NovelToon NovelToon
Gormod

Gormod

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Malam di Mayfair Mansion selalu terasa seperti penjara berlapis emas. Sunyi yang merayap di lorong-lorongnya bukan memberikan ketenangan, melainkan tekanan yang membuat sesak. Ezzvaro melangkah gontai menyusuri koridor lantai atas, berniat menenggelamkan diri dalam tidur yang tak kunjung datang, sampai sebuah bayangan tinggi mencegatnya tepat di depan pintu kamar.

Tharzeo berdiri di sana, bersandar pada dinding dengan tangan bersedekap. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Matanya yang tajam, yang biasanya hanya peduli pada angka dan akuisisi, kini menatap adiknya dengan intensitas yang berbeda.

"Apa hubunganmu dengan Gabriel yang sebenarnya, Ez?"

Pertanyaan itu meluncur tenang, namun efeknya seperti ledakan granat di lorong yang sempit. Ezzvaro membeku. Pegangannya pada gagang pintu mengeras.

"Apa maksudmu? Dia adik tiri kita. Kau sendiri yang bilang kita harus pragmatis," sahut Ezzvaro tanpa menoleh, suaranya mencoba terdengar datar meskipun jantungnya berdentum keras.

"Jangan gunakan kata-kataku untuk membentengi dirimu," potong Tharzeo dingin. Ia melangkah maju, memperkecil jarak. "Aku mengenalmu lebih dari Ayah mengenalmu. Aku menemukan sesuatu yang sangat janggal dari tatapan mata kalian. Ada kebencian yang terlalu dalam, dan ada gairah yang terlalu rusak untuk ukuran dua orang yang baru bertemu beberapa hari. Kalian tidak sedang bermusuhan karena status keluarga. Kalian sedang berperang dengan sesuatu yang jauh lebih tua."

Ezzvaro tertawa getir. Ia menyandarkan kepalanya pada pintu kayu jati yang dingin, memejamkan mata. Rahasia ini sudah terlalu berat untuk dipikul sendiri di bawah atap yang sama.

"Dia mantan kekasihku, Theo," bisik Ezzvaro akhirnya. Suaranya pecah, membawa beban tiga tahun pengasingan. "Wanita yang pernah kau pergoki di apartemenku saat aku masih di bangku High School. Kau ingat?"

Hening menyergap. Tharzeo tampak seolah baru saja dihantam kenyataan fisik. Matanya membelalak kecil, otaknya memutar kembali memori bertahun-tahun lalu—sebuah insiden yang selama ini ia anggap sebagai kenakalan remaja biasa yang tidak berarti.

"Wanita itu... adalah Gabriel Batistuta?" Tharzeo bertanya dengan nada tak percaya. "Gadis misterius yang kau sembunyikan identitasnya habis-habisan sampai aku harus mendobrak masuk karena kau tidak menjawab telepon selama dua hari?"

"Ya," jawab Ezzvaro pendek. "Dan sekarang takdir membawanya kembali sebagai saudari kita. Lucu, bukan?"

"Jangan lagi dibahas," gumam Tharzeo, suaranya kini mengandung simpati yang jarang ia tunjukkan. Ia tahu betapa hancurnya Ezzvaro saat pergi ke New York dulu. Ia mengira itu hanya patah hati biasa, namun melihat kondisi Ezzvaro sekarang, ia sadar ini adalah amputasi jiwa.

Di balik pilar besar tak jauh dari sana, Gabriel berdiri mematung. Ia bermaksud turun ke dapur untuk mengambil air minum, namun langkahnya terhenti saat mendengar namanya disebut. Ia menekan punggungnya ke dinding dingin, menahan napas agar isak tangisnya tidak lolos.

Mendengar Ezzvaro mengakui hubungan mereka pada Tharzeo membuat jantungnya berdenyut nyeri. Namun, saat memori tentang "kejadian di apartemen" itu disebut, pipi Gabriel mendadak terasa terbakar. Merah padam menjalar hingga ke lehernya.

Kilas Balik: Musim Panas, Tujuh Tahun Lalu

Apartemen Ezzvaro saat itu adalah satu-satunya tempat di dunia di mana mereka merasa bebas. Tanpa nama belakang Manafe, tanpa bayang-bayang Batistuta. Mereka hanya dua remaja yang terbakar oleh obsesi yang mereka sebut cinta.

Malam itu sangat gila. Mereka baru saja merayakan kelulusan High School. Gairah mereka selalu—melampaui batas kewarasan. Mereka tidak sampai ke kamar tidur. Di ruang tamu, di atas sofa kulit hitam yang dingin, mereka saling menjajah.

Gabriel ingat bagaimana jari-jari Ezzvaro mencengkeram pinggangnya, bagaimana mereka bergerak berirama di balik selimut sutra tipis yang nyaris tak menutupi apa pun. Suara napas yang memburu dan desahan "Vavo" yang terus keluar dari bibirnya memenuhi ruangan.

