NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peran Barista Pribadi

Alarm ponsel Sinta berbunyi tepat pukul 05.30 pagi, sebuah jam yang biasanya ia maki karena harus memaksanya bangkit dari kehangatan selimut. Namun pagi ini berbeda. Ada semacam letupan semangat kecil yang menggelitik dadanya—sebuah misi rahasia yang ia rencanakan sejak semalam setelah insiden Ayam Garang Asem yang sukses melunakkan hati suaminya yang kaku.

Sinta berjingkat menuju dapur, berusaha tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa membangunkan Jingga. Ia membuka lemari kabinet atas, tempat ia menyimpan mesin kopi kapsul kecil dan beberapa bungkus biji kopi pilihan yang jarang ia sentuh karena biasanya ia lebih memilih kopi instan sasetan atau membeli latte mahal di lobi kantor bersama Adrian.

"Oke, Jingga itu... tipenya black coffee garis keras," gumam Sinta pelan.

Ia teringat beberapa kali melihat Jingga di kantor membawa botol minum berisi cairan hitam pekat tanpa susu, tanpa krimer, dan tanpa gula. Bahkan saat mereka sedang lembur dan Jingga tampak sangat kelelahan, pria itu menolak tawaran kopi manis dari Luna. 'Gue nggak suka rasa yang menipu,' begitu kata Jingga waktu itu. Sinta sempat menganggap ucapan itu hanya gaya-gayaan biar terlihat keren, tapi sekarang ia mulai mengerti bahwa Jingga memang menyukai segala sesuatu yang jujur, sepahit apa pun itu.

Sinta mulai menimbang biji kopi Arabica Toraja yang punya aroma tanah dan cokelat yang kuat. Ia menghancurkannya dengan grinder manual—suara gilingannya terasa seperti musik di keheningan pagi. Bau harum kopi yang baru digiling seketika menyeruak, mengalahkan aroma pembersih lantai yang biasanya mendominasi apartemen.

Saat Sinta sedang sibuk mengatur suhu air, sebuah langkah kaki berat terdengar mendekat. Jingga muncul dari balik lorong kamar, masih dengan wajah bantal dan rambut yang mencuat ke segala arah. Ia berhenti tepat di ambang dapur, mengucek matanya yang masih menyipit.

"Lu... ngapain pagi-pagi udah berisik?" suara serak khas bangun tidur Jingga terdengar lebih berat dari biasanya.

Sinta menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada corong V60 di depannya. "Lagi jadi barista. Lu duduk aja di sana, jangan banyak tanya."

Jingga menguap lebar, lalu menarik kursi makan. Ia memperhatikan punggung Sinta yang tampak luwes menuangkan air panas secara perlahan, menciptakan gerakan melingkar yang presisi. Sinta tampak sangat berkonsentrasi, seolah-olah sedang menghitung setiap tetesan kafein yang jatuh ke dalam server kaca.

"Lu bisa bikin kopi beneran? Bukannya biasanya lu cuma minum air warna cokelat yang banyak gulanya itu?" sindir Jingga, meski matanya tak lepas dari cara tangan Sinta memegang teko leher angsa.

"Enak aja! Gue pernah ikut workshop barista bareng tim marketing tahun lalu tahu!" balas Sinta tanpa menoleh. "Dan hari ini, gue mau buktiin kalau lidah lu yang sombong itu bakal mengakui kopi buatan gue."

Beberapa menit kemudian, Sinta meletakkan sebuah cangkir keramik berwarna abu-abu gelap di depan Jingga. Uap tipis mengepul dari sana, membawa aroma yang sangat spesifik: sedikit asam buah, namun diakhiri dengan jejak aroma kacang-kacangan.

"Tanpa gula. Tanpa drama. Silakan dicoba, Tuan Jingga yang Terhormat," ucap Sinta sambil bersedekap, menanti reaksi dengan perasaan waswas yang sama seperti saat ia menyajikan masakan semalam.

