NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

BAB 26: Rahasia di Balik Gaun Pengantin dan Ranjang yang Dingin

Dua bulan menuju "Pernikahan Abad Ini" di Berlin. Musim dingin yang menggigit mulai mencair, menyisakan genangan air di jalanan berbatu yang memantulkan kemegahan kastil Hohenzollern. Di dalam dinding-dinding batu yang angkuh itu, sebuah berita besar meledak seperti bom waktu yang akhirnya mencapai detik nol.

Sophia von Sophia hamil.

Kabar itu menyebar di kalangan internal keluarga seperti api di atas jerami kering. Maximilian, sang kaisar tua, tertawa terbahak-bahak saat mendengar berita itu—sebuah tawa kemenangan yang jarang terdengar. Baginya, janin di rahim Sophia adalah segel mutlak bagi kerajaan bisnis yang ia bangun. Tidak ada lagi jalan keluar bagi Aurelius. Garis keturunan Hohenzollern akan bersatu dengan kekayaan Sophia selamanya.

Di ruang duduk utama, Sophia bersandar di kursi beludru dengan wajah yang memancarkan kemenangan absolut. Ia membelai perutnya yang masih rata, namun di matanya, ia sudah melihat mahkota yang lebih besar.

Aurelius masuk ke ruangan itu dengan langkah yang mekanis. Ia mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, wajahnya tampak bugar namun matanya tetaplah telaga yang mati. Ia menghampiri Sophia, lalu dengan gerakan yang terlatih sempurna, ia berlutut di depan wanita itu dan mengecup punggung tangannya.

"Kau harus banyak istirahat, Sophia," ucap Aurelius. Suaranya rendah, lembut, namun jika seseorang mendengarkan dengan sangat teliti, ada nada kehampaan yang mengerikan di sana.

"Aku sangat bahagia, Aurelius," bisik Sophia, jemarinya menyisir rambut Aurelius. "Anak ini akan menjadi pewaris terhebat yang pernah ada. Dia memiliki darahmu, dan dukunganku."

Aurelius tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Tentu saja. Dia akan memiliki segalanya."

Di dalam hatinya, Aurelius merasa seperti sedang menelan belati. Setiap kali ia menyentuh Sophia, setiap kali ia berpura-pura peduli pada janin itu, ia merasa jiwanya semakin terkikis. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia telah memilih untuk menjadi monster agar Hana bisa hidup. Ia telah memilih untuk membusuk di dalam penjara ini agar wanita di Tokyo itu tidak perlu menanggung kemarahan ayahnya.

Tokyo, Jepang.

Di belahan bumi yang lain, matahari musim semi menyinari gedung pencakar langit Asuka Group. Hana Asuka berdiri di kantornya, menatap undangan pernikahan Aurelius dan Sophia yang baru saja tiba di mejanya—undangan resmi kali ini, lengkap dengan segel lilin keluarga Hohenzollern.

Hana sudah mendengar kabar itu. Berita kehamilan Sophia sudah menjadi rahasia umum di kalangan elit global.

Hana meremas pinggiran meja kerjanya hingga jemarinya memutih. "Selamat, Ren-san," bisiknya dengan suara yang nyaris hilang. "Kau benar-benar telah menjadi milik mereka."

Malam harinya, di rumah mewah keluarga Tanaka, suasana terasa sunyi namun menekan. Kaito Tanaka pulang dengan buket bunga mawar merah muda dan sekotak cokelat mahal. Ia adalah suami yang sempurna—sabar, penuh kasih, dan selalu mencoba mengerti.

Saat makan malam selesai, Kaito mendekati Hana yang sedang duduk di ruang baca. Ia memeluk bahu istrinya, menghirup aroma rambut Hana yang selalu ia puja.

"Hana," bisik Kaito, suaranya mengandung keinginan yang sudah lama ia bendung. "Sudah berbulan-bulan kita menikah... dan aku merasa kita masih seperti orang asing di atas ranjang. Apakah malam ini... kau bisa memberiku kesempatan?"

Hana mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena rasa takut dan mual yang selalu muncul setiap kali Kaito mengajaknya melakukan hubungan suami istri. Bayangan malam di Paris bersama Aurelius—sentuhan kasar yang penuh gairah, desahan yang jujur—selalu menghantuinya. Ia merasa jika ia membiarkan Kaito menyentuhnya, ia akan benar-benar mengkhianati satu-satunya bagian dari dirinya yang masih tersisa: cintanya pada Ren.

Hana perlahan melepaskan tangan Kaito dari bahunya. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela, membelakangi suaminya.