Tiba-tiba, pintu apartemen terbuka. Tharzeo, yang saat itu sudah memegang kendali atas adiknya dan memiliki sandi akses darurat, melangkah masuk dengan wajah gusar karena Ezzvaro mengabaikan rapat keluarga.

Tharzeo terpaku di ambang pintu. Matanya menangkap pemandangan dua tubuh yang sedang bergumul di balik selimut yang bergerak kacau di atas sofa. Suara decit sofa dan aroma gairah di udara membuat Tharzeo langsung membalikkan badan dengan wajah merah padam karena marah dan malu.

"Ezzvaro! Pakai pakaianmu dan hubungi aku dalam sepuluh menit!" teriak Tharzeo saat itu sebelum membanting pintu keluar.

Gabriel ingat bagaimana ia bersembunyi di balik dada Ezzvaro, gemetar karena malu, sementara Ezzvaro justru tertawa pelan sambil mengecup keningnya, membisikkan bahwa dia tidak peduli jika seluruh dunia melihat, selama Gabriel adalah miliknya.

Kembali ke Masa Kini

Gabriel memejamkan matanya erat-berat di balik pilar. Air mata panas mengalir di pipinya yang masih memerah. Kenangan itu terlalu indah untuk dibandingkan dengan kenyataan mereka sekarang yang penuh duri.

"Ayah mengira kalian bermusuhan karena perebutan kekuasaan," suara Tharzeo kembali terdengar, membawa Gabriel kembali ke realita. "Dia tidak tahu kalau kalian membagi segalanya. Cinta, patah hati, trauma... kalian membaginya bersama dalam diam."

"Kami tidak membagi apa pun lagi, Theo," sahut Ezzvaro, suaranya terdengar sangat lelah, sangat kosong. "Yang tersisa hanya sisa-sisa pembakaran. Aku melihatnya dicium pria lain, dan aku sadar... takdir memang ingin aku berhenti berdebat. Aku sudah mengikhlaskannya. Segala yang ingin pergi, tidak akan aku tahan lagi."

Ezzvaro membuka pintu kamarnya, masuk, dan menutupnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Tharzeo menghela napas panjang, menatap pintu kamar adiknya dengan tatapan iba sebelum akhirnya melangkah pergi menuju kamarnya sendiri.

Setelah koridor benar-benar sunyi, Gabriel keluar dari persembunyiannya. Ia melangkah menuju pintu kamar Ezzvaro, tangannya terangkat ingin mengetuk, ingin menjelaskan bahwa ciuman waktu itu adalah sebuah kecelakaan, ingin berteriak bahwa dia juga hancur.

Namun, ia teringat kata-kata Ezzvaro: "Segala yang ingin pergi, tidak akan aku tahan lagi."

Gabriel menarik kembali tangannya. Ia bersandar pada pintu kamar Ezzvaro, persis di posisi pria itu berdiri tadi. Ia merosot hingga terduduk di lantai, memeluk lututnya sendiri.

"Kau bodoh, Vavo," bisik Gabriel dalam kegelapan lorong. Isakannya mulai pecah, tertahan oleh telapak tangannya. "Kau pikir kau saja yang merasa mengkhianatiku saat menyentuh dirimu sendiri? Aku bahkan benci melihat cermin karena aku melihat sisa-sisa sentuhanmu yang tidak bisa kuhapus."

Malam itu, Mayfair Mansion menjadi saksi bisu dua orang yang saling mencintai dengan cara yang paling menyakitkan. Di balik pintu yang tertutup, Ezzvaro menatap langit-langit dengan hati yang mati rasa. Dan di luar pintu, di atas lantai koridor yang dingin, Gabriel menangis hingga matanya kering.

Mereka berbagi rumah yang sama, nama keluarga yang sama, dan luka yang sama. Namun, di antara mereka kini terbentang jurang bernama "keikhlasan" yang dipaksakan—sebuah akhir yang lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.

🌷🌷🌷🌷

1
winpar
kerennnnn
winpar
pokoknya lnjut thorrrrrt💪💪💪💪
ros 🍂: ma'aciww kak😍
total 1 replies
winpar
hahhahHaa🤣🤣🤣
ros 🍂: Jangan ketawa sendiri kak🙏🤣🤣🤣
total 1 replies
winpar
bener2 seruuuuuuuuuu
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
yg ditunggu2 akhirny up jg💪
ros 🍂: semoga suka kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
lnjut thorrr💪
ros 🍂: siapp kak🥰
total 1 replies
Mifta Nurjanah
cieee junior nya bngun wkwkwk
ros 🍂: Jangan dibongkar disini kak🙏🤣
total 1 replies
Lfa🩵🪽
Semangatt ✨
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
thor ceritanya selalu seru🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!