Jingga menatap cangkir itu sejenak. Ia meniup permukaannya perlahan, lalu menyesapnya sedikit. Cairan panas itu membasahi lidahnya, memberikan sensasi hangat yang menjalar hingga ke dada. Matanya sedikit melebar. Ia menyesapnya lagi, kali ini lebih banyak.

"Gimana?" tagih Sinta.

Jingga terdiam cukup lama, membiarkan aftertaste kopi itu menetap di tenggorokannya. "Suhunya pas. Nggak gosong. Dan lu beneran nggak pake gula?"

"Ngapain pake gula kalau yang bikin udah manis?" celetuk Sinta asal, yang sedetik kemudian membuatnya ingin menggigit lidahnya sendiri karena malu.

Jingga tersedak kecil. Ia menatap Sinta dengan tatapan aneh—campuran antara bingung dan sesuatu yang tampak seperti rasa geli yang tertahan. "Lu... kerasukan apa pagi ini? Gombalan lu lebih jelek daripada draf laporan kredit lu, Sin."

Sinta merona hebat. Ia segera berbalik kembali ke meja dapur untuk merapikan alat-alat kopinya. "Maksud gue... ya, pokoknya gitu! Intinya kopi gue enak kan?"

"Iya. Enak," aku Jingga pelan. "Lebih enak daripada kopi di kantin kantor yang rasanya kayak air rendaman arang. Thanks."

Sinta tersenyum tanpa terlihat oleh Jingga. Ada kepuasan tersendiri bisa memulai pagi dengan pengakuan jujur dari pria ini. Selama dua puluh menit berikutnya, mereka duduk di meja makan dalam ketenangan yang tidak biasa. Sinta dengan teh hijaunya, dan Jingga dengan kopi buatannya. Tidak ada perdebatan soal siapa yang menghabiskan pasta gigi atau siapa yang lupa mematikan lampu balkon.

"Besok... bikin lagi ya," ucap Jingga tiba-tiba saat ia menghabiskan tetes terakhir kopinya.

Sinta mendongak. "Tiap hari? Lu pikir gue kafe berjalan?"

Jingga berdiri, membawa cangkirnya ke wastafel dan mencucinya sendiri—sebuah refleks yang mulai terbentuk sejak kesepakatan bagi tugas mereka. "Ya, anggap aja ini bagian dari 'tanggung jawab rumah tangga'. Lu masak malam dan bikin kopi pagi, gue yang urus sisa kotorannya. Adil kan?"

"Boleh. Tapi biji kopinya lu yang beli ya. Gue mau yang mahal," canda Sinta.

"Gampang. Nanti gue beliin yang paling mahal biar lu makin rajin bangun pagi," balas Jingga sambil berlalu menuju kamar mandi.

Rutinitas baru ini ternyata membawa perubahan yang tidak terduga dalam dinamika mereka di kantor. Hari itu, Sinta merasa jauh lebih bertenaga. Namun, di sisi lain, ia juga merasa ada beban rahasia baru yang ia pikul. Setiap kali ia melihat Adrian berjalan mendekat dengan segelas kopi dari gerai waralaba mahal di tangannya, Sinta teringat pada cangkir abu-abu gelap di meja makan apartemennya.

"Pagi, Sinta. Tadi saya mau belikan kamu caramel macchiato, tapi antreannya panjang sekali. Maaf ya," ucap Adrian saat mereka berpapasan di depan mesin fotokopi.

Sinta tersenyum canggung. "Nggak apa-apa, Mas Adrian. Aku... aku tadi udah ngopi di rumah kok. Bikin sendiri."

Adrian mengernyitkan dahi. "Oh ya? Sejak kapan kamu punya hobi bikin kopi sendiri pagi-pagi? Bukannya kamu tipe yang nggak bisa berfungsi kalau belum kena gula?"

"Lagi mencoba hidup lebih sehat aja, Mas. Kurangi gula," kilah Sinta, meski hatinya merasa sedikit bersalah telah berbohong.

