NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Harapan Hampa

Namun, di sisi lain, dorongan itu sangat kuat. Murni yang selalu mendukungnya, wajah bangga kedua orang tuanya saat kelulusan, testimoni tulus dari Bang Bimo dan pujian dari Pak Harun. Semua itu adalah kekuatan Siman, nyata, bukan ilusi.

"Gimana, Siman? Saya rasa itu cocok. Tidak usah pakai uang, Siman. Nanti bulan depan kamu akan berpikir lagi." Pak Hartoko mengulang pertanyaannya.

Siman menggenggam erat akiknya, rasa hangatnya menjalar, membakar keraguan itu. Ada janji kepada Murni. Ada dendam yang Siman sembunyikan untuk Dina. Ini adalah panggungnya. Sebuah era baru.

"Siap, Pak!" Siman menjawab dengan semangat membara, senyumnya kini tak lagi bisa dibendung. Sebuah janji besar kepada dirinya sendiri.

Ia melirik ruangan kecil di sudut itu. Sekilas membayangkan monitor, keyboard, sketsa-sketsa desain. Ini bukan lagi hanya tentang keberuntungan, ini tentang memilih takdirnya sendiri.

"Sudah mantap, Man?" Pak Hartoko terkekeh. "Berarti besok, Akik Creative Studio punya kantor pertamanya di sini, ya?"

Siman menatap Pak Hartoko, bibirnya mengukir senyum penuh tekad. Akiknya berdenyut kuat, menenangkan dirinya yang kini dihadapkan pada risiko terbesar dalam hidupnya. Namun akal sehatnya masih berada dalam kontrol.

"Betul, Pak. Besok kita mulai."

Pak Hartoko menatap Siman, senyum misterius mengembang di bibirnya. "Sudah ada proyek pertama, ya? Sudah yakin kamu bisa jalani semua?"

*

Kursor di layar monitor itu berkedip-kedip, setia namun terasa ironis. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Angka '0' pada notifikasi email dan kotak pesan WhatsApp terasa seperti ejekan hampa. Udara di kamar sempit yang kini berlabel Akik Creative Studio terasa sesak. Padahal, hanya kemarin Siman menatap ruangan itu dengan mata penuh harapan, membayangkan tumpukan proyek dan klien yang silih berganti datang. Semangat yang meluap-luap itu kini menguap, menyisakan kerisauan yang membeku.

Ia telah mencoba menyebar kartu namanya, yang dicetak seadanya di tempat Pak Hartoko. Ia telah menyebarkan poster proyek Bang Bimo yang membuat Siman merasa begitu berharga, juga meminta bantuan Pak Jitomo dan Rido. Namun nihil. Tak ada satu pun dering telepon masuk, tak ada satu pun email masuk, apalagi tawaran pekerjaan desain. Lima hari. Seminggu. Kini hampir sepuluh hari, ruang kecil itu hanya menjadi saksi bisu kegelisahan Siman.

“Mana ada yang tahu aku ini desainer? Mereka paling mikir aku cuma anak kecil yang iseng-iseng saja,” gumam Siman, memijat keningnya yang berdenyut. Akik biru laut di jari manisnya terasa dingin, tidak lagi memancarkan kehangatan pemicu semangat yang dulu sering ia rasakan. Akik itu seperti menertawainya, menyiratkan bahwa kekuatannya terbatas, tak mampu mendatangkan klien ke studio barunya.

Ia mencoba mengoperasikan komputer, membuka ulang perangkat lunak desain yang baru ia pelajari. Tujuannya adalah membuat sampel portofolio lain, berharap ada inspirasi datang seperti saat membuat logo Bu Juju atau poster Bang Bimo. Namun, layaknya kanvas kosong, otaknya juga terasa kosong. Gagasan yang dulu mengalir deras kini mandek, tersekat oleh bayangan-bayangan pesimistis.

“Kacaumu itu kenapa, Man? Biasanya ada proyek saja senang! Sekarang kenapa malah takut duluan?” ucap Siman, suaranya parau, menggelegar di ruang sepi itu, memarahi dirinya sendiri.

Flashback dari perkataan Dina terlintas kembali, menusuk tajam ke dasar hatinya: “Realitas, ya... Aduh, jangan sok suci deh, Siman. Kayak paling pahlawan saja. Hidup itu realitas, nggak ada cerita si buruk rupa bisa jadi pangeran!”.

