lain untuk menghidupkan tungku api di sekitar tubuh Aira. Magnitius memandang Aira yang terbalut dengan kain tebal, dikelilingi oleh tungku api yang menyala.

"Apa yang kamu lakukan, Tabib Elian? Apakah ini akan membantu Aira?"

Tabib Elian menjawab, "Ya, Yang Mulia. Tubuh Aira sekarang sedang mengalami proses pendinginan yang ekstrem, sehingga kita perlu memberikan kehangatan untuk menyeimbangkannya. Api ini akan membantu meningkatkan suhu tubuhnya secara perlahan-lahan."

Magnitius mengangguk, "aku percaya padamu, Tabib Elian."

Tabib Elian memandang Aira dengan serius, "Kita harus memantau kondisinya dengan sangat hati-hati, Yang Mulia. Proses ini sangat berisiko."

"Aku menyerahkan semuanya padamu". Tukas Magnitius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!