Di sudut ruangan, Jingga yang sedang berbicara dengan rekan kerjanya sesekali melirik ke arah mereka. Ia melihat Adrian yang mencoba merapikan kerah baju Sinta yang sedikit terlipat—sebuah gestur yang sangat intim bagi orang-orang di kantor. Jingga mengepalkan tangannya di balik saku celana, namun kemudian ia teringat rasa kopi buatan Sinta pagi tadi. Ada sebuah rasa kemenangan kecil yang ia simpan sendiri: Adrian mungkin bisa membelikan Sinta kopi mahal setiap hari, tapi hanya Jingga yang tahu takaran suhu air dan keasaman yang Sinta ciptakan khusus untuknya di dapur mereka yang sunyi.

Menjelang jam makan siang, Sinta mendapati sebuah pesan singkat di ponselnya dari nomor yang ia beri nama "J" dengan emoji batu es—karena Jingga dulu sedingin es.

J: "Kopinya masih kerasa di tenggorokan. Fokus kerja, jangan melamun terus di depan Pak Manajer."

Sinta mendengus sambil menahan tawa. Ketus, tapi memperhatikan, pikirnya. Ia segera membalas.

Sinta: "Berisik! Urusin aja audit lu yang banyak salah ketik itu!"

Tanpa sadar, interaksi kecil ini mulai mengisi celah-celah kosong dalam hubungan mereka. Menjadi barista pribadi bagi Jingga bukan lagi sekadar tugas yang dipaksakan, melainkan sebuah ritual yang Sinta nantikan. Ia mulai mempelajari berbagai jenis biji kopi, mencoba teknik penyeduhan yang berbeda setiap pagi, hanya untuk melihat ekspresi terkejut atau puas di wajah Jingga saat menyesap suapan pertama.

Namun, kedekatan yang tumbuh secara perlahan ini juga menciptakan kecemasan baru. Sinta mulai merasa bahwa ia sedang menjalani dua kehidupan yang sangat berbeda. Di kantor, ia adalah kekasih Adrian yang sempurna, yang mendengarkan ambisi pria itu dan menerima perhatian-perhatian manisnya. Namun di rumah, di balik pintu apartemen 12-B, ia adalah seorang istri yang sedang belajar mencintai detail-detail kecil tentang suaminya—seperti bagaimana Jingga selalu menyisakan seteguk kopi untuk didiamkan sampai dingin sebelum dihabiskan, atau bagaimana pria itu selalu meletakkan cangkirnya tepat di tengah alas gelas agar tidak meninggalkan noda.

Malam harinya, setelah pulang kantor yang melelahkan, Sinta mendapati sebuah kotak kayu kecil di atas meja dapur. Di dalamnya terdapat tiga kantong biji kopi specialty dari berbagai daerah: Gayo, Sidikalang, dan Flores. Ada secarik kertas kecil di atasnya dengan tulisan tangan Jingga yang rapi namun kaku.

"Stok buat minggu depan. Jangan bikin yang gagal."

Sinta tertawa kecil sambil menghirup aroma kopi dari kotak itu. Ia menyadari bahwa peran barista pribadi ini telah membawanya masuk ke sebuah zona yang berbahaya bagi hatinya. Ia tidak lagi sekadar berbagi tagihan atau berbagi tugas mencuci piring dengan Jingga. Ia mulai berbagi pagi, berbagi aroma, dan berbagi rahasia kecil yang bahkan Adrian—pria yang secara publik adalah pasangannya—tidak akan pernah tahu.

Di kamar sebelah, Jingga mendengar suara tawa Sinta dari dapur. Ia tersenyum tipis sambil menatap layar laptopnya. Baginya, kopi pagi buatan Sinta bukan sekadar kafein untuk mengusir kantuk. Itu adalah satu-satunya momen dalam dua puluh empat jam di mana ia merasa benar-benar memiliki Sinta, tanpa gangguan dari dunia luar yang menuntut mereka untuk terus bersandiwara.

Peran barista pribadi itu terus berlanjut, hari demi hari. Dan tanpa mereka sadari, setiap tetes kopi yang mereka bagi mulai mengikis dinding permusuhan, menyisakan sebuah rasa baru yang lebih pekat, lebih jujur, dan tentu saja... jauh lebih rumit daripada sekadar hitam dan putih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!