Kata-kata itu berulang, mengukir kembali luka yang Siman kira sudah sembuh. Mungkinkah Dina memang benar? Mungkinkah semua "keberuntungan" itu hanyalah ilusi? Keberuntungan Siman memang hanya terjadi satu atau dua kali saja, apakah akan terus begitu? Tidak. Bahkan cincin yang diberikan oleh nenek itu juga sama. Cincin yang berharga yang didapat secara cuma-cuma. Begitu pun ilmu-ilmu yang ia dapatkan juga sama.

Sebuah ketakutan muncul lagi. Bahwa ia memang tidak memiliki bakat nyata. Bahwa semua pujian dari Pak Harun, Pak Hartoko, dan Bang Bimo hanya basa-basi belaka. Siman merasa dirinya sedang disanjung, seolah-olah semua itu adalah hadiah untuk anak-anak kecil, Siman hanya anak kecil. Bagaimana Siman bisa menjalankan studio ini seorang diri, jika keberuntungan saja enggan bertamu? Ini mustahil. Ini sama seperti dahulu, dia dihina, dicemooh, tidak mendapatkan apa pun, hanya bisa meratap.

“Mana ada kerjaan kalau begini? Sudah sepi begini tempatnya. Mungkin… ini cuma lelucon untuk Siman?” Ia mencoba berdalih, namun keraguan terus menggerogotinya. Ia ingat pesan dari nomor anonim itu: “Orang sepertimu, suatu saat pasti akan menabrak batunya juga.” Mungkin ini saatnya, pikirnya. Inilah batu itu.

Kepalanya jatuh di atas meja. Rasa putus asa mencengkeram. Sudah lama dia tidak merasa begitu tertekan. Bahkan, ada bisikan pelan yang menyerukan nama Murni, sebuah dorongan dari dasar hatinya, sebuah naluri untuk mencari ketenangan.

“Rencananya Siman mau buat apa, nanti? Nanti buat tempat makan bareng dengan keluarga. Di meja panjang ya?” Terdengar kembali suara orang tuanya, bapaknya dengan wajah serius, ibu dengan nada ketenangan. Perkataan itu membuat hati Siman miris. Mereka menaruh harapan besar padanya, padahal Siman tidak seistimewa itu.

Rencana untuk membeli rumah baru yang lebih layak. Rencana untuk membahagiakan orang tuanya. Semuanya terasa jauh kini, tak lebih dari fatamorgana. Lima juta hasil proyek Bang Bimo, sebagian ia sisihkan untuk keluarga, sisanya untuk dana darurat studio. Tapi untuk berapa lama itu bisa bertahan?

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet. Sisa uangnya tak lebih dari seratus ribu rupiah. Sedikit sekali untuk membangun sebuah impian. Akik itu terasa semakin dingin, seolah tak mau terlibat lagi dengan keputusasaannya.

“Bos! Kamu di dalam?” Suara Pak Hartoko memanggil dari luar, membuat Siman terlonjak. Ia segera bangkit, mencoba menyembunyikan kekacauan batinnya. Berpura-pura. Hanya itu yang bisa ia lakukan.

“I-iya, Pak! Masuk saja!” seru Siman, merapikan meja yang tadinya berantakan, dan mengacak rambutnya, pura-pura habis berpikir keras.

Pak Hartoko melongok masuk, tersenyum ramah. Ia membawa secangkir kopi hitam dan sebungkus roti tawar. “Gimana, Man? Sudah ada ide desain untuk poster bazaar kita? Yang kemarin? Sudah seminggu ini saya tunggu hasilnya lho. Katanya kemarin tiga hari akan selesai? Mana hasilnya?” tanyanya, suaranya tenang namun ada nada antisipasi. Raut wajah Pak Hartoko terlihat sabar, tetapi sorot matanya mengamati dengan seksama setiap ekspresi Siman.

Jantung Siman berdetak kencang. Ia telah lupa. Terlalu larut dalam rasa putus asa, hingga lupa akan proyek pertamanya untuk studio ini. Poster bazaar kantor kelurahan. Padahal ia sudah berjanji, proyek itu seharusnya selesai hari ini, besok hari ketiga!

“I-iya, Pak! Hampir jadi kok!” Siman berbohong, padahal ia belum membuat desain sama sekali, sketsa pun tidak. Wajahnya memerah, merasa malu dengan dirinya sendiri. Di otaknya, bukan ide desain yang muncul, melainkan penyesalan. Betapa ia telah menyia-nyiakan kepercayaan Pak Hartoko, yang begitu baik padanya.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!