"Maafkan aku, Kaito," ucap Hana, suaranya terdengar sangat lelah. "Aku baru saja menerima kabar bahwa proyek pembangunan pabrik di Nagoya mengalami kendala besar. Aku harus meninjau ulang ribuan dokumen malam ini. Pikiranku sangat kacau. Aku tidak ingin melakukannya dalam keadaan tertekan seperti ini."

Kaito menghela napas panjang. Ini adalah alasan kesekian kalinya. Minggu lalu alasannya adalah migrain, minggu sebelumnya adalah siklus bulanan, dan minggu sebelumnya lagi adalah kelelahan pasca rapat pemegang saham.

"Hana, sampai kapan?" tanya Kaito, suaranya bergetar oleh rasa sakit yang tulus. "Aku mencintaimu. Aku ingin memiliki keluarga denganmu. Apakah kau benar-benar mencintaiku, atau kau hanya menikahiku untuk status?"

Hana berbalik, menatap Kaito dengan mata yang sembab namun dingin. "Aku menikahimu karena aku menghargaimu, Kaito. Tapi tolong, jangan paksa aku. Jika kau mencintaiku, kau akan mengerti bahwa beban perusahaan ini ada di pundakku."

Kaito menunduk. Ia merasa seperti pecundang di rumahnya sendiri. "Baiklah. Aku akan tidur di kamar tamu malam ini. Beristirahatlah."

Begitu pintu tertutup, Hana merosot ke lantai. Ia memeluk lututnya dan menangis tanpa suara. Ia merasa sangat jahat karena memanfaatkan Kaito yang tulus, namun ia tidak bisa menyerahkan tubuhnya. Tubuhnya terasa seperti kuil yang hanya boleh dimasuki oleh satu pria, meskipun pria itu sekarang sedang mempersiapkan pernikahan dan menanti kelahiran anak dari wanita lain.

Kembali ke Berlin, dua minggu kemudian.

Aurelius sedang berada di bar pribadi di dalam kastil. Ia memegang botol Cognac tua, namun ia tidak meminumnya. Ia hanya menatap cairan amber itu.

Julian masuk ke ruangan, wajahnya tampak ragu. "Kak... kau harus melihat ini."

Julian menyodorkan tabletnya. Di sana ada laporan intelijen dari Tokyo. Laporan itu berisi detail tentang keretakan rumah tangga Hana dan Kaito—tentang bagaimana pasangan itu dikabarkan tidak pernah tidur seranjang dan bagaimana Kaito sering terlihat murung di kantor.

Aurelius membaca laporan itu dengan napas tertahan. Sebuah harapan yang menyakitkan muncul di dadanya, namun segera ia tepis.

"Dia menyiksa dirinya sendiri," bisik Aurelius. "Dia membiarkan dirinya menderita di sana, sementara aku di sini..."

Aurelius melempar tablet itu ke meja. "Julian, pastikan keamanan di sekitar rumah Hana ditingkatkan. Gunakan tim bayangan. Aku tidak ingin suaminya yang putus asa itu melakukan hal bodoh padanya."

"Tapi Kak, bagaimana dengan Sophia? Dia mulai curiga kenapa kau sering melamun dan menghabiskan waktu di ruang kerja hingga pagi," tanya Julian cemas.

Aurelius berdiri, merapikan kemejanya. "Sophia memiliki rahim yang berisi ahli waris Hohenzollern. Itu sudah cukup untuknya. Selama aku memberinya kemesraan palsu di depan publik dan perhiasan mahal, dia akan tetap diam."

Aurelius melangkah menuju balkon yang menghadap ke arah timur. Angin musim dingin yang terakhir berhembus kencang, memainkan rambutnya yang acak-acakan.

"Dua bulan lagi, Hana," ucap Aurelius pada kegelapan malam. "Dua bulan lagi aku akan benar-benar terjebak. Dan kau... kau masih saja menungguku dalam diammu yang menyakitkan."

Malam itu, di Berlin dan Tokyo, dua jiwa yang terpisah samudera tetap saling terikat dalam penderitaan yang sama. Aurelius menjalani hari-harinya dengan kemesraan palsu demi ambisi dan keamanan, sementara Hana menjalani hari-harinya dengan kedinginan mutlak demi menjaga kesetiaan pada pria yang sudah mustahil ia miliki.

Permainan takhta dan hati ini semakin rumit. Kehamilan Sophia adalah rantai besi yang mengikat Aurelius, sementara penolakan Hana adalah duri yang terus menusuk suaminya. Di balik cahaya lampu pesta dan laporan bisnis, badai besar sedang bersiap untuk menghantam mereka berdua saat hari pernikahan itu tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!